Maaf .......

Maaf .......
Episode 35. Pengkhianat


__ADS_3

Pengawal muda itu hanya terkesima sejenak sebelum menerima perhiasan itu dan melangkah keluar mengikuti


Panji. Yang lain pun saling memandang sebelum melangkah cepat keluar ruangan. Mereka tidak mempedulikan Ki Sanca yang masih berdiri gemetar di dinding gua.


Ki Sanca menggertakkan giginya melihat tingkah laku teman – temannya. Ia segera mengambil perhiasan yang tersisa dan mengikuti mereka keluar ruangan. Bagaimanapun juga, ia tidak mau ditinggal sendirian di tempat yang mengerikan ini.


“Ambil semua obor yang ada di dinding! Kalau bisa semua orang membawa obor sendiri - sendiri. Kita memerlukannya saat di hutan nanti,” kata Panji keras. Semua orang mengangguk dan beberapa orang segera mencopot obor – obor di sekitar mereka.


Mereka berjalan cepat menyusuri gua sambil mencopoti obor – obor yang ada. Beberapa saat kemudian mereka bisa melihat sinar obor yang menerangi mulut gua. Tapi mereka menghentikan langkah mereka karena di mulut gua, mereka melihat seseorang yang berdiri termangu menghadap mereka dengan pedang di tangan.


Orang itu perlahan melangkah ke depan dan tiba – tiba ia berdiri dengan tubuh gemetaran. Pedangnya jatuh ke tanah dan kedua tangannya menutupi mulutnya.


Panji, yang hampir saja  menyerang dengan pisau belatinya, tertegun. Ia menyipitkan matanya dan mengamati orang itu. Akhirnya ia tersenyum kecil dan mendorong Ki Danapati, yang berdiri di sampingnya, ke depan.


“Ki Danapati, temuilah orang itu. Ia telah berjalan jauh untuk mencarimu,” katanya pelan.


Ki Danapati ragu – ragu sejenak. Tapi setelah mencerna ucapan Panji, ia melengak sebentar sebelum melangkah cepat menemui orang itu.


“Nyai, kaukah itu?” tanyanya dengan suara bergetar.


“Kakang.. Kakang Danapati ... Kakang!” orang itu berkata pelan sebelum berteriak keras dan berlari memeluk Ki Danapati. Ia menangis keras untuk menumpahkan semua beban yang menghimpit hatinya.


Orang itu ternyata adalah Nyi Danapati. Setelah menunggu lama dan Panji tidak juga keluar, ia menjadi tidak sabar. Kalau terjadi sesuatu pada Panji, ia akan merasa sangat bersalah. Maka ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam gua. Apapun yang terjadi, ia bertekad untuk menyusul suaminya. Tak disangkanya, baru saja ia melangkah


masuk, ia sudah bertemu suaminya.


“Sudah, Nyai. Sudah. Hentikan tangismu. Aku sudah selamat. Maafkan aku yang telah membuatmu khawatir,” kata Ki Danapati sambil menepuk – nepuk punggung istrinya.


Nyi Danapati mengangguk pelan. Ia melepaskan pelukannya dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.


“Bicaranya nanti saja. Kita harus segera pergi dari sini. Anggota Brigade Tengkorak Darah yang lain akan kembali lagi ke gua ini,” kata Ki Danapati cepat.


Nyi Danapati, yang terkejut mendengar penjelasan suaminya, mengangguk cepat. Ia menyingkir menepi saat Panji dan yang lainnya mulai berjalan keluar gua.


“Ambil ketiga obor ini. Kita gunakan obor – obor ini untuk membuka jalan,” kata Panji sambil menunjuk obor – obor besar di mulut gua.


Ia mengambil salah satu obor itu, sementara Ki Danapati dan salah seorang pengawal mengambil obor lainnya. Mereka berjalan paling depan dan melangkah menyusuri jalan setapak.


Beberapa saat kemudian, Panji mengenali tanda yang ditinggalkannya dan berbelok masuk ke dalam hutan. Beberapa orang termangu – mangu sejenak sebelum melangkah mengikuti Panji.


Matahari mulai terbit saat mereka mulai masuk ke kedalaman hutan. Panji yang berjalan paling depan mengerahkan semua kemampuannya untuk mengenali arah dan mendeteksi keadaan di sekitarnya. Ia tahu bahaya seperti apa yang bisa muncul di hutan di Bukit Munggur.


Mereka berjalan pelan karena medan yang cukup berat dan beberapa orang pengawal membawa kotak – kotak kayu yang cukup berat. Untunglah perjalanan mereka lancar dan tidak menemui binatang buas.


Matahari sudah terbit sepenggalah saat mereka sampai di tempat Panji membunuh 5 ekor laba – laba pemburu


raksasa. Panji mengerutkan keningnya saat melihat mayat mereka sudah tidak karuan tanda di makan binatang buas.


Panji berjalan sedikit menjauh sebelum menemukan tempat yang cukup lapang untuk beristirahat sejenak. Ia langsung membagikan pil vitalitas pada semua orang, kecuali Ki Sanca yang memandangnya dengan muka marah.


Ia hanya memandang Ki Sanca sekilas sebelum tiba – tiba menghentikan langkahnya dan memandang ke arah


jalan yang telah mereka tempuh sebelumnya. Ia mengerutkan keningnya cukup lama. Akhirnya ia menepuk beberapa orang pengawal dan membawa menjauhi rombongan. Mereka berbisik – bisik cukup lama dan kembali ke rombongan setelah para pengawal itu menganggukkan kepalanya. Ki Danapati yang melihat hal itu hanya mengerutkan keningnya sebentar sebelum pura – pura tidak melihatnya.


Panji akhirnya meminta semua orang berdiri dan meneruskan perjalanan mereka.


Matahari telah berada di atas kepala mereka saat mereka sampai di tempat Panji bertemu dengan Nyi Danapati. Sekali lagi Panji mengerutkan keningnya saat melihat mayat – mayat orang yang dibunuhnya telah berubah menjadi tengkorak. Semua dagingnya telah hilang. Rupanya berbagai macam binatang puas telah berpesta disini kemarin.


Panji membawa rombongannya sedikit menjauh sebelum berhenti di tempat yang cukup lapang. Ia melirik para pengawal yang ditemuinya sebelumnya. Mereka mengangguk pelan.


“Ki Sanca, kau masih punyamuka untuk ikut rombongan ini?” ejek Panji keras sambil mendekati Ki Sanca.


“Apa maksudmu, Panji?” tanya Ki Sanca dengan wajah gelap.


“Bukankah kau tadi bilang akan memecat pengawalmu? Kenapa sekarang kau masih juga ikut dengan kami? Apakah kau ingin menumpang gratis lagi? Kau ingin nyawa dan barang – barangmu selamat tapi tidak ingin keluar biaya? Enak benar kau ini?” kata Panji sambil bertolak pinggang di depan Ki Sanca.


“Itu bukan urusanmu!” bentak Ki Sanca keras.


..........


Mereka berdebat cukup lama sampai Panji melihat banyak orang berlari – lari menuju ke arahnya. Mereka semua berlari dengan senjata terhunus dan muka memerah karena marah.

__ADS_1


“Celaka! Mereka mengejar kita,” teriak salah seorang pedagang dengan muka ketakutan. Harapan untuk bebas yang telah ada di depan mata pun menghilang dengan cepat.


“Semuanya tenang! Bukankah kalian semua juga memiliki senjata? Kita melawan atau pun tidak, mereka tetap akan membunuh kita. Kalian di tawan di gua pun sebenarnya akan dibunuh setelah Dursaha datang,” kata Panji keras. “Tapi kalau kalian melawan, kalian masih punya kesempatan menang melawan mereka,” lanjutnya.


“Menang? Kalian menang melawan kami? Hahaha.......,” orang yang berlari paling depan tertawa kasar mendengar perkataan Panji. “Itu hanya akan terjadi dalam mimpimu, Bocah!” teriaknya marah.


“Anak muda, kau telah masuk ke sarang kami dan membunuh teman – teman kami. Kau juga membebaskan tawanan kami dan mengambil senjata dan harta – harta kami. Sekarang setelah kami bertemu denganmu, katakan padaku, apa yang harus kami lakukan untuk menghukummu?” kata temannya yang berdiri di sampingnya.


“Tidak ada,” jawab Panji santai.


“Apa maksudmu, Bocah!” teriak orang pertama dengan muka merah padam.


“Jangan teriak – teriak. Aku belum tuli,” kata Panji tenang.


“Kau...!” orang pertama itu meledak emosinya mendengar jawaban santai Panji. Ia hampir menerjang ke depan, tapi orang disampingnya menahannya.


“Jangan main – main, Bocah,” kata orang kedua itu dengan muka gelap.


“Siapa yang main – main. Tadi kau bilang apa yang harus kalian lakukan, kan? Makanya aku menjawab tidak ada. Kalian tinggal pulang dan tidur di gua kalian. Bereskan? Kenapa kalian marah?” jawab Panji sambil tersenyum kecil.


Ki Danapati melengak tak percaya. Ia tak mengira Panji masih berani bergurau di saat seperti ini. Apalagi lawannya adalah Brigade Tengkorak Darah. Sebagian pengawal yang mendengar jawaban Panji pun tertawa terbahak –bahak. Segala ketegangan yang menghampiri mereka menghilang seketika.


“Gila! Dia gila! Teman – teman, menjauhlah dari anak gila ini. Ia akan membuat kita semua terbunuh,” teriak Ki Sanca sambil menggigil ketakutan. Ia berdiri menjauh dan  jatuh terduduk di bawah pohon besar.


“Orang brengsek dan pengecut sepertimu tidak punya hak untuk berbicara. Suaramu hanya membuat kami ingin muntah saja,” kata Panji santai.


Ki Danapati dan sebagian orang memandang Ki Sanca dengan pandangan muak. Mereka menyesal telah berteman dan membiarkan orang seperti itu ada dalam rombongan mereka.


Anggota Brigade Tengkorak Darah semuanya menggigil menahan marah. Selama ini belum pernah ada orang yang berani menghina mereka seperti ini. Apalagi yang menghinanya adalah seorang anak muda yang hanya pantas menjadi anak mereka.


“Anak muda, rupanya kau tidak bisa diajak bicara baik – baik,” gumam orang kedua itu dengan tubuh menggigil tak karuan. Ia tak mengira perkataannya di putar balikkan dan membuat kelompoknya menjadi bahan tertawaan.


“Lho, bukankah aku bicara baik – baik. Aku bicara dengan sopan dan tidak membentakmu. Kau minta saran dan aku memberikannya. Bukankah begitu teman – teman?” kata Panji keras.


“Ya...!” jawab para pengawal serempak sambil tertawa. Mereka memegang senjata mereka erat- erat. Segala keraguan mereka menghilang setelah melihat tingkah laku Panji.


“Kurang ajar kau, Bocah! Serang mereka!” teriak orang pertama sambil mengayunkan tangannya.


Dzii..ing!  Dzii..ing! Dzii..ing!


“Argh!”


“Uargh!


Panah – panah melesat dari atas pepohonan di sekitar mereka. Panah – panah itu menerjang anggota Gerombolan


Tengkorak Darah yang berlarian menyerbu. Mereka terkejut saat melihat teman – teman mereka terjungkal dengan panah menembus tubuh mereka. Belum habis keterkejutan mereka, panah lainnya meluncur dan menumbangkan lebih banyak orang. Dalam sekejab lebih dari 10 orang terbunuh.


“Hati – hati! Mereka punya pemanah di pepohonan!” teriak orang kedua yang segera menyadari Panji telah menjebak mereka. Panji sengaja memancing amarah mereka supaya mereka lengah saat menyerang.


“Kalian terlambat,” gumam Panji yang telah menarik busurnya kuat – kuat. Ia membidik sebentar dan melepaskan anak panahnya. Orang kedua yang memimpin rombongan itu pun berteriak keras dan terjungkal ke belakang. Sebuah anak panah menyembul di dahinya.


“Kurang ajar kau, Bocah!”


Dziing!


“Argh!”


 Orang pertama itu terkejut melihat temannya terjungkal di sampingnya. Dengan marah, ia berteriak keras dan memandang Panji tajam. Ia terkejut saat melihat Panji telah melepaskan anak panah kedua ke arahnya. Ia hanya bisa mendelik saat tubuhnya tersentak ke belakang. Kedua tangannya menggapai dadanya yang telah tertembus anak panah.


Dzii..ing!  Dzii..ing! Dzii..ing!


“Argh!”


“Uargh!


Para pengawal yang memegang panah di pepohonan terus memanah anggota Brigade Tengkorak Darah tanpa


ampun. Mereka telah kehilangan beberapa orang teman mereka, sekaranglah saatnya mereka membalaskan dendam mereka. Panji yang berada di tanah pun terus menembak dengan cepat. Akhirnya, tak butuh waktu lama, Brigade Tengkorak Darah yang tersisa hanya tinggal 10 orang.


“Kawan- kawan, maju! Hajar mereka!” teriak Panji keras.

__ADS_1


Ki Danapati dan yang lainnya yang telah menunggu dengan senjata terhunus segera maju menyerang. Mereka mengeroyok lawannya yang hanya berjumlah 10 orang. Anggota Brigade Tengkorak Darah yang merasa terjebak langsung panik. Mereka hanya bisa memberikan perlawanan sebentar sebelum semuanya tumbang.


“Hore....! Kita menang!”


Para pedagang dan pengawal berteriak gembira dan saling berpelukan setelah berhasil mengalahkan lawan – lawan mereka. Mereka tak mengira bisa mengalahkan gerombolan Brigade Tengkorak Darah yang telah menawan mereka sebelumnya. Hanya Ki Danapati yang memandang Panji cukup lama sebelum sebuah senyum mengembang di mulutnya.


Panji membiarkan mereka semua meluapkan kegembiraan mereka sebelum melangkah pelan mendatangi Ki  Sanca yang berdiri terpaku di bawah pohon.


“Sekarang apa katamu, Ki Sanca?” kata Panji tajam.


“Apa maksudmu, Panji?” kata Ki Sanca sambil memandang Panji dengan penuh kebencian.


“Bukankah tadi kau ingin semuanya menjauhiku supaya tidak terbunuh? Sekarang semuanya malah bersamaku dan kawan – kawanmulah yang terbunuh,” kata Panji keras.


Ki Danapati dan yang lainnya yang mendengar perkataan Panji menghentikan perayaan mereka. Mereka terdiam dan memandang Ki Sanca dengan pandangan aneh.


“Apa maksudmu? Mereka bukan kawan – kawanku,” kata Ki Sanca gugup.


“Oh benarkah? Bagaimana kalau aku bisa membuktikan bahwa kau berteman dengan mereka semua,” kata Panji


keras.


Ki Danapati dan para pedagang serta pengawal segera mendekat dan memandang Ki Sanca tajam.


“Ki Sanca, kau mengkhianati kami?” teriak salah seorang pedagang yang selama perjalanan sering berjalan di samping Ki Sanca.


“Bohong! Fitnah keji! Anak ini hanya ingin menghancurkanku dan memecah belah kita,” teriak Ki Sanca gugup.


“Kita? Seingatku selama perjalanan ini kau tidak pernah berkata kita. Kau selalu berkata aku, aku dan aku. Ini pertama kalinya kau berkata kita setelah kau terpojok seperti ini,” kata Ki Danapati muram. Pedagang dan para pengawal yang mendengar perkataan Ki Danapati saling memandang dan mengangguk setuju.


“Ki Danapati, apakah kau sekarang juga berpihak pada anak ini dan ingin menghancurkanku?” tanya Ki Sanca dengan muka merah.


“Diam kau! Walaupun aku baru mengenal Panji sekarang, setidaknya aku tahu sikapnya jauh lebih baik darimu. Ia telah mempertaruhkan nyawanya membebaskan kami. Sedangkan kau? Apa yang kau lakukan sejak pertempuran pertama kita kemarin? Kau tidak pernah bertempur dan hanya berlari menghindar dan menggigil ketakutan dipinggir jalan,” geram Ki Danapati marah.


Para pedagang dan pengawal tertegun. Sekali lagi mereka saling memandang dan mengangguk setuju. Seingat mereka Ki Sanca memang selalu membentak para pengawalnya, tapi saat ada bahaya, ialah yang pertama kali berlari menghindar. Selama ini mereka tidak menyadarinya. Sekarang, mereka pun memandang Ki Sanca seperti memandang sampah yang tidak berguna.


“Panji, apakah kau punya bukti bahwa Ki Sanca memang mengkhianati kami? Karena kalau tidak, walaupun kami sangat membenci sikapnya, ia tetaplah salah seorang anggota rombongan kami,” kata Ki Danapati pelan.


“Ada, Ki. Ada 2 bukti yang membuatku yakin kalau Ki Sanca adalah mata – mata yang menyusup ke dalam


rombongan Ki Danapati.”


“Bukti pertama adalah saat di dalam gua. Ia sengaja membuat pertengkaran dengan pengawalnya untuk memperebutkan sebuah gelang permata. Awalnya aku hanya merasa aneh, kenapa seorang pedagang antar kota sepertinya memperebutkan sebuah gelang pada pengawalnya. Padahal di sekitarnya masih ada barang berharga lain yang bisa dipilihnya. Saat itu aku belum menduga macam - macam. Aku menendangnya karena merasa jengkel dengan ucapannya.”


“Bukti kedua yang lebih meyakinkan adalah selama perjalanan Ki Sanca selalu berjalan paling belakang. Ia selalu memandangku dan mengayunkan pedangnya ke pepohonan di sekitarnya, seolah – olah ia jengkel denganku. Tapi saat istirahat pertama tadi, aku menyadari bahwa tingkah laku Ki Sanca itu adalah sebuah tanda.”


“Tanda? Maksudmu?” tanya Ki Danapati heran.


“Ia membabat pohon dan semak – semak untuk memberitahu arah kepergian kita pada anggota Brigade Tengkorak Darah. Kalau aku berpikir begitu, maka tindakannya di gua menjadi masuk akal. Ia bertengkar untuk mengulur waktu supaya kita terlambat menyingkir dari gua,” kata Panji kalem.


“Benar juga. Bukankah sebelum kita di sergap, Ki Sanca juga membuat ulah dengan berteriak – teriak pada


pengawalnya?” kata salah seorang pedagang setelah berpikir sejenak.


“Benar! Benar!”


“Rupanya ia yang menyerahkan kami pada gerombolan itu. Kita bunuh saja dia.”


“Benar. Bunuh pengkhianat itu!”


Para pedagang yang kehilangan harta serta para pegawal yang kehilangan teman berteriak marah dan mengepung Ki Sanca yang ketakutan. Merak baru berhenti setelah Panji dan Ki Danapati mengangkat tangannya menenangkan mereka.


“Ki Sanca, apakah kau anak buah Dursaha?” kata Ki Danapati tajam.


Ki Sanca menunduk ketakutan dan mengangguk pelan.


“Panji apa yang kita lakukan pada orang ini?”


“Biarkan dia pergi, tapi rampas semua senjata dan perbekalannya. Biarkan alam yang menghukumnya,” kata Panji santai sambil menunjuk tengkorak yang masih basah di kejauhan.


Ki Danapati dan yang lainnya yang akan memprotes akhirnya mengangguk setuju. Mereka merampas senjata dan perbekalan Ki Sanca dan melangkah pergi dari tempat itu.

__ADS_1


“Tidaak! Jangan tinggalkan aku seperti ini!” teriak Ki Sanca memelas. Tapi tak ada seorang pun yang menengok dan memperhatikannya.


__ADS_2