Maaf .......

Maaf .......
Episode 11. Hilangnya Tim Singa gunung


__ADS_3

“Hahaha, ada apa ini? Apakah Tim Rajawali Perak yang perkasa semuanya berubah jadi idiot setelah kembali dari misi?”


Tiba – tiba sebuah suara keras mengejutkan anggota Tim Rajawali Perak yang sedang berkerumun di samping


pintu gerbang.


Beberapa orang tampak sedang keluar melewati pintu gerbang. Jumlah mereka sekitar 30 orang. Sebagian besar adalah murid luar dengan 10 orang mengenakan seragam murid dalam. Sebuah emblem bergambar kepala singa berwarna hijau menempel di dada kiri mereka.


Panji menoleh dan melihat seorang diantara mereka yang mengenakan seragam murid luar berdiri berkacak pinggang sambil tersenyum mengejek.


“Siapa mereka?” tanyanya pada Baskara.


“Mereka dari Tim Singa Gunung,” jawab Baskara dengan nada tak senang.


“Kenapa orang dari Tim Singa Gunung mengejek kita?” tanyanya heran. Ia merasa teman – temannya termasuk


anak yang baik dan tidak suka mencari masalah dengan orang lain.


“Sebenarnya orang dari Tim Singa Gunung tidak ada masalah dengan tim kita. Hanya orang itu saja yang punya masalah dengan kita,” sahut Laksana. Ia memandang orang yang mengejek itu dengan dahi berkerut.


“Memangnya siapa dia?” tanyanya lagi. Ia melihat ada masalah antara teman – temannya dengan orang itu.


“Namanya Sentanu. Dulunya ia adalah anggota tim kami. Ia orangnya ambisius. Ia berambisi menggantikan Mahesa dan menjadi ketua tim, tapi kami menolaknya. Jadi ia keluar dan bergabung ke Tim Singa Gunung,” jawab Laksana. Rasa tidak senang terlihat jelas di mukanya.


“Ia anak orang berpengaruh di Kota Manyaran. Dengan pengaruh dan kekayaan orang tuanya, ia bisa  mempengaruhi Tim Singa Gunung dan menjadi wakil ketua tim,” lanjutnya.


“Wakil ketua tim? Hebat juga. Memangnya berapa levelnya?” tanya Panji lagi. Kalau orang itu pernah menjadi anggota Tim Rajawali Perak berarti ia termasuk murid yang cukup hebat. Ia tahu setiap anggota Tim Rajawali Perak bukan murid biasa.


“Sama seperti Mahesa, level 6,” jawab Sasti ketus. Ia melengos dengan wajah berubah merah karena marah.


“Kenapa kau?” tanya Panji heran mendengar jawaban ketus Sasti.


“Sentanu itu menyukai Sasti. Ia selalu mengejar dan merayunya setiap saat,” desis Gayatri sambil tersenyum kecil.


“Oh, begitu,” desis Panji sambil menganggukkan kepalanya.


“Orang itu memang brengsek dan menyebalkan. Kerjanya hanya memamerkan harta dan kekuasaan orang tuanya saja,” kata Jayanti dengan muka merengut.


“Betul,” sahut Sasti ketus.


“Sentanu! Apa maksudmu!” seru Wiranata marah.


“Apa kau tuli? Aku bertanya kenapa kalian berubah jadi idiot saat kembali dari misi?” tanya Sentanu dengan nada yang menyebalkan.


Beberapa anggota Tim Singa Gunung tertawa mendengar perkataan Sentanu. Tapi beberapa murid yang


berpakaian murid dalam mengerutkan keningnya.


“Apakah anak ini mau mencari masalah lagi?” desah salah seorang diantara mereka sambil menghela nafas


panjang. Temannya yang berdiri disebelahnya hanya bisa mengangkat pundaknya sambil tersenyum kecut.


“Kurang ajar kau Sentanu! Memangnya kau tahu kejadian apa yang kami alami saat menjalankan misi?” seru Wiranata.


“Misi apa? Kalian hanya menjalani misi ranking C, kan? Apa hebatnya? Tim kami juga sering menjalankan misi ranking C tapi tidak ada yang bertingkah seperti kalian,” ejek Sentanu lagi.


Wiranata yang berniat maju menyerang ditahan oleh Mahesa. Ia mengepalkan tangannya erat – erat. Ia tidak ingin merusak suasana senang timnya yang baru selesai dari pertempuran yang menegangkan.


Sentanu yang melihat ejekannya tidak berhasil merasa tidak senang. Saat itulah ia melihat Panji yang tidak mengenakan pakaian seragam murid Perguruan Langit Biru.


“Oh, jadi anak ini yang menggantikanku? Apakah kalian kesusahan mencari anggota baru sampai kalian mau


menerima anggota yang masih menjadi murid cadangan? Kasihan sekali kalian. Tampaknya level tim kalian sekarang telah menurun drastis,” ejeknya lagi.


“Sentanu! Jaga bicaramu!” desis Mahesa tajam.


“Memangnya kenapa? Apakah aku salah? Kalian mengusirku yang level 6 ini dan menggantinya dengan murid cadangan yang bahkan belum level 3. Bukankah itu artinya level tim kalian turun?”


“Apakah sedemikian susahnya kalian mencari anggota baru diantara sekian banyak murid luar? Kami punya daftar murid luar yang tidak memenuhi syarat untuk masuk tim kami. Kalian bisa mengambilnya kalau kalian mau. Gratis. Bukankah begitu kawan – kawan?” ejek Sentanu sambil melirik kawan- kawannya yang tertawa sambil  menganggukkan kepala mereka.


“Sentanu, asal kau tahu,  anak ini puluhan kali lebih hebat darimu. Seandainya ada 10 orang macam kamu mendaftar, dibandingkan dengan anak ini, kami lebih memilih anak ini,” kata Mahesa yang disambut anggukan teman – temannya.


Wajah Sentanu memerah mendengar perkataan Mahesa. Ia bermaksud membuat marah Tim Rajawali Perak, tapi


akhirnya ialah yang tidak bisa menahan marah.

__ADS_1


“Bagus! Bagus sekali perkataanmu, Mahesa!” desis Sentanu marah. ”Aku bermaksud membuatmu marah, tapi


justru perkataanmulah yang membuat hatiku sakit.”


“Untuk membuktikan perkataanmu, aku tantang anak itu sekarang!” serunya dengan jari menunjuk kearah Panji.


“Sentanu, apakah itu perlu? Kau tidak bisa membuat keributan di pintu gerbang! Kita akan menjadi tontonan murid lain,” desis seorang anak muda yang berpakaian murid dalam. Tampaknya ialah ketua Tim Singa Gunung.


“Tunggul, jangan ganggu aku! Aku tidak bisa membiarkan mereka meremehkanku,” desis Sentanu dengan muka


merah.


“Dengar! Akulah ketua Tim Singa Gunung ini. Walaupun ayahmu kaya, kau tidak bisa berbuat seenaknya di


sini,” kata Tunggul dengan wajah yang mulai memerah.


Sentanu memandang Tunggul sesaat sebelum menundukkan wajahnya. Bagaimanapun juga pengaruhnya masih kalah dibandingkan dengan Tunggul.


“Tunggul, Sentanu tidak akan mengerti kalau ia tidak mengalami sendiri,” kata Mahesa pelan.


“Apa maksudmu Mahesa?” tanya Tunggul heran.


“Biarlah Sentanu berhadapan dengan anak baru ini,” kata Mahesa lagi.


“Tapi....” kata Tunggul ragu.


“Sudahlah, percayalah padaku,” kata Mahesa sambil mengedipkan sebelah matanya.


Tunggul pun hanya bisa mengangkat bahu tanda setuju. Mereka akhirnya menyingkir ke tanah lapang di dekat pintu gerbang.


“Tunggu dulu. Sebelum melawan Panji, Sentanu harus melawanku dulu,” kata Wiranata.


“Huh, kau bukan lawanku. Minggirlah!” ejek Sentanu sambil mengibaskan tangannya. Selama ia menjadi anggota Tim Rajawali Perak, Wiranata tidak pernah menang melawannya.


“Itu dulu. Kau tidak tahu apakah masih bisa mengalahkanku sekarang,” balas Wiranata sambil melangkah ke tengah lapangan.


“Brengsek kau!” geram Sentanu. Ia menyusul Wiranata ke tengah lapangan rumput.


“Hari ini akan kuhajar kau sampai ayah ibumu tidak mengenali mukamu lagi,” lanjutnya.


Sejak keluar dari Desa Bambu Kuning, ia merasa kekuatannya telah meningkat. Sekarang ia ingin mengetes


kemampuannya dengan berhadapan dengan Sentanu, orang yang dulu selalu mengalahkannya.


“Heyaa....!”


Sentanu yang tak mampu menahan diri lagi maju menyerang dengan pukulannya yang cepat dan terarah. Wiranata yang sadar kalah tenaga tidak berani melawan langsung serangan itu. Ia hanya menghindar atau menangkis dari samping.


Mereka bertarung seru di tengah lapangan. Sentanu terus menyerang tapi tak satu pun bisa mengenai sasarannya. Sementara Wiranata yang hanya sesekali menyerang telah beberapa kali membuat Sentanu menggeram menahan sakit.


Sentanu  yang mulai kesakitan melancarkan pukulan cepat ke arah muka, Wiranata menghindar dengan memutar tubuhnya. Disaat yang bersamaan tangannya bergerak berayun mengikuti tubuhnya dan punggung tangannya


menghantam pipi Sentanu!


Buagh!


Uhuk!


Sentanu yang terhuyung - huyung kebelakang dengan kepalanya tersentak ke samping tidak bisa menghindar saat pukulan susulan Wiranata  menghantam dadanya. Ia terhuyung – huyung lagi  ke belakang dan hanya bisa terbelalak saat tendangan terbang Wiranata menggedor dadanya.


“Aargh!”


Sentanu berteriak keras saat ia terbang dan jatuh berguling – guling di tanah. Ia berusaha bangkit tapi rasa sakit di dadanya membuatnya menyerah. Ia hanya bisa memandang marah saat Wiranata mendekatinya.


“Sekarang kau tahu,  kau bukan lawanku lagi. Asal kau tahu saja, anak yang kau ejek itu bisa mengalahkanku hanya dengan satu jurus. Paham!” desis Wiranata di depan muka Sentanu yang tertegun.


“Tidak mungkin! Bohong! Kau pasti bohong!” teriak Sentanu setelah menguasai dirinya.


“Apakah itu benar Mahesa?” tanya Tunggul pelan. Ia memandang Panji dengan pandangan tak percaya.


“Benar. Ia mengalahkan Wiranata hanya dengan 1 tendangan saja. Paksi dan Prakosa pun mengaku kalah,”sahut Mahesa sambil tersenyum.


Tunggul dan anggota Tim Singa Gunung terbelalak tak percaya, tapi Mahesa tidak mempedulikan mereka. Ia


hanya berbalik dan pergi diikuti seluruh anggota Tim Rajawali Perak.

__ADS_1


“Wahahaha..... puas sekali rasanya. Akhirnya aku bisa memukul muka anak brengsek itu,” seru Wiranata setelah mereka berjalan menjauh.


Sasti, Baskara dan Jayanti pun tertawa mendengar perkataan Wiranata. Muka Sentanu yang tertegun tampak sangat lucu di mata mereka.


“Wiranata, apakah kemampuanmu telah meningkat? Tadi gerakanmu jauh lebih lincah dibandingkan sebelumnya,” tanya Mahesa sambil mengerutkan keningnya.


“Ya, memang. Semenjak keluar dari Desa Bambu Kuning kemarin, aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku.


Aku merasa kekuatan dan kelincahanku meningkat. Tadi aku menantang Sentanu untuk mengetesnya. Ternyata dugaanku benar,” jawab Wiranata dengan muka ceria.


“Jadi tidak hanya aku yang merasa kekuatannya meningkat? Aku juga merasakan ada yang aneh sejak kemarin,” kata Mahesa pelan.


“Itulah efek dari pertarungan di Bukit Sibolang kemarin. Saat kita bertarung sekuat tenaga untuk mempertahankan nyawa kita, secara tidak sadar kita mengeluarkan kemampuan yang melebihi batas kemampuan kita sebelumnya. Akhirnya tubuh kita akan menyesuaikan diri dengan kekuatan itu. Jadilah kekuatan kita meningkat,” jelas Panji panjang lebar.


“Oh, begitu. Pantas saja tubuhku terasa lebih ringan. Aku juga merasa tenagaku lebih kuat dari sebelumnya. Kupikir hanya perasaanku saja. Ternyata seperti itu penjelasannya,” gumam Gayatri sambil menganggukkan kepalanya.


“Nah, sekarang tugas kita untuk menyesuaikan diri dengan kekuatan baru ini. Jika kita tidak segera berlatih, kekuatan kita juga akan kembali seperti semula,” sambung Panji lagi.


“Baiklah. Kita istirahat selama dua minggu untuk berlatih menyesuaikan diri dengan kekuatan baru. Setelah itu, kita akan mengambil misi lagi,” kata Mahesa.


“Siap!”


“Kalau boleh menambahkan, sebaiknya kalian melatih kemampuan memanah kalian. Itu akan sangat berguna saat lawan kita lebih banyak seperti kemarin. Sasti dan Gayatri juga lebih baik melatih kemampuan berpedangnya,” kata Panji.


“Benar juga. Kemarin kita akan kewalahan jika kita tidak mengurangi jumlah setan hitam itu dengan panah,” gumam Paksi sambil mengelus dagunya.


Yang lain pun menganggukkan kepalanya. Mereka belum tentu menang jika setan hitam itu tidak berkurang jumlahnya karena terkena panah.


“Baik. Jadi menu latihan harian kita bertambah dengan latihan panah. Untuk Sasti dan Gayatri menunya bertambah latihan pedang,” perintah Mahesa tegas.


“Siap!”


Anggota Tim Rajawali Perak menganggukkan kepalanya. Mereka kemudian berpencar untuk kembali ke kamar


masing – masing, kecuali Mahesa dan Jayanti yang harus melaporkan misi mereka kepada Ki Tanjung.


Senyum mengembang di setiap anggota Tim Rajawali Perak. Hasil misi kali ini jauh melebihi perkiraan mereka. Selain mendapatkan pengalaman, kemampuan mereka juga meningkat.


Selain itu, setiap kantung anggota Tim Rajawali Perak bertambah isinya sebanyak 35 tael emas. Itu semua adalah hasil dari pembayaran 5 desa di sekitar Bukit Sibolang yang totalnya berjumlah 350 tael emas.


Mereka masih akan menerima poin sebanyak 50 poin kontribusi perorang. Adapun hadiah misi yang berjumlah 20 tael emas akan diserahkan kepada Jayanti untuk digunakan sebagai uang kas tim.


Sore itu, Panji kembali ke gubuknya dengan hati riang. Sore ini ia tidak ingin berlatih. Ia ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya setelah beberapa hari terakhir bertempur habis – habisan. Ia tidak bisa membiarkan tubuh dan pikirannya tegang terus menerus yang akan berakibat kurang baik ke depannya.


Ia meletakkan pedang, busur dan anak panahnya di samping tempat tidur dan merebahkan diri. Ia memejamkan matanya dan sebentar kemudian ia telah tertidur pulas.


Keesokan harinya, Panji membuka matanya saat ayam jantan berkokok untuk pertama kalinya. Dengan malas,


ia merentangkan kedua tangannya dan beranjak bangkit. Ia mencuci mukanya dan melangkah keluar menuju pojok lapangan.


Ia berdiri tegak dan memulai latihan jadwal latihan malamnya. Selama menjalankan misi, ia tidak berlatih  pernafasan karena mereka selalu bersama. Ia tidak bisa berlatih pernafasan dibawah pandangan mata teman – temannya.


Seperti biasa, ia menghentikan latihannya saat sinar matahari fajar mulai merekah di ufuk timur. Ia berganti pakaian dan beristirahat dengan berbaring di tempat tidurnya sampai suara lonceng perguruan membuatnya bangkit.


“Selamat pagi, Kek,” sapanya pada Kakek Tua yang menyapu lapangan di depan gubuknya. Ia menenteng sapu lidi dan melangkah menuju bagian lapangan yang biasa ia bersihkan.


“Oh, kau Panji. Kau tidak kelihatan selama beberapa hari terakhir ini. Kau kemana saja?” kata Kakek Tua itu ramah.


Panji menghentikan langkahnya dan menceritakan perjalanannya ke Desa Bambu Kuning kepada Kakek Tua itu. Entah mengapa, setelah setahun bersama, ia merasa sangat akrab dengan Kakek Tua itu.


“Oh, kukira kau melarikan diri dan tidak kembali kesini,” gurau kakek tua itu sambil tertawa lebar.


“Ah..... bisa saja kau, Kek,” kata Panji sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ia tidak bisa meninggalkan Perguruan Langit Biru karena ia telah berjanji kepada guru –gurunya untuk belajar di tempat ini. Ia bertekad untuk dapat lolos tes masuk murid luar 6 bulan lagi.


“Tinggal 1 level lagi,” gumamnya lirih.


Ia menyelesaikan tugasnya dengan cepat sebelum mandi dan makan pagi. Hari ini ia akan mulai latihan rutinnya.


Hari berganti hari. Tak terasa 2 minggu berlalu. Panji yang selama ini berlatih sendiri, pagi itu melangkah menuju tempat latihan Tim Rajawali Perak.


Rupanya ia datang terlambat. Semua anggota yang lain telah datang. Mereka berkumpul di tengah lapangan membicarakan info yang dibawa Baskara dari Bagian Misi.


Panji yang melangkah mendekat pun akhirnya mendengar berita yang membuatnya tertegun. Tim Singa Gurun telah hilang!

__ADS_1


__ADS_2