Maaf .......

Maaf .......
Episode 20. Pertempuran di Bawah Bukit


__ADS_3

Panji mengusap keringat yang membasahi wajahnya sambil mendesah lega. Semula ia sangat khawatir banyak


anggotanya yang tidak akan selamat setelah melihat begitu banyaknya  ajag ekor merah yang menyerang mereka. Tapi sepertinya kekhawatirannya tidak terbukti. Ia sempat memeriksa sekilas dan merasa yakin tidak ada anggotanya yang tewas.


Panji mengumpulkan seluruh ketua tim untuk mengetahui kondisi sesungguhnya. Sesuai dugaannya, tidak ada satupun anggota yang tewas. Tapi ada 10 orang luka parah, 25 orang luka sedang dan sisanya luka ringan.


Panji merogoh tas pinggangnya dan mengeluarkan dua buah botol kaca yang berisi pil. Ia membuka salah satu botol dan mengeluarkan beberapa pil yang ada di dalamnya. Setelah menghitung 35 pil, ia membagikannya kepada ketua tim yang anggotanya luka parah dan luka sedang.


“Ini multitonik pil. Bagikan pada anggota kalian yang lukanya parah dan luka sedang,” katanya pelan.


“Terima kasih, Panji.”


Gilang, Singgih dan ketua lain  yang berasal dari pengawal dan calon Sentinel tertegun saat menerima pil dari tangan Panji. Pil multitonik sangat langka di pasaran tapi Panji dengan entengnya membagikan pil ini seperti


membagikan permen. Mereka menggenggam pil itu erat – erat sambil mengucapkan terima kasih kepada Panji. Segala perasaan yang mengganjal di hati mereka menghilang seketika.


Panji membuka botol kaca yang satu lagi dan mengeluarkan 50 butir pil. Ia membagikannya pada semua ketua tim dan hanya menyisakan 5 butir untuk timnya sendiri.


“Ini pil vitalitas. Kalian bagikan pada semua anggota kalian. Kita akan istirahat sebentar sebelum pergi dari sini. Tempat ini berbahaya. Kita akan kesulitan menghadapi ajag ekor merah saat malam hari.”


“Siap!”


Seluruh ketua tim menganggukkan kepala dengan hormat. Pertempuran kali ini telah membuktikan kualitas kepemimpinan Panji. Pil – pil yang dibagikannya juga membuktikan kepeduliannya terhadap nasib anak buahnya. Mereka dengan senang hati akan mengikuti tipe pemimpin seperti ini. Mereka beranjak pergi menuju ke timnya


dengan muka cerah.


“Ki Mada, apakah kau tahu darimana Panji mendapatkan pil – pil berharga itu?” tanya Sersan Dirga takjub.


“Maaf Sersan, aku sendiri juga baru tahu Panji memiliki pil – pil semacam itu,” jawab Ki Mada pelan. Ia juga tidak menyangka anak muda itu memiliki barang langka yang sangat sulit di dapat di pasaran itu.


Beberapa saat kemudian seluruh pasukan berkumpul di seliling Panji. Mereka merasa tubuh mereka segar


kembali. Seluruh luka sudah menutup dan pendarahan sudah berhenti mengalir. Mereka siap untuk melanjutkan perjalanan kembali.


“Matahari sudah condong ke barat dan kita masih berada di tengah padang rumput ini. Tidak ada tempat berlindung di tempat ini. Ajag ekor merah jauh lebih agresif dan berbahaya saat malam hari. Untuk itu, kita harus cepat meninggalkan tempat ini.”


“Ada sebuah gua di seberang padang rumput ini. Kita akan bermalam di sana. Tapi sebelum itu, kalian cari dan ambil anak panah yang kalian gunakan tadi. Kita akan membutuhkannya untuk pertempuran berikutnya. Sekarang kembali ke tim kalian masing – masing,” kata Panji.


“Siap!”


Seluruh anggota pasukan segera berpencar dan mencari anak – anak panah mereka. Mereka mencabutnya dari


tubuh ajag ekor merah dan mencarinya di sela – sela rerumputan.


Beberapa saat kemudian mereka bisa mengumpulkan sebagian besar anak panah dan berangkat menuju ke gua


tempat Tim Singa Gunung dulu tinggal.


Mereka bermalam di tempat itu. Setelah menentukan pergantian tim yang bertugas jaga, yang lain segera beristirahat untuk mengisi kembali energi dan mental untuk pertempuran berikutnya.


Keesokan harinya, seluruh pasukan kecil itu telah bangun saat matahari terbit. Mereka makan pagi bersama menggunakan bekal yang mereka bawa dari Desa Ringin Kembar.


“Maaf, Ki Mada, dimana kira – kira lokasi bukit tempat sarang ajag ekor merah itu?” tanya Panji pada Ki Mada.


“Tidak terlalu jauh dari sini. Setelah kita menyeberangi padang rumput menuju matahari terbit, kita akan sampai di sebuah bukit kecil. Di puncak bukit itulah sarang mereka. Berhati- hatilah saat di bukit itu. Ada beberapa ekor ajag mata merah di sana.”


“Baik, Ki Mada. Berapa lama kita bisa sampai di tempat itu?”


“Kalau perkiraanku tidak salah, kalau kita berangkat sekarang, kita akan sampai di tempat itu saat matahari sepenggalah lebih sedikit. Itu kalau kita   lancar dan tidak ada serangan ajag lagi.”


“Terima kasih, Ki Mada.”


“OK, kawan – kawan! Sekarang periksa barang – barang kalian dan kita berangkat sekarang juga!” seru Panji keras.


“Siap!”


Semua anggota berteriak keras. Mereka memeriksa perlengkapan mereka dan beranjak keluar gua sesuai tim


mereka masing – masing.


Sekali lagi mereka memasuki padang rumput. Mereka berjalan cepat menuju ke arah timur dengan matahari terbit sebagai patokannya. Sepanjang perjalanan, mereka kadang – kadang menjumpai beberapa ajag ekor merah berlari di kejauhan, tapi tak ada yang berani mendekati mereka.


Beberapa saat kemudian sampailah mereka di ujung timur padang rumput. Di depan mereka adalah sebuah dinding batu yang tinggi yang membujur dari utara ke selatan. Ada sebuah jalan yang membelah dinding itu menjadi dua bagian.

__ADS_1


“Ki Mada, apakah jalan ini yang menuju ke atas bukit?” tanya Panji sambil mengamati medan sekitarnya.


“Betul. Ikuti jalan ini dan kita akan sampai di atas bukit,” jawab Ki Mada.


Panji sekali lagi mengamati keadaan sekitarnya. Di belakang mereka adalah padang rumput yang luas sedangkan di depan mereka ada dinding batu yang tinggi. Satu – satunya cara untuk sampai ke puncak bukit adalah melewati jalan di depan mereka.


Panji mengerutkan keningnya. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres di sekitarnya. Rasanya ada sesuatu yang kurang di sekitarnya.


“Panji, ada apa?” tanya Mahesa yang melihat Panji termangu.


“Aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres di tempat ini, tapi aku tidak tahu dimana tidak beresnya,” gumamnya pelan.


Ia merenung sejenak dan tiba – tiba ia tersentak kaget.


“Benar. Sunyi. Keadaan di sekitar sini terlalu sunyi!” kata Panji keras.


“Panji, apa maksudmu?” tanya Tunggul heran.


Panji tak menjawab pertanyaan tunjung. Ia mengedarkan pandangannya sekali lagi dan tiba – tiba matanya menyipit. Ia melihat ada beberapa ajag berlari di kejauhan.


“Sial. Kita terkepung! Mahesa, timmu dan timku menghadap ke jalan itu. Yang lain menghadapi serangan dari arah padang rumput. Formasi setengah lingkaran. Cepatlah!” teriak Panji keras. Hatinya berdegup kencang karena merasa hal buruk akan menimpa pasukannya.


Mahesa, Singgih, Gilang dan Tunjung masih kebingungan melihat Panji yang tiba – tiba berteriak panik. Tiba – tiba mereka mendengar lolongan suara ajag yang keras dan panjang dari atas bukit. Lolongan itu disambut lolongan ajag lain dari arah padang rumput.


“Bentuk formasi!” teriak para ketua tim hampir serempak. Mereka langsung paham bahwa mereka telah ditunggu kedatangannya oleh kawanan ajag ekor merah.


“Maaf Ki Mada. Kuharap Ki Mada, Sersan Dirga dan Kopral Parta mau membantu kami kali ini,” kata Panji pelan.


“Baik. Tampaknya kita memang telah terkepung. Mereka menggunakan siasat pengepungan seperti saat mereka berburu mangsa,” kata Ki Mada sambil mencabut pedangnya. Sersan Dirga dan Kopral Parta menganggukkan kepala setuju.


Dada Panji berdegup kencang saat ia menengok ke belakang. Dilihatnya banyak sekali ajag ekor merah berlarian menuju kearah mereka. Ajag – ajag itu terus bermunculan dari hutan – hutan di sekitar padang rumput.


“Sial. Sebenarnya berapa banyak jumlah ajag ekor merah ini? Jumlah mereka sekarang lebih banyak dibandingkan kemarin,” desisnya pelan. “Mereka rupanya sengaja berpencar untuk mengepung kami.”


Ia memperhatikan teman – temannya sudah siap dengan busur dan anak panah di tangan. Ia juga melihat Ki Mada, Sersan Dirga dan Kopral Parta diantara mereka.


“Panji, apakah kita tidak akan membantu mereka? Tampaknya jumlah ajag kali ini lebih banyak dibandingkan kemarin,” kata Mahesa pelan.


“Tidak. Mereka akan bisa bertahan tanpa bantuan kita. Lagipula ada Ki Mada, Sersan Dirga dan Kopral Parta. Kita fokus menghadapi musuh dari arah sini,” jawab Panji. Sekali lagi ia menengok dan melihat teman – temannya sudah mulai menghujani kawanan ajag ekor merah itu dengan anak panah.


Mahesa ragu – ragu sejenak. Tapi akhirnya ia juga mempersiapkan panahnya.


“Hati –hati! Ada yang mendekat!” teriak Paksi mengejutkan Panji dan Mahesa.


Mereka melihat ada segerombolan ajag ekor merah mendekat dengan cepat. Beberapa ajag yang berlari paling depan memiliki tubuh yang lebih besar dan bergerak lebih cepat dibandingkan ajag – ajag lainnya.


“Hati –hati! Ada ajag mata merah diantara mereka!” Panji segera menarik busurnya kuat- kuat dan berteriak,” “Tembaaa...ak!”


Sepuluh anak panah melesat cepat. Lima ekor ajag yang berlari paling depan jatuh terjungkal dengan tubuh tertancap anak panah.


Panji segera mengambil anak panah berikutnya dan menembaknya dengan cepat. Anak panah meluncur berturut – turut dari busurnya.


Mahesa dan yang lainnya pun tak mau kalah. Mereka memanah dengan secepat yang mereka bisa. Walaupun


masih kalah cepat dari Panji, mereka masih bisa menjatuhkan beberapa ajag yang mendekat.


Akhirnya hanya ada sedikit ajag yang berhasil lolos dari terjangan anak panah, tapi semuanya terbantai habis oleh tebasan pedang Panji dan yang lainnya.


Belum sempat mereka menarik nafas lega, Paksi tiba – tiba berteriak lagi,” Awas, mereka menyerang lagi!”


Mereka melihat sekawanan ajag ekor merah dengan jumlah hampir sama berlari cepat menuju ke arah mereka.


“Sialan. Kenapa mereka tidak ada habis – habisnya?” teriak Wiranata kesal.


Mereka menyarungkan pedangnya dan menarik anak panah dari kantungnya. Sekali lagi mereka membidikkan anak panahnya.


Disisi lain, Tunjung, Singgih, Gilang dan yang lainnya terus membidikkan anak panah ke arah kawanan ajag yang mendekat.


“Terus tembak! Kurangi jumlah mereka sebanyak mungkin!” teriak Tunjung keras.


Hati Tunjung berdesir saat melihat kawanan ajag ekor merah itu terus mendekat meskipun banyak diantara mereka sudah roboh terkena anak panah. Ingatan saat timnya dikepung ajag mata merah tiba – tiba muncul  menghantuinya. Ia ragu – ragu sejenak tapi teriakan Panji dibelakangnya menyadarkannya.


“Tim Singa Gunung! Kobarkan semangat kalian. Kita jangan sampai kalah dengan Tim Rajawali Perak. Kita buktikan bahwa murid dalam lebih baik dari murid luar!” teriaknya keras.

__ADS_1


“Tembak mereka!”


“Hajar!”


Anggota Tim Singa Gunung lainnya berteriak keras menyambut teriakan Tunjung. Mereka menggertakkan gigi mereka dan  memanah secepat yang mereka bisa.


Gilang yang mendengar teriakan Tunjung mengatupkan giginya. Matanya memerah. Ia teringat pengalamannya


saat di kalahkan telak oleh Panji.


“Grup 7 calon Sentinel! Dengarkan perintah! Hajar ajag ekor merah dihadapan kalian. Buktikan bahwa kalian adalah calon Sentinel terbaik Benteng Manyaran!” teriaknya sambil melepaskan anak panahnya.


“Siap!”


“Laksanakan!”


Semua calon Sentinel berteriak keras menyambut seruan Gilang. Mereka berdiri tegak dan membidikkan anak panah mereka ke arah ajag yang semakin dekat.


Singgih yang mendengar teriakan Tunjung dan Gilang pun tak mau kalah. Ia pun berteriak membangkitkan


semangat rekan – rekannya.


“Kawan – kawan! Kita adalah pengawal terbaik Desa Ringin Kembar. Buktikan bahwa kita  tidak memalukan desa kita. Buktikan bahwa kita tidak kalah dengan mereka semua. Hajar ajag ekor merah di hadapan kalian!”


“Hajar!”


Seluruh pengawal terpilih Desa Ringin Kembar berteriak keras dan menembakkan anak panah mereka lebih cepat.


“Hahaha, rupanya mereka terpacu juga oleh kemampuan Panji,” kata Sersan Dirga sambil tertawa kecil.


“Tunjung, mereka semakin dekat!” teriak seorang teman Tunjung.


“Ubah formasi! Kita ke formasi segi 5. Ganti senjata kalian!” teriak Tunjung keras.


“Ganti senjata. Ubah ke formasi segilima,” teriak Singgih dan Gilang hampir bersamaan.


Cring! Cring! Cring!


“Heyaaa...”


“Haaaa...at!


Suara gemerincing pedang yang keluar dari sarungnya dan teriakan pemiliknya saat menebaskan pedangnya ke ajag ekor merah yang mendekat terdengar saling bersautan. Puluhan kilatan pedang berkelebat cepat disusul jeritan kematian ajag ekor merah terdengar susul menyusul.


“Heyaaa....”


“Kaing!”


“Nguik!”


Ajag ekor merah terus menerus menerjang tidak mempedulikan rekan – rekan mereka yang jatuh dengan tubuh bersimbah darah. Mereka sekarang berbeda dengan yang kemarin. Mereka sekarang mempertahankan rumah mereka.


Sementara itu, Wiranata berteriak keras meluapkan rasa marahnya. Ia merasa ia dan teman – temannya telah membunuh ratusan ekor ajag ekor merah, bahkan mungkin sudah melebihi 1.000 ekor, tapi sepertinya ajag ekor merah itu terus menerus datang menyerang. Ia melirik ke arah teman – temannya. Mereka semuanya mengatupkan gigi mereka dan memegang busur mereka erat – erat. Akhirnya, ia pun menggertakkan giginya dan menarik anak panahnya dari kantungnya.


Pertempuran itu berlangsung cukup lama. Beberapa saat kemudian, ajag terakhir yang menyerang pun jatuh tertebas pedang. Panji mengedarkan pandangannya. Hatinya berdesir saat melihat tubuh beberapa orang terbaring di rerumputan.


“Seluruh ketua tim, laporan kemari!” teriaknya cepat.


Beberapa saat kemudian Panji mendapatkan gambaran tentang kondisi pasukannya.


Empat orang pengawal terpilih Desa Ringin Kembar terbunuh, sementara lainnya luka parah. Hanya Singgih yang masih sanggup berdiri.


 Grup 7 calon Sentinel 3 orang terbunuh, 14 luka parah dan lainnya luka ringan.


Tim Singa Gunung 5 orang luka parah, sementara yang lainnya luka ringan.


Untuk Tim Rajawali Perak sendiri Laksana, Baskara dan Wiranata luka parah, sementara yang lainnya luka ringan.


Panji mengeluarkan pil multitonik dan pil vitalitas dari tas pinggangnya. Ia membagikan pada semua yang terluka.


“Kita istirahat sebentar. Pulihkan tenaga kalian. Kita berangkat lagi setelah kalian semua siap,” katanya pelan.


“Siap!”

__ADS_1


Panji termenung saat seluruh ketua tim kembali dan membagikan pil – pil kepada anggotanya. Ia memandang jasad teman – temannya yang terbujur kaku di rerumputan. Ia menghela nafas sedih dan memejamkan matanya.


__ADS_2