
Panji bergerak menghindar ke samping. Pedangnya terayun deras menebas dari atas ke bawah.
Bugh!
Creea…..akh!
Setan hitam itu menjerit kesakitan saat tubuhnya tersungkur di tanah. Ia berguling – guling kesakitan di tanah selama beberapa saat sebelum bangkit dengan susah payah.
Panji, Mahesa dan yang lainnya terkejut saat melihat setan hitam itu berdiri. Tidak ada bercak darah ditubuhnya, bahkan bekas hantaman pedang Panji hanya meninggalkan bekas lekukan kecil di punggungnya.
“Tidak mungkin!” seru Sasti tak percaya.
Ia berada sangat dekat saat Panji bertempur dengan setan hitam. Ia melihat dengan jelas pedang Panji telah menghantam telak punggung setan hitam itu.
Panji memandang tak percaya pada punggung setan hitam itu. Ia melirik pedangnya dan dahinya mengernyit. Tadi saat pedangnya menghantam punggung setan hitam itu, ia merasa pedangnya menghantam sesuatu yang kenyal dan tebal.
"Grrr.."
Setan hitam besar itu sekali lagi menerjang Panji. Cakar kaki depannya terjulur lurus ke perutnya.Panji mengelak kesamping dan pedang di tangannya berkelebat menghantam perut setan hitam itu.
"Buagh!"
Setan hitam besar itu terlempar kesamping dan terguling beberapa meter sebelum berhenti. Ia terdiam sebentar sebelum berdiri lagi dan mengibas - ngibaskan tubuhnya untuk mengusir debu yang melekat di tubuhnya. Tidak terlihat ada bekas luka apa pun di tubuhnya.
“Hebat. Lapisan lemak bawah kulitmu sangat tebal. Tampaknya umurmu sudah sangat tua,” kata Panji sambil memandang tajam musuhnya.
“Tapi pedang tidak hanya bisa digunakan untuk menebas. Kita lihat seberapa kuat lemak tubuhmu melindungimu,” lanjut Panji.
Creea…..akh!
Setan hitam itu berteriak keras seakan menantang Panji. Mulutnya menyeringai lebar saat ia meloncat menerjang Panji.
“Rasakan ini! Heyaaaa......!”teriak Panji. Ia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga menggunakan kedua tangannya.
Buagh!
Buagh!
Jleb!
Tubuh setan hitam itu terlempar ke atas saat pedang Panji menghantam tubuhnya dari bawah ke atas. Tubuh itu masih melayang keatas saat Panji meloncat dan pedangnya sekali lagi terayun deras dari atas ke bawah membuat tubuh setan hitam meluncur deras menghantam tanah.
Setan hitam itu berteriak keras saat tubuhnya melesak ke dalam tanah. Belum sempat ia menggerakkan tubuhnya, Panji telah menyerangnya dari atas. Tubuhnya meluncur dengan pedang terarah lurus ke jantungnya!
Creea…..akh!
Setan hitam itu hanya bisa menjerit keras saat pedang tajam itu menghunjam deras ke jantungnya. Lemak tebalnya tidak bisa menahan beban tusukan pedang yang berat karena bertambah dengan beban Panji dari atas.
“Fiuh…”
Panji menghembuskan nafas lega. Ia memejamkan matanya dengan muka menghadap ke langit. Mulutnya terbuka dengan nafas tersengal – sengal. Kedua tangannya berada di pinggangnya.
Jurus terakhir tadi hampir menghabiskan seluruh tenaganya. Ia mempertaruhkan segalanya pada serangan terakhirnya. Jika setan hitam itu bisa menahan serangannya, maka ialah yang akan mati kali ini.
“Panji, terima kasih.”
Suara Sasti menyadarkan Panji. Ia membuka matanya dan memandang gadis yang berdiri didekatnya. Ia terkejut melihat kondisi Sasti yang terluka di banyak tempat. Ia memandang sekitarnya dan melihat semua anggota Tim Rajawali Perak terluka.
Laksana dan Wiranata bahkan terluka cukup parah dan tidak bisa berdiri. Ia sendiri melihat dada dan paha kirinya berdarah terkena cakaran setan hitam.
Ia merogoh tas pinggangnya dan meraih beberapa butir multitonik pil dan pil vitalitas. Ia menyerahkan kedua macam pil tersebut kepada semua anggota Tim Rajawali Perak.
“Panji, bagaimana kondisimu?” tanya Tunjung yang baru saja turun dari atas pohon.
“Tolong bantu kami menyingkir ke tanah yang kering. Biarkan kami beristirahat sejenak agar tubuh kami membaik,” desis Panji pelan.
Tunjung dan pemanah lainnya memapah Tim Rajawali Perak menyingkir. Mereka bergerak ke tanah yang kering dan duduk bersila memulihkan nafas.
Tunjung dan para pemanah yang berjaga memandangi mayat setan hitam yang berserakan dengan hati ngeri. Bulu kuduk mereka masih berdiri saat mereka mengingat pertempuran yang baru saja terjadi.
Mereka memandang kondisi anggota Tim Rajawali Perak dan menarik nafas dalam – dalam. Mereka semula merasa keberatan harus membayar 70 tael emas kepada tim ini. Tapi setelah melihat sendiri pertempuran itu, mereka merasa harga itu terlalu murah.
Mereka tidak dapat membayangkan jika mereka sendiri yang harus menghadapi kawanan setan hitam itu. Entah berapa banyak nyawa yang harus di korbankan. Itu pun belum menjamin mereka bisa memenangkan pertempuran itu.
Kali ini mereka bisa memenangkan pertempuran ini karena strategi , kecerdikan dan keberanian dari seorang anak yang bernama Panji. Idenyalah yang membuat pertempuran ini terlihat menjadi mudah. Mereka bisa memenangkan
pertempuran ini tanpa korban satu pun.
Matahari telah mulai condong ke barat saat Panji dan yang lainnya membuka mata mereka. Mereka merasa kondisi tubuh mereka sudah jauh lebih baik. Semua pendarahan berhenti dan luka – luka telah menutup. Tenaga yang semula terkuras pun sudah kembali seperti semula.
__ADS_1
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Paksi.
Mahesa yang tidak tahu harus menjawab apa akhirnya menengok ke arah Panji. Ia tidak tahu sebabnya, tapi setelah pertempuran ini ia merasa Panji jauh lebih baik darinya.
“Kita harus memeriksa gua itu terlebih dulu,” kata Panji sambil menunjuk ke arah mulut gua.
“Masuk ke gua itu? Jangan harap!” seru Jayanti. Ia merasa pertempuran kali telah menguras nyalinya. Ia beruntung masih bisa hidup, jadi ia tidak berani mengambil lebih banyak resiko hari ini.
“Aku juga tidak,” desis Sasti pelan.
"Aku juga,” kata Gayatri.
“Tidak semua dari kita harus masuk,” kata Panji sambil tersenyum. “Siapa yang akan ikut masuk gua?” tanyanya.
“Aku ikut,” Prakosa mengacungkan tangannya.
“Aku juga.”
Akhirnya Prakosa, Mahesa, Paksi dan Baskara ikut bersama Panji memasuki gua. Selain pedang, mereka membawa busur lengkap dengan sekantung penuh anak panahnya.
“Ugh…..baunya,” keluh Baskara sambil menutup hidungnya.
Bau busuk yang kuat menusuk hidung mereka saat mereka mulai memasuki pintu gua. Bau daging busuk, kotoran dan air kencing setan hitam bercampur menjadi satu mengaduk – aduk perut mereka.
Mereka terus melangkah ke dalam. Semakin ke dalam gua itu semakin lebar dan tinggi, sehingga bau busuk itu pun semakin berkurang.
Setelah berjalan cukup lama, sampailah mereka di sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan itu berbentuk bulat dengan tanah datar di bagian bawahnya. Panji memperkirakan ruangan itu bisa menampung puluhan orang.
Mereka baru melangkah beberapa ke dalam ruangan itu saat teriakan – teriakan keras terdengar dari pinggir ruangan.
Creea…..akh!
Creea…..akh!
“Oh,sial!” seru Baskara saat melihat ada 30 ekor setan hitam melangkah keluar dari ceruk – ceruk yang ada di pinggir ruangan itu.
“Bentuk formasi kelompok! Serang dengan panah dulu!” kata Panji.
Dzii...ing!
Dzii...ing!
Creea…..akh!
“Ganti dengan pedang! Heyaa...!” seru Panji.
Ia mencabut pedangnya dan mengayunkannya ke arah setan hitam terdekat. Hewan itu menjerit keras saat tubuhnya terpelanting dengan tubuh terbelah.
Mereka bertempur bahu membahu menghadapi kepungan setan hitam.
Beberapa menit kemudian pertempuran pun berakhir. Mayat 30 ekor setan hitam bergelimpangan di ruangan itu.
“Hah... hah... hah.... selesai juga,”desah Mahesa. Ia jatuh terduduk setelah kakinya tak kuat berdiri karena kelelahan. Keringat dan darah mengalir membasahi pakaiannya. Ia mendesis menahan sakit. Tubuhnya luka di beberapa tempat.
Panji mengedarkan pandangannya dan melihat teman – temannya duduk. Mereka semua terluka. Baskara bahkan terluka cukup parah. Darah mengalir deras dari beberapaluka di sekujur tubuhnya.
Ia merogoh tas pinggangnya dan mengambil 2 botol kecil. Ia membagikan multitonik pil dan pil vitalitas kepada setiap orang.
Mereka menelan pil tersebut dan beristirahat sambil memulihkan luka dan stamina mereka.
“Itu mereka! Kawan – kawan, kalian tidak apa – apa?” kata Jayanti keras mengejutkan Mahesa dan yang lainnya.
Saat mereka sedang beristirahat, muncullah Laksana, Wiranata, Sasti, Gayatri dan Jayanti.
“Kalian datang juga?” tanya Panji takjub. Ia tak menduga mereka akan menyusul masuk ke dalam gua.
“Huh, kalian membuat kami khawatir setengah mati! Kalian telah masuk lebih dari 1 jam dan belum kembali. Kami tak mungkin hanya diam saja menunggu di luar sana, kan?” kata Jayanti dengan mata melotot.
“Maaf, maaf. Kalian lihat kan, kami baru saja bertempur,” kata Mahesa sambil menunjuk bangkai setan merah yang berada di ruangan itu.
“Aku tahu,” kata Laksana. Ia mengamati bangkai 30 ekor setan hitam itu dan menggelengkan kepalanya.
“Tampaknya kalian baru saja mengalami pertempuran yang seru,” lanjutnya.
“Terus apa yang akan kita lakukan sekarang?” desis Wiranata.
“Kita maju terus. Kita terlanjur masuk sampai ke sini. Mungkin sebentar lagi kita akan sampai di ujung gua ini,” kata Panji sambil menunjuk sebuah lorong yang cukup besar di seberang ruangan itu.
Mereka meneruskan langkah menyusuri lorong gua. Setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan yang sangat besar. Di ruangan itu mereka melihat puluhan ekor setan hitam sedang tertidur nyenyak. Tubuh mereka lebih kecil dibandingkan setan hitam yang mereka hadapi sebelumnya.
__ADS_1
“Tampaknya mereka adalah setan hitam yang masih muda,” gumam Jayanti.
“Apa yang harus kita lakukan?” bisik Sasti pelan.
“Tentu saja memusnahkan mereka. Kalau kita biarkan, mereka bisa membuat masalah lagi sebentar lagi,” kata Prakosa pelan.
“Kau benar. Kita harus memusnahkan mereka semuanya atau yang kita lakukan hari ini akan sia- sia,” kata Mahesa sambil mempersiapkan panahnya.
Mereka keluar dari lorong sambil menembakkan anak panah. Panah – panah mereka dengan mudah menembus tubuh setan hitam yang masih terlelap. Setan hitam yang lain terkejut saat mendengar kawannya menjerit kesakitan. Mereka bangun hanya untuk menyaksikan lebih banyak kawan mereka tumbang tertembus anak panah.
“Tembak terus!” kata Mahesa. Panah terus meluncur dari busur ditangannya.
“Jumlah mereka terlalu banyak!” teriak Sasti.
“Kita kurangi jumlahnya sebanyak mungkin saat mereka masih kebingungan!” balas Panji sambil terus membidikkan panahnya.
Kawanan setan hitam muda itu berlarian tak tentu arah di dalam ruangan yang besar itu. Mereka baru sadar ada serangan saat separuh teman mereka tumbang. Marah karena terganggu tidurnya, mereka menggeram keras dan menyerang Tim Rajawali Perak.
“Ganti senjata! Bentuk kelompok!” teriak Mahesa saat setan hitam muda itu sudah mendekat.
Mereka mencabut senjata dan bergerak sebagai satu kesatuan yang utuh.
Kawanan setan hitam muda yang marah itu pun harus menerima kenyataan pahit. Serbuan mereka seperti ngengat yang menyerbu api. Setiap setan hitam yang menyerang akan terlempar dengan tubuh terluka sayatan pedang.
Setengah jam kemudian......
Tim Rajawali Perak berdiri di tengah ruangan luas itu dengan nafas terengah – engah. Tak ada satupun dari mereka yang tidak terluka. Pakaian mereka robek – robek dan basah oleh keringat dan darah.
“Ini.... Ini yang terakhir, kan?” desis Sasti sambil meringis kesakitan.
“Ya, tugas kita selesai. Kita tinggal melaporkan hasilnya saja,” desis Mahesa sambil memegang perutnya yang robek. Darah mengalir dari sela – sela tangannya.
Mereka melangkah tertatih – tatih ke daerah yang masih kering dan jatuh terduduk. Seperti biasa, Panji membagikan multitonik pil kepada setiap orang. Tanpa basa – basi, mereka menerimanya dan langsung menelannya untuk mempercepat penyembuhan mereka.
Mereka beristirahat cukup lama untuk menunggu agar pendarahan mereka berhenti dan lukanya menutup.
Setelah lebih dari 1 jam beristirahat, mereka berdiri dan melangkah menyusuri lorong menuju keluar gua.
Sinar matahari sore menyambut mereka saat mereka keluar gua. Ternyata mereka telah masuk ke gua hampir selama setengah hari.
“Fiuh, nikmatnya...... hari ini aku baru bisa menikmati apa itu namanya hidup,” gumam Sasti sambil merentangkan kedua tangannya.
“Ya, hari ini nyawa kita nyaris melayang tidak cuma sekali,” kata Jayanti yang berjalan di sebelahnya.
“Betul. Kali ini kita benar – benar mengalami apa yang namanya pertempuran hidup mati. Akhirnya ada juga cerita yang bisa kita sombongkan kepada tim lain,” kata Wiranata.
“Tapi seru juga kan? Jarang lho, kita bisa bertempur seasyik tadi,” kata Prakosa sambil merangkul Mahesa yang berjalan di sampingnya.
“Dasar maniak!” desis Gayatri pelan.
“Hehe, kalian akan ketagihan saat kalian merasakan efek dari pertempuran hari ini,” kata Panji sambil tertawa kecil.
“Ketagihan? Gak mungkin! Aku mengalami luka cukup parah 2 kali hari ini. Aku tidak ingin mengalami pertempuran seperti ini lagi!” seru Sasti sambil mempercepat jalannya.
“Yah, kita lihat saja saat kita sudah kembali ke perguruan,”sahut Panji sambil tersenyum.
Mereka melangkah mendekati Tunjung yang bersama pemanah lainnya sedang mengumpulkan bangkai setan hitam yang berserakan.
“Bagaimana keadaannya di dalam sana?” tanya Tunjung setelah mereka mendekat.
“Sudah beres. Ternyata di dalam sana masih ada setan hitam dalam jumlah yang cukup besar,” kata Mahesa. Ia menceritakan seluruh kejadian yang menimpa Tim Rajawali Perak selama di dalam gua.
“Jadi, dalam gua itu masih ada setan hitam yang cukup banyak?” tanya Tunjung takjub
“Betul. Untunglah mereka tidak keluar bersama – sama. Kita akan kesulitan kalau mereka bersatu menyerang kita,”kata Mahesa pelan.
“Betul. Kita patut bersyukur hal itu tidak terjadi. Tampaknya asap dari kayu bakarnya tidak masuk terlalu dalam,” kata Tunjung.
“Yah. Kita memang wajib bersyukur,” sahut Baskara pelan.
Mereka terdiam mendengar perkataan Baskara. Sasti benar. Bagaimana pun juga pertempuran kali ini telah mengajarkan mereka apa itu nikmatnya hidup.
“Ki Tunjung, tampaknya kita kedatangan tamu,” kata seorang pemanah sambil menunjuk ke bawah bukit.
Mereka menengok ke bawah dan melihat ada 2 orang memakai baju besi berjalan menuju ke arah mereka.
“Sentinel. Mereka adalah Sentinel dari Benteng Manyaran,” kata seorang pemanah dari dari Desa Bambu Hijau.
“Sentinel? Buat apa mereka kemari?” tanya Tunjung sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Seperti kalian meminta bantuan Perguruan Langit Biru, kami dari Desa Bambu Hijau juga meminta bantuan kepada Benteng Manyaran. Hanya saja selama sebulan ini kami tidak menerima tanggapan apa pun,” kata pemanah itu.
“Sentinel?” gumam Panji heran.