Maaf .......

Maaf .......
Episode 24. Pelindung Tubuh


__ADS_3

“Bagaimana Panji? Apakah kau sudah mendapatkan besalen dan peralatan yang kau butuhkan?” tanya Kakek Tua itu keesokan harinya.


“Sudah, Kek. Hari ini aku sudah bisa memulai rencanaku,” jawab Panji. Kedua tangannya masih terus menyapu


lapangan.


“Kakek, sebenarnya Kakek ini siapa?” tanya Panji setelah diam beberapa saat.


“Maksudmu?”


“Ki Suro yang mulanya agak marah saat aku akan menyewa besalen, tapi ia langsung berubah ramah dan malah memberikan besalen kesayangannya padaku tanpa uang sewa sedikitpun setelah tahu Kakek yang menyarankannya padaku. Kenapa bisa begitu? Siapa sebenarnya Kakek ini?” Panji berhenti menyapu dan memandang Kakek Tua itu lekat – lekat.


“Panji, aku hanyalah seorang kakek tua biasa yang bertugas menyapu lapangan ini. Ki Suro adalah salah satu teman baikku. Kami sering ngobrol bersama saat ada waktu luang,” jawab kakek itu sambil tersenyum. Kedua tangannya terus bergerak menyapu lapangan dengan tenang.


Panji memperhatikan gerak – gerik Kakek Tua itu selama beberapa saat sebelum mengangkat pundaknya tak berdaya. Ia menyapu lagi lapangan bagiannya sampai selesai.


*****


Setelah menyapu lapangan, mandi dan makan pagi, ia langsung menuju ke area pandai besi. Ia menuju ke besalen yang dipinjamkan Ki Suro padanya dan langsung memasukinya.


 “Hm, rupanya Jlitheng telah bekerja dengan baik,” gumam Panji setelah melihat besalennya telah terisi dengan berbagai keperluan pandai besi.


Beberapa karung penuh arang kayu teronggok di pojok besalen dan bak pendingin juga sudah penuh terisi minyak. Di samping paron, Panji mendapati ada banyak bahan – bahan tambahan untuk menambah kuat dan ringan senjatanya. Beberapa hulu pedang, pangkal pedang atau kenop dan batang silang berbagai tipe tergeletak rapi di dekat dinding besalen.


Panji melayangkan pandangannya ke sebelah tungku perapian. Di dekat dinding besalen terdapat sejumlah besar besi kasar batangan yang tertumpuk rapi.


Panji memeriksa besi kasar batangan itu.  Semuanya tampak berukuran sama. Ia memperkirakan jumlahnya juga sekitar 200 buah. Senyum puas pun mengembang di mulutnya.


"Rupanya anak itu menepati janjinya,” gumamnya pelan. Ia menimang – nimang salah satu  besi kasar batangan itu untuk memperkirakan beratnya. Ia tersenyum puas saat merasakan berat besi kasar batangan itu membebani tangannya. Akhirnya, ia meletakkan lagi besi batangan itu ke tempatnya semula.


Ia melangkah ke tungku perapian dan mengisinya dengan sesekop arang kayu. Ia menyalakan arang kayu itu sampai menyala merah sebelum mengisi tungku itu dengan beberapa sekop arang lagi. Untuk mempercepat perapian, ia melangkah ke ububan dan kedua tangannya bergantian mendorong kayu ububan untuk memasukkan angin ke dalam tungku perapian. Tak lama kemudian arang kayu dalam tungku perapian pun mulai menyala merah terang.


Panji melangkah ke dinding besalen. Tangannya meraih capit ukuran sedang dan menggunakannya untuk mengambil sebatang besi kasar batangan.


Ia memasukkan besi kasar batangan itu ke dalam tungku perapian dan menunggunya sampai warnanya berubah menjadi merah menyala. Menggunakan capit, ia mengambil besi batangan itu dan menaruhnya di paron.


Tangan kanannya meraih palu yang cukup besar. Ia menghantam besi batangan itu dengan sekuat tenaga. Besi itupun berubah menjadi sedikit pipih.


“Belum cukup. Tenaga ayunanku harus lebih kuat lagi,” gumamnya pelan. Ia mengambil nafas dalam – dalam sebelum mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Tangannya menggenggam erat palu besar itu dan sekali lagi mengayunkannya ke besi batangan di atas paron


Taa..ng!


Suara keras yang memekakkan telinga terdengar sampai ke luar besalen. Orang – orang yang sedang bekerja di besalen paling besar pun terkejut dan saling memandang.


“Hahaha, sudah lama aku tidak mendengar suara dentangan seperti itu,” kata seorang lelaki setengah tua yang sedang bekerja mengasah pedang di samping besalen.


“Betul. Biasanya hanya Ki Suro yang bisa memukul sekeras itu.”


“Pantas Ki Suro mengijinkan anak itu memakai besalennya. Rupanya ia juga seorang ahli pandai besi.”


Panji mengamati besi batangan yang baru saja di hantamnya. Besi batangan itu telah berubah menjadi sebuah lempengan pipih. Ia mengukur panjang lempengan itu dan membandingkannya dengan panjang lengan bawahnya.


“Masih kurang. Aku harus membuatnya lebih panjang lagi,” gumamnya sambil memasukkan lempengan besi itu ke dalam tungku api. Ia melangkah ke ububan dan kedua tangannya sekali lagi bergantian menekan kayu ububan.


Setelah lempengan itu berubah lagi menjadi merah membara, ia mengangkat lempengan itu menggunakan capit. Sekali lagi ia menghantam lempengan itu di atas paron, tetapi kali ini menggunakan palu yang lebih kecil.


“Hm, sekarang sudah pas. Tinggal membuatnya menjadi melengkung,” gumamnya sambil memasukkan lempengan besi itu ke dalam tungku api. Ia menunggu sejenak sampai lempengan itu memerah lagi sebelum mengangkatnya ke paron.


Panji mengambil palu kecil. Ia menggunakan palu kecil itu untuk menghantam lempengan besi itu. Kecepatan pukulannya jauh lebih cepat dari sebelumnya. Tak lama kemudian, lempengan itu pun melengkung dan berubah bentuk menjadi setengah tabung.

__ADS_1


Panji mengambil bor paling kecil. Ia menggunakan bor itu untuk membentuk lubang kecil di kedua ujung lempengan itu. Lubang itu akan berguna untuk mengikat kedua lempeng besi itu agar bisa menyatu dan menjadi pelindung tangannya.


Ia merapikan lagi lempengan besi itu menggunakan palu kecilnya supaya lempengan itu rata dan tidak tajam supaya tidak melukai kulit lengannya.


Menggunakan capit, ia mengamati lempengan besi itu sekali lagi. Setelah merasa puas, ia memasukkan lempengan itu ke bak pendingin.


Tanpa membuang waktu, ia memasukkan lagi arang ke dalam tungku perapian, memompa ububan dan memasukkan batangan besi kasar lagi ke dalam tungku. Ia mengulang lagi proses pembuatan pelindung tangan dari awal. Kali ini ia ingin membuat pasangannya.


Beberapa saat kemudian, Panji berdiri dengan lengan bawah tangan kanan terbalut pelindung tangan tipis berwarna hitam. Ia menggerakkan tangan kanannya berulang – ulang sebelum senyum mengembang di bibirnya.


“Syukurlah, akhirnya jadi juga. Ternyata ilmu dari Paman Panekti belum hilang,” gumamnya puas. “Sekarang tinggal membuat pelindung tangan kiri, pelindung kaki dan pelindung bahu. Malam ini sebisa mungkin sudah bisa ku  pakai,” lanjutnya.


Ia mengambil nafas dalam – dalam dan menghembuskannya kuat – kuat sebelum melangkah ke tungku perapian. Tangannya meraih sekop dan sekali lagi mengisi tungku itu dengan arang kayu. Ia masih harus  mengulang


lagi proses menempa besi batangannya untuk membuat 1 set pemberat tubuhnya.


Hari sudah menjelang sore saat Panji berdiri di dekat paron dengan nafas terengah – engah. Keringat deras mengucur membasahi tubuhnya. Ia berdiri dengan kepala mendongak keatas dan mata terpejam. Sebuah senyum lebar tersungging di bibirnya. Di kedua tangan dan kakinya sekarang telah terpasang pelindung besi.


“Akhirnya....... aku bisa juga membuat pelindung tangan dan kaki. Sekarang tinggal pelindung bahu,” gumamnya sambil menyeka keringat yang mengucur di mukanya.


Ia membuka matanya dan duduk di paron untuk mengatur nafasnya yang terengah – engah. Energinya yang hampir terkuras habis juga perlu di isi kembali.


Tangannya meraih tas pinggangnya dan mengeluarkan sebutir pil vitalitas. Tanpa ragu – ragu ia menelan pil itu dan memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian ia membuka matanya. Nafasnya sudah teratur dan tenaganya kembali seperti semula.


Dengan langkah mantab, ia mengisi kembali tungku perapian dengan sesekop arang kayu. Tangannya meraih capit dan memasukkan sebatang besi kasar batangan ke dalam tungku.


Cara pembuatan pelindung bahu kali ini berbeda dengan pelindung tangan atau kaki. Kalau pelindung tangan, sebatang besi kasar batangan di buat lempengan terus dibentuk. Tapi ia ingin membuat pelindung bahu berat tiap sisinya 2 batang besi kasar. Jadi 2 batang besi kasar harus dibuat lempengan, disatukan, ditempa lagi baru dibentuk.


Tak butuh waktu lama, ia mengambil batangan besi kasar yang merah membara dari tungku perapian. Ia meletakkannnya di atas paron dan meratakannya dengan menggunakan palu yang paling besar. Ia meletakkan lempengan itu di bak pendingin dan mengambil batangan besi kasar yang baru. Ia memanaskan batangan besi kasar itu dan membuat lempengan besi lainnya.


Setelah keduanya mendingin di bak pendingin, ia menyatukan keduanya dan membakarnya bersama.


“Fiuh, panas!” keluhnya sambil menyeka keringat di mukanya. Ia melangkah ke ububan dan tangannya bergerak menekan tongkat ububan untuk memasukkan udara ke adalam tungku.


palu terbesar, ia meratakan kedua lempengan itu sambil membolak – baliknya.


“Hm, bagus. Sekarang sudah menyatu. Aku tinggal memanaskan dan membentuknya saja,” gumamnya sambil


mengamati lempengan besi menggunakan sapit.


“Mudah – mudahan ini bisa selesai sebelum tengah malam,” gumamnya lagi.


Ia memasukkan lempengan baja itu ke dalam tungku perapian lagi.  Setelah memasukkan arang kayu ke dalam tungku, ia memompa ububan lagi untuk memperbesar api di perapian.


“Huh, kenapa sekarang aku sudah capek sekali? Kenapa aku ini?” desisnya saat merasa tubuhnya terasa sangat lemas dan tak bertenaga. Dengan cepat ia mengambil pil multitonik dan pil vitalitas. Ia meminumnya dengan segelas air dan beristirahat sebentar.


“Mungkin ini yang menyebabkan aku lebih cepat capek,” gumamnya sambil mengamati kedua pelindung tangan dan kakinya. ”Kalau selama ini aku hanya menggunakan tenaga dalam untuk memalu, tampaknya sekarang aku harus selalu memakainya selama bekerja di besalen,” gumamnya pelan.


Ia mengerahkan sebagian tenaga dalamnya dan menggerakkan kedua tangan dan kakinya.


“Hm, benar juga. Sekarang kedua tangan dan kakiku tidak terasa berat lagi,” desisnya.


Ia mengambil lempengan besi dari perapian dan mulai membentuk pelindung bahunya.


Beberapa saat kemudian, ia mengamati pelindung bahu yang sudah jadi dengan sapitnya.


“Bagus. Sekarang sudah jadi pelindung bahu kananku. Tapi.... kenapa aku lemas lagi?” desahnya pelan.


Dengan lemas, ia menceburkan pelindung bahu itu ke bak pendingin dan duduk di atas paron. Ia memejamkan matanya sejenak dan  mengatur nafasnya yang kembang kempis.

__ADS_1


Setelah beristirahat sejenak dan minum pil vitalitas, ia mulai bekerja lagi membuat pelindung bahu yang sebelah kiri. Menjelang tengah malam, Panji berdiri tegak di tengah besalen dengan mengenakan 1 set pemberat tubuh rancangannya.


“Akhirnya selesai juga,” desahnya pelan. “Tapi hari ini tenagaku benar – benar terkuras habis. Ini untuk kesekian kalinya aku hampir tidak bisa berjalan.”


 Ia mengambil pil multitonik dan pil vitalitas untuk mencegah kerusakan otot dan mempercepat pemulihan tenaga dan mentalnya. Ia meminumnya dengan segelas besar air putih dan melangkah ke tempat tidur kecil di pojok besalen. Rupanya Jlitheng telah menduga ia akan kelelahan dan menyediakan tempat tidur di besalen.


Ia merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Tak lama kemudian suara dengkurannya terdengar keras


sampai keluar besalen.


Teng!  Teng!


Teng!  Teng!


Suara lonceng perguruan membangunkan Panji yang tertidur lelap. Ia ingin bangkit dari tempat tidurnya tapi tubuhnya susah bergerak karena ada beban yang menghambat gerakannya. Ia bingung beberapa saat sebelum teringat bahwa sekarang ia telah tidur dengan mengenakan pemberat tubuh.


Setelah mengerahkan tenaga lebih banyak, ia bangun dari tempat tidurnya dan mencuci mukanya.


Setelah mukanya terasa segar, ia melangkah keluar besalen dan berlari kecil menuju ke gubuknya. Ternyata Kakek Tua itu telah datang dan sudah menyapu lapangan latihan.


“Selamat pagi, Kek. Maaf aku terlambat datang,” katanya sambil menyeka keringat di mukanya.


“Selamat pagi, Panji. Engkau darimana kok pagi – pagi sudah berkeringat?” tanya Kakek Tua itu sambil tersenyum.


“Dari besalen, Kek.”


“Besalen? Apakah kau tadi malam tidur di sana?”


“Ya, Kek. Aku sudah memulai rencanaku. Tadi malam aku sudah menyelesaikan 1 set pemberat tubuhku,” katanya pelan sambil menunjukkan pemberat tubuh yang melekat di tubuhnya.


“Oh, benarkah?”


Kakek Tua itu menghentikan sapunya dan mengamati pelindung tangan di lengan Panji. Ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil mengelus jenggotnya. Ia tahu bagaimana susahnya mengolah dan membentuk besi kasar batangan. Jadi ia tak menyangka Panji bisa menyelesaikan 1 set pelindung tubuhnya hanya dalam waktu sehari semalam.


‘Walaupun masih terlalu kasar, kemampuan pandai besinya termasuk bagus. Sangat jarang ada pandai besi muda seusianya yang bisa menyamai kecepatannya mengolah besi’ pikirnya kagum.


“Tapi, Kek. Aku ada masalah yang belum bisa ku pecahkan,” kata Panji sambil menceritakan pengalamannya yang sering kehabisan tenaga saat di besalen.


“Itu bisa kau gunakan sebagai sarana latihanmu. Coba mulai sekarang kau gunakan tenaga fisikmu seperlunya saja. Tenaga utamanya adalah tenaga dalammu.”


“Maksud Kakek?”


“Mulai sekarang coba kau terus gunakan tenaga dalammu untuk semua aktivitasmu. Coba kau kontrol penggunaannya, sebab kalau terlalu besar akan merusak barang – barang tetapi kalau terlalu kecil, kau tidak akan bisa berjalan karena beban pemberat tubuhmu.”


“Tapi, Kek. Aku pernah mencobanya semalam dan tenagaku cepat sekali habis,” protes Panji pelan.


“Justru disitulah poinnya. Kau cepat kehabisan tenaga karena tenaga dalammu belum stabil. Kalau kau bisa membuatnya stabil, tenaga dalammu tidak cepat habis. Coba kau terus berlatih dengan cara itu. Itu akan sangat membantumu dalam pertempuran jangka panjang,” ucap Kakek Tua itu sambil tersenyum lebar.


“Baik, Kek. Tapi kenapa Kakek tahu hal – hal seperti itu?” tanya Panji heran.


“Hahaha, walaupun aku hanya tukang sapu, tapi aku sudah ada di perguruan ini sebelum kau lahir. Tentu saja aku tahu masalah kecil seperti itu,” jawab Kakek Tua itu sambil tertawa lebar.


“Baik, Kek. Terima kasih masukannya,” kata Panji pelan dengan kedua tangannya menangkup di depan dada.


“Bagus. Kalau kau latihan seperti itu, tenaga dalammu akan naik level lebih cepat. Sudah dulu ngobrolnya. Kau sapu daerah sana, aku akan meneruskan yang sebelah sini.”


“Ya, Kek,” kata Panji sambil meraih sapunya dan melangkah ke wilayah yang akan disapunya.


Sambil menyapu, Panji merenungkan pembicaraannya dengan Kakek Tua itu. Berbekal pengalamannya kemarin, semua pembicaraan Kakek Tua itu sangat masuk akal. Ia akhirnya sadar bahwa tenaga dalamnya masih sangat dangkal. Walaupun ia sudah mencapai level 3, tetapi jumlah tenaga dalamnya masih belum mencukupi untuk melakukan kerja dalam jangka waktu yang cukup lama.

__ADS_1


“Padahal aku hanya bekerja di besalen. Kerjaku  paling berat juga cuma memukulkan palu ke besi batangan, tapi aku bisa kelelahan seperti itu. Coba kalau kejadian seperti itu terjadi saat pertempuran kemarin. Mungkin sekarang aku sudah tidak ada disini, tapi di kubur di padang rumput itu,” gumamnya sambil melihat kedua telapak tangannya. Tak terasa keringat dingin mulai mengalir di punggungnya.


“Aku harus berlatih lebih keras lagi!” tekadnya sambil mengepalkan tangannya.


__ADS_2