
Setelah mandi pagi, Panji melangkah santai menuju ke ruang makan. Ia sengaja datang agak terlambat kali ini. Sesuai harapannya, sebagian besar murid sudah menyelesaikan makan paginya. Aula ruang makan sudah tidak terlalu ramai lagi.
Perguruan Langit Biru mempunyai ribuan orang murid. Untuk menampung semua murid agar bisa makan secara bersamaan, mereka mendirikan 4 buah ruang makan dengan aula yang cukup luas. Setiap murid bebas memilih ruang makannya, tapi karena menu yang disajikan semuanya sama, biasanya setiap murid akan memilih ruang makan yang paling dekat dengan tempat tinggalnya. Hari ini, seperti biasanya, Panji memilih makan di ruang makan bagian selatan.
Ia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi, sayur dan lauk sebelum melangkah menuju ke pojok ruangan. Tempat ini adalah tempat favoritnya. Di pojok ruangan ini ia bisa menyendiri dan mengamati seluruh aula. Ia juga bisa mendengarkan berbagai pembicaraan murid lain.
..........
“Eh, Aku dengar Tim Kuda Putih telah berangkat kemarin. Apakah benar begitu?”
“Tim Kuda Putih? Jangan – jangan mereka mau ke tempat itu.”
“Ya. Mereka memang mau kesitu. Aku dengar sendiri dari teman sekamarku yang menjadi anggota Tim Kuda Putih. Mereka berangkat kemarin pagi.”
“Eh? Jadi benar mereka mau mengerjakan misi ranking B? Biasanya mereka hanya mau mengerjakan misi ranking
C, kan?”
“Ya, mereka sebenarnya sudah memenuhi syarat untuk mengerjakan misi ranking C sejak lama. Jadi ketuanya memutuskan untuk mulai mencoba misi ranjing B.”
“Ngomong – ngomong tentang misi ranking B, katanya Tim Rajawali Perak sudah kembali kemarin. Benar begitu?”
“Ya. Mereka berhasil menemukan dan membawa kembali Tim Singa Gunung dari Hutan Halimun.”
“Kau yakin?”
“Temanku melihat sendiri kedatangan mereka kemarin. Kebetulan ia akan pergi keluar perguruan dan berpapasan dengan mereka di pintu gerbang.”
“Aku dengar mereka mengalami pertempuran brutal di sana. Tim Singa Gunung sampai kehilangan 10 orang anggotanya. Ini korban terbesar dalam sejarah Perguruan Langit Biru untuk sebuah misi ranking C.”
“Ya, kau benar. Tapi poin yang paling penting adalah Tim Rajawali Perak yang hanya beranggotakan 9 orang murid luar dan 1 orang murid cadangan bisa menyelamatkan mereka tanpa korban seorang pun.”
“Hebat juga Tim Rajawali Perak ini. Mereka bisa mengerjakan misi ranking B yang sulit dengan cepat. Padahal mereka dulu hanya mengerjakan misi ranking C.”
.........
Panji tersenyum mendengar pembicaraan itu. Ternyata kabar keberhasilan Tim Rajawali Perak telah tersebar luas.
.......
“Kabarnya Tim Singa Gunung sekarang telah pecah.”
“Ya. Kemarin sore Tunjung telah memarahi Sentanu di depan semua anggotanya. Sentanu marah besar. Ia keluar dari Tim Singa Gunung bersama teman- temannya.”
“Anak itu belum sadar – sadar juga. Padahal ia telah menyebabkan 10 orang temannya mati, tapi tetap juga tidak berubah dan mau mengaku salah.”
.........
Panji tertegun. Ia menghentikan makannya. Ia kaget mendengar kabar perpecahan yang terjadi di Tim Singa Gunung. Walaupun ia sudah menduga kalau Tunjung akan mengambil tindakan pada Sentanu, tapi ia tak
menyangka akibatnya akan sebesar ini.
“Hey, kalau makan jangan melamun!” tegur seseorang sambil meletakkan piringnya di meja. Orang itu lalu duduk di sampingnya dan tersenyum riang.
“Tunjung?”
Panji kaget melihat Tunjung yang tersenyum riang di sampingnya.
“Yoo, kenapa kau melamun, Panji?”
“Kenapa kau riang sekali? Bukankah timmu sekarang pecah?” tanya Panji bingung.
“Oh, kalau itu sih bukan masalah besar. Aku memang sengaja memarahi Sentanu di depan anggota lainnya untuk melihat reaksinya. Kalau ia menyadari kesalahannya maka Tim Singa Gunung akan bisa maju, tapi kalau tidak, aku sudah siap kalau terjadi perpecahan dalam timku.”
“Jadi kau sengaja?”
“Ya. Sekarang Tim Singa Gunung hanya beranggotakan 10 orang. Semuanya murid dalam yang menyertaiku di
Hutan Halimun kemarin. Mereka semua teman dekatku yang bisa kupercayai”
“Baguslah kalau begitu. Kuharap kedepannya kalian sukses.” Panji melahap makanannya dengan tenang. Ia tak memperhatikan Tunjung yang memandangnya dari samping.
“Panji, kami semua dari Tim Singa Gunung sangat berterima kasih padamu. Kau telah menyelamatkan kami
dan berkat kau juga kami bisa mendapat kesempatan untuk menjadi Sentinel lewat Sersan Dirga,” ucap Tunjung setelah ia terdiam cukup lama.
“Ah, jangan begitu,” sela Panji sambil mengibaskan tangannya.
“Yang menyelamatkanmu itu bukan hanya aku, tapi Tim Rajawali Perak. Aku pasti mati kalau aku sendiri yang berhadapan dengan kawanan ajag ekor merah itu,” katanya sambil memandang Tunjung tajam.
“Kalau tentang token Sentinel, kurasa Sersan Dirga memberi kalian karena melihat kemampuan kalian. Itu tidak ada hubungannya sama sekali denganku,” lanjutnya pelan.
“Hahaha, terserahlah apa katamu. Tapi sepengetahuanku kaulah yang mengenalkan formasi 5 orang pada Tim Rajawali Perak. Kau juga yang memaksa mereka belajar panah dan pedang sekaligus. Terakhir, kau juga yang memimpin kami di Hutan Halimun. Jadi wajarkan kalau kami berterimakasih padamu,” ucap Tunjung sambil tertawa lebar.
__ADS_1
“Kalau kau mau berterima kasih, berterima kasihlah pada Tim Rajawali Perak, teman – temanmu dan juga semua orang yang terlibat dalam pertempuran di Hutan Halimun. Berkat kerjasama mereka semuanyalah kau bisa mencapai semua itu sekarang. Dan yang paling penting, kau wajib bersyukur pada Yang Maha Agung,” kata Panji sambil meneruskan makannya.
“Tentu. Tentu. Aku sangat bersyukur bisa kembali lagi dari tempat itu dengan selamat.” Tunjung mengangguk pelan. Ia meraih piringnya dan mulai makan di samping Panji.
Tunjung menghela nafas panjang. Matanya melirik Panji yang duduk di sampingnya. Ia tidak melihat ada kelebihan yang nampak pada diri anak itu. Mukanya biasa saja, tubuh sedang, bahkan terhitung kurus dan pakaiannya sederhana. Semuanya tampak sangat biasa saja. Orang tidak akan menengoknya jika ia berbaur dengan orang kebanyakan. Tapi siapa yang menduga bahwa dibalik itu semua, ia adalah berlian mentah yang masih bisa di proses menjadi batu mulia yang dipuja banyak orang.
Rasa kagum mulai tumbuh di hati Tunjung. Panji masih bisa tenang menghadapi pujian orang di depannya. Ia masih bisa menempatkan diri dan rendah hati. Ia teringat pada Sentanu dan menggelengkan kepalanya pelan.
“Panji, mulai besok kami akan berlatih bersama Tim Rajawali Perak,” kata Tunjung tiba – tiba.
“Oh, kenapa? Bukankah kalian semua murid dalam? Apa yang bisa kalian dapatkan kalau kalian berlatih bersama murid luar seperti kami?” tanya Panji heran.
“Hehehe, jangan bilang begitu. Pengalaman di Hutan Halimun telah membuka mata kami. Tidak semua murid dalam lebih baik dari murid luar. Kami bisa berlatih formasi kelompok dan ilmu panah pada Tim Rajawali Perak, tapi kami juga bisa mengajarkan ilmu yang kami dapatkan sebagai murid dalam pada kalian. Ini kerjasama yang saling
menguntungkan, bukan?” kata Tunjung panjang lebar.
“Haha... bagus!”
Mereka mengobrol panjang lebar selama beberapa saat sebelum berpisah.
Panji melangkah menuju pojok selatan Perguruan Bukit Biru. Perguruan Bukit Biru membangun area khusus untuk
pandai besi di tempat itu. Kedatangannya disambut suara dentangan logam, teriakan dan asap yang mengepul dari berbagai tungku perapian.
Ia melangkah ke arah besalen yang paling besar. Disana ia melihat ada seorang yang berteriak memerintah beberapa orang disekitarnya. Orang itu bertubuh kekar dengan rambut dan jenggotnya sudah putih semua. Ia bertelanjang dada dengan keringat mengucur deras di tubuhnya.
“Hey! Kayu bakar di besalen sudah hampir habis. Isi lagi lebih banyak!”
“Baik.”
“Hey, kau! Jangan melamun! Mana tenagamu. Pukul lagi lebih kuat!”
“Baik.”
Panji berdiri diam dan mengamati seluruh proses pembuatan senjata di besalen itu. Ia menghirup udara dalam – dalam dan tersenyum. Suasana disini membuatnya teringat masa lalunya.
Panekti sering mengajak Panji membantunya membuat senjata. Setelah bertahun – tahun menemani gurunya
membuat senjata, ia sampai hafal langkah – langkah pembuatan senjata dengan detail.
“Hey, anak muda. Kenapa kau berdiri termenung disitu?” tanya orang bertubuh kekar itu setelah menyadari kedatangan Panji.
“Maaf paman, saya mencari Ki Suro,” kata Panji sambil sedikit membungkukkan badannya.
“Ki Suro? Akulah Ki Suro. Buat apa kau mencariku?” tanya orang tua itu heran. Ia memandang Panji dari atas ke bawah dan menggelengkan kepalanya pelan.
“Menyewa besalen? Siapa yang memberitahumu kalau besalen disini bisa disewa?” tanya Ki Suro tajam sambil mengerutkan keningnya.
Panji melengak kaget. Ia tak mengira Ki Suro akan bereaksi seperti itu. Tampaknya Ki Suro tidak senang besalennya dipakai oleh orang lain.
“Sebenarnya begini......”
Panji menceritakan percakapannya dengan Kakek Tua pagi tadi beserta kesulitan yang dihadapinya.
“Hahaha.... ternyata orang itu yang memberitahumu,” Ki Suro tertawa keras setelah mendengarkan penjelasan Panji.
“Karena orang itu yang memintamu kesini, maka kau boleh memakai salah satu besalenku. Tidak usah sewa. Kau bisa memakainya semaumu. Hanya saja kalau kau membutuhkan bahan – bahannya, kau harus menyediakan sendiri atau kau bisa membelinya di sini. Bagaimanapun juga anak buahku juga butuh makan,” katanya riang.
“Baik Ki Suro. Terima kasih,” kata Panji dengan wajah bingung. Ia tidak menduga Ki Suro akan berubah sikapnya begitu cepat saat mendengar ceritanya tentang Kakek Tua itu.
‘Siapa sebenarnya Kakek Tua itu? Kenapa ia bisa membuat Ki Suro berubah pikiran seperti itu? Apakah dia
mempunyai posisi yang tinggi di perguruan?’ pikirnya bingung.
“Hey! Kau! Antar anak ini... Eh, siapa namamu?” tanya Ki Suro sambil memandang tajam Panji.
“Panji, Panji Kusuma.”
“Kau antar Panji ke besalen paling ujung kanan,” kata Ki Suro pada seorang anak muda di dekatnya.
“Besalen paling ujung kanan? Tapi, bukankah besalen itu....”
“Pokoknya antar saja. Kau tidak usah cerewet!” sela Ki Suro keras.
“Baik. Baik, Ki Suro,” kata anak muda itu sambil membungkukkan badannya.
Anak muda itu mengantarkan Panji ke sebuah besalen yang lebih kecil yang letaknya di paling ujung kanan di area pandai besi itu.
“Inilah besalennya. Kau bisa menggunakannya sekarang,” kata anak muda itu dengan pandangan yang aneh.
“Sebentar, siapa namamu?” tanya Panji saat anak muda itu akan melangkah pergi.
“Jlitheng.”
__ADS_1
“Namaku Panji. OK, Jlitheng, ceritakan padaku tentang besalen ini,” kata Panji pelan.
Jlitheng termangu – mangu sejenak sebelum mengangkat pundaknya tak peduli.
“Besalen ini sebenarnya adalah besalen kesayangan Ki Suro. Jika ia ingin membuat senjata, ia akan membuatnya di besalen ini,” kata Jlitheng pelan.
“Besalen Ki Suro? Tapi kenapa ia mengijinkan aku memakainya?” tanya Panji heran.
“Aku tidak tahu,” jawab Jlitheng acuh.
“Tadi Ki Suro mengatakan aku bisa mendapatkan semua bahan yang diperlukan disini asalkan aku mau membayarnya. Apakah kau tahu berapa yang harus kubayar untuk mendapatkan bahan –bahan itu?” tanya Panji lagi.
Jlitheng kemudian menjelaskan berbagai bahan yang dibutuhkan beserta rincian harganya. Panji yang masih setengah melamun karena perubahan sikap Ki Suro, akhirnya merogoh sakunya dan mengeluarkan 15 koin emas.
“Kalau segini cukup?” tanyanya pelan.
“Terlalu banyak. Aku tidak punya kembaliannya.”
“Ambil saja semuanya. Aku akan memakai besalen ini selama beberapa bulan,” jawab Panji sambil membuka
pintu besalennya.
“Oh, iya. Aku hampir lupa. Carikan aku beberapa hulu pedang, pangkal pedang atau kenop dan batang silang. Kalau masih kurang, kau tinggal minta lagi padaku,” lanjutnya. Itu semua adalah bagian pedang yang ia butuhkan kalau ia ingin membuat pedang.
“Baik, bos. Aku akan segera membawa barang – barang itu kemari,” kata Jlitheng gembira sambil melangkah pergi.
Panji melangkah masuk ke dalam besalen. Ia tak menyangka besalen itu cukup besar. Semua peralatan besalen terdapat di ruangan itu. Ada sebuah tungku besar untuk membakar logam, ububan untuk menyalurkan udara ke dalam tungku, sapit logam berbagai ukuran untuk menjepit logam yang dibakar atau ditempa, palu berbagai ukuran untuk menempa, paron untuk landasan menempa, sekop, gergaji, bor serta tatah dan kikir. Bahkan bak panjang untuk tempat menyepuh besi juga ada.
Panji mengamati berbagai ukuran sapit, palu, tatah dan kikir yang diletakkan sembarangan di samping paron dan tungku perapian. Ia menggelengkan kepalanya dan mulai menatanya sesuai ukurannya dari kecil ke besar di dinding besalen. Beberapa saat kemudian, ia tersenyum puas saat melihat besalennya sudah tertata rapi.
“Sekarang tinggal mencari bahan utamanya. Kata Kakek Tua itu, aku bisa mencari besi kasar batangan di pasar. Berarti aku harus ke pasar perguruan sekarang,” gumamnya sambil melangkah keluar besalen. Ia tidak menguncinya supaya Jlitheng bisa masuk untuk menumpuk bahan di dalam besalen.
Panji berjalan menuju ke arah pasar Perguruan Langit Biru. Pasar itu terletak di area tengah perguruan. Walaupun termasuk pasar yang kecil, tetapi pasar itu menyediakan hampir semua kebutuhan murid – murid Perguruan Langit Biru. Keberadaan pasar ini sangat membantu murid – murid seperti Panji yang tidak perlu harus menuju ke pasar di Kota Manyaran yang letaknya cukup jauh.
Panji melangkah memasuki pasar. Ia melihat banyak sekali murid – murid Perguruan Langit Biru yang berkeliaran di pasar itu. Sebagian besar diantara mereka berkeliling lapak untuk berbelanja, tetapi ada sebagian kecil yang menjajakan barangnya di lapak.
Ia berkeliling pasar untuk mencari besi kasar. Setelah beberapa lama, ia berdiri kebingungan di tengah pasar. Ia telah berkeliling beberapa kali sampai kakinya lelah, tetapi barang yang dicarinya tidak ada.
“Kenapa masih belum ketemu juga? Kakek Tua itu bilang aku bisa mencari besi kasar batangan di pasar. Jangan – jangan yang di maksud itu Pasar Kota Manyaran,” desis Panji sambil menyeka peluh di dahinya.
Ia sekali lagi mengedarkan pandangannya ke sekeliling pasar. Tiba – tiba pandangannya tertuju pada sebuah lapak kecil di sudut belakang pasar. Lapak itu kumuh dan tidak ada seorang pun yang mendekatinya. Ia ingat bahwa ia telah beberapa kali melewatkan lapak itu karena merasa tidak ada barang yang penting di lapaknya.
Ia mengerutkan keningnya dan tiba – tiba menepuk keningnya sendiri.
“Bodohnya aku. Siapa yang butuh besi kasar selain pandai besi? Murid – murid disini tentu akan memilih langsung membeli senjata daripada membuatnya sendiri. Seharusnya aku sejak awal langsung menuju ke lapak seperti itu,” gumamnya sambil melangkah menuju ke lapak kumuh itu.
“Maaf, apakah ada besi kasar batangan?” tanya Panji sambil menyibakkan tirai lapak.
“Ada. Oh, kau?” tanya penjaga lapak itu kaget.
“Eh, kenapa kau bisa ada disini?” tanya Panji heran. Penjaga lapak itu adalah anak muda yang berdiri dekat Ki Suro saat ia datang ke besalen tadi.
“Ini adalah lapak khusus untuk para pandai besi. Tentu saja aku bisa ada disini karena Ki Suro yang memintaku,” jawab anak muda itu ramah.
“He, jadi sebenarnya aku bisa membeli besi kasar batangan di besalen?” tanya Panji pada anak itu.
“Tentu saja bisa. Barang – barang ini semuanya juga dari besalen kok,” kata anak muda itu sambil tertawa lebar.
Panji menepuk jidatnya pelan. Saat Jlitheng menerangkan tentang barang – barang di besalen ia tengah melamun
dan langsung memutuskan pembicaraan. Jika ia bisa lebih sabar sedikit, ia tidak akan kerepotan seperti ini.
“Baiklah. Berapa harga besi kasar batangan disini?” tanyanya pelan.
“1 tael emas sebatang.”
“Apa? Mahal sekali?”
“Disini tidak ada lapak lain yang menjual besi kasar batangan. Harga segitu sudah wajar.”
“Haaa... tahu begini, lebih baik aku membelinya pada Jlitheng saja. Sudahlah, aku gak jadi beli,” kata Panji sambil melangkah keluar.
“Eh. Eh. Sebentar. Kau bilang Jlitheng? Kau kenal Jlitheng?” tanya anak muda itu panik.
“Memangnya kenapa kalau aku kenal Jlitheng?” tanya Panji malas.
“Bukan begitu. Sudahlah, beli disini saja. Aku kasih harga pas. 75 tael perak sebatang. Kalau lebih murah dari itu aku bisa rugi,” kata anak muda.
“Baik, tapi kau harus mengantarnya ke besalenku. Aku pesan 200 batang. Kau harus mengantarnya hari ini,” kata Panji sambil menyerahkan uang 150 tael emas pada anak muda itu.
“Siap, Bos. Siap,” jerit anak muda itu gembira. Keuntungannya kali ini lebih banyak dari hasil penjualannya selama 6 bulan.
Panji melangkah keluar lapak sambil tersenyum kecut. Ia hampir menghabiskan uang yang ia kumpulkan dengan
__ADS_1
susah payah selama 1 tahun.
“Besok, rencanaku sudah bisa di mulai,” desisnya dengan mengepalkan tangannya.