Maaf .......

Maaf .......
Episode 7. Misi Pertama


__ADS_3

Sore itu Panji pulang ke gubuknya dengan wajah ceria. Mulai sekarang ia bisa ikut melaksanakan misi perguruan bersama Tim Rajawali Perak.


Keesokan harinya, setelah menyelesaikan latihan pagi dan membantu kakek tua menyapu lapangan, ia bergegas ke ruang makan. Hari ini ia akan pergi ke pasar untuk mencari senjata yang diperlukannya untuk menjalankan misi besok. Selama setahun ini ia telah mengumpulkan cukup banyak uang hasil kerjasamanya dengan Ki Puguh.


Perguruan Langit Biru menampung murid dalam jumlah ribuan. Untuk menyediakan keperluan murid sebanyak itu, Bagian Ekonomi membuat sebuah pasar khusus untuk murid. Walaupun kecil, pasar itu termasuk pasar yang komplet.


Panji memasuki pasar dan langsung menuju ke stan senjata. Ia melihat – lihat beberapa busur dan pedang yang akan dipakainya besok. Setelah tawar menawar harga, akhirnya ia membeli busur dengan sekantung anak panah seharga 6 tael emas dan sebuah pedang panjang seharga 10 tael emas.


Ia membawa busur dan pedang itu ke gubuknya dan langsung berlatih. Ia ingin membiasakan tubuhnya dengan berat dan panjang pedang barunya, serta mengenali kemampuan busurnya.  Bagaimanapun juga hal ini penting saat ia membutuhkannya nanti.


Pagi berikutnya, setelah makan pagi, Panji menuju ke gerbang selatan perguruan. Ia melihat beberapa anggota Tim Rajawali Perak sudah berkumpul di samping pintu gerbang.


“Panji, sini!” seru Sasti sambil melambaikan tangannya. Anggota yang lain menghentikan percakapan mereka dan menyambutnya.


“Maaf, rupanya aku terlambat datang,” kata Panji pelan.


“Ah, tidak juga. Kami juga baru saja sampai kok,” sahut Gayatri santai.


“Ya. Jayanti dan Wiranata juga belum datang. Mereka mungkin ke pasar dulu untuk mencari perbekalan,” kata Mahesa tenang.


“Kalau boleh tahu, apa misi kita kali ini?” tanya Panji. Ia kemarin tidak memperhatikan pembicaraan Ki Tanjung dengan Laksana dan Baskara sehingga ia tidak bisa menebak misi yang akan dijalankan kali ini.


“Misi kali ini kita membantu Desa Bambu Kuning. Misi ranking C. Hadiah 10 tael emas dan 500 poin retribusi,” jawab Mahesa.


“Memangnya ada apa dengan Desa Bambu Kuning?” tanya Panji heran.


“Menurut laporan ada banyak hewan ditemukan mati mengenaskan. Mereka mati pada malam hari dan yang tersisa hanya tulang belulangnya saja. Pada saat kejadian selalu terdengar suara mengerikan yang datang mendekat kemudian menjauhi desa. Beberapa peronda yang bertugas saat kejadian hanya melihat bayangan hitam dengan mata bersinar mengerikan yang bergerak cepat. Dua orang peronda yang nekat menghadang telah tewas dengan kondisi serupa. Hanya tingal tulang belulang yang tersisa,” kata Baskara sambil melihat catatan yang dibawanya.


“Bukankah itu berbahaya? Baskara, kau tidak salah itu hanya ranking C?” kata Sasti heran.


“Kita hanya bertugas mencari informasi saja. Apa penyebab peristiwa itu dan bagaimana kemungkinan penyelesaiannya. Kalau sudah tahu, kita melaporkan ke kepala desa. Itu saja misi kita. Masalah penyelesaiannya biar Desa Bambu Kuning sendiri yang memutuskan,” kata Laksana.


“Oh, begitu. Pantas hadiahnya hanya 10 tael emas,” gumam Wiranata.


“Hm, malam hari, tulang belulang, bayangan hitam dan mata bersinar,” gumam Panji dengan tangan di dagunya. Kedua alisnya bertemu tanda ia sedang memikirkan sesuatu.


“Panji, apa kau punya petunjuk? Kau tahu sesuatu dari cerita tadi?” tanya Paksi yang duduk di sebelah Panji. Ia mengerutkan keningnya melihat tingkah lakunya.


“Sebentar, dimana lokasi Desa Bambu Kuning?” tanya Panji mengabaikan pertanyaan Paksi.


“Desa Bambu Kuning berada di sebelah selatan Kota Manyaran, kurang lebih 2 hari perjalanan dari sini. Persisnya di bawah Bukit Sibolang,” kata Baskara setelah melihat catatannya.


“Apakah ada hutan di dekatnya?” tanya Panji lagi.


“Ya, ada. Bukit Sibolang terletak di dalam hutan. Hanya saja hutan itu tidak begitu rapat,” sahut Baskara. “Panji, apa kau tahu sesuatu yang kami tidak tahu?” tanyanya.


“Aku tidak tahu pastinya. Aku baru bisa menjawab saat kita sampai di lokasi. Mudah – mudahan dugaanku salah,” kata Panji pelan. Ia mengelus dagunya pelan.


Mahesa yang akan bertanya mengurungkan niatnya saat melihat Jayanti dan Wiranata yang datang membawa bungkusan besar. Mereka membagikan bekal makanan pada tiap anggota, sedangkan sisanya yang berupa senjata cadangan dimasukkan bungkusan lagi dan dibawa Wiranata.


Panji yang melihat ini mengerutkan keningnya. Tim Rajawali Perak ini walaupun kecil tetapi semuanya profesional.


Setelah mengobrol sejenak, Tim Rajawali Perak bergerak menuju Desa Bambu Kuning.


“Fiuh…. Akhirnya sampai juga,” desah Sasti sambil menyeka keringat yang mengucur deras di dahinya.


Setelah berjalan selama 2 hari, akhirnya pada pagi hari berikutnya  mereka sampai di Desa Bambu Kuning.


“Kenapa desa ini tidak ada dinding pelindungnya?” gumam Laksana heran.


“Ya, dengan tinggi tidak sampai 1 m, itu hanya bisa disebut dinding pembatas, bukan dinding pelindung. Setiap orang dewasa atau hewan yang cukup besar bisa masuk dengan mudah ke desa ini,” sahut Paksi dengan kening berkerut.


“Betul juga, jalan utama ini juga tidak ada pintu gerbangnya,” desis Mahesa sambil mengamati sekelilingnya.

__ADS_1


Mereka terus menelusuri jalan utama itu sampai akhirnya mereka sampai di balai desa. Mereka masuk ke halaman dan disambut seorang anak muda yang berpakaian rapi.


“Selamat pagi. Maaf, kalian perlu apa?” tanya anak muda itu ramah.


“Selamat pagi, kami dari Perguruan Langit Biru. Bisakah kami bertemu dengan Kepala Desa Bambu Kuning?” tanya Mahesa.


“Oh, kalian dari Perguruan Langit Biru? Bagus, kalian sudah kami tunggu kedatangannya. Kebetulan kepala desanya aku sendiri. Silakan masuk!,” kata anak muda itudengan wajah gembira.


“Kau kepala desanya?” Prakosa terkejut melihat anak muda yang umurnya hampir sebaya dengannya telah menjadi seorang kepala desa.


“Hus… Prakosa, jaga mulutmu!” desis Mahesa. “Maaf, temanku ini suka ceplas – ceplos,” lanjutnya.


“Hahaha, tidak apa – apa. Wajar kalau dia terkejut. Ayo masuk dulu,” kata anak muda itu.


“Maaf, namaku Tunjung, Kepala Desa Bambu Kuning yang baru,” anak muda itu memperkenalkan diri setelah Tim Rajawali Merah duduk di pendapa balai desa.


“Ki Tunjung….”


“Panggil saja Tunjung. Umur kita hampir sama. Paling hanya selisih 2 – 3 tahun,” sela Tunjung sambil mengangkat tangannya.


“Baiklah. Namaku Mahesa, ketua Tim Rajawali Perak dari Perguruan Langit Biru. Kami mendapat tugas untuk mencari penyebab masalah di Desa Bambu Kuning ini. Mereka ini adalah teman – temanku,” kata Mahesa sambil memperkenalkan anggota timnya kepada Tunjung.


“Maaf, kalau boleh tahu sebenarnya apa yang terjadi di sini,” tanyanya.


“Sebenarnya, peristiwa ini terjadi sejak setengah yang lalu. Awalnya hanya beberapa ayam yang hilang, tapi berikutnya seekor kambing mulai hilang. Lama – lama yang hilang mulai banyak. Bahkan sapi dan kerbau juga jadi korbannya.”


“Apakah kejadiannya tiap hari?” tanya Mahesa.


“Tidak. Mereka menyerang setiap minggu sekali. Serangannya hanya terjadi saat malam hari. Malam tadi mereka menyerang lagi. Kali ini 10 ekor kambing yang jadi korbannya.”


“Boleh kami melihat bekas serangannya?” tanya Panji.


“Boleh. Kebetulan aku juga akan kesana jika tidak bertemu kalian tadi. Ayo kita kesana sekarang.”


Sasti, Jayanti dan Gayatri saling berpegangan karena ngeri. Bahkan Prakosa, orang yang paling suka bertarung, sampai tertegun melihat pemandangan itu.


“Pantas mereka sampai meminta bantuan. Tidak semua orang punya nyali setelah melihat pemandangan seperti ini,” desis Panji pelan.


Ia memeriksa kandang dengan teliti. Tulang belulang kambing yang telah dikumpulkan warga ia bongkar dan teliti satu persatu. Ia bahkan berkeliling di sekitar kandang. Setiap jengkal tanah ia perhatikan, semak belukar disibakkan bahkan sampah dedaunan kering pun ia korek – korek.


Paksi yang memperhatikan tingkah laku Panji akhirnya tidak dapat menahan diri lagi dan berjalan mendekat.


“Apakah kau menemukan petunjuk?” tanyanya setelah melihat ekspresi serius Panji.


“Mungkin, tapi masih ada sesuatu yang mengganggu pikiranku,” jawab Panji sambil memandang Bukit Sibolang di kejauhan. Ia terdiam sejenak sebelum mendekati Tunjung.


“Apakah kejadian ini hanya menimpa Desa Bambu Kuning saja?” tanyanya.


“Tidak. Beberapa desa di sekitar sini juga mengalami musibah yang sama.”


“Apakah desa – desa itu letaknya ada di sekitar bukit itu?” tanya Panji sambil menunjuk Bukit Sibolang.


“Betul. Bagaimana kau tahu?” tanya Tunjung heran.


“Hanya dugaanku saja,” gumam Panji pelan. Ia terdiam sejenak dengan tangan kanan mengelus dagunya.


“Tampaknya kita harus memeriksa bukit itu sekarang,” desisnya.


“Hah, sekarang? Kita baru saja sampai. Bagaimana kalau besok saja?” rajuk Gayatri. Ia masih merasa ngeri melihat pemandangan di kandang.


“Tidak. Semakin cepat kita bertindak semakin baik. Aku khawatir keadaannya lebih buruk dari yang terlihat,” jawab Panji.


“Mahesa, bagaimana ini?” tanya Gayatri pelan.

__ADS_1


“Panji benar. Kita berangkat sekarang,” kata Mahesa tegas. Ia juga khawatir misi ini tidak semudah yang dibayangkannya.


“Aku ikut,” sahut Tunjung. Sebagai Kepala Desa Bambu Kuning, ia tidak bisa hanya berdiam diri saja.


Tanpa menunda waktu, mereka berangkat menuju Bukit Sibolang. Mereka mengikuti Panji yang berjalan mengikuti jejak yang ditinggalkanpelaku pembantaian di kandang kambing.  Ranting patah, rumput yang rebah bahkan kadang – kadang bercak darah di tanah meyakinkan mereka bahwa arah yang  dituju adalah Bukit Sibolang.


Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di sebuah sungai kecil yang mengalir di bawah bukit.


“Bagaimana ini? Jejak – jejak itu hilang disini,” kata Tunjung bingung. Mereka memeriksa di sekitar sungai dan tetap tidak menemukan jejak yang lain.


“Tampaknya, mereka tidak menyeberangi sungai ini. Tapi menyusurinya. Tak ada jalan lain, kita harus menyisir sungai ini untuk mencari mereka,” desah Panji pasrah.


Mereka beristirahat sejenak sebelum menyisir kedua sisi sungai itu. Matahari sudah condong ke barat saat mereka menemukan jejak lagi. Mereka mengikuti jejak itu dan sampailah mereka di sebuah gua yang cukup besar. Ada banyak sekali jejak kaki dan tulang – tulang berserakan di tanah datar di depan gua.


“Rupanya gua ini tempat tinggal mereka. Apakah kita akan menyerbu masuk sekarang?” tanya Prakosa sambil mengelus pedang panjangnya.


“Dasar maniak!” desis Gayatri sambil mendelik marah.


“Prakosa, tidak semua masalah bisa beres dengan bilang ‘serbu’,” desah Laksana pelan.


“Kita tidak masuk sekarang. Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di dalam gua,” kata Mahesa tegas.


“Mahesa benar. Kita tidak bisa masuk sekarang. Kalau dugaanku benar, kita akan menghadapi musuh yang agak merepotkan,” kata Panji.


“Panji, apakah kau tahu apa yang akan kita hadapi?” tanya Tunjung penasaran.


“Kalian nanti akan mengetahuinya sendiri. Hari sudah sore. Kita akan bermalam disini,” kata Panji sambil melihat sekelilingnya.


“Disini? Apa kau gila? Kita ada di depan sarang musuh dan kau bilang menginap disini?” desis Wiranata marah.


“Sst! Jangan keras – keras! Apa kau ingin musuh tahu kita ada disini?” desis Jayanti.


“Kita akan menginap di atas pohon disekitar sini. Tapi syaratnya kalian harus diam dan tak mengeluarkan suara. Apa pun yang kalian lihat dan dengarkan, kalian harus tetap diam,” kata Panji pelan. “Kalau kalian melanggar, kita semua celaka,” lanjutnya.Teman – temannya mengerutkan keningnya cukup lama sebelum mengangguk.


“Sekarang kalian cari pohon yang tinggi untuk tempat menginap,” kata panji setelah melihat yang lain mengangguk paham. Ia melangkah ke sebuah pohon beringin besar di dekat gua dan naik keatasnya. Ternyata yang lain juga memilih pohon yang sama dengannya.


Waktu berlalu. Matahari pun terbenam di ufuk barat. Udara malam yang dingin mulai terasa. Alam seakan membantu usaha Tim Rajawali Perak saat bulan purnama mulai terbit. Cahayanya menerangi pintu gua dan lapangan di depannya. Ini akan memudahkan Tim Rajawali Perak mengawasi kejadian di depan gua.


Mahesa dan yang lainnya dengan sabar duduk diam di atas pohon.  Tiba – tiba mereka mendengar suara  mengerikan dari dalam gua. Suara itu disambut suara – suara yang sama yang saling bersautan tanpa henti.


Creea…..akh!


Creea…..akh!


Creea…..akh!


Sesosok binatang seperti tikus tapi sebesar anjing kecil, berwarna hitam legam dengan mata merah menyala keluar dari pintu gua. Kemunculannya diikuti hewan – hewan yang serupa dibelakangnya. Total ada sekitar 70 ekor.


Mereka berdiri di lapangan dan menghadap ke arah pintu gua. Mulut mereka terbuka lebar saat berteriak, memamerkan deretan gigi – gigi tajam dan runcing mengerikan. Kaki depan dan belakang yang dipenuhi cakar tajam menggaruk – garuk tanah  meninggalkan bekas cakaran yang dalam di tanah.


Creea…..akh!


Sebuah suara yang jauh lebih keras terdengar dari dalam gua. Suara itu dikuti munculnya hewan serupa yang ukurannya jauh lebih besar dari yang lainnya. Kali ini ukurannya sebesar kambing.


Hewan besar itu berteriak sekali lagi sebelum bergerak menuruni bukit diikuti oleh hewan lainnya.


“Apa….. apa itu tadi?” desis Jayanti pelan saat teriakan mengerikan itu sudah tidak terdengar lagi. Ia duduk sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sasti dan Gayatri yang duduk di dekatnya juga terdiam sambil menutup mulutnya. Tubuh mereka gemetar tak karuan.


“Sialan! Apakah kita harus menghadapi mereka?” desis Paksi sambil memandang Prakosa yang tadi berniat masuk ke gua. Prakosa diam tak menjawab. Keringat dingin mengalir di punggungnya. Ia bersyukur Mahesa tadi melarangnya masuk ke gua, kalau tidak mungkin sekarang ia sudah mati dengan tubuh tersisa tulang belulangnya saja.


“Sst! Diamlah. Kita tunggu sampai mereka kembali dulu, baru kita bicarakan lagi langkah kita selanjutnya,” kata Panji pelan.


Mereka pun terdiam dan duduk menunggu di atas pohon beringin.

__ADS_1


__ADS_2