
Huff... huff.... huff.....
Panji berdiri tegak dengan nafas memburu keluar dari hidungnya. Dadanya yang terasa sesak turun naik memompa udara keluar dan berusaha sebanyak mungkin menggantinya dengan udara dari luar. Kedua tangannya bertumpu pada pedangnya yang menancap kuat di tanah.
Dalam kemarahannya, ia tadi tidak sengaja mengerahkan ilmu rahasia ajaran kakeknya, Panji Pradapa. Kakeknya pernah mengatakan untuk menggunakan ilmu ini jika keadaan sudah sangat mendesak karena efek sampingnya sangat berbahaya. Ia baru saja mengalaminya sendiri. Memang kekuatannya mendadak meningkat sangat pesat, tapi beban yang di tanggung tubuhnya sangat berat. Hampir saja pembuluh darah di tubuhnya pecah. Untunglah pertempuran cepat sekali selesai sehingga ia bisa menghentikan pengerahan ilmunya tepat waktu. Sedikit saja terlambat, mungkin ia ikut terkapar di tempat ini.
Ia memejamkan matanya dan berusaha sekuat tenaga mengatur nafasnya yang tak beraturan. Darah di seluruh tubuhnya terasa mengalir cepat tak beraturan. Tubuhnya terasa lemah dan rasa pusing mulai menyerang kepalanya.
Ia membuka matanya dan meraih tas pinggangnya. Ia mengeluarkan sebutir pil vitalias, pil multitonik dan sebuah kantung air. Dengan cepat, ia menelan pil – pil itu serta menenggak habis air minumnya.
“Puah,” desisnya puas.
Ia menghapus keringat di wajahnya dan duduk bersila serta memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian,
nafasnya mulai teratur. Pembuluh darah yang muncul hampir di seluruh tubuhnya mulai menghilang dan kepalanya mulai tidak terasa pusing lagi.
Diam – diam ia sangat bersyukur atas nasehat kakek tua itu. Setelah setiap hari bertarung dengan berbagai binatang buas di hutan di Bukit Munggur ini, kemampuannya meningkat pesat. Menghadapi keroyokan lawan seperti tarantula pengembara raksasa, dubuk tutul, warthog taring pedang dan lain – lain yang kemampuannya lebih tinggi dari setan hitam dan ajag ekor merah membuatnya bisa menghadapi keroyokan orang – orang Brigade Tengkorak Darah itu dengan mudah.
Ia membuka matanya saat telinganya menangkap isak tangis lirih tak jauh dari tempatnya duduk. Rupanya ia telah melupakan keberadaan perempuan setengah baya itu akibat kemarahan yang memenuhi hatinya.
Ia menghela nafas panjang saat matanya melihat perempuan setengah baya itu. Kaki kanannya bengkak cukup besar dan pakaiannya robek di beberapa tempat. Darah mengalir di beberapa luka kecil di tubuhnya.
Ia mengedarkan pandangannya dan melangkah ke arah mayat Dumung yang bertubuh besar. Ia melepaskan
pakaian Dumung dan melangkah pelan mendekati perempuan setengah baya itu.
“Jangan mendekat! Pergi kau! Pergilah, kumohon,” teriak perempuan itu dengan wajah ketakutan. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya.
“Maaf, Nyai. Jangan takut. Aku tidak berniat mencelakai Nyai. Sekarang sebaiknya Nyai memakai baju ini terlebih dulu. Paling tidak baju ini lebih baik dari baju Nyai yang robek – robek,” kata Panji sambil meletakkan baju Dumung di dekat kaki perempuan itu.
Ia kemudian berbalik, melangkah mendekati batu besar dan duduk membelakangi perempuan itu.
Perempuan setengah baya itu tertegun melihat tindakan Panji. Ia termangu – mangu sejenak sambil melihat ke arah Panji sebelum mengambil baju Dumung dan mengenakkannya di atas bajunya sendiri.
“Anak muda, aku sudah selesai,” gumam perempuan setengah baya itu lirih.
Panji berbalik dan tersenyum kecil saat melihat perempuan itu sudah memakai baju Dumung. Ia berjalan mendekat dan menunjuk kaki perempuan itu yang terkilir.
“Maaf Nyai, aku bisa mengobati kakimu. Bolehkah aku melakukannya?” tanya Panji pelan.
Perempuan itu mengerutkan keningnya cukup lama sambil memandangi kakinya yang semakin bengkak. Ia menggigit bibirnya dan mengangguk.
Panji mendekat dan memegangi kaki yang bengkak itu. Telunjuk tangannya menotok beberapa kali dan bengkak itu pun mengempis dengan cepat.
“Sudah selesai. Kau bisa berdiri sekarang, Nyai,” kata Panji pelan. Ia meraih tas pinggangnya dan menyerahkan pil multitonik pada perempuan itu.
“Ini telanlah. Mudah – mudahan bisa membuat tubuh Nyai sembuh lebih cepat,” lanjutnya.
Perempuan itu menerima pil pemberian Panji. Ia mengamati pil di tangannya sejenak dan terkejut. Ia sangat mengenali pil itu dan tahu manfaat serta harganya. Tanpa ragu – ragu, ia menelan pil itu setelah memandang Panji sejenak.
“Terima kasih anak muda,” gumamnya lirih. ”Namaku Nyi Danapati, siapakah namamu anak muda?” lanjutnya.
“Panji, Panji Kusuma.”
“Maaf Nyi Danapati, kalau boleh tahu, kenapa Nyai sampai di kejar – kejar oleh Brigade Tengkorak Darah?” tanya Panji heran.
“Aku sendiri tidak tahu pasti. Kami hanya ingin mengunjungi Kota Manyaran untuk mengecek perkembangan bisnis dagang kami...."
Nyi Danapati adalah istri Ki Danapati, pemilik usaha dagang Kuda Terbang yang memiki cabang di berbagai kota. Setiap beberapa bulan sekali mereka akan mengecek perkembangan usaha dagangnya. Kebetulan kali ini cabang Kota Manyaran yang akan mereka kunjungi.
Mereka berangkat dari ibukota kerajaan Daha bersama rombongan pedagang yang akan menuju Kota Manyaran. Pengawal yang mengiringi mereka ada puluhan orang.
Tak disangka perjalanan mereka bocor. Mungkin ada mata – mata di antara para pedagang yang bersama mereka. Saat mereka sudah hampir sampai di Kota Manyaran, mereka disergap gerombolan Brigade Tengkorak Darah.
Pertempuran pun terjadi antara para pengawal dan anggota Brigade Tengkorak Darah. Tapi karena kalah jumlah dan pengalaman tempur, mereka dengan cepat mengalami kekalahan. Sebagian besar pengawal dan pedagang
__ADS_1
terbunuh, sisanya di tawan. Untunglah Nyi Danapati bisa melarikan diri saat pertempuran masih berlangsung. Ia melarikan diri dan bertemu Panji di tempat ini.
“Brigade Tengkorak Darah? Bukankah mereka hanya menyerang di sekitar ibukota saja? Kenapa sampai tempat yang jauh seperti Kota Manyaran ini?” gumam Panji pelan.
Ia ingat, setelah anggota elitnya menyerang desanya dan tertumpas habis, selama 10 tahun ini tidak ada kabar pergerakan Brigade Tengkorak Darah di sekitar Kota Manyaran.
“Kami sedang bersaing keras dengan Dursaha, pemilik usaha dagang Serigala Merah. Beberapa waktu yang lalu ia mengalami kerugian besar karena kalah bersaing dengan kami. Mungkin ialah yang meminta Brigade Tengkorak Darah untuk menghabisi kami,” kata Nyi Danapati pelan.
“Kalau menurut perkataan orang yang mengejar Nyai tadi, mungkin suami Nyai sekarang masih di tawan mereka. Apakah Nyai tahu tempatnya?” tanya Panji pelan.
“Maksudmu?” tanya Nyi Danapati heran.
“Sebenarnya aku punya dendam dngan Brigade Tengkorak Darah. Merekalah yang membunuh kedia orang tuaku
dan hampir menghancurkan desaku. Jadi sebisa mungkin aku akan menghancurkan mereka. Jadi, aku pikir, mungkin aku bisa sekaligus membantu menyelamatkan suami Nyai,” jawab Panji. Ia mengepalkan tangannya saat teringat ulah gerombolan itu 10 tahun yang lalu di desanya.
“Aku tidak tahu. Tapi aku bisa menunjukkan tempat mereka menyergap kami,” gumam Nyi Danapati.
“Itu sudah cukup. Aku bisa melacak jejak mereka dari tempat itu.”
“Panji, aku sangat berterima kasih jika kau bisa membebaskan suamiku. Aku ...”
“Sudahlah Nyai. Simpan perkataan Nyai jika aku sudah bisa menyelamatkan suami Nyai. Mungkin saja usahaku gagal. Siapa tahu,” potong Panji sambil mengangkat bahunya pelan.
“Yang penting bagiku adalah kau sudah mau mencobanya. Aku sangat berterima kasih padamu,” kata Nyi
Danapati pelan.
“Sudahlah Nyai. Sekarang ayo kita ke tempat Nyai di sergap. Semakin cepat semakin baik, supaya jejaknya belum hilang,” kata Panji sambil berdiri.
“Tunggu sebentar,” kata Nyai Danapati sambil melangkah mendekati salah satu mayat orang yang mengejarnya dan mengambil sebuah pedang beserta sarungnya. Ia menyingsingkan kain panjangnya dan ternyata di baliknya ia mengenakan pakaian ringkas.
“Ayo kita berangkat,”lanjutnya sambil memegang pedang itu dengan mantap.
“Aku belajar hanya sampai level 3 dan sudah lama tidak berlatih. Jadi kalau bertarung mungkin aku tidak bisa, tapi kalau hanya mempertahankan diri, aku yakin aku bisa. Tadi aku melarikan diri karena suamiku yang berteriak memerintahkanku untuk pergi dan panik saat di sergap mendadak,” kata Nyai Danapati tegas.
“Bagus,” gumam Panji pelan. Ia merasa lega karena tadi sempat khawatir tentang keselamatan Nyi Danapati. Bagaimana pun juga hutan di Bukit Munggur ini bukan tempat bagi orang biasa yang belum tahu tentang seni beladiri.
Mereka berjalan cepat menyusuri jalan yang tadi di tempuh Nyi Danapati untuk melarikan diri. Panji mengerutkan keningnya karena jalan itu tidak mengarah keluar hutan di Bukit Munggur tapi justru semakin lama semakin mengarah masuk ke dalam hutan!
Sambil berjalan, Panji terus meningkatkan kewaspadaannya. Selama hampir 2 minggu tinggal di hutan ini membuatnya cukup paham tentang berbagai bahaya yang bisa mengancamnya. Ia mengerahkan panca inderanya untuk mendeteksi kelainan yang ada di sekitarnya. Tiba – tiba ia menghentikan langkahnya saat ia mendengar suara yang sangat di kenalnya. Suara yang menunjukkan ada bahaya yang menghadang di depannya.
“Ada apa, Panji?” tanya Nyi Danapati saat melihat Panji yang tiba – tiba berhenti dan mengedarkan pandangannya.
“Nyai, sebaiknya Nyai segera naik pohon itu. Sekarang!” desis Panji sambil menunjuk pohon besar di samping kanannya.
“Memangnya ada apa, Panji?” tanya Nyi Danapati heran.
“Sudahlah, tidak ada waktu. Naik saja! Sekarang, Nyai!” geram Panji sambil meloloskan pedangnya. Ia memandang ke depan dengan muka serius.
Nyi Danapati yang melihat keseriusan Panji segera meloncat naik ke pohon besar. Ia memanjat dengan cepat dan setelah sampai di dahan pohon, ia menengok ke bawah.
Jantungnya berdegup kencang saat melihat ada 5 ekor laba – laba raksasa tiba – tiba muncul dan melangkah pelan mendekati Panji.
“Lebih tinggi lagi, Nyai. Kalau kau berada di situ, mereka bisa meloncat dan menerkammu,” kata Panji keras setelah ia melirik ke atas.
Mendengar perkataan Panji, Nyi Danapati segera memanjat sampai ke pucuk pohon. Ia memegang batang pohon itu erat – erat sambil memejamkan matanya. Mulutnya tiada henti berdoa supaya Panji bisa mengalahkan laba – laba raksasa itu.
“Kemarilah. Bukankah kalian telah melihatku?” katanya pada kawanan laba – laba pengembara raksasa itu.
Kawanan laba –laba itu mengeluarkan suara mendesis yang menakutkan sambil mendekati Panji.
Panji melengak kaget saat 2 ekor diantaranya tiba – tiba bergerak aneh. Satu ekor mengangkat tubuhnya dengan ekor mengarah padanya sedangkan 1 ekor lagi merunduk dengan ekor terangkat tinggi – tinggi.
“Sialan!” teriaknya kaget sambil meloncat cepat ke samping. Sebuah jaring halus berwarna putih dan semburan racun berwarna hijau kental melesat ke tempatnya berdiri sebelumnya. Jika ia tidak segera menghindar tubuhnya pasti sekarang sudah tertutupjaring putih dan terkena racun. Walaupun tubuhnya sekarang kebal racun, jaring – jaring itu akan membuatnya tidak bisa bergerak. Selama ia tidak bisa membebaskan dirinya, ia hanya dapat menerima serangan gigitan dan hantaman kuku kaki laba –laba raksasa itu.
__ADS_1
Panji langsung memanfaatkan kesempatan ini. Ia tahu laba – laba pemburu raksasa tidak dapat bergerak sesaat setelah melemparkan jaring atau racunnya. Ia melompat ke depan dan menebaskan pedangnya 2 kali ke arah laba – laba yang baru saja melemparkan jaringnya.
Laba – laba itu berteriak kesakitan saat tubuhnya terlempar ke belakang dengan kepala terkoyak. Kedelapan kakinya bergerak liar saat rasa sakit yang hebat menyerang kepalanya. Ia baru berhenti bergerak saat Panji meneruskan serangannya dengan menghantam kepalanya sekali lagi.
Panji melanjutkan serangannya ke arah laba – laba yang melontarkan racunnya. Ia meloncat ke atas dan pedangnya meluncur lurus menghantam kepala laba – laba raksasa yang masih merunduk ke bawah.
“Hyaaaaa.........”
Chiiii....
Laba – laba itu menjerit saat kepalanya tertembus pedang Panji. Kepalanya menempel ke tanah saat tubuh Panji mendarat di kepalanya.
Tanpa belas kasihan, Panji memutar pedangnya dan membuat kepala laba – laba itu berlubang besar. Dengan cepat, ia menarik pedangnya dan menebaskannya sekali lagi yang membuat kepala laba –laba itu terbelah dua.
Ia menarik pedangnya dari kepala laba – laba raksasa itu dan meloncat ke depan. Kedua tangannya memedang pedangnya erat – erat saat ia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga menghantam kepala laba – laba terdekat dari bawah ke atas.
Laba – laba itu terhuyung – huyung ke belakang dengan kepala mendongak ke atas. Tanpa memberi kesempatan lawannya, Panji terus melangkah maju dan menghantamkan pedangnya dari atas ke bawah. Laba – laba raksasa
itu pun tersungkur ke bawah dan diam tak bergerak dengan darah mengalir deras dari kepalanya.
Nyi Danapati yang melihat dari atas pohon matanya terbelalak tak percaya. Dalam sekejab mata, Panji telah membunuh 3 ekor laba – laba pemburu raksasa.
“Siapa sebenarnya anak ini?”gumamnya heran. Setitik harapan mulai tumbuh di hatinya setelah ia melihat
kemampuan Panji. “Mungkin Kakang Danapati bisa diselamatkan oleh anak ini,” desisnya penuh harap.
Panji menurunkan pedangnya sambil melirik ke arah kedua laba – laba raksasa yang tersisa. Nafasnya sedikit memburu dan keringat deras mengucur dari tubuhnya. Serangan kilat tadi hampir menghabiskan separuh tenaganya.
“Huff.... tubuhku masih belum kuat untuk menahan beban serangan kilat. Mungkin kalau aku melepaskan seluruh pemberat tubuh, aku bisa melepaskan serangan seperti tadi beberapa kali,” gumamnya pelan.
Chiii....
“Ugh..”
Belum sempat Panji menarik nafas, laba – laba di sebelah kanannya menerjangnya. Ia mengangkat tangan kirinya menangkis gigitan mulut laba – laba itu, tapi dadanya terluka oleh hantaman kuku kaki depan musuhnya.
Rasa sakit di dadanya memicu kamarahan Panji. Pedangnya bergerak menusuk perut laba – laba itu. Saat musuhnya mundur kesakitan, ia memegang pedangnya dengan sekuat tenaga menghantam kepala laba –laba itu.
“Empat mati. Sekarang tinggal kau yang harus ku habisi,” geramnya sambil meraba dadanya yang terluka. Matanya menyala marah saat melihat darah segar membasahi tangan kirinya.
Tanpa membuang waktu, ia bergerak zig zag menerjang laba – laba yang tersisa. Pedangnya menebas 2
kaki kanan musuhnya, tebasan kedua menebas putus kedua kaki kiri musuhnya. Terakhir, tebasan ketiga menghantam kepala musuhnya yang jatuh tersungkur ke tanah. Dalam satu kali serangan, ia menebas 3 kali dan membuat musuhnya luka parah di kepalanya.
“Fiuh... nyaris saja,” gumamnya sambil meraba luka di dadanya. “Aku harus menghentikan luka ini secepatnya atau bau darah ini akan membuat mereka datang ke tempat ini,” desisnya pelan.
“Auuuu....ng!”
“Guk... guk...!”
“Terlambat! Mereka sudah mencium bau darahku,” gerutunya sambil memandang ke arah lolongan dan gonggongan budug tutul di kejauhan.
Ia memperkirakan kawanan budug tutul itu akan datang sebentar lagi dan ia harus memanfaatkan waktu ini
sebaik – baiknya.
Guk! Guk!
Guk! Guk!
Gonggongan dubuk tutul terdengar semakin dekat. Panji memandang ke arah suara itu dan melihat banyak semak – semak bergoyang keras tanda banyak sekali budug tutul yang mendatangi tempatnya.
“Kau tunggu disini, Nyi. Aku akan berusaha menyingkirkan kawanan dubuk tutul ini secepatnya!” teriak Panji keras sambil berbalik dan berlari kencang menjauhi kawanan budug tutul itu.
Nyi Danapati hanya diam terpaku dengan tangan menutupi mulutnya saat melihat semak – semak bergoyang keras dan puluhan dubuk tutul bermunculan mengejar Panji.
__ADS_1