Maaf .......

Maaf .......
Episode 13. Desa Ringin Kembar


__ADS_3

Akhirnya saat keberangkatan tiba. Setelah memberitahu kakek tua bahwa ia akan pergi menjalankan misi selama beberapa hari, ia makan pagi dan menuju ke pintu gerbang.


“Panji, tunggu!” teriak seseorang menghentikan langkahnya. Ia menengok dan melihat Jayanti dan Wiranata


berjalan sambil menenteng 2 buah karung.


“Apa itu?” tanya Panji heran.


“Apa itu katamu? Bukankah kau sendiri yang minta? Ini anak panah cadangan untuk semua anggota tim, tahu!”


gerutu Wiranata.


“Tanganku pegal. Gantian!” katanya sambil menjatuhkan karung besar yang dibawanya.


“Membawa karung sebesar ini tanganmu pegal? Yang benar saja! Bilang saja kau malas membawanya. Itu baru


masuk akal,” kata Panji tenang.


“Tanganku pegal karena kau memaksaku memanah 2 hari penuh tanpa istirahat, tahu!” kata Wiranata sambil


mengibas – ngibaskan kedua tangannya. Kedua tangannya masih terasa pegal linu semenjak ia bangun tadi pagi.


“Wiranata, yang tangannya pegal tidak hanya engkau saja. Hampir semua dari kita merasa tangannya pegal. Tapi hanya kau yang terus mengomel seperti itu. Kau itu laki – laki atau perempuan?” omel Jayanti dengan mata mendelik marah.


”Sudah. Sudahlah. Hanya masalah seperti ini tidak perlu ribut. Malu kalau dilihat tim lain,” kata Panji sambil mendekati Wiranata.


Kedua tangannya bergerak dan tak lama kemudian, Wiranata pun merasa tangannya sembuh. Ia menggerakkan kedua tangannya dan memukul beberapa kali tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih pada Panji.


“Panji, apa yang kau lakukan pada Wiranata tadi?” tanya Jayanti kagum.


“Aku hanya melancarkan peredaran jalan darah dan melemaskan beberapa urat syarafnya yang kaku. Itu akan mengurangi rasa pegalnya,” kata Panji kalem.


“Panji, kau juga bisa ilmu pengobatan juga?” katanya takjub. Panji telah beberapa kali membuatnya kagum.


“Salah satu guruku termasuk ahli di bidang ilmu pengobatan. Aku telah mempelajari ilmunya walaupun hanya


sedikit,” kata Panji kalem.


“Jadi pil – pil yang kemarin itu kamu yang buat sendiri?” tanya Jayanti lagi.


“Bukan, itu buatan guruku. Aku membawanya dari rumah,” kata Panji. Ia mendekati Jayanti dan menyembuhkan pegalnya dalam sekejab.


Jayanti memutar-mutar kedua tangannya. Ia tidak merasakan lagi pegal linu yang membebaninya sejak bangun tidur tadi.


“Terima kasih Panji,” katanya pelan.


Panji hanya tersenyum kecil. Ia mengangkat karung yang tadi dibawa Jayanti dan melangkah pergi.


“Hey, kenapa kau malah membawa karung Jayanti?” protes Wiranata.


“Bukankah tanganmu sudah sembuh? Sudah, jangan banyak cerewet. Angkat karung itu. Kita sudah hampir terlambat,” kata Panji sambil terus melangkah menuju ke pintu gerbang.


Wiranata mengangkat karungnya dengan muka cemberut. Ia melangkah mengikuti Panji. Jayanti yang berjalan dibelakangnya  tertawa keras sambil memegangi perutnya.


Sesampainya di pintu gerbang mereka melihat anggota tim yang lain sudah berkumpul. Mereka mendekat dan mendapati hampir semuanya mengurut tangan mereka masing – masing.


“Hahaha.....apakah tangan kalian pegal linu?”  Wiranata menimang – nimang karung besar yang dibawanya dan menurunkannya sambil tertawa lebar.


“Memangnya kau tidak pegal?” tanya Sasti heran.


“Kau lihat saja sendiri,” kata Wiranata sambil tersenyum. Ia memutar kedua tangannya dan memukul ke depan


beberapa kali dengan bebas tanda kedua tangannya tidak terasa sakit.


“Huh, memangnya siapa yang tadi mengeluh pegal linu di jalan?” rutuk Jayanti yang berjalan di belakangnya.


“Jadi tadi tangannya juga sakit? Kenapa sekarang sudah sembuh begitu?” tanya Sasti.


“Panji yang mengobatinya. Tanganku juga sudah sembuh berkat Panji,” kata Jayanti pelan.


“Panji? Dia juga bisa ilmu pengobatan juga?” tanya Sasti sambil menengok Panji yang sedang mengobati Mahesa.


“Ya, katanya salah satu gurunya gurunya ahli pengobatan,” Jayanti membersihkan tanah menggunakan tangannya sebelum duduk disamping Sasti.


“Hehe, jadi tim kita sudah lengkap. Sekarang sudah ada tabibnya juga,” Sasti tertawa kecil sambil duduk  di sebelah Sasti. Ia menunggu giliran Panji menyembuhkannya setelah melihatnya berkeliling menyembuhkan teman – temannya satu persatu.


“Ok. Sekarang kita cek perlengkapan kita,” kata Mahesa setelah melihat Panji menyembuhkan semua anggota timnya.


“Desa Ringin Kembar berjarak 5 hari perjalanan dari sini. Sedikit lebih jauh dari Desa Bambu Kuning. Sebagian besar kas tim telah digunakan untuk membeli anak panah dan juga pedang untuk Sasti dan Gayatri. Jadi kami hanya membeli perbekalan seperlunya. Untuk makan, kita harus berburu di perjalanan,” kata Jayanti.


“Tidak masalah. Kita telah terbiasa berburu,” sela Baskara pelan disambut anggukan teman – temannya.


“Setiap anggota akan mendapatkan sebuah kantung anak panah beserta isinya. Mudah – mudahan itu cukup


untuk misi kali ini,” kata Wiranata sambil membuka karung yang dibawanya dan membagikan kantung anak panah kepada setiap anggota tim.

__ADS_1


“Jika setiap kantung panah berisi 50 buah anak panah, ditambah dengan kantung cadangan, berarti setiap anggota memiliki 100 buah anak panah, kan? Bagaimana menurutmu Panji? Apakah itu sudah cukup?” tanya Mahesa.


Berdasarkan pengalaman kemarin, ia telah menganggap Panji sebagai seorang ahli yang melebihi kemampuannya. Ia tidak merasa malu untuk meminta pendapat darinya.


“Kukira jumlah itu sudah cukup,” kata Panji sambil menganggukkan kepalanya.


Mereka memeriksa perlengkapan pribadi mereka sekali lagi untuk memastikan kondisinya tidak mengecewakan.


“OK, kalau begitu kita berangkat sekarang!”


“Siap!”


*****


“Fiuh...., akhirnya bisa juga kita melihat pintu gerbang Desa Ringin Kembar,” desah Sasti pelan.


“Huh! Kita bisa sampai lebih cepat kalau Wiranata tidak ngotot berbelok di hutan itu!” seru Baskara marah.


“Ya, kita sampai harus berhadapan dengan harimau yang membuat kita salah arah dan tersesat sampai sehari


penuh,” gerutu Gayatri dengan muka muram.


“Maaf, maaf,” kata Wiranata dengan muka bersalah.


Sebenarnya ia hanya ingin makan daging ayam hutan yang terdengar kokoknya saat mereka berjalan di pinggir hutan itu. Tapi ia tak menyangka mereka akan bertemu dan bertarung dengan sepasang harimau yang membuat mereka salah menentukan arah. Akibatnya mereka tersesat sehari penuh sampai dapat menemukan jalan yang benar.


“Sudahlah, anggap saja itu pemanasan sebelum kita menghadapi ajag ekor merah,” kata Mahesa sambil menepuk pundak Wiranata pelan.


Waktu sudah menunjukkan lewat tengah hari saat mereka memasuki pintu gerbang Desa Ringin Kembar. Mereka


menyusuri jalan utama yang sepi menuju ke arah balai desa.


“Kenapa jalan utama ini sepi sekali?” desis Baskara sambil mengernyitkan keningnya.


“Betul, ini terlalu sepi untuk ukuran jalan utama desa. Rumah – rumah di sini juga semuanya tertutup rapat. Apa ini semua dampak serangan ajag ekor merah itu?” kata Paksi sambil memperhatikan sekelilingnya.


“Mungkin juga. Kita akan tahu jawabannya saat kita sampai di balai desa,” sahut Mahesa.


Mereka terus melangkah dan beberapa saat kemudian, sampailah mereka di balai desa. Mereka melihat banyak orang berkumpul di aula balai desa. Tampaknya mereka sedang mengerumuni sesuatu.


Mahesa melangkah mendekati seorang pengawal yang berdiri di dekat aula.


“Maaf paman, bisakah kami bertemu dengan Kepala Desa Ringin Kembar?”


“Kami dari Perguruan Langit Biru.”


Pengawal itu tertegun sejenak dan mengamati Mahesa lebih lama. Ia akhirnya mengangguk dan mengantarkan mereka menemui seorang lelaki setengah tua yang duduk di kursi di dekat aula.


“Ada apa, Trimo? Siapakah anak - anak muda ini?” kata orang itu sambil menunjuk Mahesa dan teman – temannya.


“Maaf Ki Narpada, mereka adalah anak – anak muda dari Perguruan Langit Biru.”


“Perguruan Langit Biru? Apakah mereka teman anak – anak muda yang kemarin membantu kita itu?” tanya Ki


Narpada.


“Benar, kami adalah teman – teman Tim Singa Gunung yang sebelumnya dikirim kemari oleh Perguruan


Langit Biru,” potong Mahesa sebelum pengawal bernama Trimo itu sempat menjawab.


“Oh, kalau begitu silahkan duduk,” kata Ki Narpada sambil berdiri.


Mahesa dan anggota Tim Rajawali Perak segera menarik kursi dan duduk setelah Trimo minta ijin untuk keluar ruangan.


“Perkenalkan, namaku Narpada. Aku dipercaya sebagai kepala desa di tempat ini,” kata orang tua itu sambil menatap tajam Mahesa  dan teman – temannya.


“Saya Mahesa, dan ini adalah teman – teman saya dari Tim Rajawali Perak,” kata Mahesa memperkenalkan


dirinya dan teman – temannya.


“Apakah kalian benar dari Perguruan Langit Biru?” tanya Ki Narpada lagi.


“Ya. Apakah Ki Narpada masih belum percaya?” tanya Mahesa heran.


“Kalian ikutlah denganku,” Ki Narpada bangkit dan berjalan menuju kerumunan orang di aula balai desa.


Mahesa mengerutkan keningnya heran. Ia memandang teman – temannya dan melihat mereka semua juga


kebingungan. Akhirnya, setelah mengangkat bahu, ia mengikuti Ki Narpada ke aula balai desa.


Orang  yang berkerumun itu menyibak setelah melihat Ki Narpada melangkah ke arah mereka. Mahesa dan yang lainnya pun mengikuti di belakang Ki Narpada. Akhirnya mereka melihat 2 orang yang terbaring lemas di tengah kerumunan. Seorang tabib tampak sedang berusaha mengobati mereka.


“Kami menemukan mereka di depan pintu gerbang tadi pagi,” kata Ki Narpada.


Mahesa terkejut melihat kedua orang itu. Ia mengenal mereka karena mereka adalah anggota Tim Singa Gunung. Keduanya terlihat lemas dengan luka sobek hampir di seluruh tubuhnya. Mereka merintih kesakitan.

__ADS_1


Panji segera maju ke depan saat dilihatnya orang yang terluka itu mengenakan seragam murid luar Perguruan Langit Biru.


Tabib yang sedang mengobati mereka mengerutkan keningnya. Ia akan  mencegah Panji tapi mengurungkan   niatnya saat dilihatnya Ki Narpada menggelengkan kepalanya.


Panji meminta 2 buah gelas berisi air putih. Ia melarutkan pil multitonik dan meminumkannya ke kedua orang itu.


Beberapa saat kemudian kedua orang itu terlihat tenang. Mereka tidak merintih lagi. Saat salah seorang itu melihat Mahesa, ia berkata lirih.


“Mahesa, tolong ..... tolonglah Tim Singa Gunung. Mereka terperangkap di gua di dekat padang rumput di Hutan Halimun,” desisnya sebelum pingsan. Rupanya ia memaksakan dirinya untuk berbicara.


Mahesa memeriksa keduanya sejenak dan menghela nafas lega. Obat Panji telah bekerja dengan baik. Keduanya hanya pingsan karena kecapekan, ketakutan dan kehilangan banyak darah.


“Ki Narpada, apakah di Hutan Halimun ada padang rumput,” kata Mahesa sambil beranjak berdiri.


“Ada. Di seberang Hutan Halimun ada padang rumput yang cukup luas. Mahesa apakah kalian juga akan kesana?” tanya Ki Narpada dengan muka serius.


“Maaf Ki Narpada. Misi kami adalah untuk menyelamatkan teman kami. Aku paham kekhawatiran Ki Narpada, tapi kami tetap harus berangkat kesana,” kata Mahesa tegas.


“Baiklah. Apa yang bisa kami bantu?” tanya Ki Narpada sambil menghela nafas panjang. Ia melihat sikap Mahesa yang tegas dan merasa tidak ada gunanya mencegahnya.


“Mungkin makanan dan air minum,” sela Panji saat dilihatnya Mahesa akan menolak tawaran Ki Narpada. “Kalau bisa ditambah seekor kambing,” lanjutnya.


“Kambing? Buat apa kambing?” tanya Mahesa heran.


“Nanti kau akan tahu setelah kita sampai di hutan,” kata Panji sambil tersenyum misterius.


 Setelah menerima barang yang di pesan serta mendapat petunjuk arah, mereka berpamitan dan beranjak pergi menuju Hutan Halimun. Untuk mempercepat perjalanan,  mereka mengikat kambingnya dan Prakosa menggendongnya.


Mereka dengan cepat sampai ke pintu gerbang dan melangkah melewati area persawahan kering sehabis panen. Pandangan mereka tertuju pada hutan lebat di seberang persawahan. Itulah Hutan Halimun.


“Panji, buat apa kau meminta kambing pada Ki Narpada?” tanya Paksi sambil berjalan di samping Panji.


 “Kambing ini akan kita gunakan untuk memancing,” kata Panji sambil tersenyum kecil.


“Memancing? Memancing apa?” tanya Paksi heran.


“Tentu saja ajag ekor merah,” kata Panji. Ia menceritakan rencananya sambil berjalan.


Semua anggota Tim Rajawali Perak mendengarkan rencana Panji. Mereka bertanya beberapa kali sampai semuanya paham.


“Untuk itu kita harus


cepat mencari lokasi yang sesuai dengan rencana ini,” katanya. Ia mempercepat


jalannya, bahkan mulai berlari. Teman – temannya mengikutinya dari belakang.


Dengan cepat mereka melewati persawahan dan mencapai tepi Hutan Halimun.


“Sekarang kita harus cepat mencari lokasi yang cocok. Tapi awasi lingkungan sekitar, ajag ekor merah bisa menyerang kita kapan saja,” kata Panji saat melihat matahari sudah hampir terbenam.


Mereka berlari menerobos hutan dengan Paksi berada paling depan. Dengan mata dan pendengarannya yang tajam, ia bertanggung jawab untuk mendeteksi musuh yang akan menyerang tim. Ia juga yang bertugas mencari lokasi yang cocok untuk rencana melaksanakan Panji.


Saat matahari tenggelam di ufuk barat, akhirnya mereka bisa mencari tempat yang cukup lapang. Prakosa


menyembelih kambing yang dibawanya dan meletakkannya di tengah lapang. Mereka kemudian berpencar dan naik pohon di sekitar tempat lapang itu.


Menjelang malam, mereka mendengar lolongan ajag. Dibawah sinar bulan purnama, mereka bisa melihat kawanan ajag ekor merah mulai terlihat di tepi tanah lapang.


Panji mengawasi kawanan ajag itu sampai mereka mendekati bangkai kambing sebelum berteriak keras.


“Tembak!”


Anak panah meluncur dari berbagai arah di tanah lapang. Kawanan ajag yang tidak siap hanya bisa melengking keras saat tubuh mereka jatuh tertembus anak panah.  Beberapa menit kemudian suasana sepi kembali.


Hanya bangkai ajag yang terlihat bergelimpangan di tanah lapang.


Malam itu ada 3 kawanan ajag yang mendekat. Semuanya habis tersapu anak panah Tim Rajawali Perak.


Pagi harinya saat mereka turun dari pohon, mereka melihat ada sekitar 100 bangkai ajag ekor merah bergelimpangan hampir memenuhi tanah lapang.


“Wahahaha... mudah sekali. Ternyata mereka mudah dibohongi,” kata Wiranata sambil tertawa lebar.


“Haa..ah, kalau bisa semudah ini aku tidak akan khawatir seperti ini. Ini hanya bisa dilakukan malam hari dan kita tidak punya kambing lagi. Jadi, untuk seterusnya, kita hanya bisa bertempur seperti biasa,” desah Panji sambil menghela nafas panjang.


“Sudahlah. Kita sudah mengurangi kekuatan mereka sampai 100 ekor. Itu sudah luar biasa bagus. Sekarang kita harus cepat menemukan Tim Singa Gunung,” kata Paksi sambil menepuk pundak Panji.


“Paksi benar. Ayo kita berangkat!” kata Mahesa.


“Siap!”


Mereka meneruskan langkah menerobos hutan. Akhirnya, saat tengah hari, mereka melewati hutan dan sampai di tepi padang rumput.


Mereka melangkah dengan cepat memasuki padang rumput. Beberapa saat kemudian mereka tertegun. Di depan


mereka tampak puluhan bangkai ajag ekor merah bergelimpangan di padang rumput. Mereka juga melihat ada mayat manusia yang terbujur kaku. Mayat itu terlihat mengenakan seragam yang robek – robek, tapi mereka mengenalinya sebagai seragam Perguruan Langit Biru!

__ADS_1


__ADS_2