Maaf .......

Maaf .......
Episode 17. Pemimpin


__ADS_3

 Pengawal itu mengangguk dan keluar ruangan. Tak lama kemudian ia datang bersama dengan Singgih.


“Ki Narpada memanggilku?” katanya dengan nada tak yakin.


“Duduklah,” kata Ki Narpada sambil menunjuk kursi kosong di dekatnya.


Singgih mendekat dan duduk di kursi yang di tunjuk Ki Narpada.


“Singgih, sebagai seorang yang menjabat sebagai kepala pengawal cukup lama, kau tentu tahu apa tujuan utama pasukan pengawal Desa Ringin Kembar. Kejadian 10 tahun lalu masih membekas di benak para tetua desa, terutama Ki Mada. Sekarang ada kesempatan besar untuk membalas kekalahan 10 tahun itu. Jika kita bisa membasmi kawanan ajag ekor merah itu, desa kita bisa hidup tenang tanpa perlu khawatir akan serangan mereka lagi.”


“Maksud Ki Narpada?” tanya Singgih dengan alis berkerut.


“Kita telah sepakat untuk bekerjasama dengan Perguruan Langit Biru lewat anak – anak muda ini. Mereka mau membantu kita untuk sekali lagi menghadapi kawanan ajag ekor merah di Hutan Halimun. Jadi kuminta kau bersama teman – temanmu untuk bergabung dengan mereka,” kata Ki Narpada.


“Baik Ki Narpada. Saya kira teman – teman akan senang. Mereka akhirnya bisa menunjukkan hasil latihan


mereka selama ini. Bagaimana pun juga sebagian besar pengawal masih punya hubungan saudara dengan pengawal yang gugur 10 tahun lalu. Tapi kalau boleh tahu, siapakah yang akan memimpin kami nanti?” tanya Singgih sopan.


“Tadi kami telah sepakat untuk menunjuk Panji sebagai pimpinannya,” kata Ki Narpada pelan.


“Panji?” desis Singgih kaget sambil melihat Panji dengan muka bingung. “Maaf Ki Narpada, kenapa bukan Tunggul atau Mahesa?”


Perkataan Singgih membuat Ki Narpada terdiam. Sejujurnya, ia pun sempat ragu saat Mahesa menunjuk Panji sebagai pemimpin pasukan. Ia lebih condong untuk memilih Mahesa yang telah terbukti berhasil membawa timnya keluar dari Hutan Halimun dengan selamat.


Tunggul menutup matanya setelah mendengar perkataan Singgih. Ia pun sempat ragu, tetapi setelah ingat


perkataan Mahesa setelah pertempuran terakhir di tengah sawah tadi, keraguannyapun menghilang.


Prakosa, Paksi dan Wiranata yang pernah dikalahkan Panji memandang Singgih dengan mata menyala. Mereka marah karena Singgih telah meremehkan Panji terang – terangan.


“Singgih, apa maksudmu? Apakah kau meragukan pilihan kepala desamu sendiri?” kata Mahesa denngan nada tak senang.


“Kalau  memang kalian bisa mengatasi masalah ini sendirian, kenapa harus melibatkan kami? Urusan kami telah selesai saat kami bisa membawa Tunggul dan teman – temannya keluar dari Hutan Halimun.  Ingat, kepala desamu sendiri yang meminta bantuan kami, bukan kami yang mengajukan diri,” desisnya tajam.


Singgih terkejut mendengar perkataan Mahesa. Ia tak menyangka perkataannya yang spontan tadi menyinggung Mahesa dan timnya. Ia menunduk saat melihat Ki Narpada memandang tajam padanya. Keringat dingin mulai keluar dari punggungnya.


“Wajar kalau Singgih dan para tetua desa meragukan kemampuanku. Bagaimana pun juga aku hanyalah anggota biasa di Tim Rajawali Perak,” kata Panji memecah kebekuan suasana.


Tim Rajawali Perak tertegun mendengar perkataan Panji. Mereka spontan menengok. Saat melihat Panji


tersenyum simpul, mereka akhirnya paham maksud Panji. Prakosa, Paksi dan Wiranata pun mulai tersenyum lebar. Sasti dan Gayatri bahkan tertawa kecil sambil menutup mulut dengan tangannya. 'Akan ada pertunjukan bagus nih’ pikir mereka senang.


“Ki Narpada, bagaimana kalau kita uji saja?” kata Mahesa cepat saat melihat senyum di wajah teman – temannya.


“Maksudmu?” tanya Ki Narpada heran.


“Kurasa Singgih dan teman – temannya tidak akan mau menuruti perintah Panji kalau mereka tidak yakin akan kemampuannya. Jadi, ya, kita uji saja. Biarkan Panji berhadapan dengan pengawal yang meragukan  kemampuannya,” kata Prakosa dengan bibir tersenyum senang.


Singgih mengerutkan keningnya saat melihat Tim Rajawali Perak tersenyum mendengar perkataan Prakosa. Hatinya mulai tidak nyaman, tapi bagaimanapun juga ia tidak bisa mundur.


“Ki Narpada, kurasa itu usul yang bagus,” katanya pelan.


“Baiklah,” kata Ki Narpada setelah ia terdiam beberapa saat. “Kapan pelaksanaannya?” desahnya pelan.


“Sekarang saja. Lebih cepat lebih baik,” kata Panji cepat.


Ki Narpada menghela nafas panjang. Ia melihat Panji telah tersinggung. Sikapnya yang ragu – ragu dan perkataan Singgih telah menyinggung perasaan Panji. Jika ia menolak atau mengulur waktu, itu akan berdampak tidak baik bagi semuanya.


“Baiklah. Tapi ini hanya latihan. Jangan terlalu keras,” katanya pelan.


Mereka berjalan keluar ruangan dan menuju ke halaman. Panji melangkah ke tengah halaman sementara Singgih mendekati salah seorang pengawal yang bertubuh besar.


“Siapa yang maju pertama,”kata Panji tenang.


"Aku. Akulah yang akan melawanmu,” kata pengawal bertubuh besar itu sambil melangkah ke tengah halaman.


“Majulah. Kerahkan seluruh kemampuanmu!”


Tangan kanan Panji bergerak. Telunjuknya bergerak memberi isyarat agar pengawal bertubuh besar itu bergerak menyerangnya.


Pengawal bertubuh besar itu mengerutkan keningnya. Ia semula ragu harus melawan anak muda bertubuh kurus ini. Tapi saat ia melihat isyarat lawannya yang meremehkannya, ia memutuskan untuk melawannya sekuatnya.


"Heh. Kau akan merasakan akibatnya karena berani meremehkanku," desisnya sambil melangkah maju.


“Heyaaaa.....!”


Tap!


Pengawal bertubuh besar itu terkejut saat pukulannya dengan mudah ditahan oleh sebelah tangan Panji.


“Bukankah sudah kubilang tadi. Kerahkan seluruh kemampuanmu, atau kemampuanmu memang hanya segini?”


desis Panji sambil tersenyum.


“Kurang ajar! Rasakan ini!”

__ADS_1


Pengawal bertubuh besar itu berteriak murka. Ia menyerang dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Pukulan dan tendangannya bertubi – tubi menyerang Panji dari berbagai arah, tapi semuanya bisa ditangkis dan dihindari Panji dengan mudah.


Para pengawal berdiri terpaku saat menyaksikan Panji yang bisa menangkis dan menghindari semua serangan


pengawal bertubuh besar itu tanpa menggeser kakinya! Panji hanya menggerakkan tubuh atasnya untuk menghindar dan menggerakkan kedua tangannya untuk menangkis saat serangannya tidak bisa dihindari.


Beberapa saat kemudian pengawal bertubuh besar itupun menghentikan serangannya dengan nafas tersengal – sengal.


“Jangan cuma menghindar! Kalau kau jantan, balas seranganku!” teriak pengawal bertubuh besar itu.


“Baik. Jaga seranganku ini!” kata Panji sambil memukul pengawal bertubuh besar itu.


Duagh!


Buagh!


Pengawal bertubuh besar itu menangkis semua serangan pukulan dan tendangan Panji. Hanya saja tubuhnya


tergetar ke belakang selangkah dan mulutnya meringis kesakitan setiap kali terjadi benturan.


Paksi yang melihat ekspresi pegawal itu pun hanya bisa tersenyum kecut. Ingatannya melayang saat tangan dan kakinya memerah karena menangkis serangan Panji.


“Stop! Stop! Aku menyerah!” teriak pengawal bertubuh besar itu. Ia melompat ke belakang dan mengibaskan kedua tangannya yang bengkak kemerahan. Dengan susah payah, ia memaksakan diri melangkah ke pinggir halaman. Rasa sakit di kedua tangan dan kakinya hampir membuatnya menangis.


“Sekarang siapa lagi?” tanya Panji kalem. Ia berdiri tegak dengan kedua tangan bersilang di belakang punggungnya.


Para pengawal terdiam beberapa saat. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Pengawal bertubuh


besar itu termasuk salah satu pengawal yang mempunyai kekuatan besar. Jika ia bisa dikalahkan dengan mudah, mereka pun bisa mengalami nasib yang sama.


“Lawanmu sekarang adalah aku,” kata seorang pengawal bertubuh kurus yang berdiri di samping Singgih.


“Majulah,” kata Panji dengan jari telunjuk memberi isyarat kepada pengawal bertubuh kurus itu.


“Sombong! Heyaaa.....!”


Pengawal bertubuh kurus itu melompat keatas sambil merentangkan kedua tangannya seperti burung terbang.


Setelah berjumpalitan di udara, tangan kanannya yang membentuk cakar meluncur menyerang kepala Panji.


“Gerakan bagus!” seru Panji. Tangan kanannya mengepal dan menghadang cakar itu.


Duesh!


Pengawal bertubuh kurus itu terpental karena efek pukulan. Setelah berjumpalitan di udara, ia turun dengan satu kaki dan kedua tangan terentang seperti burung terbang. Ia meloncat lagi dan mengirim tendangan terbang ke dada Panji.


Duesh!


Pengawal bertubuh kurus itu terpental dan terhuyung – huyung 5 langkah ke belakang sebelum kedua


kakinya stabil. Ia terdiam sejenak. Tangan dan kakinya gemetar akibat benturan tadi. Perbedaan kekuatannya sangat jelas.


“Menyerahlah,” desis Panji pelan.


Pengawal bertubuh kurus itu menggertakkan giginya marah. Ia berteriak keras saat dengan cepat menyerang Panji dengan tendangannya.


Hyaaaa..at!


Duesh! Duesh! Duesh!


Duagh! Duagh! Duagh!


Pukulan beradu dengan pukulan, tendangan beradu dengan tendangan. Keras melawan keras. Panji menangkis semua serangan pengawal bertubuh kurus itu dengan gerakan yang sama. Keduanya bergerak sama cepatnya. Bayangan mereka saling beterbangan memenuhi lapangan.


Beberapa saat kemudian, kedua bayangan itu meloncat ke belakang. Panji bisa mendarat dengan mantap dan


berdiri tegak. Sementara pengawal bertubuh kurus itu mendarat dengan sempoyongan. Kedua kakinya seperti tidak sanggup menahan berat tubuhnya.


“Aku....Aku kalah,” desah pengawal bertubuh kurus itu sambil memegangi dadanya. Ada sebuah tanda berupa tapak tangan tercetak cukup dalam di dadanya.


Ki Narpada dan Ki Mada saling berpandangan dan menghela nafas panjang. Pengawal bertubuh kurus itu adalah pengawal terkuat kedua di Desa Ringin Kembar, tapi kemampuannya ternyata bisa diatasi oleh Panji dengan mudah.


“Kita telah meremehkan kemampuan anak ini,” desis Ki Narpada pelan. “Pantas Mahesa marah saat Singgih


meragukan kemampuannya.”


“Bagus, sekarang giliranku,” Singgih melangkah maju dengan pedang terhunus di tangannya.


“Singgih, apa maksudmu! Jangan keterlaluan. Kenapa kau memakai pedang?” tanya Ki Mada khawatir.


“Maaf guru, aku mengakui kemampuan tangan kosong anak ini. Tapi ajag ekor merah tidak bisa dihadapi dengan tangan kosong. Kita harus menghadapinya dengan senjata. Kami para pengawal akan mempertaruhkan hidup kami di tangan Panji, jadi kami harus yakin kemampuannya di atas kami,” kata Singgih tegas.


“Kata –kata yang bagus,” kata Panji. Ia melepaskan ikatan pedang dari ikat pinggangnya dan memegang pedang beserta sarungnya dengan sebelah tangannya.


“Majulah,” katanya tenang.

__ADS_1


“Cabut pedangmu,” desis Singgih sambil mengacungkan pedangnya.


“Sudahlah. Jangan banyak omong. Kalau kau ingin menyerang, serang saja,” desis Panji sambil tersenyum.


Singgih mengerutkan keningnya. Ia sadar tindakannya telah membuat Panji marah. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia harus yakin Panji memang pantas untuk memimpin mereka.


“Baiklah. Kau sendiri yang minta,” katanya pelan.


Ia mengatur nafasnya dan mempererat pegangan pedangnya. Matanya memandang tajam Panji sebelum mulutnya berteriak keras sambil menebaskan pedangnya.


“Heyaaa.......at”


Trang!


Trang!


Trang!


Suara keras dan percikan api terjadi berkali – kali saat pedang mereka bertemu. Singgih mengerahkan seluruh kemampuannya. Bayangan tubuhnya berkelebat cepat mengelilingi Panji. Pedang yang terayun deras menyerang dari berbagai arah.


“Kemampuan Singgih ternyata sehebat ini. Pantas ia berani meragukan kemampuan Panji,” desis Tunggul pelan.


“Ya. Ilmu pedangnya cukup hebat. Aku sendiri akan kerepotan menghadapinya,” gumam Mahesa yang berdiri di sebelahnya.


“Huh, dibandingkan dengan keroyokan tikus setan dan ajag ekor merah, gerakan Singgih ini belum apa - apa. Kemampuannya bagus tapi ia belum teruji di lapangan. Dibandingkan dengan Panji yang sering bertarung mempertaruhkan nyawa, ia bukan apa – apa,” cibir Prakosa. Paksi yang berdiri di sebelahnya mengangguk setuju.


Trang!


Trang!


Suara benturan logam dan percikan api terus terjadi. Entah berapa kali Singgih melancarkan serangannya, tetapi Panji bisa menangkis semuanya. Beberapa saat kemudian, Singgih pun berhenti.


“Kenapa berhenti? Sudah capek?” desis Panji sambil mengangkat pedangnya.


Singgih tertegun saat melihat pedang Panji. Bukan hanya dia, bahkan seluruh pengawal dan semua yang menyaksikan pertandingan itu matanya terbelalak kaget.


“Pedangnya ......pedang itu masih bersama sarungnya!” seru salah seorang pengawal dengan suara bergetar.


Semua orang melengak tak percaya saat menyadari Panji selama ini belum sekalipun mencabut pedangnya!


“Karena kau sudah capek, sekarang giliranku,” desis Panji pelan. Tangan kanannya perlahan mencabut pedang dari sarungnya.


“Huh, sombong ka...... uargh!


Singgih belum selesai bicara saat tiba – tiba ia terlempar dengan dada sesak. Rupanya saat ia sedang berbicara, Panji telah meloncat dan menebaskan pedangnya dua kali serta menendang dadanya.


Singgih jatuh terlentang dengan baju robek di bagian dadanya. Bekas telapak kaki tercetak jelas di dadanya yang terbuka. Saat ia berusaha bangkit, ujung pedang Panji telah menekan dadanya.


“Kau kalah,” desis   Panji pelan pada Singgih yang hanya bisa tertunduk lesu.


Hening. Semua orang terdiam. Serangan Panji begitu cepat. Mereka baru tersadar saat Singgih sudah jatuh terlentang dengan pedang Panji menyentuh dadanya.


Plok! plok!  plok!


“Luar biasa! Singgih, kau kalah telak,” kata Ki Mada sambil bertepuk tangan.


Singgih mengangguk lesu. Ia tidak bisa mengelak bahwa ia telah kalah telak dari Panji. Ia berdiri tegak dan menghadap Panji.


“Kami, para pengawal Desa Ringin Kembar, siap berada dibawah perintahmu,” katanya tegas. Tidak ada lagi keraguan di matanya.


“Bagus. Kita akan bersama – sama membasmi kawanan ajag ekor merah itu,” kata Panji sambil menjabat tangan Singgih dengan muka ceria. Kadang – kadang bertindak arogan itu perlu jika kondisinya mendesak.


Mereka masuk lagi untuk membahas detailnya. Akhirnya kesepakatanpun terjadi. Pengawal yang akan ikut adalah 10 pengawal terbaik desa, waktu keberangkatan 2 minggu dan selama 2 minggu itu seluruh personil latihan  memanah di siang hari dan latihan formasi di malam hari.


*****


“Tembaa..ak!” teriak Mahesa keras.


Dziing! Dziing! Dziing!


Puluhan anak panah melesat menembus lingkaran kecil di tengah papan sasaran.


Waktu berlalu. Waktu keberangkatan tinggal 2 hari lagi. Seluruh anggota telah berlatih keras dibawah bimbingan Tim Rajawali Perak. Setelah berlatih keras selama beberapa hari, Tim Singa Gunung dan para pengawal yang terlibat semuanya menunjukkan perkembangan pesat. Mereka bisa memanah dengan cukup cepat dan mengenai lingkaran kecil di papan sasaran dalam jarak 50 langkah. Merekapun sudah memahami dasar – dasar dari gerakan kelompok 5 orang.


Panji mengangguk puas menyaksikan perkembangan pesat Tim Singa Gunung dan para pengawal terpilih. Ia optimis tugas yang dipercayakan kepadanya bisa ia tuntaskan dengan baik.


Ki Narpada, Ki Mada dan para tetua yang ikut menyaksikan latihan itupun mengangguk puas.


“Latihan seperti inilah yang menjadi kekurangan kita dulu,” desis Ki Mada yang disambut anggukan kepala Ki Narpada.


Mereka menghentikan percakapan mereka saat seorang pengawal berlari mendekat.


“Maaf, Ki Narpada. Ada rombongan tamu yang ingin bertemu,” kata pengawal itu dengan nafas terengah – engah.


“Siapa mereka?”

__ADS_1


“Sentinel dari Benteng Manyaran.”


“Sentinel?”


__ADS_2