Maaf .......

Maaf .......
Episode 26. Tantangan Kakek Tua


__ADS_3

“Yoo, Panji. Akhirnya kau datang juga,” sapa Mahesa saat Panji melangkahkan kakinya di ruang makan. Seluruh anggota Tim Rajawali Perak dan Tim Singa Gunung yang sedang duduk mengelilingi sebuah meja besar serempak menengok ke arah pintu setelah mendengar perkataan Mahesa.


“Panji, kemarilah! Ayo makan bersama kami disini,” ajak Gayatri sambil melambaikan tangannya.


Panji hanya tersenyum kecil dan tidak menjawab ajakan Gayatri. Ia terus melangkah ke meja makan, mengambil piring dan mengisinya sampai penuh sebelum melangkah dan duduk di  samping Prakosa.


“Kawan – kawan, bagaimana kabar kalian selama ini?” tanyanya sambil tertawa nyengir.


“Hahaha.... Akhirnya kau muncul juga, Panji,” sambut Prakosa sambil menonjok lengannya. “Kukira kau akan berubah menjadi hantu penunggu besalen.”


“Panji, kau sudah  menghilang begitu lama. Sudah berapa lama sejak kita bertemu disini terakhir kalinya?” tanya Jayanti pelan. Ia mengamati wajah Panji yang sekarang terlihat pucat dan kurus.


“Kalau tidak salah sekitar 3 bulan yang lalu,” jawab Panji sambil mengunyah makannya.


“Kudengar kau membuat pedang di besalen. Apakah kau berhasil?” tanya Mahesa pelan.


“Yep. Aku berhasil membuatnya,” kata Panji sambil meloloskan pedang dari ikat pinggangnya dan meletakkannya di meja.


Wiranata yang penasaran segera mengambil pedang itu dan mencabutnya dari sarungnya. Ia mengamati pedang


itu selama beberapa saat dan terkejut saat melihat garis – garis halus di permukaan pedangnya.


“Ini.... ini.... Panji, benarkah pedang ini kau sendiri yang membuatnya?” tanyanya pelan.


“Wiranata, kenapa kau ini? Memangnya ada apa dengan pedang Panji?” tanya Tunggul heran.


“Ini...” Wiranata tidak melanjutkan perkataannya karena Jayanti merebut pedang dari tangannya.


Jayanti yang penasaran dengan reaksi Wiranata, memegang pedang Panji dan mengamatinya dengan teliti. Ia tertegun sejenak melihat garis halus di tubuh pedang dan merabanya pelan. Ia dan Wiranata sudah sering mencarikan senjata untuk kebutuhan anggota Tim Rajawali Perak, tapi baru kali ini ia menemukan sebuah pedang dengan garis – garis halus sebanyak ini.


“Panji, apakah ini pedang yang buat selama di besalen?” tanyanya pelan.


“Yep. Benar,” jawab Panji santai. Ia tetap meneruskan makannya karena sangat lapar dan rasa masakan kali ini sangat sesuai seleranya.


“Jayanti, kenapa reaksimu sama dengan Wiranata? Memangnya ada apa dengan pedang Panji?” tanya Mahesa yang mulai merasakan ada yang aneh dengan tingkah laku Jayanti dan Wiranata.


“Aku dan Wiranata selama ini sudah sering mencarikan senjata untuk kalian. Tapi pedang Panji kali ini kualitasnya berbeda dengan pedang kalian,” jawab Jayanti pelan.


“Maksudmu?” tanya Tunggul pelan. Perlahan – lahan ia mulai memahami penyebab perubahan sikap Jayanti dan Wiranata.


“Senjata yang kalian pakai, yang aku beli di pasar perguruan adalah senjata level 1. Senjata dengan kualitas terburuk dan gampang rusak. Tetapi pedang buatan Panji ini setidaknya senjata level 3,” jawab Jayanti sambil meletakkan pedang itu ke atas meja.


“Panji, berapa lipatan saat kau buat pedangmu?” tanya Wiranata pelan. Ia memandang Panji dengan penuh tanda tanya. Semakin lama ia mengenal anak ini semakin pusing pula kepalanya karena semakin banyak pula kemampuan Panji yang terungkap. Perkelahian tangan kosong, ilmu pedang, ilmu panah, strategi perang, ilmu pengobatan dan sekarang ilmu pandai besi. Sebenarnya otaknya itu terbuat dari apa?


“Kalau tidak salah hitung kira - kira 1.500-an lipatan,” gumam Panji setelah menghitung sejenak.


“1.500 lipatan? Berarti pedang ini termasuk level 4, kan?” bisik Jayanti pelan.


“Level 4? Maksudnya level 4?” tanya Prakosa dengan kening berkerut.


“Senjata itu dibuat dengan memanaskan, menempa dan melipat. Jadi besi ditempa dan dilipat untuk membuat senjata. Semakin banyak lipatan semakin bagus,” kata Wiranata. Ia yang berteman baik dengan Jlitheng sedikit banyak mengetahui tentang kualitas senjata.


“Jumlah lipatan untuk senjata level 1 yang kalian pakai sekitar  128 lipatan, level 2 sekitar 500-an lipatan, level 3 sekitar 1.000-an lipatan, level 4 sekitar 1.500-an lipatan, sedangkan level 5 jumlahnya sekitar 2.000-an lipatan,” lanjutnya.


“Kalau begitu kualitas senjata kita   dengan pedang Panji ini bedanya sangat jauh?” tanya Baskara.


“Tentu saja. Bahkan kalau kalian tidak hati – hati, senjata kalian bisa patah saat berbenturan dengan senjata Panji.”


“Apakah benar begitu, Panji?” tanya Paksi tak percaya.


Panji tak menjawab. Ia hanya meloloskan pedang yang lain dari ikat pinggangnya. Ia mencabut pedang itu dan meletakkannya di meja.


“Ini... Ujung pedang ini kenapa bisa terpotong begini?” tanya Paksi saat melihat ujung pedang Panji yang rata seperti sengaja di potong.


“Panji, jangan – jangan kau telah mengadu pedang ini dengan pedang buatanmu?” tanya Wiranata pelan.


“Yap, betul. Pedang itu aku benturkan dengan pedangku dan hasilnya seperti itu,” kata Panji sambil menghabiskan nasi di piringnya.


Wiranata dan yang lainnya tertegun mendengar penjelasan Panji. Mereka sempat tak yakin dengan penjelasan Wiranata, tapi pedang di meja itu merupakan bukti nyata bahwa perkataannya benar.

__ADS_1


“Wiranata,berapa harga senjata level 4?” tanya Prakosa antusias. Ia tak menyangka kemampuan senjata Panji ternyata sehebat ini. Ia membayangkan betapa hebatnya ia saat menggunakan senjata seperti ini untuk bertarung.


“Senjata level 1 yang kalian kenakan harganya berkisar 10 – 15 tael emas, sedangkan level 4 harga paling murah adalah sekitar 150 tael emas,” jawab Wiranata.


“150 tael emas? Mahal sekali!” seru Baskara kaget.


“Itu harga paling rendah. Senjata level 4 itu tidak akan bisa kau cari di pasar perguruan karena termasuk langka di daerah ini. Di pasar Kota Manyaran pun belum tentu kau dapat menemukannya. Hanya di lelang saja kau bisa mendapatkan senjata seperti ini,” jelas Jayanti.


Hati Prakosa langsung menguncup saat mendengar penjelasan Jayanti. Sudah harganya mahal, barangnya juga susah di dapat. Impian untuk mendapatkan senjata level 4 pun lenyap.


“Panji, maukah kau membuatkan senjata level 4 untukku? Nanti aku akan bayar sesuai harga pasar,” kata Tunggul pelan. Ia sempat ragu – ragu sejenak tapi setelah melihat kemampuan senjata Panji, ia menguatkan tekadnya dan meminta pada Panji.


“Boleh. Kalau kalian mau, nanti akan kubuatkan pedang untuk kalian. Harganya harga spesial karena kalian adalah teman baikku, hanya 50 tael emas,” jawab Panji santai. Bagaimanapun juga modal membuat pedang sangat murah. Harga segitu ia sudah untung besar.


“Betulkah? Bagus. Aku pesan satu!” seru Tunggul dengan gembira.


“Aku juga!”


“Aku pesan juga!”


Panji hanya tersenyum senang saat teman – temannya berebutan memesan pedang padanya.


“Oh, ya. Panji, katanya kau juga berlatih mengontrol tenaga dalam. Sekarang berapa levelmu?” tanya Mahesa setelah keributan mereda.


“Aku sekarang sudah level 4.”


“Level 4? Levelmu sudah naik lagi? Cepat sekali!” seru Sasti tak percaya. Ia memandang Panji seperti melihat makhluk aneh.


“Apa? Panji sudah level 4?”


“Baru 3 bulan sudah naik level lagi?”


Mahesa dan teman – temannya dari Tim Rajawali Perak semuanya tertegun setelah tahu Panji sudah level 4.


Mereka mengenal Panji baru sekitar 5 bulan. Saat pertama bertemu, ia masih level 2, tapi sekarang ia sudah naik level 2 kali. Mereka mengenal beberapa orang hebat di Perguruan Langit Biru. Tapi mereka semua hanya bisa naik level setiap 8 – 10 bulan. Bahkan yang paling hebat adalah naik level dalam 6 bulan.  Untuk Panji yang bisa naik level tiap 2 bulan itu masuk dalam kategori apa?


 “Ehm, sebenarnya begini“Panji, latihan apa yang kau lakukan sampai kau bisa naik level semudah itu?” tanya Tunggul heran.


Panji lalu menceritakan kasusnya yang terkena racun saat kecil dan harus menghadapi levelnya turun setiap kali penyakitnya kambuh.


“Jadi sebenarnya kau sudah mencapai level 5 saat usiamu masih 11 tahun?” tanya Sasti dengan muka bengong tak percaya.


Mahesa, Tunggul dan yang lainnya pun terdiam. Sebelas tahun sudah level 5? Bagaimana mungkin? Kalau mereka tidak mengenal Panji, mereka akan menganggap Panji sedang membual.


Mereka menghela nafas dalam – dalam dan menundukkan kepala mereka. Mereka kadang – kadang bangga dengan pencapaian mereka yang sudah di atas rata – rata untuk anak seumuran mereka. Tapi jika dibandingkan dengan Panji, mereka masih kalah jauh. Apalagi jika mengingat sikap Panji yang tidak suka menyombongkan pencapaiannya, mereka semakin malu.


“Sialan, kau membuat kepercayaan diriku hancur. Kenapa di dunia ini ada orang sepertimu? Untung saja hanya ada satu orang saja, kalau ada banyak orang yang sepertimu, aku bisa gila. Seluruh pencapaianku selama ini terlihat seperti sampah,” gerutu Wiranata pelan. Teman – teman yang mendengar omongannya spontan menganggukkan kepalanya.


“Maaf. Bukan maksudku seperti itu,” kata Panji sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


 “Argh! Tidak adil. Benar – benar tidak adil. Aku sudah berusaha keras tapi tenaga dalamku masih level 6, tapi kenapa tenaga dalammu sudah pernah level 5 dan tenaga luarmu sekarang level 7. Panji, sebenarnya seperti apa latihanmu?” keluh Prakosa dengan muka kusut.


“Apa, tenaga luar level 7?”


Tunggul dan teman – temannya yang semuanya murid dalam sekali lagi terkejut mendengar perkataan Prakosa. Mereka saling berpandangan dengan muka tak percaya. Mereka tahu persis bagaimana susahnya melatih tenaga luar supaya naik level. Apalagi sampai level 7 di usia 15 tahun. Mereka yang berlatih tenaga dalam sampai usia  18 tahun pun baru mencapai level 8, padahal Panji juga melatih tanaga dalamnya!


“Ah, itu juga bukan kemauanku sendiri. Aku terpaksa. Aku harus menaikkan daya tahanku supaya penyakitku tidak cepat kambuh. Jadi mau gak mau aku harus berusaha keras melatih fisikku,” jawab Panji nyengir.


Tunggul memandang Panji dengan kagum. Ia tak menyangka anak yang terlihat biasa saja ini ternyata menyimpan kemampuan yang di luar dugaan. Saat sedang mengamati, tiba – tiba matanya melihat sesuatu yang aneh di lengan Panji.


“Panji, apa yang  kau pakai di lenganmu itu?” tanyanya spontan.


“Oh, ini?” katanya sambil menyibakkan lengan bajunya. Ia menutupi pemberat tubuhnya dengan baju dan celana panjangnya supaya tidak menarik perhatian orang lain.


“Ini adalah pelindung tangan yang kubuat sendiri. Aku membuat 1 set pemberat tubuh untuk melatih tenaga dalamku. Ini hanya salah satu bagiannya,” katanya sambil mencopot pelindung tangan kanannya.


Wiranata meraih pelindung tangan itu dan terkejut saat merasakan beratnya. Ia harus mengerahkan tenaga cukup banyak hanya untuk mengangkatnya.


“Panji, apa kau terus memakai ini seharian?” tanyanya dengan nada tak percaya.

__ADS_1


Tunggul yang ingin tahu segera mengambil pelindung tangan itu dari tangan Wiranata. Ia pun terkejut saat merasakan berat pelindung tangan itu. Ia memasangnya di tangan kanannya dan merasa kesulitan saat berusaha mengangkat tangannya.


“Coba kerahkan tenaga dalammu. Pelan – pelan, sesuaikan besarnya dengan berat pelindung tangan itu. Jangan kerahkan terlalu banyak,” saran Panji saat melihat kesulitan Tunggul.


Tunggul segera mengerahkan tenaga dalamnya. Pelan – pelan ia naikkan tenaganya sampai ia bisa menggerakkan tangannya dengan leluasa. Ia tersenyum senang, tapi tiba –tiba ia tertegun dan memandang Panji tak percaya.


“Panji, selain pelindung tangan ini, apakah kau juga mengenakan pemberat lain? Katanya kau membuat 1 set, kan?” tanya Tunjung pelan.


“Ya. Aku membuat 6 pemberat tubuh. Sepasang untuk tangan, sepasang untuk kaki dan sepasang untuk bahu,” katanya santai. Ia menyingsingkan lengan baju dan celana panjangnya untuk melepaskan pelindung tangan dan kaki. Ia juga membuka baju atasnya untuk melepaskan pelindung bahunya.


Tunggul yang penasaran meminta Mahesa untuk membantunya memakai set pelindung tubuh buatan Panji.


“Uargh!”


Tunggul menggertakkan giginya saat tubuhnya merasakan berat pemberat tubuh itu menekan tubuhnya. Tubuhnya sampai sedikit membungkuk untuk menahan beratnya. Ia mengerahkan tenaga dalamnya dan pelan – pelan meningkatkannya. Ia baru merasa nyaman setelah menggunakan hampir 30% tenaga dalamnya!


Ia mengedarkan pandangannya dan melihat aula ruang makan telah sepi. Rupanya mereka mengobrol terlalu lama sehingga tidak menyadari yang lain sudah selesai makan dan meninggalkan ruangan.


Ia menghela nafas lega sebelum menggerakkan tubuhnya. Mula – mula ia hanya memukul dan menendang pelan, tapi lama kelamaan ia bergerak cepat mempraktekkan beberapa jurus tangan kosong. Tak lama kemudian, ia memperlambat gerakannya dan berhenti.


Tunggul menghapus keringat yang mengucur di dahinya dan memandang Panji dengan perasaan tak menentu. Ia sudah kepayahan hanya dengan memakai itu selama beberapa saat. Ia tak bisa membayangkan bagaimana Panji bisa merasa santai saat mengenakan pemberat tubuh ini seharian penuh!


Mahesa, Prakosa dan yang lain pun ikut memandang Panji seperti memandang makhluk aneh. Mereka bisa  melihat kesulitan Tunggul saat mencoba memakai set pemberat tubuh itu, tapi Panji bisa memakai barang itu seharian tanpa kesulitan.


Panji yang merasakan tatapan aneh teman – temannya hanya bisa tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kalau kalian mau, aku bisa mengajari kalian caranya,” desisnya pelan.


Panji segera menyesali perkataannya setelah melihat ekspresi teman – temannya yang berubah ceria.


“Tapi kalian harus menungguku menyelesaikan ujian masuk perguruan dulu. Dan yang paling penting, aku tidak bisa menjamin cara ini cocok buat kalian,” ia segera melanjutkan perkataannya, khawatir semuanya mengira bisa mendapatkan pencapaian sepertinya.


“Setuju!”


“Nggak masalah.”


Mahesa dan yang lainnya serempak menyetujui perkataan Panji.


Mereka menyelesaikan makan mereka dan berpisah sesuai keperluan masing – masing.


Panji bergegas melangkah ke gubuknya dan menghentikan langkahnya saat melihat Kakek Tua itu duduk di kursi didepan gubuknya.


“Selamat pagi, Kakek,” sapa Panji sambil melangkah mendekat.


“Selamat pagi, Panji. Kau sudah menyelesaikan latihanmu?” tanya Kakek Tua itu ramah.


“Sudah, Kek. Maaf tadi tidak langsung kesini dan membantu Kakek. Aku kelaparan. Jadi dari besalen langsung ke ruang makan,” kata Panji sambil menundukkan kepalanya.


“Tidak apa – apa. Itu bukan tugasmu kok,” Kakek Tua itu mengibaskan tangannya tak peduli.


“Kau sudah di besalen selama 3 bulan. Apa saja yang kau buat disana?” tanyanya sambil tersenyum kecil.


Panji menyerahkan pedang buatannya dan menyingsingkan lengan bajunya agar Kakek Tua itu bisa melihat pelindung tangannya.


KakekTua itu mengamati pedang buatan Panji dengan mata berbinar – binar. Tiba – tiba ia mengeluarkan sebuah belati dan membenturkannya ke pedang buatan Panji.


Tang!


Belati di tangannya patah dua dan Kakek Tua itu pun tersenyum kecil.


“Pedang bagus! Level 3 atau level 4, kalau tidak salah,” gumamnya sambil menyerahkan pedang itu ke Panji. Ia melihat pelindung tangan sekilas dan tersenyum lebar.


“Terima kasih, Kek,” kata Panji sambil menerima pedangnya.


“Apa rencanamu sekarang?”


“Aku ingin berlatih, tapi diluar perguruan. Apa Kakek tahu tempat yang bagus untukku?”


Kakek Tua itu memandang Panji lekat – lekat. Ia seperti ragu – ragu sejenak sebelum berkata pelan.

__ADS_1


“Aku tahu tempat latihan yang mungkin cocok untukmu. Tapi tempat itu sangat berbahaya. Resikonya kau bisa kehilangan nyawa disana. Pertanyaannya hanya satu, apakah kau berani kesana?”


__ADS_2