Maaf .......

Maaf .......
Episode 22. Saran Kakek Tua


__ADS_3

“Grr!”


Ajag mata merah itu menggeram marah saat ia meloncat menerjang perut Panji.


“Rasakan ini! Heyaaa....!”


Panji mencengkeram kuat pedangnya dengan kedua tangannya. Ia meloncat ke atas dan mengayunkan pedangnya


ke arah kepala ajag itu.


“Duagh!”


Ajag itu jatuh ke bawah dengan kepala menghantam tanah terlebih dulu. Saat ajag itu masih belum bisa bergerak, Panji meluncur ke bawah dengan pedang mengarah ke kepalanya.


“Krak.”


Tengkorak ajag mata merah yang keras itu pun pecah tertembus pedang Panji yang menusuk dari atas dengan membawa seluruh beban tubuhnya. Ajag itu hanya bisa menjerit kesakitan sebelum diam tak bergerak.


Panji berdiri sempoyongan sambil memegang dadanya. Serangan tadi telah menyerap hampir semua kekuatannya. Ia mempertaruhkan semuanya pada serangan tadi, jika ia gagal, kemungkinan besar ia akan mati hari ini.


Ia menarik nafas lega dan tangannya memeriksa dadanya yang terasa sakit. Ia merasa beberapa tulang rusuknya patah. Ia meraih pedangnya untuk bertumpu dan berteriak keras.


“Sersan Dirga, kulit ajag itu tebal dan kenyal. Lemak kulitnya juga sangat tebal. Ia kebal dengan tebasan pedang. Hanya tusukan yang bisa membunuhnya.”


Sersan Dirga dan Kopral Parta yang sedang kesulitan menghadapi ajag mata merah tertegun sejenak mendengar teriakan Panji. Mereka saling melirik dan menganggukkan kepala mereka. Tak lama kemudian ajag mata merah itupun roboh dengan beberapa lubang di tubuhnya.


Sersan Dirga menghela nafas lega. Ia memandang Panji yang sedang duduk untuk memulihkan diri setelah membagikan pil vitalitas kepada yang teman – temannya yang terluka.


“Siapa sebenarnya anak ini? Kenapa ia tahu kelemahan ajag mata merah semudah itu?” desisnya pelan.


Kopral Parta yang berdiri disebelahnya hanya terdiam. Ia juga sama terkejutnya saat mendengar Panji memberitahukan kelemahan ajag mata merah.


Mereka menunggu beberapa saat sebelum melangkah mendekati Panji yang mulai membuka matanya.


“Panji, darimana kau tahu kelemahan ajag mata merah itu? Apakah kau pernah menghadapinya sebelumnya?”


tanya Sersan Dirga heran.


“Belum, Sersan. Aku hanya menduganya setelah sabetan pedangku tidak mempan di tubuhnya, tapi anak panahku bisa menembus pertahanannya. Kebetulan aku pernah menghadapi hewan yang kemampuannya hampir sama dengan ajag mata merah ini,” kata Panji sambil tersenyum kecil. Ia lalu menceritakan pengalamannya bersama tim Rajawali Perak menghadapi setan hitam di Bukit Sibolang.


“Oh, begitu. Untuk anak seumurmu, pengalamanmu sungguh menarik, tapi berbahaya,” kata Sersan Dirga pelan. Kopral Parta yang ikut mendengar ceritanya hanya mengangguk kecil.


Panji hanya tersenyum kecil. Dibandingkan dengan pengalamannya saat masih bersama gurunya, ini termasuk pengalaman biasa baginya.


“OK, semuanya berkemas. Kita kembali ke Desa Ringin Kembar,” kata Panji sambil beranjak berdiri. Kata - kataya disambut sorakan gembira teman – temannya.


******


“Uwah, pintu gerbang ini sekarang terlihat sangat indah,” kata Gayatri sambil mengelus gerbang Perguruan Bukit Biru. Ia menempelkan dahinya di gerbang itu dan memejamkan matanya.


“Betul sekali. Dibandingkan pertempuran brutal kita di Hutan Halimun, kehidupan di Perguruan Bukit Biru tampak seperti surga,” kata Sasti pelan.


“Oh, tampaknya aku pernah mendengar ucapan ini,” kata Mahesa sambil mengelus dagunya.


“Uuuh, gombal! Bukankah kau sendiri yang mengucapkannya saat kita kembali dari Desa Bambu Kuning?” kata


Jayanti sambil menonjok lengan Mahesa.


Panji dan yang lainnya tertawa keras mendengar pembicaraan itu. Mereka tertawa semakin keras saat melihat ada beberapa murid yang melewati gerbang tertegun melihat Gayatri yang mengelus – elus gerbang sambil memejamkan matanya.


“Tunjung, apa rencanamu setelah ini?” kata Mahesa pelan.


“Entahlah. Kejadian di Hutan Halimun telah memberiku banyak pengalaman berharga. Tapi yang jelas, aku harus berjuang keras supaya cepat lulus dan mendaftar sebagai seorang Sentinel,” kata Tunjung sambil mengepalkan tangannya.


Teman – temannya sesama murid dalam menganggukkan kepalanya setuju. Tapi semua anggota murid luar hanya


bisa memandang dengan iri. Sentanu yang melihatnya pun hanya bisa menundukkan kepala.


Sersan Dirga memang menawari masing – masing anggota Tim Singa Gunung yang ikut misi menghancurkan


sarang ajag ekor merah sebuah token Sentinel. Kesempatan itu tidak di sia – siakan Tunjung dan teman – temannya. Semuanya menerima tawaran itu dan mendapatkan token Sentinelnya.

__ADS_1


“Kalau kamu, apa yang akan kau lakukan, Panji?” tanya Prakosa.


“Tampaknya berkat pertempuran kemarin, tenaga dalamku telah menerobos ke level 3. Aku ingin memanfaatkan waktu selama 4 bulan ini untuk memantapkannya,” kata Panji pelan.


“Kau sudah ke level 3? Bagus! Akan kunantikan saat kau diterima sebagai murid luar,” kata Mahesa gembira.


“Berarti selama 4 bulan ini Tim Rajawali Perak tidak akan menerima misi apapun. Kita semua akan beristirahat dan berlatih seperti biasa,” kata Jayanti sambil memandang Mahesa untuk meminta persetujuannya.


“Ya. Kita istirahat sebentar. Selama sebulan ini kita telah mengalami pertempuran sengit beberapa kali. Tenaga kita mungkin telah kembali, tapi mental kita masih belum kembali seperti semula,” kata Mahesa sambil tersenyum.


“Hahaha, akhirnya aku bisa tidur dengan tenang selama seminggu. Akhir – akhir ini aku tidak bisa tidur nyenyak,” seru Wiranata keras.


“Omong kosong! Justru kaulah yang ngorok paling keras saat kita tidur,” gerutu Baskara yang disambut tawa teman – temannya.


“Kita hanya libur latihan sampai besok. Manfaatkan waktu itu dengan baik. Setelah itu kita latihan lagi seperti biasa,”kata Mahesa pelan. “Lagipula, kalau kita terlalu lama beristirahat maka kemampuan yang kita dapat kemarin akan menurun lagi,” lanjutnya.


“Sekarang kita berpisah disini. Aku dan Jayanti akan menghadap Ki Tunjung untuk memberikan laporan perjalanan kita,” kata Mahesa sambil melangkah menuju Bagian Misi. Jayanti pun melangkah mengikutinya setelah menepuk pundak Sasti dan Gayatri.


Mereka berpencar sesuai tujuan masing – masing. Panji melangkah menuju ke gubuknya. Ia langsung merebahkan diri dan tidur sampai sore.


Malam harinya, ia berlatih seperti biasa. Setelah pemanasan sebentar, ia mulai mempraktekkan gerakan dasar yang diajarkan guru – gurunya.


Guru – gurunya selalu mengingatkannya untuk berlatih gerakan dasar. Gerakan dasar adalah pondasi dari jurus. Jika kau sudah memahami maksud dan tujuan sebuah gerakan dasar serta bisa melakukannya dengan baik dan benar maka jurusmu akan menjadi sebuah jurus yang hebat, karena sebuah jurus sebenarnya hanyalah rangkaian dari beberapa gerakan dasar.


“Satu, dua, tiga, empat... sepuluh ....seratus.”


Panji berdiri dengan kaki renggang. Ia menekuk kedua kakinya dengan kedua tangan sejajar pinggang. Kedua tangannya bergantian memukul lurus ke depan. Ia menghitung sampai 100 hitungan sebelum mengganti gerakannya menjadi pukulan dari bawah ke atas. Setelah 100 hitungan ia merubah gerakannya menjadi pukulan dari dari samping.


Ia terus berlatih berbagai jenis gerakan pukulan dan tangkisan dengan tangan terkepal, tangan terbuka dengan jari lurus merapat, tangan terbuka dengan jari terbuka, totokan dengan 2 jari merapat, pukulan siku dan sebagainya. Ia mengulangi setiap gerakan itu sebanyak 100 kali.


Setelah beristirahat sejenak, ia mulai berlatih gerakan kaki. Ia melatih berbagai jenis tendangan, tangkisan dan gerakan menghindar. Setiap gerakan ia ulangi 100 kali.


“Huuf,” Panji menghela nafas dalam – dalam sambil menghapus keringat yang mengalir deras di mukanya. Ia berusaha mengatur nafasnya yang terengah – engah.


“Istirahat dulu,” desisnya sambil melangkah ke bawah pohon besar. Ia duduk bersandar di akar pohon itu.


Beberapa saat kemudian, ia berdiri lagi dan melangkah ke tempat yang lebih luas. Ia meloncat – loncat kecil sebelum meloncat sekuat tenaga ke atas, ke samping, ke depan dan ke belakang berkali – kali. Setelah 100 hitungan ia pun menghentikan gerakannya.


Ia berdiri tegak dan diam selama beberapa saat. Setelah nafasnya teratur, ia memejamkan matanya. Pikirannya fokus membayangkan sosok seseorang yang akan dilawannya kali ini.


Panji membuka matanya setelah ia menemukan bayangan lawannya. Kedua tangan dan kakinya mulai bergerak


perlahan membentuk kuda – kuda yang kokoh. Tak lama kemudian, tubuhnya bergerak cepat dan melancarkan berbagai gerakan dasar yang tadi di latihnya. Bayangannya berkelebat dengan kedua tangan dan kaki bergantian memukul, menendang, menangkis dan menghindari serangan lawan yang hanya muncul dalam pikirannya.


Shadow training, latihan bayangan. Itulah yang dilakukan Panji setiap malam. Guru – gurunya mengajarkan tentang pentingnya latihan bayangan. Ia tidak boleh mencari musuh tetapi harus siap saat bertemu musuh. Untuk itu ia


harus mempersiapkan diri menghadapi berbagai macam tipe musuh. Salah satu cara untuk mempersiapkan diri itu adalah dengan cara latihan bayangan.


Sejak umur 10 tahun, Panji mulai dikenalkan dengan metode latihan ini. Kalau sebelum itu, salah satu gurunya akan menemaninya berlatih tanding. Tapi setelah ia mengenal latihan bayangan, gurunya kadang – kadang hanya melihatnya berlatih seorang diri. Gurunya akan memberikan komentar dan kritikan setelah selesai berlatih.


Sejak umur 12 tahun, ia mulai dibiarkan berlatih sendiri. Gurunya jarang menemani atau menungguinya berlatih.


“Fiuh, sulit juga mengalahkan musuh yang berkecepatan tinggi dengan tenaga dalam level 6. Kalau aku tidak menang kekuatan fisiknya, aku sudah kalah dari tadi,” gumamnya sambil menyeka keringat di mukanya.


“Aku harus meningkatkan kecepatan dan kekuatanku. Satu – satunya cara adalah dengan menggunakan


pemberat tubuh. Tapi aku telah meninggalkannya di rumah,” desisnya sambil mengusap dagunya pelan.


“Arrgh! Kenapa dulu aku tidak membawanya?” gerutunya sambil mengacak – acak rambutnya.


Panekti, salah satu gurunya, selain ahli ilmu pedang, juga seorang pandai besi. Sejak umur 9 tahun, Panji sudah dibuatkan pemberat tubuh oleh Panekti. Pemberat tubuh itu harus dipakainya setiap hari.


Panekti membuatkan 1 set lengkap pemberat tubuh bagi Panji. Setiap set terdiri dari sepasang pelindung lengan, sepasang pelindung kaki dan pelindung bahu.


Mula – mula, Panji mengenakan pelindung tubuh yang ringan dari besi tipis. Seiring waktu, Panekti mengganti pelindung tubuh itu dengan pelindung yang lebih berat. Sebelum Panji pergi mendaftar ke Perguruan Langit Biru, ia mengenakan pelindung tubuh dengan berat 5 kali berat awalnya.


“Mungkin sekarang aku harus mengenakan pelindung tubuh dengan berat paling tidak 2 kali berat yang ada di rumah. Tapi dimana aku mencarinya?” gumam Panji. Ia berjalan mondar – mandir selama beberapa saat karena kebingungan.


“Aaah, kenapa aku tidak membuatnya sendiri? Bukankah disini ada bengkel pandai besi. Besok aku bisa bertanya pada Kakek Tua apakah aku bisa menyewanya. Sekarang aku sudah punya uang sendiri. Aku bisa menyewanya selama beberapa hari. Kurasa aku juga bisa mencari bijih besi di pasar perguruan,” katanya sambil menepuk keningnya sendiri.


“Aku telah sering melihat paman membuat pelindung tubuh. Bahkan aku pernah ikut membantunya. Seharusnya aku bisa membuatnya sekarang,” gumamnya.

__ADS_1


“Aku bahkan juga bisa melatih tenaga dalamku lebih cepat. Mungkin aku bisa naik level lagi selama sisa waktu 4 bulan ini,” gumamnya senang. “Aku harus latihan sekali lagi,” lanjutnya.


Panji berdiri lagi dengan tenang. Ia sekali lagi membayangkan sosok lawan yang kan dihadapinya. Tak lama kemudian, tubuhnya mulai berkelebat seakan – akan ia bertempur menghadapi musuh sungguhan.


Menjelang tengah malam menghentikan latihannya. Setelah mengatur nafasnya yang terengah – engah, ia melangkah ke gubuknya untuk ganti baju dan langsung tidur. Ia masih punya waktu tidur selama 3 jam sebelum berlatih pernafasan pagi nanti.


Keesokan harinya, ia melangkah ke lapangan seperti biasanya sambil menenteng sapu lidi.


“Pagi, Kakek,” sapanya pada Kakek Tua yang sudah datang dan mulai menyapu lapangan.


“Pagi, Panji. Kau sudah pulang rupanya,” balas kakek itu ramah.


“Bagaimana pengalamanmu? Apakah misimu sukses?” tanya Kakek Tua.


“Berkat doa Kakek, misi kami sukses besar,” jawab Panji sambil tersenyum riang.


“Oh, ya? Coba kau ceritakan pada Kakek,” Kakek Tua itu menghentikan sapunya. Ia tersenyum ramah dan memandang Panji lekat – lekat.


Panji yang tidak bisa menolak akhirnya menceritakan semua pengalamannya selama di Desa Ringin Kembar.


“Oh, hebat juga kau, Nak. Kau masih muda tapi sudah bisa memimpin banyak orang menghadapi bahaya seperti itu,” gumam Kakek Tua itu sambil mengelus jenggotnya.


“Sebenarnya aku juga tidak menyangka akan bisa berhasil. Mungkin karena aku dibesarkan di Desa Arahiwang, jadi aku tidak asing dengan berbagai macam formasi pasukan. Kebetulan teman – temanku juga hebat – hebat sehingga kami bisa melalui semuanya dengan baik,” jawab Panji merendah.


“Tapi pada akhirnya, aku tetap saja membuat beberapa orang temanku mati,” gumamnya sedih. “Aku masih


bukan seorang pemimpin yang baik,” desisnya.


“Pemimpin yang baik adalah orang yang selalu memikirkan tujuannya tapi tidak melupakan nasib anak buahnya. Sekarang mungkin kau masih belum menjadi seorang pemimpin yang baik, tapi kau punya potensi untuk itu,”kata Kakek Tua itu sambil mengusap kepala Panji.


“Kau bisa mengambil peristiwa itu sebagai pengalaman berharga yang akan membuatmu kuat dan berhasil di masa depan,” lanjutnya.


“Terima kasih, Kek. Aku akan mengingat nasehat Kakek,” kata Panji sambil menangkupkan tangannya di depan dadanya.


“Anak baik. Anak baik,” gumam Kakek Tua itu lirih sambil mengusap jenggot panjangnya.


“Oh, ya, Kek. Apakah aku bisa menyewa besalen di Perguruan Langit Biru?” tanya Panji.


“Besalen? Disini ada beberapa besalen. Kau bisa  menemui Ki Suro untuk menyewanya.”


“Ki Suro?” Panji menggaruk kepalanya bingung. Ia tidak tahu siapa itu Ki Suro.


“Ki Suro adalah Kepala Pandai Besi Perguruan Langit Biru. Kau bisa menemuinya di besalen yang paling besar.”


“Kalau bijih besinya?”


“Kau bisa membeli besi kasar di pasar atau membeli bijih besi di besalen dan kau bisa mengolahnya sendiri langsung. Harga besi kasar batangan tentu jauh lebih mahal,” jawab Kakek Tua itu sambil tersenyum.


“Sebenarnya untuk apa kau menanyakan semua ini, Panji?” tanyanya.


“Ugh, begini....”


Panji menceritakan permasalahannya dan solusi yang telah direncanakannya semalam.


“Oh, jadi kau ingin berlatih menggunakan pemberat tubuh tapi kau tidak tahu dimana mencarinya. Akhirnya kau ingin membuat sendiri pemberat itu di besalen. Apakah benar begitu?”


Panji menganggukkan kepala.


“Kurasa setelah membuat pemberat tubuh, kau bisa membuat beberapa barang yang bisa kau jual. Menempa


besi adalah salah satu latihan yang bagus untuk memperkuat tubuh dan tenaga dalam.”


“Ya, Kek. Guruku juga berkata seperti itu.”


“Bagus. Kau bisa mencobanya. Aku sangat menantikan hasilnya,” kata Kakek Tua itu sambil tersenyum senang. “Sekarang kita menyapu dulu sebelum kau menemui Ki Suro.”


“Baik, Kek.”


“Seperti biasa, kau menyapu sebelah sana. Yang sebelah sini bagianku,” kata Kakek Tua itu.


“Baik, Kek.”

__ADS_1


__ADS_2