Maaf .......

Maaf .......
Episode 28. Bertemu Brigade Tengkorak Darah


__ADS_3

“Tolong! Tolong aku!”


Suara teriakan keras minta tolong memasuki telinga Panji yang baru saja selesai mencuci bajunya. Telinganya yang tajam segera mengetahui bahwa suara itu adalah suara seorang perempuan dan di mana arah arahnya. Ia segera menengok kearah sumber suara itu. Tangannya meraih tasnya dan segera meloncat berlari ke arahnya.


“Apa yang sedang terjadi?” gumamnya bingung.


Ia telah berkeliling hutan di Bukit Munggur ini selama hampir 2 minggu, tapi ia belum pernah bertemu seorang pun. Hutan yang sangat berbahaya ini akan membuat orang berpikir beberapa kali untuk memasukinya.


Ia berlari cepat menerabas padang rumput. Kecepatannya tidak menurun saat ia mulai memasuki hutan. Kakinya bergerak lincah meliuk –liuk di sela pepohonan hutan. Beberapa kali ia terpaksa meloncati pohon yang tumbang atau batu besar yang menghalangi jalannya. Beberapa saat kemudian, ia menghentikan larinya karena kehilangan


arah.


Ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan akhirnya meloncat cepat menaiki pohon yang paling besar. Sekali lagi ia mengedarkan pandangannya tapi tetap tidak menemukan orang yang tadi berteriak minta tolong.


“Kenapa orang itu berhenti berteriak? Jangan - jangan ia di kejar hewan di hutan ini dan sekarang sudah mati dimakannya,” gumamnya lirih.


Ia memejamkan matanya untuk dan mengerahkan pendengarannya supaya bisa mendengarkan suara dengan


lebih jelas.


“Tolong! Kumohon, tolong aku!”


Suara teriakan itu terdengar lagi. Panji menengok ke kanan. Di sela – sela pepohonan, ia melihat seorang sedang berlari dengan susah payah. Darah mengalir di beberapa bagian tubuhnya. Pakaiannya pun robek- robek di beberapa tempat.


Panji mengerutkan keningnya heran. Dengan cepat ia mendekat dengan melompat melalui beberapa dahan pohon dan melihat seorang perempuan berusia setengah baya sedang berlari dengan susah payah. Wajahnya pucat pasi dengan ekspresi ketakutan tampak jelas di wajahnya.


Perempuan itu berlari dengan terseok – seok. Ia memaksa tubuhnya untuk terus berlari. Sesekali ia menengok ke belakang dengan wajah ketakutan.


“Hahaha... sampai kapan kau akan terus berlari, Nyai?”


Sebuah teriakan keras mengejutkan perempuan setengah baya itu. Ia menjerit kecil saat kakinya tersandung akar pohon dan jatuh bergulingan di tanah. Ia berusaha bangkit tapi kakinya yang terkilir membuatnya tak bisa berdiri. Akhirnya ia hanya bisa terduduk pasrah dengan kedua tangan menutupi mukanya.


Panji mengerutkan keningnya saat melihat 6 orang lelaki dengan wajah buas berjalan mendekat dengan tenang.


“Hahaha, bagaimana kelinci manis? Apakah kau sudah bosan bermain kejar – kejaran dan menungguku di sini?” tanya seorang laki – laki bermuka brewok yang berjalan paling depan. Ia tertawa riang saat melihat perempuan setengah baya itu hanya duduk sambil menangis.


“Nyi Danapati, kau telah membuat kami berjalan sampai 2 jam ke tempat ini. Sekarang menyerahlah! Kau harus kami bawa ke tempat pemimpin kami,” kata seorang laki – laki yang berkepala botak.


“Suami dan pengawalmu telah menunggu kedatanganmu di sana,” lanjutnya sambil menyeringai buas. “Tentu saja kalau mereka belum dibunuh oleh pemimpin kami.”


“Jatha, kita telah berjalan lebih dari 2 jam karena perempuan ini. Kenapa kau langsung ingin menangkapnya dan menyerahkan pada pemimpin kita? Kau tidak ingin bersenang – senang dulu?” tanya laki – laki bermuka brewok itu sambil tersenyum menyeringai.


“Benar Jatha. Kita bermain – main dulu dengan perempuan ini baru menyerahkannya pada pemimpin kita,” kata lelaki yang bermuka klimis yang berjalan di sebelahnya. Mulutnya tersenyum cabul saat melihat perempuan setengah baya yang ketakutan melihat kedatangan mereka.


“Tapi kita telah pergi terlalu lama. Bagaimana kalau pimpinan kita tahu ulah kita di sini. Kau tahu sendiri hukuman apa yang akan menimpa kita,” kata Jatha pelan.


“Huh, pimpinan kita tidak akan tahu. Kita bilang saja perempuan ini melarikan diri ke hutan dan dimakan harimau. Beres, kan,” kata laki – laki bermuka klimis itu dengan mulut menyeringai buas.


Perempuan setengah baya itu gemetar ketakutan mendengar percakapan mereka. Ia tak menduga perjalanan bersama suaminya ke kota Manyaran akan berakhir seperti ini.


“Kenapa...... kenapa kalian melakukan ini pada kami? Apa salah kami pada kalian?” tanya perempuan setengah baya itu dengan terbata – bata.


“Salah kalian? Salah kalian ada 2 macam. Yang pertama adalah kelakuan suamimu. Bisnisnya telah membuat teman pimpinan kami rugi besar. Karena itu ia meminta pimpinan kami untuk menangkap  dan menyerahkan kalian


padanya. Sedangkan kesalahan yang kedua adalah kau terlalu cantik sehingga membuat kami tertarik padamu,” katanya disambut tawa teman -. temannya.


Mereka berjalan pelan mendekati perempuan setengah baya yang berusaha sekuat tenaga untuk menjauh.


“Jangan.... jangan mendekat! Tolong! Tolong!” Perempuan itu berteriak sekuat tenaga. Air mata mengalir deras membasahi pipinya saat melihat ke-6 lelaki itu semakin mendekatinya.


“Berteriaklah sekuat tenagamu, Nyi. Tidak akan ada orang yang mendengar suaramu,” desis laki – laki brewok yang berjalan paling depan.


Panji mengamati semua kejadian itu dengan muka berkerut. Ia paling tidak suka dengan orang yang suka menindas orang lain. Apalagi tampaknya sekelompok laki – laki itu baru saja merampok keluarga perempuan setengah baya itu. Ingatan tentang desanya yang hampir hancur karena serbuan perampok membuat mukanya memerah karena marah. Perempuan setengah baya itu mengingatkannya tentang ibunya. Jika ibunya masih


hidup, tentu sekarang umurnya hampir sama dengan perempuan itu.


“Brugh!”


Panji melompat turun dan mendarat di depan perempuan setengah baya itu. Ia berdiri tenang dengan mata memandang tajam sekelompok laki – laki yang terkejut melihat kedatangannya.


“Bocah, mau apa kau di sini?” tanya laki –laki bermuka klimis dengan raut muka tak senang.


“Pergilah. Tak pantas kalian  mengganggu perempuan ini,” kata Panji sambil mengibaskan tangannya.


“Bocah cilik! Apa maksudmu! Menyingkirlah kalau tak ingin nyawamu melayang di sini,”  geram laki – laki bermuka brewok.


“Benar bocah. Ini urusan orang dewasa. Bukan mainan anak – anak sepertimu,” kata Jatha tenang. “Pergilah,” lanjutnya.


“Jatha, anak itu telah melihat kita. Ia tidak boleh pergi begitu saja atau kita akan repot kalau ia melaporkan kejadian ini pada para penjaga kota,” kata lelaki bertubuh tinggi besar yang berdiri di belakang Jatha. Ada sebuah bekas luka besar di pipinya yang membuat wajahnya tampak menyeramkan.


“Dumung, ia masih kanak – kanak. Biarkan saja ia pergi,” kata Jatha sambil mengerutkan keningnya.


“Mau kanak – kanak, orang dewasa, laki – laki atau perempuan, aku tak peduli. Siapa pun yang melihat kita harus mati. Bukankah itu aturan kelompok kita?” kata Dumung tenang.


“Benar Jatha. Kau baru bergabung dalam kelompok kami, jadi kau belum terbiasa,” kata laki – laki bermuka klimis pada Jatha yang terlihat termangu – mangu. “Sekarang biarkan Dumung yang mengurusi anak itu,” lanjutnya.


Dumung menyeringai buas. Kakinya melangkah pelan mendekati Panji dengan kedua tangan terbuka membentuk cakar.

__ADS_1


“Bocah cilik. Diam di tempatmu. Biarkan pamanmu ini mencekikmu agar kau bisa mati dengan cepat,” kata


Dumung pelan.


Panji yang sejak tadi diam  mendengarkan pembicaraan mereka memandang Dumung dengan muak. Rupanya mereka adalah orang – orang yang sudah terbiasa membunuh. Mereka dengan tenang berbicara untuk  membunuhnya seakan – akan ia adalah binatang kecil yang bisa dibunuh dengan mudah.


Panji menggeram pelan. Kedua tangannya mengepal dan ia segera memasang kuda – kuda.


Jatha yang melihat gerakan Panji melengak kaget. Ia memandang Dumung yang berjalan mendekat tanpa


mengetahui bahaya yang mendekatinya.


“Dumung, bahaya!”


Dumung tertegun sejenak dan spontan menoleh ke arah Jatha. Ia tak melihat Panji yang meloncat menerjangnya memanfaatkan kelengahannya.


“Duagh!”


“Ugh!”


Dumung mengeluh pelan dan terdorong 3 langkah ke belakang. Ia memandang Panji kaget dan melirik bekas kaki di dadanya. Ia berdiri tegak, mengusap bekas kaki di baju dadanya  dan tersenyum menyeringai.


“Rupanya kau bisa melawan juga, Bocah. Tapi tendanganmu itu tidak berarti apa – apa bagiku,” katanya tenang.


Panji mengerutkan keningnya tak menjawab. Ia hanya membuka kepalan tangannya dan memasang kuda – kuda


dengan telapak tangan terbuka.


“Kemarilah! Kalau tendanganku tak mempan, bagaimana kalau aku tambah dengan kedua tanganku. Kujamin aku bisa mengalahkanmu sekarang,” katanya pelan.


“Bocah sombong! Rasakan kepalan tanganku ini, hyaa.......!” teriak Dumung sambil meloncat memukul ke arah muka.


“Buagh!”


“Bugh!”


“Ugh!”


Panji menangkis serangan itu dengan tangan kirinya bersamaan dengan kakinya yang melangkah ke depan dan tangan kanannya memukul ke arah dada Dumung.


Dumung hanya tergetar sesaat tapi ia langsung membalas dengan pukulan tangan kiri ke arah dada. Panji yang terkejut tidak sempat menghindar. Ia menyilangkan kedua tangannya untuk melindungi dadanya tapi kekuatan pukulan Dumung membuatnya terpental ke belakang.


Panji  terguling – guling di tanah sebelum jatuh dalam posisi berjongkok. Perlahan – lahan ia berdiri dan mengusap darah yang mengalir di sudut mulutnya. Ia sudah berusaha mengurangi dampak pukulannya dengan melompat ke belakang, tapi pukulan Dumung tetap membuatnya terluka. Ia merasa paling tidak sebuah tulang rusuknya retak.


“Hehehe.... bagaimana bocah? Itulah akibatnya kalau kau mencampuri urusan Brigade Tengkorak Darah. Sekarang bersiaplah untuk mati di tempat ini,” kata lelaki bermuka brewok sambil tertawa keras


“Brigade Tengkorak Darah?” Panji melengak mendengar nama itu disebut oleh lelaki brewok itu. Ingatan tentang peristiwa 10 tahun lalu melintas cepat di kepalanya. Mayat kedua orang tuanya, para tetua desa dan puluhan pengawal yang berjejer di lapangan di luar desa serta isak tangis warga Desa Arahiwang yang kehilangan anggota keluarganya berputar - putar di kepalanya. Matanya berubah merah membara saat otot – otot mulai bermunculan hampir di sekujur tubuhnya.


“Benar. Kami adalah anggota Brigade Tengkorak Darah. Apakah kau sekarang takut, Bocah?” kata laki –


laki bermuka klimis sambil tertawa menyeringai.


Mulut Panji menyeringai saat hawa pembunuh mulai keluar dari tubuhnya. Ia telah membunuh banyak sekali


binatang buas. Tak terasa tubuhnya mulai menampung banyak hawa pembunuh yang sekarang mulai keluar seiring kemarahannya yang tak terkendali.


“Kalau begitu, kalian semua pantas mati di tempat ini,” geramnya pelan. Kedua tangannya mengepal keras saat ia mulai memasang kuda – kudanya.


“Sombong kau,” desis Dumung pelan. Kedua tangannya mengepal saat bersiap menghadapi serangan lawannya. Hawa pembunuh yang keluar dari tubuh lawannya membuatnya waspada.


“Hiyaaa...!”


Duagh!


Kraak!


“Ugh!”


Panji mengerahkan seluruh kekuatannya  dan meloncat cepat menyerang Dumung. Kakinya kanannya bergerak cepat menendang ke arah kepala lawannya.


Dumung yang menangkis dengan tangan kanannya tak menduga kalau kekuatan Panji telah meningkat beberapa kali lipat dari sebelumnya. Tangan kanannya langsung patah setelah bertemu dengan tendangan Panji.


Duagh!


Kraak!


“Uargh!”


Panji yang melihat Dumung terhuyung – huyung kebelakang tidak melewatkan kesempatan itu. Ia segera meloncat ke depan dan siku tangan kanannya menghunjam deras di dada Dumung yang hanya bisa menjerit kesakitan.


Dumung terlempar ke belakang dengan darah segar keluar dari mulutnya. Sebagian besar tulang rusuknya hancur


terhantam siku Panji. Ia mendarat dengan terhuyung – huyung ke belakang. Belum sempat ia menata dirinya, matanya terbelalak saat ia melihat Panji meloncat ke arahnya.


Panji yang melihat Dumung masih bisa berdiri segera berlari mendekat. Ia meloncat cepat dan dengan menggunakan kaki kiri sebagai tumpuannya, kaki kanannya meluncur deras menghantam dagu Dumung.


Duagh!

__ADS_1


“Uhuk!”


Dumung hanya bisa mengeluh pelan saat tubuhnya terpelanting ke belakang dan menghantam tanah dengan kepala terlebih dulu. Pandangannya gelap saat nyawanya melayang meninggalkan tubuhnya.


“Dumung mati?”


“Anak itu membunuhnya?”


Laki – laki bermuka brewok dan teman – temannya melongo tak percaya. Mereka melihat Panji bergerak menyerang tapi sebentar kemudian Dumung sudah terpelanting ke belakang dan jatuh tak bergerak. Mereka tidak sempat bereaksi saat melihat kawan mereka mati terbunuh. Mereka melengak sebentar sebelum muka mereka memerah saat hawa marah mulai memenuhi kepala mereka.


“Kurang ajar kau, Bocah. Beraninya kau membunuh kawan kami!”


“Siapa pun yang berani melawan Brigade Tengkorak Darah harus mati!”


“Bocah edan, kubunuh kau!”


Sring!


Sring!


Mereka berteriak keras saat tangan mereka menghunus pedang di pinggang mereka.


“Semua yang berasal dari Brigade Tengkorak Darah harus mati. Kalian harus membayar perbuatan kalian di Desa Arahiwang 10 tahun yang lalu,” desis Panji pelan. Tangan kanannya menghunus pedangnya, sementara tangan kirinya mencabut pisau kecil di pinggangnya. Ia berjalan pelan mendekat sambil menyeringai buas.


“Kau... kau berasal dari desa setan itu?” desis laki – laki bermuka brewok dengan muka terkejut. Kawan – kawannya pun melengak kaget. Ingatan tentang kehancuran kelompok elit Brigade Tengkorak Darah di Desa Arahiwang telah menjadi legenda di kelompok mereka.


Dziing!


“Argh!”


Panji memanfaatkan keterkejutan mereka. Tangan kirinya bergerak cepat melempar pisau kecilnya ke arah salah seorang diantara mereka.


Orang itu mengeluh pelan saat dadanya tertembus pisau. Tubuhnya limbung ke belakang dan jatuh ke tanah.


Belum sempat mereka mengatasi keterkejutan mereka, satu orang lagi mengeluh karena dadanya juga tertancap pisau kecil. Orang itu memegangi dadanya dengan mata melotot saat tubuhnya perlahan jatuh ke tanah.


“Bahaya!” Jatha berteriak keras sambil meloncat ke samping. Tangannya menggenggam erat pedangnya sambil melihat ke arah Panji. Ia terkejut saat tidak melihat Panji di tempatnya.


“Jatha, awas serangan! Ia di atasmu!” teriak laki – laki brewok mengejutkan Jatha.


Jatha mendongak ke atas dan melihat pedang Panji meluncur deras ke arahnya. Tak sempat menghindar, ia


melintangkan pedangnya ke atas menangkis serangan Panji.


Trang!


“Ugh!”


Suara benturan pedang terdengar nyaring seiring dengan keluhan dari mulut Jatha. Ia yang tak sempat mengerahkan seluruh tenaganya di paksa mundur 2 langkah dengan tangan kesemutan. Ia menggigit bibirnya untuk menahan sakit di telapak tangannya dan menggerakkan pedangnya menangkis serangan susulan yang mengarah ke lehernya.


Tak!


Jatha tak sempat mengeluh saat tangkisannya membuat pedangnya patah dan pedang Panji terus bergerak membabat lehernya. Ia hanya terbelalak tak percaya saat kepalanya menggelinding meninggalkan tubuhnya.


“Jatha!” teriak lelaki berwajah brewok saat melihat kematian temannya. Ia meraung murka dan menggerakkan


pedangnya menyerang Panji.


“Kubunuh kau!” teriak laki – laki berwajah klimis sambil menyabetkan pedangnya ke arah leher Panji.


Panji meloncat ke belakang dan jungkir balik 2 kali sebelum berdiri dengan kaki renggang dan pedang di depan dadanya.


“Bocah, kau harus membayar perbuatanmu dengan nyawamu!” desis laki – laki berwajah brewok dengan muka beringas.


“Heh, kalian juga harus membayar kematian kedua orang tuaku dengan nyawa kalian,” desis Panji tajam. Ia melangkah pelan ke samping dengan pedang bergetar di tangan kanannya. Matanya bergantian melirik kedua lawannya yang juga bergerak pelan mengepungnya.


“Banyak omong kau. Matilah kau sekarang!” teriak lelaki berwajah brewok sambil melangkah maju dengan pedang menebas ke arah bahunya.


Panji menyipitkan matanya melihat serangan itu. Kakinya melangkah maju maju ke depan dan menangkis tebasan itu dengan tangan kirinya.


Lelaki berwajah brewok itu tersenyum menyeringai saat membayangkan tangan lawannya putus tertebas pedangnya.


Trang!


Lelaki berwajah brewok itu terkejut bukan main saat pedangnya tidak dapat menebas putus lengan Panji. Ia terbelalak kaget saat sadar serangan balasan Panji sudah meluncur ke arah lehernya.


Rupanya Panji memanfaatkan  pelindung tangannya untuk menangkis serangan lawannya. Bersamaan dengan itu kaki kanannya melangkah ke depan dan pedang di tangannya bergerak cepat ke arah leher lawannya.


Lelaki berwajah klimis itu tertegun saat  melihat kawannya jatuh dengan leher putus. Ia menelan ludahnya saat perasaan gentar mulai tumbuh dalam hatinya. Baru saja ia akan melarikan diri, tapi  matanya melihat Panji meloncat menyerangnya.


“Sialan!” desisnya pelan. Tak punya pilihan lain, ia menghentikan langkahnya dan pedangnya berkelebat menangkis


serangan pedang Panji.


Trang!


Trang!

__ADS_1


Suara dentangan keras disertai percikan bunga api mengiringi setiap benturan pedang mereka. Lelaki berwajah klimis itu menggertakkan giginya saat telapak tangannya  terasa pedih dan tangannya mulai kesemutan seiring semakin banyak benturan pedangnya. Hatinya mengucup saat melihat wajah musuhnya yang menyeringai buas dan menyerangnya tanpa ampun.


Benturan pedang terjadi beberapa kali sebelum pedang di tangan lelaki berwajah klimis itu patah. Saat ia tertegun, pedang Panji sudah meluncur deras menusuk dadanya. Ia pun mengeluh pelan dan jatuh tersungkur tak bergerak lagi.


__ADS_2