
“Kau? Membunuhnya? Idiot! Terbalik, kaulah yang terbunuh dengan cepat!” sahut Sersan Dirga cepat.
“Sersan, kau terlalu meremehkanku!” teriak Gilang murka.
“Bangsat kecil! Kau tahu siapa aku?” desis Sersan Dirga tajam sambil mendekatkan mukanya ke muka Gilang. Mukanya merah padam tanda kemarahan mulai memenuhi hatinya.
Gilang terkejut. Ia sadar ia telah melewati batas.
“Siap. Sersan Dirga, pemimpin pelatih calon Sentinel Benteng Manyaran,” jawabnya keras. Ia berdiri tegak dengan muka lurus menghadap ke depan.
“Kau berani meragukan penilaianku?”
“Siap. Tidak Sersan. Tidak berani,” jawab Gilang cepat. Ia melupakan rasa sakitnya saat keringat dingin mulai mengalir deras dari punggungnya.
“Satu kata saja dariku maka kau akan dicoret dalam daftar Sentinel Benteng Manyaran. Paham!”
“Siap Sersan.”
“Kalian semua dari Grup 7, dengarkan baik – baik. Kalian semua hanya berlatih di dalam benteng dan menghadapi sesama calon Sentinel. Kalian belum pernah menghadapi pertempuran sungguhan.”
“Tahukan kalian, saat kalian berlatih, anak – anak ini telah bertempur mempertaruhkan nyawa melawan hewan buas. Mereka jauh lebih berpengalaman di bandingkan kalian. Oleh karena itu, hormatilah mereka. Paham!”
“Paham, Sersan!”
Seluruh calon Sentinel berdiri tegak dan berteriak keras menjawab perkataan Sersan Dirga.
“Ketahuilah, beberapa diantara mereka telah mendapatkan pengakuanku dan bisa langsung diterima sebagai Sentinel kalau mereka mau. Panji, kau dan teman – temanmu, keluarkan token Sentinel kalian,” kata Sersan Dirga sambil menoleh kearah Panji.
Panji, Mahesa, Prakosa dan Paksi merogoh saku mereka dan mengeluarkan token Sentinel. Semua calon Sentinel memandang token itu dengan mata iri dan kagum. Mereka telah berlatih keras mati – matian selama berbulan – bulan hanya untuk mendapatkan token seperti itu. Tapi disini mereka melihat anak – anak yang umurnya lebih muda dari mereka sudah memegang token yang mereka impikan.
Gilang menundukkan kepalanya setelah ia melihat Panji mengeluarkan token sentinel. Ia tidak berani lagi bersikeras bahwa ia belum kalah. Bagaimana pun juga lawannya telah diterima menjadi seorang Sentinel. Ia tidak mungkin bersikap semaunya sendiri terhadap seniornya, bukan?
“Baik, mulai sekarang seluruh Grup 7 akan bergabung dengan tim Desa Ringin Kembar. Kita berangkat 2 hari lagi. Sekarang, bubar!”
“Siap, Sersan.”
Semua calon Sentinel membubarkan diri. Panji dan teman – temannya pun saling memandang sebelum kembali ke tempat latihan. Panji yang sudah kehilangan moodnya pun akhirnya membubarkan latihan dan memberikan libur
sampai saat keberangkatan tiba.
Tak disangka – sangka, siang harinya Gilang ditemani seorang calon Sentinel menemuinya untuk meminta maaf. Ia mengaku salah telah meremehkan kemampuan Panji dan teman – temannya.
Panji hanya tersenyum kecil. Baginya itu hanyalah masalah kecil yang tidak perlu diperpanjang lagi.
Mereka pun akhirnya mengobrol tentang persiapan menghadapi ajag ekor merah. Setelah Panji menguraikan rencananya, Gilang tertarik dan ingin mencobanya ke dalam Grup 7. Akhirnya selama 2 hari, Grup 7 berlatih
memanah dan formasi 5 orang.
******
Seluruh anggota tim Rajawali Perak, tim Singa Gunung, para pengawal terpilih dan Grup 7 calon Sentinel Benteng Manyaran berkumpul di lapangan rumput di luar Desa Ringin Kembar. Mereka akan berangkat ke Hutan Halimun pagi ini juga dengan disertai Ki Mada, Sersan Dirga dan Kopral Parta.
Panji menyusun 50 orang anggotanya menjadi 10 tim. Ia mempercayakan ujung sayap kanan kepada Tunjung dan timnya, sedangkan ujung sayap kiri kepada Mahesa dan timnya.
Ia menyusun ke-10 tim tersebut berjajar dengan menyisipkan tim calon Sentinel diantara tim pengawal terpilih dan tim Singa Gunung. Ia berharap tim calon Sentinel, yang lemah dalam serangan jarak jauh, akan dibantu tim sampingnya saat menyerang dengan panah. Tetapi tim calon Sentinel akan membantu tim pengawal, yang lemah dalam perkelahian jarak dekat, saat ajag ekor merah mendekat. Ki Mada, Sersan Dirga dan Kopral Parta sebisa mungkin tidak akan terlibat dalam pertarungan dengan ajag ekor merah.
Setelah persiapan selesai, Panji memberangkatkan pasukannya. Mereka bergerak serempak memasuki persawahan kering menuju Hutan Halimun.
“Kalau kita bergerak seperti ini, kita akan bermalam di Hutan Halimun,” desis Ki Mada.
“Tapi kita tidak bisa bergerak terlalu cepat. Kita memang harus hati – hati karena ajag ekor merah bisa menyergap setiap saat,” kata Kopral Parta pelan.
“Betul. Tetapi ajag ekor merah justru sangat aktif di malam hari. Kita akan kesulitan menghadapi mereka kalau kita berada di dalam hutan,” kata Ki Mada. Ia teringat kenangan 10 tahun lalu saat menghadapi sergapan ajag ekor merah di malam hari.
“Mudah – mudahan Panji sudah menyiap rencana untuk menghadapinya. Bagaimana pun juga mereka pernah
masuk dan keluar dari hutan dengan selamat,” kata Sersan Dirga. Ki Mada dan Kopral Parta mengangguk setuju.
__ADS_1
Saat matahari sepenggalah, mereka akhirnya memasuki Hutan Halimun. Gerakan mereka semakin lambat karena mereka harus mewaspadai setiap semak belukar dan rimbunnya pepohonan.
“Panji, hari sudah sore. Kita harus bagaimana?” tanya Baskara setelah ia menangadah ke atas.
“Kita terpaksa bermalam di hutan. Kita cari daerah yang semak – semaknya tidak bergitu banyak. Kita bermalam disitu,” kata Panji sambil memperhatikan sekelilingnya.
Mereka terus bergerak sampai akhirnya menemukan lokasi yang cocok. Setelah beristirahat sejenak, mereka berpencar untuk memilih pohon yang akan mereka gunakan sebagai tempat bermalam.
“Kenapa mereka tidak datang?” gumam Panji pelan. Malam telah larut saat ia memejamkan matanya dan berkonsentrasi mendengarkan suara – suara di sekelilingnya. Ia tidak mendengar sesuatu yang aneh.
“Apakah mereka telah berkurang banyak?” gumamnya lagi. Ia memperkirakan mereka telah membunuh lebih dari 300 ekor ajag ekor merah kemarin. Jumlah yang tidak sedikit untuk suatu kawanan ajag. Ia memeriksa sekali lagi dan akhirnya tertidur setelah tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Keesokan harinya, mereka meneruskan langkah dan sampai di tepi padang rumput saat tengah hari.
“Berhati – hatilah. Mereka bisa melihat dari jauh. Kita bisa diserang kapan saja,” kata Panji kepada teman – temannya.
Mereka melangkah memasuki padang rumput yang luas itu sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya. Beberapa saat kemudian mereka mulai memasuki area tengah padang rumput.
“Ada ajag di sebelah kiri,” teriak Paksi tiba – tiba.
“Ajag di sebelah kanan,” teriak Tunjung beberapa saat kemudian.
Panji terdiam saat matanya juga melihat seekor ajag juga berkelebat di kejauhan.
“Bersiaplah! Mereka telah mengetahui kedatangan kita. Mahesa dan Tunjung, kalian sesuaikan formasinya!” teriak Panji keras. Tiba – tiba ia merasakan sesuatu yang tidak beres. Ia merasa perjalanan mereka terlalu mudah. Firasatnya mengatakan bahwa kawanan ajag itu akan menyerang mereka habis – habisan di tempat ini.
“Auuuuu........”
“Auuuuu........”
“Auuuuu........”
Lolongan keras ajag terdengar dari arah depan. Lolongan itu disambut lolongan ajag lain yang bersaut - sautan. Belum juga lolongan itu berhenti, mereka melihat kawanan ajag berjumlah besar berlari bergerombol ke arah mereka.
“Ajag! Mereka menyerang!”
“Panji! Mereka juga menyerang dari samping!”
Panji mengabaikan teriakan teman – temannya. Ia memperhatikan kawanan ajag ekor merah itu dengan hati berdegub kencang. Ratusan ekor ajag itu bergerak ke arah mereka dari beberapa arah.
“Semuanya bersiap! Bentuk formasi setengah lingkaran!” teriak Panji keras. Ia tidak bisa membiarkan kawanan ajag itu mendekati mereka atau mereka semua akan terbantai habis.
“Siapkan panah kalian! Hajar mereka! Jangan sampai mereka mendekat!” teriaknya lagi.
Panji menunggu sampai kawanan ajag itu mencapai jarak tembak panah mereka.
“Tembaa....ak!”
Kaing!
Nguik!
Puluhan anak panah meluncur susul menyusul seperti hujan menyambut serbuan ratusan ajag ekor merah. Puluhan ajag ekor merah jatuh tersungkur tertembus anak panah.
Ajag ekor merah yang tidak terkena panah terus berlari menerjang, tapi mereka menyaksikan teman – teman mereka terus berjatuhan satu persatu.
Tim Rajawali Perak yang telah berpengalaman menembakkan anak panah mereka dengan cepat. Tangan mereka
bergerak mengambil, memasang, menarik busur, membidik dan melepaskan anak panah dengan kecepatan jauh lebih tinggi dibandingkan para pengawal terpilih dan tim calon Sentinel. Yang lebih mengerikan adalah mereka bisa membidik ajag yang bergerak cepat itu dengan tepat. Ajag ekor merah yang berlari kearah mereka mulai berkurang dengan cepat.
Gilang berusaha membidik ajag ekor merah yang menyerangnya. Ia belum terbiasa menggunakan panah, karena
sehari – hari ia hanya berlatih pedang.
Ia bersyukur karena menuruti nasehat Sersan Dirga. Ia tidak bisa membayangkan apa jadinya jika ia bersikeras tidak mau bergabung dan hanya Grup 7 yang harus menghadapi kawanan ajag sebanyak ini.
“Mungkin kami semua akan mati,” gumamnya ngeri. Keringat dingin mulai keluar di punggungnya.
__ADS_1
“Kenapa dulu kami tidak memikirkan cara seperti ini?” kata Ki Mada pelan. Ia teringat saat ia dan para pengawal harus berjuang mati – matian menghadapi kawanan ajag itu 10 tahun lalu. Mereka terkepung dari berbagai arah dan harus mengorbankan banyak pengawal untuk bisa mengalahkan kawanan ajag itu.
“Apakah kita akan membantu mereka?” tanya Kopral Parta sambil meloloskan pedangnya. Ia mengerutkan keningnya saat melihat kawanan ajag yang menyerang jumlahnya jauh melebihi bayangannya.
“Jangan dulu. Kurasa mereka masih bisa mengatasinya sendiri,” kata Sersan Dirga. “Nampaknya Panji telah berpengalaman menghadapi kepungan seperti ini.”
“Panji, mereka mendekat!” teriak Laksana saat melihat kawanan ajag itu mulai mendekat. Walaupun mereka telah berhasil menembak jatuh ratusan ekor, masih cukup banyak yang selamat dan bersiap menerjang mereka.
“Ganti senjata! Bentuk formasi 5 orang! Kita hadapi mereka,” teriak Panji keras.
Panji dan kawan – kawannya segera menarik pedang mereka dan bergerak merapat sesuai tim masing – masing.
“Oh, menarik,” gumam Sersan Dirga dengan mulut tersenyum kecil. Ia tak menduga pasukan kecil itu bisa mengerti berbagai macam formasi dan bisa menggunakannya dengan tepat saat pertempuran sedang berlangsung.
“Ki Mada, para pengawal Desa Ringin Kembar rupanya tahu tentang formasi seperti itu juga?” lanjutnya.
“Tidak. Panji dan teman – temannya yang mengajari mereka selama 2 minggu ini,” kata Ki Mada. Ia memandang pertempuran di depannya dengan mata takjub. Ia tak menyangka anak – anak muda itu bisa bertempur sebaik ini.
“Gilang juga sudah berubah. Tampaknya ia mendapatkan sesuatu setelah dihajar Panji kemarin. Mungkin Grup 7 akan berubah banyak setelah kejadian kali ini,” gumam Sersan Dirga pelan.
Kopral Parta hanya diam mendengarkan perkataan mereka. Pedang ditangannya bergerak cepat menghabisi ajag ekor merah yang berani mendekati mereka.
“Hyaaaa....”
“Heyaaa....”
Kilatan pedang berkelebat diantara kepungan ajag ekor merah. Para calon Sentinel yang selama ini terbiasa bertempur sendirian mulai merasakan manfaat besar bertempur secara berkelompok.
Mereka tidak perlu merasa khawatir menghadapi serangan dari berbagai arah karena kawan – kawan mereka akan melindungi dan membantu. Saat mereka kesulitan, kawan disamping mereka akan bergerak cepat membantu mereka. Dengan jumlah anggota yang sama, mereka merasa bisa menghadapi lawan yang jauh lebih kuat dan lebih banyak jika dibandingkan saat mereka bertempur sendiri – sendiri .
Tunggul dan kawan – kawannya, yang merasakan bertempur dengan ajag ekor merah sebelumnya, merasa heran dengan perbedaan yang mereka hadapi. Dulu mereka sangat kesulitan menghadapi kawanan ajag dengan jumlah yang jauh lebih sedikit di bandingkan saat ini. Mereka sampai kehilangan 10 orang kawan mereka saat itu. Tapi
sekarang, mereka merasa jauh lebih ringan dan lebih mantap saat menghadapi kepungan ajag ekor merah sebanyak ini.
“Jadi ini rahasia kekuatan Tim Rajawali Perak. Pantas mereka berani menerima misi ranking B dengan anggota hanya 10 orang,” gumam Tunggul sambil menebaskan pedangnya ke tubuh ajag ekor merah yang menyerangnya. Ia tak menghiraukan terjangan ajag di sebelah kanannya karena yakin temannya akan mengurusnya.
Pertempuran berlangsung seru selama beberapa saat. Para pengawal terpilih dan para calon Sentinel yang belum pernah mengalami pertempuran brutal seperti ini mulai merasa kelelahan. Mereka memang terbiasa berlatih berjam- jam sebelumnya, tapi pertempuran ini memberi tekanan berat pada mental dan fisik mereka. Panji yang mengamati
kondisi teman – temannya mulai merasa khawatir.
“Teman – teman, bertahanlah! Kita harus memenangkan pertempuran ini atau kita akan mati disini!” teriaknya keras. Suaranya bergaung sampai ke ujung medan pertempuran.
“Berdiri dan bertarunglah!” teriaknya lagi.
“Berdiri dan bertarunglah! Kita pasti bisa menghabisi mereka!” teriak Mahesa di ujung sayap kiri. Ia mempererat
pegangan tangannya dan mengayunkan pedangnya lebih cepat. Teman – temannya pun meniru gerakannya.
“Kita pasti menang! Berdiri dan bertarunglah!” teriak Tunggul di ujung sayap kanan. “Serang!” teriaknya sambil menebaskan pedangnya ke arah seekor ajag ekor merah yang menyerangnya. Ajag itu pun melengking kesakitan saat pedang Tunggul membelah tubuhnya.
“Grup 7, jangan mau kalah! Hajar mereka!” teriak Gilang. Teriakannya mempengaruhi semangat tempur para calon Sentinel. Mereka berteriak keras dan menyerang ajag ekor merah di hadapannya.
“Para pengawal, kita juga jangan kalah! Kitalah yang seharusnya maju paling depan! Bertarunglah!” teriak Singgih. Para pengawal terpilih Desa Ringin kembar pun menggertakkan giginya. Mereka memaksa tubuh mereka yang kelelahan untuk berdiri dan menyerang ajag ekor merah yang menerjang mereka. Singgih benar, merekalah yang seharusnya bertarung paling depan.
“Hoo... Lumayan juga. Tak kusangka anak itu bisa juga membangkitkan semangat pasukannya,” kata Sersan Dirga. Ia menyabetkan pedangnya ke arah ajag ekor merah yang menerjang ke arah dadanya. Ia melirik Panji dengan senyum mengembang di mulutnya.
“Hahaha...... ia memang berbakat jadi seorang pemimpin,” kata Kopral Parta sambil tertawa lebar. Pedangnya bergerak cepat membelah ajag ekor merah yang berani mendekatinya.
Jumlah ajag ekor merah menyusut dengan cepat. Panji dan teman – temannya yang semula bertahan dan menunggu serangan sekarang mulai berbalik menyerang. Jerit kesakitan ajag ekor merah terdengar susul menyusul bersamaan dengan jatuhnya tubuh mereka yang terluka sabetan pedang.
Ajag ekor merah yang tersisa pun mulai ragu menyerang. Beberapa ekor mulai ketakutan dan berbalik pergi. Tindakannya segera diikuti puluhan ajag ekor merah lainnya.
“Huh! Mereka lari..”
“Kita menang!”
Teriakan kemenangan terdengar sahut menyahut saat seluruh ajag ekor merah yang tersisa berbalik dan melarikan diri. Beberapa orang jatuh terduduk dan menangis haru. Mereka tidak menduga bisa selamat dari pertempuran brutal ini. Bagaimanapun juga bagi sebagian besar orang, ini adalah pertempuran pertama mereka.
__ADS_1