Maaf .......

Maaf .......
Episode 8. Setan Hitam


__ADS_3

Teriakan mengerikan dan binatang itu akhirnya kembali di keremangan fajar. Mereka tetap diam tak bergerak dan baru berani turun saat matahari sudah terbit sepenggalah. Mereka berjalan menuruni bukit dengan hati – hati, khawatir suara mereka terdengar oleh binatang yang mendiami gua itu.


“Panji, sebenarnya binatang apa itu?” tanya Mahesa setelah mereka berada di bawah bukit.


“Itu adalah setan hitam. Sejenis tikus tapi cukup besar. Mereka suka makan daging, hanya saja mereka makan saat lapar. Setelah makan mereka bisa berpuasa selama seminggu. Kalau mereka makan tiap hari, mungkin semua binatang di sekitar Bukit Sibolang sudah habis mereka makan,” kata Panji pelan.


“Mahesa, apa kita harus menghadapi mereka?” tanya Sasti pelan. Tubuhnya otomatis gemetar saat ia mengingat hewan yang mengerikan itu.


Mahesa memandang muka Tunjung yang pucat pasi sejenak sebelum menjawab.


“Sebenarnya tugas kita hanya mencari tahu penyebab peristiwa yang terjadi di Desa Bambu Kuning. Jadi,jika kita melaporkan hasil pengintaian ini kepada Ki Tanjung maka tugas kita sudah selesai,” jawab Mahesa pelan.


Tunjung yang mendengar perkataan Mahesa hanya bisa diam tak membantah. Ia tahu pasti isi permintaan yang dibuat tetua desanya kepada Perguruan Langit Biru.


“Kita pulang saja, aku tidak berani menghadapi mereka,” desis Gayatri.


“Aku setuju,” kata Sasti.


“Bagaimana menurutmu Panji?” tanya Mahesa saat melihat anggota yang diam. Mereka sepertinya setuju dengan usulan Gayatri.


“Menurutku? Sebaiknya kita lihat dulu apa tujuan kita mengambil misi ini. Apakah kita hanya untuk mengumpulkan uang dan poin kontribusi atau untuk mencari pengalaman? Kalau hanya untuk mencari uang dan kontribusi kita bisa pulang sekarang. Kita akan mendapat sedikit uang dan poin kontribusi,” jawab Panji tenang.


“Kalau pendapatmu sendiri?” tanya Mahesa.


“Sebenarnya tujuanku ikut misi adalah untuk mencari kekuatan dan menambah pengalaman. Aku harus bisa mencapai level 3 dalam waktu 6 bulan. Kalau aku berlatih dengan cara biasa, akan sulit bagiku untuk  mencapainya.  Jadi, kalau menurutku, kita harus menghadapi mereka,” kata Panji tegas.


Gayatri, Sasti dan Jayanti menundukkan kepala mendengar jawaban Panji. Mahesa dan Paksi  saling  berpandangan dan tersenyum kecut. Prakosa tertawa kecil sambil mengelus pedangnya.


“Hanya saja,aku tidak mau menghadapinya dengan gratis,” lanjut Panji sambil memandang tajam Tunjung.


“Kalau kalian mau membantu, kami tentu akan menyediakan hadiah yang pantas untuk kalian,” kata Tunjung cepat. Ia tidak bisa membayangkan berapa korban yang akan jatuh jika mereka menghadapi binatang mengerikan itu sendirian.


“Sebaiknya kau hubungi desa – desa lain yang menghadapi masalah yang sama. Mungkin mereka juga menawarkan hadiah yang sama. Kau bisa menghemat uang. Tapi sebaiknya kau lakukan dengan cepat. Jangan sampai mereka menyerang lagi,” saran Panji.


“Betul juga. Akan kuusahakan,” jawab Tunjung dengan muka ceria. Ia bisa menghemat uang cukup banyak jika bisa bekerja sama dengan desa lainnya.


“Panji,memangnya kau punya cara menghadapi mereka?” bisik Mahesa. Ia masih merasa ngeri membayangkan mereka semua harus berhadapan dengan setan hitam itu. Ia tidak bisa membiarkan anggotanya mati sia – sia.


“Tenang, percayalah padaku,” desis Panji dengan percaya diri.Ia berjalan dengan tenang di samping Mahesa yang


memandangnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


Sesampainya di balai desa, Tunjung langsung memerintahkan bawahannya untuk menyampaikan kabar kepada kepala desa sekitar Bukit Sibolang untuk berkumpul di Balai Desa Bambu Kuning untuk membahas penyelesaian masalah setan hitam.


Keesokan harinya di Balai Desa Bambu Kuning diadakan pertemuan antara Tim Rajawali Merah dan 5 orang kepala desa sekitar Bukit Sibolang. Terjadilah kesepakatan bahwa setiap desa akan membayar 70 tael emas jika Tim Rajawali Perak bisa membasmi kawanan setan hitam. Tim Rajawali Perak juga meminta agar setiap desa


mengirimkan 2 orang pemanah terbaik untuk membantu mereka. Terakhir, mereka akan menyerbu Bukit Sibolang dalam waktu 3 hari lagi.


Setelah pertemuan selesai, Tim Rajawali Perak mengadakan pertemuan sendiri di pojok balai desa.


“Panji, apakah kau yakin kita bisa menghadapi mereka?” tanya Mahesa. Ia ingin meyakinkan diri bahwa langkah yang mereka ambil ini bukan langkah yang salah.Sebagai pemimpin, ia harus memastikan keselamatan anak


buahnya terlebih dulu.


“Kalau rencanaku berhasil, aku yakin kita bisa menghancurkan mereka,” kata Panji tenang.


“Seberapa besar keyakinanmu itu?” tanya Sasti pelan. Ia masih tidak percaya bahwa ia akan terlibat pertempuran menghadapi hewan mengerikan seperti setan hitam.


“Lebih dari 70%, bahkan kalau lancar bisa sampai 90%,” kata Panji. Ia mengambil gelas berisi teh  manis dan meminumnya dengan tenang


“Sebesar itu? Apa kau yakin? Memangnya kau pernah menghadapi mereka?” cecar Jayanti dengan muka tak percaya.


“Apakah kalian percaya kalau kubilang aku pernah menghadapi mereka sendirian dan menang?  Walaupun yang kuhadapi hanya sekitar 10 ekor saja,” katanya.


“Kau? Bertarung dengan mereka? Kapan?” Anggota Tim Rajawali Perak yang lain terkejut mendengar perkataan Panji.


“Sudah agak lama. Sekitar 5 tahun lalu, saat usiaku 10 tahun. Aku dipaksa oleh guruku” jawab Panji sambil mengunyah pisang goreng yang tersedia di meja. Ia ingat saat itu ia dipaksa gurunya, Sima Lodra, untuk menghadapi kawanan setan hitam itu  jauh di dalam hutan di dekat Desa Arahiwang.

__ADS_1


Mahesa dan yang lainnya memandang panji dengan pandangan tak percaya. Sebenarnya monster macam apa yang membesarkan anak ini sampai menyuruh anak usia 10 tahun menghadapi binatang mengerikan seperti itu.


Paksi melirik Prakosa dan tiba – tiba mulutnya menyeringai lebar. Wiranata yang melihat itu terdiam sejenak sebelum ikut – ikut menyeringai.


“Apa?” tanya Prakosa sambil memandang Paksi heran.


“Enggak, hanya heran saja. Ternyata ada orang yang lebih gila darimu,” kata Paksi disambut gelak tawa teman – temannya. Prakosa pun hanya bisa tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Suasana yang tegang pun segera mencair berkat gurauan Paksi.


“Begini rencanaku, selama 3 hari ini selama siang hari kita berlatih panah selama sehari penuh. Malamnya kita berlatih kerjasama kelompok. Kita tidak bisa menghadapi setam hitam sendirian. Kita akan menghadapinya secara berkelompok. Setiap kelompok 5 orang yang akan saling bersatu dan saling melindungi,” kata Panji sambil menggambar posisi anggota dalam kelompok serta menerangkan pergerakan setiap anggotanya.


“Panji, kau belajar ini dari mana?” tanya Baskara heran.


“Ini pelajaran dasar setiap calon pengawal di desaku,” jawab Panji tanpa memperhatikan tatapan heran teman – temannya.


Pelajaran dasar calon pengawal desa? Memangnya setiap desa punya pelajaran seperti ini untuk calon pengawalnya? Ini bahkan seperti pelajaran untuk prajurit kerajaan, pikir mereka heran.


Mereka meminjam panah dari Tunjung karena hanya Sasti, Gayatri dan Panji yang membawa panah. Mereka berlatih keras karena tahu mereka akan menghadapi lawan yang mengerikan 3 hari lagi.


Saat fajar merekah 3 hari kemudian, Tim Rajawali Perak bersama 10 orang pemanah terbaik perwakilan 5  desa berangkat menuju Bukit Sibolang. Sesuai permintaan Panji, selain senjata, setiap orang juga membawa seikat kayu kering.


Mereka berjalan cepat dalam diam. Saat matahari sepenggalah mereka telah sampai di depan gua.


Sesuai rencana yang dibahas semalam sebelumnya, mereka menumpuk kayu bakar di depan gua. Sisa kayu bakar diatur di kedua sisi pintu gua membentuk jalan selebar 3 m sejauh 20 m. Mereka juga mencari kayu bakar di sekitar bukit untuk menutupi kekurangannya.


Matahari telah cukup tinggi saat semua persiapan selesai. Mereka beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga sebelum pertempuran dimulai.


“Tunjung, kau bersama 4 orang naik pohon di sebelah kanan gua dan yang lain naik di sebelah kiri gua. Tugas kalian adalah memanah setan hitam yang bisa keluar dari gua,” bisik Panji kepada 10 pemanah yang menemani


mereka.


“Baik, kami mengerti,” balas Tunjung pelan. Ia memberi aba – aba dan 10 orang itu pun berpencar.


“Nah, sekarang tinggal kita yang harus membangunkan mereka yang sedang tidur di dalam gua,” kata Panji sambil merogoh tas pinggangnya. Ia mengeluarkan 2 jenis pil dan membagikannya kepada setiap anggota Tim Rajawali Perak.


“Apa ini?” tanya Baskara sambil memandang pil di tangannya.


“Panji, darimana kau dapat pil – pil ini? Bukankah ini harganya cukup mahal?” tanya Jayanti. Ia yang bertugas sebagai bendahara cukup kesulitan untuk mencari pil semacam ini. Selain harganya mahal, pil ini juga langka.


“Sudahlah, telan saja. Kita akan menghadapi pertempuran yang sulit. Mudah – mudahan ini bisa membantu kita,” kata Panji lagi.


Mereka akhirnya menelan pil itu dan segera merasakan manfaatnya. Tenaga mereka yang hilang kembali dengan cepat, bahkan kekuatan mereka juga meningkat cukup tinggi.


Mereka segera membakar kayu bakar dan berbaris di ujung jalan api di depan gua dengan busur di tangan.


Creea…..akh!


Creea…..akh!


Creea…..akh!


Teriakan – teriakan marah segera terdengar dari dalam gua. Setam hitam yang sedang tertidur nyenyak segera terbangun saat nafas mereka terganggu oleh asap yang masuk dari mulut gua.


Mereka berlarian  menuju keluar gua hanya untuk mendapati mulut gua tertutup oleh api. Hawa panas dan sesak akhirnya membuat setan hitam itu semakin marah. Tak punya pilihan lain, mereka pun akhirnya menerjang api supaya mereka bisa keluar gua.


Creea…..akh!


Creea…..akh!


Jeritan – jeritan kesakitan terdengar saat gelombang pertama setan hitam hangus terbakar. Gelombang demi gelombang setan hitam terus berusaha keluar gua. Saat gelombang kedua dan ketiga ikut terbakar, mereka bisa membuat api mengecil sehingga membuka jalan untuk gelombang berikutnya.


“Tembaa..k,” teriak Panji sambil melepaskan anak panahnya saat melihat beberapa ekor setan hitam sudah mulai keluar dari gua.


Dzii…ing!


Dzii…ing!


Dzii…ing!

__ADS_1


Setan hitam yang bisa keluar dari kobaran api jatuh bergelimpangan saat 20 busur serempak membidikkan anak panah ke arah mereka. Setelah keluar gua, setan hitam itu masih harus berlari dijalan di bawah hujan anak panah


sejauh 20 meter.


Mereka tidak punya pilihan lain. Barisan kayu bakar di kedua sisi gua membentuk dinding api yang besar. Mereka baru saja selamat dari kobaran api, otomatis mereka tidak berani lagi menerobos api lagi. Satu – satunya yang tidak ada apinya hanya jalan selebar 3 meter di depan mereka.


Puluhan setan hitam berlari membentuk garis lurus di sepanjang dinding api. Mereka tidak mempedulikan kawan mereka yang jatuh bergelimpangan akibat tertembus anak panah.


Tim Rajawali Perak dan 10 orang pemanah pun terus menembakkan anak panah mereka tanpa henti. Hanya saja setan hitam yang bergerak itu terlalu banyak dan bergerak cepat. Akhirnya ada juga setan merah yang berhasil mendekat ke arah Tim Rajawali Perak.


"Mereka mendekat!" teriak Sasti panik.


“Lepas busur! Ganti senjata! Kita hadapi berkelompok!” teriak Panji sambil mencabut pedangnya.  Gerakannya diikuti teman – temannya. Mereka membentuk kelompok 5 orang dan bertempur bersama menghadapi setan hitam yang mendekat.


“Pemanah terus menembak! Biar kami yang menghadang yang berhasil lolos!” teriak Panji pada pemanah di atas pohon.


Para pemanah yang sempat berhenti pun mulai menembakkan panahnya lagi. Mereka mengincar setan hitam yang baru keluar gua.


“Heyaaa….!”


“Sasti, sebelah kanan!”


“Paksi, mundur!”


“Jayanti, diam ditempat!”


Mahesa dan kawan - kawan berteriak tanpa henti. Latihan keras malam hari selama 3 hari terakhir terbukti sangat berguna saat menghadapi kepungan setan hitam. Mereka bisa bergerak saling membantu dalam menyerang dan bertahan.


Serangan puluhan setan hitam itu seperti membentur tembok tangguh yang susah ditembus. Puluhan setan hitam yang menerjang hampir semuanya terpental dengan tubuh hancur bersimbah darah.


Akhirnya, setan hitam terakhir pun jatuh tergeletak. Mahesa dan kawan – kawan berdiri terhuyung – huyung. Tubuh mereka basah oleh keringat dan darah. Pakaian mereka robek di banyak tempat. Beberapa orang bahkan mengalami luka hampir di sekujur tubuhnya.


“Hah….hah…. gila. Ini pertempuran paling gila yang pernah kualami,” desis Sasti dengan nafas terputus – putus. Ia berdiri bertumpu pada pedangnya yang ditancapkan ke tanah.


“Hah…hah… benar. Kau benar….hah….hah. Jika ini berlanjut sedikit lagi, mungkin aku tidak akan sanggup bertahan….” kata Gayatri yang jatuh terduduk di tanah sambil terengah – engah. Tenaganya hampir terkuras habis.


Prakosa yang mendengar percakapan mereka hanya terdiam. Ia berusaha mengatur nafasnya yang keluar tak beraturan.  Ini juga pertempuran terbrutal yang pernah dihadapinya. Ia melirik Panji dan hanya tersenyum kecut.


Panji masih berdiri tegak dengan pedang tergenggam erat di tangan. Ia memeriksa mayat – mayat setan hitam yang tergeletak dan mengerutkan keningnya. Ada sesuatu yang aneh diantara mayat – mayat itu.


Sekali lagi matanya memeriksa mayat – mayat itu sambil mengingat – ingat. Matanya masih terus mencari sampai ia teringat sesuatu dan berteriak keras.


“Semuanya waspada! Kita belum selesai! Ambil senjata kalian!” teriaknya keras.


“Apa? Apa yang belum selesai?” tanya Gayatri bingung. Ia mengambil pedangnya dan memaksa tubuhnya untuk berdiri.


"Apa maksudmu Panji?” tanya Prakosa sambil mempererat pedangnya. Ia tidak mempedulikan rasa sakit di pahanya yang robek tercakar setan hitam.


“Pemimpinnya. Setan hitam yang besar itu belum kelihatan!” teriak Panji lagi.


Creea…..akh!


Tiba – tiba sebuah bayangan melesat keluar gua bersamaan dengan teriakan yang mengerikan. Bayangan itu melesat cepat menyerang Sasti yang masih berusaha berdiri.


Sasti terbelalak kaget. Ia tidak sempat bereaksi dan hanya berdiri  diam saat bayangan itu mendekat. Panji yang berdiri tidak terlalu jauh meloncat menghadang. Kakinya bergerak cepat menendang bayangan itu.


Buagh!


Bayangan itu terpelanting dan jatuh terjerembab di tanah. Bayangan itu terdiam sesaat sebelum berdiri dan tampaklah wujud aslinya berupa setan hitam yang bertubuh besar. Ia menggeram pelan dan memandang orang yang menendangnya.


Panji berdiri tegak di depan Sasti. Pedangnya tergenggam erat ditangan, siap untuk menyerang. Ia bergeser pelan ke samping agar Sasti tidak berada di jalur serangan musuhnya.


Creea…..akh!


Setan hitam itu menerjang maju dengan cepat. Kedua cakar depannya yang tajam dan deretan giginya yang mengerikan siap merobek tubuh Panji yang menghadang di depannya.


Panji memandang tajam setan hitam yang menerjangnya.Tangannya memegang pedang erat – erat.

__ADS_1


“Kemarilah!” teriaknya keras.


__ADS_2