
“Sentinel?” gumam Panji heran.
“Kau tidak tahu?” tanya pengawal dari Desa Bambu Hijau itu sambil memandang Panji heran.
“Aku berasal dari desa yang cukup jauh dari Kota Manyaran. Di desaku belum pernah ada Sentinel,” jawab Panji tenang.
Desa Arahiwang, tempatnya tinggal, selalu bisa mengatasi masalah keamanannya sendiri. Seluruh warga desanya bahu membahu membangun dan mempertahankan desa. Mereka hampir tidak pernah meminta bantuan pihak luar.
“Sentinel adalah pasukan yang sudah terbentuk sejak jaman dulu. Bahkan sebelum kekaisaran Medang terbentuk. Saat zaman kekacauan itu merekalah yang bertindak sebagai penjaga keamanan karena prajurit maupun pengawal
belum terbentuk,” kata Tunjung.
“Mereka mendirikan benteng – benteng besar di berbagai tempat. Sampai sekarang benteng – benteng itu masih ada dan masih berfungsi.”
“Beberapa kota terbentuk di dekat benteng. Kota – kota itu asalnya adalah pasar kecil yang terbentuk untuk memenuhi kebutuhan benteng. Seiring berlalunya waktu, banyak orang mulai berdatangan dan terbentuklah
sebuah kota. Contoh yang paling dekat adalah Kota Manyaran yang berbagi nama yang sama dengan Benteng Manyaran.”
“Mereka mempunyai pasukan sendiri yang terpisah dari tentara kerajaan maupun kekaisaran. Pasukan itulah yang terkenal dengan sebutan Sentinel. Sebuah pasukan independen yang sangat kuat dan terkenal” kata Tunjung panjang lebar.
“Kami disini kadang - kadang meminta bantuan mereka jika kami menghadapi kesulitan. Mereka akan menugaskan Sentinel untuk membantu kami,” sela pemanah dari Desa Bambu Hijau.
“Yah, begitulah. Menjadi sentinel itu harus siap ditugaskan kapan saja. Tugas mereka hanya 2, berlatih dan bertarung. Hanya orang yang suka bertarung yang bisa menjadi Sentinel. Orang biasa tidak akan tahan,” sahut Tunjung pelan.
Prakosa yang mendengarkan sejak tadi raut mukanya berubah. Ia memandang 2 orang Sentinel itu dengan pandangan kagum. Baskara yang melirik disebelahnya hanya menghela nafas tak berdaya.
“Memang maniak akan senang bertemu maniak lainnya,” desisnya pelan.
Jayanti yang mendengar perkataan itu hanya tersenyum kecil. Ia juga melihat raut muka memuja Prakosa yang seperti fans bertemu idolanya.
Kedua orang Sentinel itu berjalan cepat menaiki bukit menuju kearah mereka. Hanya butuh beberapa menit bagi kedua orang itu untuk sampai ke tepat mereka berada.
“Halo, selamat sore,” sapa Sentinel yang berjalan paling depan. Ia memakai baju besi lengkap dari ujung kaki sampai kepala. Hanya mukanya saja yang tidak tertutup besi. Di dada sebelah kanan terdapat sebuah logo perisai dengan sebuah bintang kecil berwarna hitam di ujung atasnya.
“Selamat sore tuan,” balas Tunjung ramah. “Apa ada yang bisa kami bantu?” lanjutnya.
“Namaku Dirga, Sersan pasukan Sentinel Benteng Manyaran. Ini anak buahku Kopral Parta. Sebenarnya kami ditugaskan untuk membantu Desa Bambu Hijau, tapi sepertinya kami terlambat datang,” kata Sersan Dirga sambil melihat tumpukan bangkai setan hitam di tengah lapangan.
“Permintaan bantuan datang sebulan yang lalu. Hanya saja sebagian besar Sentinel di Benteng Manyaran sedang menjalankan tugas diluar benteng. Kami juga sedang melatih calon Sentinel yang menyita waktu Sentinel yang tersisa. Jadi kami hanya bisa datang berdua hari ini,” kata Kopral Parta.
“Kami datang ke Desa Bambu Hijau tadi siang. Kepala Desa mengatakan bahwa kalian telah mengetahui hewan yang menyerang desa kalian beserta lokasi sarangnya. Katanya kalian akan menyerbu sarang setan hitam itu hari ini,” lanjutnya.
“Kami bergegas menyusul kesini untuk membantu karena kami tahu betapa berbahayanya kawanan setan hitam
itu, tapi sepertinya kalian bisa menyelesaikan sendiri masalah kalian,” kata Sersan Dirga sambil tersenyum.
“Sebenarnya yang menghadapi kawanan setan hitam itu bukan kami. Kami hanya membantu saja,” kata pemanah dari Desa Bambu Hijau itu sambil tersenyum kikuk.
“Oh, lalu siapa yang bisa membantai setan hitam sebanyak ini?” tanya Sersan Dirga takjub.
“Jangan bilang anak – anak muda ini yang menghadapinya,” lanjutnya sambil menunjuk Mahesa dan kawan –
kawannya.
“Benar, merekalah yang berhadapan muka dengan kawanan setan hitam itu. Kami semua hanya membantu
mengurangi jumlahnya dari jauh dengan panah. Seluruh strateginya juga dirancang oleh mereka. Jika tidak, dengan jumlah setan hitam sebanyak itu, mungkin kami sudah mati semua sekarang,” kata Tunjung.
“Oh, siapakah anak – anak muda ini?” tanya Sersan Dirga dengan pandangan takjub. Kopral Parta yang berdiri di sebelahnya juga memandang Mahesa dan kawan – kawan dengan pandangan tak percaya.
Mereka tahu persis kekuatan setan hitam. Tidak banyak orang yang berani menghadapi setan hitam satu lawan satu. Apalagi menghadapi kawanan setan hitam sebanyak ini.
“Mereka adalah murid – murid Perguruan Langit Biru. Awalnya Desa Bambu Kuning hanya meminta bantuan
mereka untuk mencari penyebab matinya ternak – ternak di desa kami. Tapi hanya dengan sekali melihat bekas serangannya, mereka langsung tahu penyebabnya. Bahkan mereka langsung menyusuri jejaknya sampai ke tempat ini.”
__ADS_1
“Mereka juga yang mengajukan diri untuk menumpas kawanan setan hitam yang telah mengganggu kami selama ini. Ternyata mereka tidak bohong. Kawanan setan hitam ini dapat mereka basmi hanya dalam waktu sehari,” jelas Tunjung panjang lebar.
“Kawanan setan hitam ini semuanya dapat dibasmi dalam waktu sehari saja? Semuanya?” kata Kopral Parta tak percaya.
“Ya, semuanya. Mereka juga telah menyusuri ke dalam gua dan membasmi setan hitam yang tersisa. Katanya jumlahnya juga hampir sama dengan yang di luar sini,” kata Tunjung lagi.
Para pemanah yang lain menganggukkan kepalanya tanda menyetujui perkataan Tunjung.
“Oh, hebat juga kalian,” kata Sersan Dirga sambil memandang Mahesa dan kawan – kawannya dengan takjub.
“Siapa nama kalian?”lanjutnya.
“Nama saya Mahesa, Sersan. Saya adalah ketua Tim Rajawali Perak dari Perguruan Langit Biru. Mereka semua
adalah teman - teman saya,” kata Mahesa sambil memperkenalkan teman – temannya kepada Sersan Dirga.
“Mahesa, apakah kau dan teman – temanmu tertarik untuk menjadi Sentinel?”
“Maksud sersan?”
“Kami dari Benteng Manyaran membutuhkan anak – anak muda pemberani dan kuat seperti kalian. Kalau kalian tertarik, kalian bisa mendaftar menjadi Sentinel di Benteng kami,” kata Sersan Dirga sambil tersenyum.
“Tapi kami masih belajar di Perguruan Langit Biru. Kami tidak bisa begitu saja keluar dari perguruan kami,” kata Mahesa pelan.
Ia melihat Prakosa yang tampak begitu senang dengan tawaran Sersan Dirga dan berusaha memperingatkannya.
“Oh, kalian tidak perlu keluar dari Perguruan Langit Biru. Bukankah begitu Kopral?” tanya Sersan Dirga sambil menengok anak buahnya yang berdiri di dekatnya.
“Benar. Benteng Manyaran mempunyai 2 jalur penerimaan Sentinel. Yang pertama adalah penerimaan untuk menjadi calon Sentinel. Mereka yang lolos seleksi akan dididik di Benteng Manyaran selama 1 tahun sebelum diterima menjadi Sentinel.”
“Yang kedua adalah pendaftaran untuk langsung menjadi seorang Sentinel. Bagi seseorang yang punya
kemampuan dan diakui oleh personel benteng yang ditunjuk, ia bisa melakukan 1 misi yang ditugaskan oleh Benteng Manyaran untuk bisa langsung diterima sebagai seorang Sentinel,” kata Kopral Parta panjang lebar.
“Jadi kami masih bisa belajar di Perguruan Langit Biru. Setelah lulus kami bisa menuju Benteng Manyaran untuk mendaftar sebagai Sentinel asalkan kami bisa diakui kemampuannya. Apakah benar begitu?” tanya Mahesa memastikan.
“Bagaimana kami bisa menemui personel yang ditunjuk itu dan bagaimana caranya agar kemampuan kami diakui?” tanya Prakosa tak sabar.
“Kalau itu hanya Sersan Dirga yang bisa menjawab,” jawab Kopral Parta sambil tersenyum simpul.
“Ah kau ini! Kenapa tidak langsung menjawab saja,” gerutu Sersan Dirga yang disambut tawa kecil Kopral Parta.
“Sebenarnya aku termasuk salah satu personel yang ditunjuk itu. Kalau masalah kemampuan, aku bisa mengakui kemampuan kalian. Kalian diusia semuda ini sudah bisa menghadapi keroyokan puluhan setan hitam membuktikan kemampuan kalian sudah cukup tinggi.”
“Kalau kalian mau, aku bisa menyerahkan tanda pengakuan untuk kalian. Siapa yang tertarik?” tanyanya.
Prakosa, Mahesa, Paksi dan Panji mengacungkan tangannya hampir serentak. Mereka saling berpandangan
sejenak dan tersenyum lebar.
“Baik. Ini token pengakuan kemampuan kalian. Simpan baik – baik dan jangan disalah gunakan. Ada tanda tanganku di dalamnya,” kata Sersan Dirga sambil menyerahkan sebuah token dari besi kecil berwarna hitam bergambar perisai berwarna merah.
“Serahkan token itu ke Benteng Manyaran dan kalian akan diterima sebagai seorang Sentinel,” lanjutnya.
“Tampaknya Sersan Dirga sangat menyukai kalian. Biasanya pemilik token itu masih harus menjalankan 1 misi sebelum diterima,” kata Kopral Parta.
“Anggap saja ini dispensasi dari Sersan Dirga. Ini kasus yang langka, bahkan selama aku menjadi Sentinel, ini adalah pertama kalinya,” lanjutnya.
“Terima kasih Sersan,” kata Mahesa pelan. Ia tidak tahu harus berkata apa setelah mendengar perkataan Kopral Parta.
“Ah sudahlah. Ini bukan apa – apa. Anggap saja kalian telah menjalankan misi mengatasi masalah di Desa Bambu Hijau,” kata Sersan Dirga sambil mengibaskan tangannya.
Ia tidak bisa melepaskan anak – anak muda yang berani berhadapan dengan kawanan setan hitam itu begitu saja. Kekuatan dan keberanian mereka melebihi rata – rata anak muda seumurannya. Mereka akan dapat meningkatkan kekuatan Benteng Manyaran di masa depan.
Setelah berbasa – basi sejenak, Sersan Dirga dan Kopral Parta mohon pamit untuk kembali ke Benteng Manyaran. Mahesa dan teman – temannya pun bergerak menuruni bukit bersama Tunjung dan para pemanah. Mereka menuju Desa Bambu Kuning. Mereka akan kembali besok bersama para penduduk lainnya untuk membersihkan mayat setan hitam yang menumpuk supaya tidak menimbulkan penyakit.
__ADS_1
Setelah beristirahat sehari, Tim Rajawali Perak berangkat kembali ke Perguruan Langit Biru. Kepergian mereka diantar oleh seluruh penduduk Desa Bambu Kuning beserta perwakilan desa – desa lain di sekitar Bukit Sibolang sampai perbatasan desa.
“Fiuh, rasanya lega setelah terbebas dari mereka,” desah Sasti sambil memandang kumpulan warga desa yang masih melambaikan tangan di belakang mereka.
“Itu artinya mereka menghargai kita. Kita tidak bisa menolaknya, kan?” kata Jayanti.
“Iya juga sih. Tapi aku tak percaya kita bisa selamat setelah mengalami pertempuran seperti itu,” gumam Sasti.
“Haha, tidak hanya engkau saja. Kita semua juga baru kali ini mengalaminya. Wajar kalau kita masih kaget dan tak percaya,” kata Mahesa riang.
“Tidak semuanya. Tampaknya ada yang telah sering mengalaminya,” gumam Prakosa pelan. Matanya memandang Panji dengan pandangan yang aneh.
“Betul juga,” kata Paksi. “Panji, apakah kau sudah pernah mengalaminya?”
“Mengalami apa?” tanya Panji kaget. Ia baru saja berjalan sambil melamun. Pertempuran kemarin telah meningkatkan kekuatan cukup banyak, tapi masih belum bisa menembus level 3. Tampaknya ia memerlukan beberapa pertempuran lagi supaya bisa menembusnya.
“Kau ini! Apa kau berjalan sambil melamun?” omel Sasti pelan.
“Apakah kau pernah mengalami pertempuran hidup mati seperti kemarin?” ulang Paksi sekali lagi.
“Oh, itu. Yah..., guruku sering memaksaku bertempur melawan kawanan hewan buas sendirian. Kurasa aku tidak bisa menghitung berapa kali aku mengalami pertempuran seperti itu,” kata Panji santai.
Mahesa dan yang lainnya hanya bisa bengong mendengar perkataan Panji. Bertempur melawan hewan buas
sendirian? Guru macam apa yang berbuat seperti itu? Pantas saja anak ini kekuatannya seperti monster!
“Oh ya, aku ingat sekarang. Mahesa, kenapa kau tertarik menjadi Sentinel?” tanya Wiranata.
“Memangnya kenapa?” tanya Mahesa heran.
“Kalau Prakosa atau Panji sih wajar. Mereka adalah maniak tempur. Tapi kamu? Kau dan Paksi termasuk orang biasa, bukan maniak seperti mereka. Kenapa ikut mendaftar juga?” kata Wiranata yang disambut jitakan kepala dari Prakosa.
“Suatu saat aku harus menggantikan ayahku. Aku harus lebih kuat saat itu tiba. Menjadi Sentinel bisa membuat aku menjadi lebih kuat dengan cepat,”jawab Mahesa sambil tertawa kecil.
“Bagaimana denganmu Paksi?” tanya Baskara.
“Aku berasal dari keluarga miskin. Akulah harapan mereka untuk keluar dari kemiskinan. Aku beruntung bisa diterima di Perguruan Langit Biru, tapi aku harus bisa membantu perekonomian keluarga secepatnya. Sentinel tampaknya bisa memenuhi harapanku. Kudengar gaji disana cukup besar,” jawab Paksi santai.
“Kalian tidak menanyaiku?” tanya Prakosa.
“Buat apa tanya pada maniak sepertimu,” jawab Baskara yang disambut tawa anggota lainnya.
Baskara segera berlari menjauh saat Prakosa bersiap menjitaknya.
“Kalau kau sendiri bagaimana, Panji? Apa yang membuatmu tertarik menjadi seorang Sentinel?” tanya Mahesa.
Prakosa dan yang lainnya menghentikan langkah mereka saat mendengar pertanyaan Mahesa. Mereka juga ingin tahu jawaban Panji.
“Kenapa kalian serius sekali? Aku hanya ingin mengembangkan kemampuanku. Sentinel tampaknya bisa memberiku banyak pengalaman yang berguna untuk masa depanku.”
“Sama seperti Mahesa. Aku juga harus kembali ke daerah asalku kelak. Kedua orang tuaku telah tiada dan aku harus menggantikan mendiang ayahku sebagai pemimpin disana. Menurutku, ayahku adalah seorang pemimpin yang hebat. Jadi setidaknya aku harus bisa menyamai ayahku atau bahkan melebihinya,” jawab Panji sambil mengelus kalung di balik bajunya.
“Ah, kenapa jadi serius sekali. Sekarang giliran Prakosa yang bercerita. Kenapa kau bisa berubah menjadi maniak seperti itu?” tanya Wiranata yang segera di sambut tawa teman - temannya.
bersenda gurau untuk menghilangkan lelah. Tak terasa 2 hari pun berlalu. Sampailah mereka di pintu gerbang Perguruan Langit Biru.
“Akhirnya sampai juga,” desis Laksana sambil menyeka keringat di dahinya.
“Ya, setelah mengalami pertempuran di Bukit Sibolang, pintu gerbang perguruan ini tampak terlihat sangat indah,” kata Sasti. Ia menempelkan dahinya sambil memejamkan mata di pintu gerbang.
“Hahaha, wajar saja. Kehidupan di perguruan tampak seperti surga dibandingkan peristiwa yang kita alami di
Desa Bambu Kuning,” kata Mahesa sambil tertawa lebar.
“Betul, betul,” sahut Jayanti dan Gayatri sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Paksi, Prakosa dan yang lainnya mengangguk setuju. Mereka berbincang santai saat sebuah teriakan keras mengejutkan mereka.
“Hahaha, ada apa ini? Apakah Tim Rajawali Perak yang perkasa semuanya berubah jadi idiot setelah kembali dari misi?”