
“Sentinel?” tanya Ki Narpada heran. “Kenapa mereka datang kemari? Bukankah kita tidak mengirim surat permintaan bantuan?”
Ki Narpada terdiam beberapa saat. Ia berusaha mengingat – ingat tetapi tetap tidak bisa mengingat kapan ia menuliskan surat perintaan bantuan kepada Benteng Manyaran.
Ia memandang para sesepuh desa tetapi semuanya menggelengkan kepala dan mengangkat bahu tanda tidak tahu apa – apa.
Ki Narpada menghela nafas dalam – dalam. Tidak punya pilihan lain, ia pun berjalan menuju aula balai desa untuk menemui tamunya.
“Selamat pagi. Saya Narpada, Kepala Desa Ringin Kembar. Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya Ki Narpada sambil duduk di kursinya.
“Selamat pagi Ki Narpada. Namaku Dirga, Sersan pasukan Sentinel dari Benteng Manyaran, dan ini anak buahku, Kopral Parta,” kata Sersan Dirga.
“Maaf Sersan Dirga, kira – kira ada perlu apa Sentinel dari Benteng Manyaran beramai – ramai datang ke Desa Ringin Kembar ini? Seingat saya, kami tidak pernah mengirimkan surat permintaan bantuan kesana,” kata Ki Narpada ramah.
Ia mengedarkan pandangannya dan menghitung tidak kurang dari 20 orang telah duduk di aula balai desa. Sebuah jumlah yang cukup besar untuk suatu kunjungan biasa. Ia mengerutkan keningnya saat melihat pakaian seragam mereka berbeda dengan pakaian seragam Sentinel seperti yang dipakai Sersan Dirga dan Kopral Parta.
“Sebenarnya begini Ki Narpada. Benteng Manyaran sekarang sedang ada program pelatihan untuk calon anggota Sentinel. Kami mendapat perintah dari atasan untuk melatih 20 orang ini.”
“Mereka telah selesai latihan teori dan latihan dalam benteng. Mereka sekarang harus latihan di luar benteng.”
“Kebetulan beberapa hari lalu aku mendengar ada masalah di desa ini, bahkan ada murid dari Perguruan Langit Biru yang hilang. Nah, kami ingin menggunakan kesempatan ini untuk melatih anak – anak baru ini mengenal pertempuran sungguhan dengan melawan ajag ekor merah yang mengganggu desa ini. Untuk itu kami mohon ijin
dari Ki Narpada,” kata Sersan Dirga sambil tersenyum.
“Kami akan sangat senang jika Sentinel turut membantu masalah kami. Tapi sebenarnya murid yang hilang itu telah kembali dan kami sebenarnya akan menyerang kawanan ajag ekor merah itu 2 hari lagi,” kata Ki Narpada tenang.
“Oh, jadi murid yang hilang itu sudah kembali. Apakah mereka kembali sendiri?”
“Tidak, mereka kembali setelah ada tim lain, Tim Rajawali Perak, yang menyusul mereka dan membawa mereka kembali.”
“Tim Rajawali Perak? Rasanya aku pernah mendengarnya,” gumam Sersan Dirga pelan.
“Kita pernah bertemu mereka di Desa Bambu Kuning. Tepatnya di Bukit Sibolang,di sarang gerombolan setan hitam,” kata Kopral Parta pelan.
“Ah, betul. Mereka. Jadi mereka juga ada disini?” sahut Sersan Dirga senang. Sudah lama ia tidak bertemu anak – anak muda yang kemampuannya membuatnya senang. Ia menemukan itu saat bertemu dengan Tim Rajawali Perak.
“Ya. Kami, para pengawal bekerjasama dengan Tim Singa Gunung dan Tim Rajawali Perak, akan berangkat ke Hutan Halimun 2 hari lagi,” kata Ki Narpada.
“Ki Narpada, bagaimana kalau kami juga ikut bergabung saja,” sahut Sersan Dirga cepat. Ia ingin mengetahui kemampuan sesungguhnya dari Tim Rajawali Perak yang telah sukses membasmi kawanan setan hitam di Bukit Sibolang.
“Maksud Sersan Dirga?” tanya Ki Narpada heran.
“Ya, bergabung. Kami bersama – sama dengan kelompok kalian masuk ke Hutan Halimun. Bukankah itu bagus?” Sersan Dirga mengepalkan tangannya dengan gembira.
“Kami tentu merasa tersanjung jika para calon Sentinel ini mau bergabung dengan kelompok kami. Kemampuan
kami tentu akan jauh meningkat dan kemungkinan suksesnya lebih tinggi. Hanya saja, apakah para calon Sentinel itu mau juga bergabung dengan kami?” tanya Ki Narpada setelah melihat ekspresi tidak suka yang terpancar jelas dari muka sebagian besar calon Sentinel.
“Hah, apa maksud Ki Narpada?” tanya Sersan Dirga heran. Ia menengok dan memahami maksud Ki Narpada
setelah melihat ekspresi anak buahnya. Ia menepuk jidatnya pelan dan tersenyum.
“Bagaimana menurutmu, Gilang?” tanyanya kalem.
“Maaf, Sersan. Kalau hanya menghadapi kawanan ajag ekor merah, kami dari grup 7 sudah lebih dari cukup. Kita tidak perlu bekerjasama dengan mereka,” kata seorang anak muda yang duduk di sebelah Sersan Dirga dengan muka terangkat ke atas.
“Jadi menurutmu kawanan ajag ekor merah itu hanya masalah kecil?” tanya Kopral Parta sambil menggelengkan kepalanya.
“Benar, Kopral. Kami grup 7 belum pernah kalah dan tidak akan pernah kalah,” kata Gilang bangga. Seluruh anggota yang lain mengangguk setuju.
“Haih, dasar anak muda bau kencur! Jangan sombong! Kalian itu seperti katak dalam tempurung. Kalian belum
melihat luasnya dunia,” kata Sersan Dirga sambil menggelengkan kepalanya pelan. Ia menyisir rambutnya ke belakang dengan tangannya sambil menghela nafas panjang tanda kekecewaan mulai memenuhi hatinya.
“Kalian memang terbaik di angkatan sekarang. Tapi itu hanya terbatas di lingkungan benteng. Tapi tidak disini. Jangan kaget kalau nanti kau akan melihat banyak orang yang bisa mengalahkan kalian,” lanjutnya dengan muka muram.
Gilang menengok Sersan Dirga sesaat sebelum memalingkan wajahnya kembali.
“Apa? Kau tak percaya padaku?” tanya Sersan Dirga sambil mengerutkan keningnya.
“Siap Sersan. Saya percaya kalau ada orang yang bisa mengalahkan saya. Tapi tidak di desa kecil ini,” kata Gilang tegas.
“Kalau kau tak percaya, akan kutunjukkan padamu orang – orang yang bisa mengalahkanmu dengan mudah. Maaf Ki Narpada, bisa bawa kami ke tempat Tim Rajawali Perak?” desisnya pelan.
“Bisa. Ayo ke tempat latihan,” kata Ki Narpada yang juga mulai merasa tidak senang dengan sikap Gilang yang arogan.
“Gilang, siapkan hatimu karena nanti kau akan dihajar habis – habisan oleh orang desa sini,” desis Sersan Dirga pelan.
Mereka berdiri dan berjalan menuju ke tempat latihan. Kedatangan mereka mengejutkan Panji dan teman – temannya.
“Ki Narpada, ada apa ini?” tanya Panji bingung.
Ki Narpada kebingungan menjelaskan maksud kedatangan mereka dan hanya bisa memandang Sersan Dirga.
“Hahaha.... bukankah kita pernah bertemu di Bukit Sibolang beberapa waktu yang lalu?” tanya Sersan Dirga ramah.
__ADS_1
“Ya, Sersan. Saya Panji. Dan mereka ini teman – teman saya dari Tim Rajawali Perak,” kata Panji ramah.
“Bagus. Sekarang aku ada permintaan pada kalian. Bisakah kalian membantuku?”
“Maksud Sersan?”
“Para calon Sentinel dibelakangku ini percaya mereka tidak bisa dikalahkan oleh anak desa disini. Kuminta kau bisa memberi mereka pelajaran,” kata Sersan Dirga tegas.
“Ini.... Sersan tidak sedang bercanda, kan?” Panji melengak kaget. Ia tidak menyangka Sersan Dirga akan berkata seperti itu.
“Aku serius. Berdasarkan kemampuan, kau sudah bisa menjadi Sentinel sedangkan mereka masih calon Sentinel. Kau hajar dia agar tahu luasnya dunia,” kata Sersan Dirga sambil melambaikan tangannya kepada Gilang.
“Gilang, kemari kau!”
“Gilang, ini Panji, salah satu anak muda yang kubilang tadi. Kalau kau bisa mengalahkannya, kucabut perkataanku tadi,” kata Sersan Dirga pada Gilang yang mukanya mulai memerah karena marah.
Gilang memandang anak muda dihadapannya dengan pandangan menghina. Ia tidak bisa menerima anak muda
bertubuh kurus dihadapannya ini dianggap mempunyai kelebihan darinya.
Sersan Dirga memang termasuk sersan yang ramah, tapi ia sangat jarang mau memuji orang. Gilang yang belum pernah kalah di benteng pun tidak pernah mendapat pujian darinya.
Panji masih berusaha mencerna keterangan dari Sersan Dirga saat Gilang memandangnya dengan marah.
“Menyerahlah atau kau terluka parah,” desis Gilang tajam.
“Maksudmu?” tanya Panji bingung.
“Kau memang belum paham atau otakmu yang idiot! Katakan pada Sersan Dirga bahwa kau mengakui
kelebihanku atau kau akan luka parah karena kuhajar habis - habisan,” desis Gilang tajam.
“Maksudmu aku kalah darimu? Memangnya kapan kau mengalahkanku?” tanya Panji pelan. Ia mengerutkan keningnya karena rasa kesal mulai memenuhi hatinya.
“Kurang ajar! Rupanya kau memang mempermainkan aku. Rasakan ini!” teriak Gilang murka.
Ia maju dan menyerang Panji dengan pukulan cepatnya. Panji meloncat menghindar dan bergerak ke arah daerah yang lebih luas.
“Pengecut! Jangan lari kau!” teriak Gilang sambil bergerak mengejar Panji.
Teriakannya membuat Tim Singa Gunung dan para pengawal terpilih yang sedang berlatih berlarian mendekat. Mereka yang melihat Panji dan Gilang yang berkelahi di tengah lapang segera membuat lingkaran dan bersorak sorai.
Panji menghentikan langkahnya di tengah lingkaran dan menghadap Gilang dengan tersenyum.
“Kita bertarung disini. Disini lebih luas.” katanya kalem.
“Aku yang sombong atau kau yang arogan? Siapa menghajar siapa kita belum tahu, kan?” kata Panji enteng. Ia mengangkat pundaknya acuh tak acuh tanda tak peduli dengan ancaman Gilang.
Gilang yang sudah marah menjadi murka mendengar jawaban Panji. Tubuhnya bergetar menahan amarahnya yang
siap meledak.
“Anak desa itu berani sekali. Ia telah membuat Gilang marah,” bisik salah seorang calon Sentinel pada temannya.
“Anak itu belum tahu kehebatan Gilang, makanya ia berani bertingkah seperti itu.”
“Ya, Gilang belum pernah kalah di angkatan kita. Ia akan mengalahkan anak itu dengan mudah.”
“Kasihan dia. Gilang akan menghajarnya habis – habisan.”
Prakosa mengerutkan keningnya mendengar percakapan para calon Sentinel itu. Ia memandang Gilang dan menggeleng – gelengkan kepalanya.
“Kenapa?” tanya Paksi heran.
“Enggak. Hanya kasihan sama anak itu. Anak itu tampaknya belum pernah mengalami kekalahan, makanya sikapnya seperti itu,” kata Prakosa pelan.
“Yeah. Itu karena ia belum pernah bertemu monster bernama Panji sebelumnya,” gumam Wiranata. Mulutnya tersenyum kecil saat membayangkan Gilang yang akan dihajar habis – habisan oleh Panji.
“Setuju,” kata Mahesa sambil tersenyum simpul.
Singgih yang mendengar perkataan mereka pun mengangguk setuju. Ia telah merasakan sendiri kemampuan Panji dan ia tak percaya anak itu bisa dikalahkan dengan mudah oleh calon Sentinel itu.
Gilang menyerang dengan cepat. Rangkaian pukulan dan tendangannya bergerak susul menyusul seperti badai. Kakinya melenting membawa tubuhnya melesat mendekat bersamaan dengan pukulan dan tendangannya mengarah ke berbagai bagian tubuh Panji.
“Gila anak ini. Ia langsung mengerahkan kemampuannya sebesar ini sejak awal pertarungan. Rupanya ia ingin mengalahkanku dengan cepat,” desis Panji. Ia terkejut melihat aksi Gilang, tapi untungnya ia telah mempersiapkan dirinya sejak awal.
Kedua tangannya kadang bergerak menangkis serangan Gilang, sementara sebagian besar hujan serangan itu
dihindarinya. Tubuh bagian atasnya bergoyang cepat sementara kakinya kadang – kadang bergeser sedikit.
“Kemampuan Gilang sebenarnya termasuk bagus, hanya sayang ia terlalu arogan,” gumam Kopral Parta.
“Huh, kualitas calon Sentinel sekarang termasuk rendah. Makanya hanya dengan kemampuan seperti itu ia bisa mendominasi seluruh calon Sentinel. Tapi dibandingkan dengan anak – anak dari Tim Rajawali Perak, ia bukanlah apa – apa,” gerutu Sersan Dirga dengan muka keruh.
“Itu wajar. Calon Sentinel masih berkutat di pelatihan dalam benteng, makanya mereka belum punya pengalaman lapangan apa pun,” kata Kopral Parta sambil tersenyum.
__ADS_1
“Itulah sebabnya aku ingin mereka sadar bahwa kemampuan mereka masih kurang,” kata Sersan Dirga pelan.
Ki Narpada yang mendengarkan percakapan mereka mengerutkan keningnya. Ia akhirnya paham maksud Sersan Dirga memaksa Panji bertarung dengan Gilang.
“Haha, lihat! Anak itu langsung terdesak oleh serangan Gilang.”
“Hahaha, rasakan! Itulah kehebatan Ketua Grup 7 yang tak terkalahkan.”
“Idiot! Lihat baik – baik! Tak satu pun serangan Gilang yang mengenai sasaran. Apa mata kalian buta!” kata Prakosa keras. Ia tak terima Panji dikatakan seperti itu.
Kata – katanya menghentikan seruan gembira para calon Sentinel. Mereka melotot marah pada Prakosa. Tapi saat mereka memperhatikan pertarungan dengan lebih seksama, mereka tertegun. Pakaian Panji masih bersih, hujan serangan Gilang itu tidak ada satupun yang mengenai sasarannya!
“Pengecut! Apa ini keahlianmu? Kau hanya pintar menghindar,” kata Gilang di sela – sela serangannya.
“Apakah begitu penilaianmu?” kata Panji sambil tersenyum. Ia tiba – tiba merubah gerakannya. Kedua telapak tangannya yang selama ini hanya terbuka mulai mengepal.
Tak ! Buagh!
Uhuk!
Gilang melangkah mundur dengan terbungkuk – bungkuk. Kedua tangannya memegangi perutnya yang terasa
mulas. Rupanya saat ia memukul tadi, sebelah tangan Panji menangkis serangannya sementara tangan lainnya langsung memukul perutnya yang terbuka.
“Apa ini keahlianmu? Kau hanya pintar menyerang,” ejek Panji disambut tawa teman – temannya. Ejekan Panji mengobati rasa gatal di telinga mereka setelah mendengar obrolan para calon Sentinel.
“Bertahan itu juga penting, apa gunanya menyerang terus kalau sekali serang kau langsung jatuh,” kata Panji sambil menggerakkan telunjuknya seperti kakek sedang mengajari cucunya.
“Kau.....Kau.....” Gilang tidak tahu harus berkata apa. Mukanya memerah menahan marah.
Semua calon Sentinel terdiam. Mereka tidak mengira ketua mereka bisa selemah ini. Panji hanya menyerang sekali, tapi Gilang langsung membungkuk kesakitan.
“Kalau kau ingin tahu kemampuan menyerangku, majulah!” desis Panji tajam.
Gilang tidak menjawab. Ia perlahan menegakkan tubuhnya. Kedua tangannya mengepal dan tiba – tiba ia meloncat menyerang Panji.
Duagh!
Duagh!
Suara benturan terdengar keras saat Panji menangkis dan langsung membalas serangan Gilang. Ia tidak lagi
berusaha menghindar. Ia melawan langsung serangan keras Gilang. Keras lawan keras. Serangan balas serangan.
Keduanya bergerak cepat. Mereka menyerang dan menangkis serangan dengan sama cepatnya. Tetapi setelah beberapa saat, setiap orang yang menonton mulai melihat perbedaannya.
Saat menangkis serangan, Panji tetap bisa berdiri tegak. Kedua kakinya kokoh seperti bersatu dengan bumi. Tetapi saat Gilang menangkis serangan Panji, tubuhnya akan bergetar dan mundur selangkah.
Perbedaan tipis itu tidak terlihat jelas saat pertempuran baru dimulai. Tapi setelah beberapa saat kemudian, mereka melihat Gilang mulai terdesak mundur.
“Tampaknya keinginan Sersan akan terpenuhi. Anak itu mulai bisa mendesak Gilang,” gumam Kopral Parta.
“Huh, Panji masih terlalu sungkan. Kalau ia seperti ini dari awal, Gilang sudah kalah sekarang,” omel sersan Dirga dengan muka muram.
“Menyerahlah atau kau luka parah!” desis Panji di sela – sela serangannya.
“Kau.......” Gilang murka mendengar perkataan Panji. Beberapa kali Panji menirukan kata – katanya, tapi sekarang kondisiya terbalik. Ialah yang harus menjawab pertanyaan itu.
Panji merubah gerakannya setelah Gilang tidak menjawab perkataannya. Ia menyerang lebih cepat dan lebih kuat. Setiap benturan yang terjadi akan membuat Gilang mundur 2 – 3 langkah ke belakang.
Duagh!
Gilang terhuyung - huyung saat pukulan Panji menghantam telak dadanya. Ia terbelalak saat Panji menyusulinya dengan tendangan terbangnya.
Buagh!
Ugh!
“Kau kalah,” kata Panji saat melihat Gilang tergeletak tak berdaya.
“Tidak! Aku belum kalah. Aku adalah Gilang yang tak terkalahkan. Aku tidak mungkin kalah oleh anak desa sepertimu!” teriak Gilang keras.
Plak!
Sebuah tamparan memalingkan muka Gilang. Ia terdiam kaget. Ia murka dan akan memaki tapi langsung menundukkan muka saat tahu yang menamparnya adalah Sersan Dirga.
“Kau kalah! Hanya anak idiot saja yang mengakui kalau kau belum kalah!” katanya dengan muka marah.
“Sentinel sangat menjunjung tinggi kegagahan. Saat kalah, ia akan mengaku kalah. Jangan membuat malu nama Sentinel dengan tingkah lakumu yang kekanakan.”
“Baik Sersan, aku mengaku kalah kali ini. Tapi aku akan menantangnya menggunakan senjata,” kata Gilang keras kepala.
“Aku menolak!” sahut Sersan Dirga cepat.
“Kenapa? Apakah Sersan takut aku akan membunuhnya?” tanya Gilang dengan muka mengejek.
__ADS_1
“Kau? Membunuhnya? Idiot! Terbalik, kaulah yang akan terbunuh dengan cepat!”