Maaf .......

Maaf .......
Episode 12. Misi Ranking B


__ADS_3

Tim Singa Gunung? Hilang? Bagaimana mungkin? Kenapa mereka bisa hilang? Berbagai pertanyaan itu menghiasi kepala Panji saat ia berjalan mendekat.


Ia baru bertemu anggota Tim Singa Gunung saat pulang dari misi ke Desa Bambu Kuning. Ia tidak mengenal mereka. Ia hanya tahu 2 orang. Sentanu yang menyebalkan dan Tunggul yang menjadi ketua Tim Singa Gunung. Walaupun kesannya tentang Sentanu tidak begitu baik, tapi Tunggul tampak seperti seorang ketua yang baik dan bertanggung jawab.


Ia duduk dan mendengarkan laporan Baskara yang bersama Laksana telah mengumpulkan informasi dari Bagian Misi.


“Tim Singa Gunung menjalankan misi ranking C, yaitu membantu Desa Ringin Kembar mengusir kawanan ajag


ekor merah yang telah mengganggu ternak di kawasan itu. Perkiraan misi adalah seminggu, tapi sampai 2 hari yang lalu tidak terdengar beritanya. Bahkan kemarin ada utusan dari Desa Ringin Kembar yang memberitahu Ki Tanjung bahwa seluruh anggota Tim Singa Gunung telah hilang,” kata Baskara sambil melihat catatan di buku kecilnya.


“Kok bisa hilang? Jumlah mereka 30 orang dan 10 orang diantaranya murid dalam, kan?” tanya Paksi heran.


“Informasi yang kudapat adalah Tim Singa Gunung nekad mengejar ajag ekor merah yang menghilang ke hutan


Halimun. Pihak Desa Ringin Kembar sudah melarang mereka, tetapi wakil ketua timnya tetap ngotot dan  mengejarnya. Anggota yang lain terpaksa mengikuti. Sejak saat itu mereka sudah tidak terdengar beritanya lagi,” kata Baskara pelan.


“Sentanu lagi! Anak itu tidak henti – hentinya membuat ulah. Hanya saja kali ini ulahnya sudah keterlaluan,” kata Wiranata marah.


“Berita ini telah membuat heboh Bagian Misi. Baru kali ini Perguruan Langit Biru kehilangan murid dalam jumlah banyak  saat menjalankan misi ranking C,” kata Laksana.


“Ki Tanjung sebagai kepala Bagian Misi sampai di panggil oleh pemimpin perguruan untuk mempertanggungjawabkan peristiwa ini. Sempat ada tuduhan Ki Tanjung telah lalai dalam menetapkan ranking misi, tetapi setelah diteliti lebih lanjut akhirnya Ki Tanjung dinyatakan tidak bersalah,” lanjutnya.


“Ya, bukan salah Ki Tanjung yang menetapkan ranking misi, tapi wakil ketua Tim Singa Gunung yang melangkah melebihi tugas misinya,” sambung Baskara.


“Huh, bocah brengsek itu membuat orang susah saja,” gerutu Sasti.


“Apakah ada misi yang berhubungan dengan Tim Singa Gunung?” tanya Mahesa mengalihkan pembicaraan.


“Ada. Ada. Tadi pagi muncul misi untuk mencari keberadaan Tim Singa Gunung. Lokasi di sekitar Desa Ringin Kembar. Misi ranking B dengan hadiah 500 tael emas dan 10.000 poin kontribusi,” kata Baskara sambil membalik catatannya.


“Wow, hadiahnya besar sekali,” kata Wiranata.


“Ini misi ranking B. Wajar kalau hadiahnya sebesar itu. Tapi tentu saja resikonya juga besar,”kata Paksi tenang.


“Apakah ada yang sudah mengambil misi itu?” tanya Mahesa lagi.


“Sampai saat ini belum ada. Tim – tim lain masih ragu. Mereka masih harus membicarakannya dengan semua


anggota tim. Bagaimana pun mereka tidak ingin mendapatkan nasib yang sama dengan Tim Singa Gunung,” jawab Laksana.


“Mahesa, apa maksud pertanyaanmu barusan?” Sasti menyela pembicaraan Mahesa dan Laksana. Ia mengerutkan keningnya dan memandang Mahesa tajam.


“Sasti, apa kau pikir Mahesa akan mendaftarkan tim kita ke dalam misi itu?”kata Jayanti yang memperhatikan raut mukaserius Sasti.


“Mungkin saja,” kata Sasti singkat.


“Tidak mungkin! Mahesa, apa benar perkataan Sasti?” tanya Gayatri kaget.


“Inginnya sih begitu, tapi aku ingin pendapat kalian semua terlebih dahulu,” desis Mahesa sambil menggaruk kepalanya.


“Mahesa, apa kau gila! Kita kemarin hampir mati hanya untuk menyelesaikan misi ranking C, tapi kau sekarang malah ingin mendaftarkan tim kita ke misi ranking B,” seru Wiranata. Ia memandang Mahesa tak percaya.


“Ya, Wiranata benar. Mahesa, apakah kau ingin membuat kita semua terbunuh?” tanya Gayatri.


Paksi, Prakosa, Baskara dan Laksana hanya diam mendengar perkataan teman – teman mereka. Mereka hanya


mengerutkan keningnya saat melihat Mahesa masih bisa tenang dan tersenyum kecil mendengar keberatan anggota timnya..


“Sudah? Tidak ada yang ngomong lagi?” katanya Mahesa sambil mengangkat kedua tangannya. “Sekarang giliranku yang ngomong,” lanjutnya tenang.


“Aku ingin mendaftarkan tim kita karena beberapa alasan. Pertama, kemarin kita bisa menyelesaikan misi ranking C dalam waktu sehari dan tanpa luka sedikit pun. Kita hampir terbunuh karena membantu Desa Bambu Kuning membasmi kawanan setan hitam. Itu diluar misi kita.”


“Kedua, kalian telah mengalami sendiri. Sepulangnya dari Desa Bambu Kuning, kemampuan kita bertambah. Kekuatan, kelincahan dan  kecepatan gerak kita meningkat pesat. Itu lebih efektif dibandingkan saat kita berlatih

__ADS_1


sehari penuh selama sebulan. Aku ingin kita semuanya mengalaminya lagi.”


“Ketiga, bagaimanapun juga, Tim Singa Gunung adalah teman kita. Walaupun disana ada Sentanu yang menyebalkan, secara umum Tim Singa Gunung adalah orang yang baik terhadap kita,” kata Mahesa panjang lebar.


“Mahesa, semua perkataanmu benar. Tapi kau melupakan sesuatu yang paling penting,” kata Sasti sambil mengacungkan tangannya. Kedua alisnya berkerut tanda ia memikirkan sesuatu.


“Apa itu?” tanya Mahesa kaget.


“Misi ranking B membutuhkan anggota murid dalam. Minimal harus ada seorang murid dalam level 7 dalam tim. Tim kita tidak ada seorang pun yang menjadi murid dalam,” kata Sasti.


“Oh, kalau yang level 7 sih kita punya satu. Tapi ia masih murid cadangan,” kata Paksi tenang.


Prakosa, Baskara dan Wiranata menganggukkan kepala mereka sambil melirik Panji. Gayatri dan Jayanti tertawa kecil sambil menutup mulut mereka.


Panji yang mendengar perkataan Paksi hanya bisa nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Level 7 yang dimaksud Sasti adalah level 7 tenaga dalam, sedangkan ia hanya level 7 tenaga fisik. Tenaga dalamnya masih level 2, makanya ia masih murid cadangan.


“Tapi Sasti, bukankah ada syarat lainnya.  Setiap tim yang tidak punya anggota murid dalam, tapi pernah  menyelesaikan 2 buah misi ranking C dan memperolah penghargaan bintang emas minimal satu bisa mengambil misi ranking B,” kata Baskara sambil membalik catatan kecilnya.


“Apakah benar begitu? Kok aku belum tahu? Kau tahu darimana? ”tanya Sasti heran. Ia berusaha mengingat peraturan - peraturan yang dibacanya dan yakin tidak menemukan syarat lain seperti yang dikatakan Baskara.


“Coba lihat di peraturan Bagian Misi yang terpampang di papan pengumuman. Ada di bagian bawah dengan huruf kecil yang bertuliskan “Pengecualian”. Memang tidak setiap murid tahu karena jarang yang memperhatikan tulisan itu,” kata Laksana tenang.


“Oh, begitu. Pantas aku belum tahu,” gumam Sasti pelan. Ia termasuk murid yang malas membaca tulisan kecil itu. Ia pikir itu bukan sesuatu yang penting.


“Kita telahmenyelesaikan misi ranking C sebanyak 3 kali. Masalahnya adalah kita tidak punya penghargaan bintang emas itu,” kata Prakosa.


“Tidak juga!” Mahesa dan Jayanti menyahut hampir bersamaan. Mereka saling berpandangan dan tersenyum. Jayanti mengangguk pelan kepada Mahesa yang tersenyum kecil.


“Sebenarnya tim kita telah memperoleh penghargaan satu bintang emas dari Ki Tanjung,” katanya tenang.


“He! Yang benar!” seru Wiranata tak percaya.


“Betul. Kita mendapatkan bintang emas itu seminggu yang lalu. Saat itu aku dan Mahesa dipanggil Ki Tanjung berkaitan dengan misi kita di Desa Bambu Kuning. Karena kita telah menyelesaikan misi dengan cepat, bahkan bisa menumpas kawanan setan hitam, kita mendapatkan penghargaan itu,” kata Jayanti senang.


kawanan setan hitam itu termasuk misi ranking B,” kata Mahesa.


“Jadi aku pernah menyelesaikan misi ranking B? Wow!” jerit Gayatri tak percaya.


Wiranata dan Sasti yang mendengar perkataan Mahesa dan Jayanti pun menghela nafas lega. Rasa percaya


diri mereka meningkat pesat. Bagaimanapun juga tim mereka pernah merasakan misi ranking B dan sukses menaklukkannya.


“Jadi bagaimana keputusannya? Apakah kita akan mengambil misi ini?” tanya Baskara. Ia harus cepat – cepat melapor kepada Ki Tanjung pagi ini jika tidak ingin misi ini diambil tim lain.


“Apakah ada yang keberatan?” tanya Mahesa yang ingin memastikan kesiapan teman – temannya sekali lagi.


“Tidak ada? Kalau begitu Baskara dan Laksanaakan mendaftarkan tim kita untuk misi ini,” lanjutnya setelah melihat teman – temannya menggelengkan kepala mereka.


“Baskara, sebaiknya kau dan Laksana juga mencari informasi tentang  ajag ekor merah. Kalau mereka sampai bisa


membuat Tim Singa Gunung menghilang tak tentu kabar, berarti mereka bukan hewan buas biasa,” kata Prakosa.


“Apa – apaan kau! Apakah kau ingin dihajar hari ini? ”kata Prakosa sambil menepiskan tangan Wiranata yang berada di dahinya. Ia terkejut karena Wiranata yang duduk di sebelahnya tiba - tiba menyentuh dahinya.


“Nggak. Aku cuma heran Prakosa bisa berpikir jernih hari ini. Kupikir aku sedang demam, makanya aku membandingkan suhu dahimu dengan dahiku,” kata Wiranata tenang, disambut tawa keras anggota Tim Rajawali Perak yang lain.


“Kau...!” seru Prakosa sambil mendelik marah. Ia ingin menjitak kepala Wiranata tapi dihalangi oleh Paksi dan Baskara.


“Ajag ekor merah adalah sejenis anjing yang hidup di hutan. Bentuknya mirip dengan serigala, tetapi dengan tubuh yang lebih kecil. Mereka suka hidup bergerombol dan suka berburu bersama – sama. Seekor harimau pun akan menghindar jika bertemu dengan kawanan ajag mata merah,” kata Panji yang selama ini hanya diam membisu.


“Apakah kau pernah bertemu dengan hewan ini, Panji?” tanya Mahesa takjub. Anggota baru ini memang sering mengejutkannya. Pengetahuannya jauh lebih banyak dari anggota tim lainnya.


“Bukan hanya pernah bertemu. Aku bahkan pernah bertarung dengan mereka. Saat itu aku hampir mati dikeroyok oleh 5 ekor ajag mata merah,” kata Panji sambil tersenyum kecut. Ia masih ingat gurunya, Sima Lodra, menyelamatkannya di saat terakhir.

__ADS_1


“Kau hampir mati? Kapan itu?” tanya Prakosa heran. Ia tahu persis kemampuan Panji. Ia sendiri telah kalah saat bertarung dengannya.


“Kira – kira 6 tahun lalu,” jawab Panji santai. Ia tak sadar jawabannya membuat kawan – kawannya tertegun.


Enam tahun lalu? Bukankah itu berarti saat umurnya masih 9 tahun, ia sudah bertarung sendirian melawan 5 ekor ajag ekor merah? Dasar monster!


“Sebenarnya kalau hanya ajag ekor merah biasa bukan termasuk hewan buas yang berbahaya jika mereka


sendirian. Mereka menjadi berbahaya karena cara mereka menyerang saat berkelompok.”


“Berbeda dengan setan hitam yang menyerang dari depan, ajag ekor merah  bisa membagi tugas saat menyerang. Ada yang dari depan tapi ada juga yang melingkar dan menyerang dari belakang.”


“Yang lebih berbahaya lagi adalah jika mereka sudah berevolusi. Jika mereka telah mencapai umur 50 tahun, mereka akan berubah menjadi lebih ganas dan berbahaya. Mata mereka menjadi merah seperti darah dengan taring yang lebih besar dan kuat. Orang  menyebutnya ajag mata merah, bukan ajag ekor merah lagi.”


“Aku hampir mati juga karena seekor diantara 5 ekor ajag ekor merah itu telah berubah menjadi ajag mata merah,”kata Panji panjang lebar.


“Bagaimana cara kita membedakan ajag ekor merah dan ajag mata merah?” tanya Prakosa.


“Kita akan kesulitan membedakannya saat mereka sudah menyerang bersamaan. Tubuh mereka sama, hanya


matanya yang berwarna merah dengan taring lebih panjang. Hanya itu bedanya,” kata Panji sambil mengangkat bahu.


“Jadi kita masih bisa membedakan mereka kalau kita teliti, kan?” tanya Prakosa lagi.


“Betul. Tapi akan lebih susah lagi, bahkan mustahil.  membedakannya saat mereka menyerang di malam hari.”


“Malam hari? Mereka juga menyerang di malam hari?” tanya Sasti.


“Justru mereka lebih aktif saat malam hari dibandingkan siang hari. Aku juga bertempur dengan mereka juga saat malam hari,” kata Panji lagi.


“Benar – benar lawan yang merepotkan. Mungkin Tim Singa Gunung kerepotan karena tidak tahu informasi seperti ini,” kata Mahesa sambil merenung.


“Mungkin juga. Mereka ada Sentanu di tim mereka. Kita tahu wataknya yang suka meremehkan dan terburu – buru,” sambung Baskara pelan.


“Betul. Si Brengsek itu bisa mengacaukan seluruh tim dengan wataknya itu,” desis Sasti sambil menggelengkan kepalanya pelan.


“Yah, mudah – mudahan mereka hanya tersesat di hutan dan masih hidup sampai sekarang,” desis Paksi sambil berdiri dan merentangkan kedua tangannya.


“Mudah – mudahan begitu. Baskara, kau dan Laksana,  pergilah mendaftar sekarang. Jangan sampai terlambat,” kata Mahesa.


“Baik,” Baskara dan Laksana bergegas pergi menuju Bagian Misi untuk menemui Ki Tanjung.


“Kita berangkat 2 hari lagi. Kita bertemu di pintu gerbang seperti biasa,” kata Mahesa.


“Jayanti, sebaiknya kita semua membawa busur dan anak panah. Kalau bisa anak panahnya berjumlah banyak. Kita akan memerlukannya nanti,” kata Panji pelan.


“Kami telah berlatih memanah setiap hari, jadi semuanya sudah punya busur dan anak panah sendiri – sendiri. Apakah itu masih kurang?” tanya Jayanti heran.


“Ya, kita akan membutuhkan cadangan anak panah dalam jumlah cukup banyak. Tidak seperti setan hitam yang gerakannya lurus, ajag ekor merah bisa bergerak zig zag saat berlari. Jika kita tidak terbiasa memanah benda yang bergerak, maka akan ada banyak anak panah kita yang terbuang sia – sia,” kata Panji.


“Memanah benda bergerak? Kita memang belum pernah berlatih memanah benda bergerak.  Apakah itu sulit sekali?” tanya Wiranata.


Ia mengambil anak panahnya dan memanah papan sasaran. Anak panahnya melesat cepat dan menancap tepat di lingkaran tengah papan sasaran.


“Lihat! Aku sudah berlatih mati – matian selama 2 minggu ini. Hasilnya juga lumayan bagus,” katanya bangga.


“Huh! Kalau hanya seperti itu yang lain juga bisa,” kata Prakosa pelan. Ia dengan cepat mengambil anak panah dan menembak papan sasaran. Anak panahnya juga menancap tepat di tengah.


“Kalian akan merasakannya saat latihan nanti,” kata Panji sambil tersenyum senang. Tampaknya selama ini semuanya telah berlatih serius.


“OK. Hari ini dan besok kita latihan memanah. Panji, tunjukkan cara latihan memanah sasaran bergerak,” kata Mahesa sambil mengambil busurnya.


Akhirnya, selama 2 hari itu semua anggota Tim Rajawali Perak berlatih memanah sasaran bergerak.

__ADS_1


__ADS_2