
Panji berdiri sambil memejamkan matanya. Ia berusaha mengingat semua yang terjadi barusan. Semua serangan, keputusan dan pergerakannya serta pergerakan musuhnya ia ingat semuanya. Ia bandingkan dengan kejadian
sebelum ia membawa pedang Taring Putih. Setelah membandingkan semuanya, akhirnya ia bisa merasakan kehebatan pedang Taring Putih. Pertempuran menjadi jauh lebih mudah dan cepat sejak ia membawa Taring Putih.
“Mungkin ini beda antara menggunakan pedang biasa dengan pedang yang bagus. Tidak heran orang mau
membayar sangat mahal untuk sebuah senjata yang bagus. Jika aku ingin bertambah kuat, selain memperkuat diri dengan berlatih tenaga dalam dan tenaga luar, aku juga harus mencari sebuah senjata yang cocok dan bagus kualitasnya,” desisnya pelan.
Ia perlahan membuka matanya dan tersenyum puas. Dengan Taring Putih di tangannya, ia merasa kemampuan tempurnya meningkat cukup pesat. Ia menghela nafas lega dan melangkah mendekati mayat yang terkena pisau belatinya. Ia mencabut belatinya dan, setelah membersihkan darahnya, memasukkannya ke dalam sarung kulit di pinggangnya. Ia telah merasakan sendiri manfaat belati saat harus menghadapi keroyokan banyak orang. Jadi, ia merasa sayang untuk membuang belati buatannya. Bahkan ia mencari di antara mayat – mayat musuhnya dan menemukan 3 buah belati lagi yang membuatnya mempunyai 5 buah belati sekarang.
“Panji, bagaimana kondisimu?” tanya Nyi Danapati sambil berlari mendekatinya. Rasa khawatir tampak jelas di wajahnya.
“Aku tidak apa – apa, Nyi,” kata Panji tenang.
“Syukurlah. Aku khawatir karena kau harus menghadapi 8 orang anggota Brigade Tengkorak Darah seorang diri.”
“Yang Maha Agung masih melindungiku, Nyi. Pedang ini sangat membantuku. Aku bisa menghadapi mereka karena ada efek kejut dalam pedang ini. Mungkin kalau aku menggunakan pedang biasa, aku bisa saja terluka parah, bahkan mati.”
“Rupanya kau bisa memanfaatkan efek kejut batu listrik itu dengan baik. Coba kalau kualitas batu listriknya lebih bagus, efeknya akan lebih besar lagi.”
“Mungkin begitu, Nyi. Tapi untuk sekarang, pedang inilah senjataku yang terbaik,” kata Panji sambil memegang Taring Putih erat- erat.
“Oh, ya. Maaf, Nyi. Mungkin kita sudah dekat dengan tujuan kita. Mungkin tempat Ki Danapati di tawan tidak jauh dari tempat ini,” desis Panji pelan.
“Ya, Panji. Aku juga menduga begitu.”
“Kalau begitu kita harus lebih berhati –hati, Nyi. Kita sudah 2 kali ketahuan. Akan merepotkan kalau kita bertemu musuh lagi sebelum kita bisa membebaskan Ki Danapati.”
“Ya, Panji. Kita memang harus lebih berhati – hati mulai sekarang.”
Mereka melanjutkan langkah dengan hati – hati. Setelah berjalan beberapa lama, mereka melihat beberapa orang sedang berjongkok mengerumuni mayat seseorang. Nyi Danapati yang melihat mayat itu hampir menjerit sedih. Ia menutupi mulutnya sementara air mata mengalir deras dari kedua matanya.
“Ada apa, Nyi? Apakah kau mengenali mayat itu?” bisik Panji heran.
“Ia... ia adalah salah seorang pengawalku. Mereka ternyata telah membunuhnya, aku kuatir suami dan pengawal yang lain juga telah mereka bunuh,” desis Nyi Danapati pelan.
Panji termenung mendengar perkataan Nyi Danapati. Ia menyipitkan matanya dan mengamati orang – orang yang sedang berjongkok itu.
“Ada 7 orang,” desisnya pelan.
“Baiklah Nyi. Sebaiknya kau tunggu disini. Aku akan bertanya kondisi Ki Danapati pada mereka,” desis Panji sambil melangkah menerobos semak – semak di pinggir jalan.
“Tunggu, Panji! Apa yang akan kau lakukan!” bisik Nyi Danapati panik.
Panji diam tak menjawab. Ia terus melangkah dengan wajah memerah karena marah. Brigade Tengkorak Darah telah dengan seenaknya membunuh orang, akan ia buktikan bahwa bukan hanya mereka yang bisa berbuat begitu. Ia pun bisa seenaknya membunuh mereka.
Perlahan tapi pasti, ia mengendap – endap di sela – sela pepohonan mendekati mereka. Setelah cukup dekat, tangannya meraih busurnya dan mempersiapkan anak panahnya. Ia menarik busurnya dan membidik orang terdekat.
Dziing! “Argh!”
Dziing! “Argh!”
“Siapa itu?”
“Sialan!”
“Awas panah!”
Dziing! “Argh!”
Gerombolan itu terkejut saat mereka melihat 2 orang diantara mereka menjerit kesakitan dan jatuh dengan kepala tertembus panah. Mereka segera berteriak memperingatkan yang lain sambil meloncat berdiri dengan senjata di tangan. Tapi sebelum mereka sempat sadar sepenuhnya, salah seorang diantara mereka berteriak kesakitan sambil memegangi dadanya. Sebuah anak panah menyembul diantara jari – jari tangannya.
“Kurang ajar! Beraninya kau menyerang kami!” teriak salah seorang diantara mereka sambil memandang Panji bengis.
Panji yang berdiri di samping semak belukar pun berjalan pelan mendekati mereka. Kedua tangannya memegang erat busur dengan anak panah siap tembak. Matanya memandang tajam ketiga orang anggota Brigade Tengkorak Darah itu.
“Katakan padaku, dimana kalian tawan Ki Danapati?” desisnya tajam.
“Ki Danapati? Heh, hahahaha...,” orang yang tadi berteriak itu tertawa keras mendengar pertanyaan Panji. Kedua
orang temannya pun tersenyum menyeringai.
“Kau? Kau sendirian akan membebaskan Ki Danapati? Jangan mimpi, bocah!” teriak orang itu lagi dengan muka buas.
Dziing!
“Argh!”
Orang itu baru saja selesai berteriak saat sebuah anak panah melesat cepat menembus dadanya. Orang itu hanya mendelik tak percaya. Ia tak mengira Panji akan langsung menembaknya saat ia berbicara.
“Jawaban yang salah. Sekarang aku tanya lagi, dimana kalian tawan Ki Danapati?” tanya Panji yang dengan cepat langsung mengisi kembali busurnya dengan anak panahnya. Sekali lagi ia menarik busurnya kuat – kuat dan membidiknya pada orang yang memegang sepasang belati.
__ADS_1
“Heh, dasar bocah ingusan. Kau kira bisa menakutiku dengan panah itu? Kau terlalu meremehkan Brigade Tengkorak Darah,” geram orang yang memakai sepasang belati itu sambil berjalan mendekati Panji.
“Mari kita lihat siapa yang lebih cepat. Apakah sepasang belatiku yang menebas lehermu atau anak panahmu yang menembus tubuhku,” desisnya buas. Ia memegang sepasang belatinya erat – erat di depan tubuhnya sambil melangkah pelan mendekati Panji.
Panji menyipitkan matanya mendengar tantangan orang itu. Ia sadar orang itu sudah terbiasa berlatih menghadapi serangan panah. Mungkin anak panahnya akan gagal kali ini. Dengan cepat, ia memikirkan berbagai kemungkinan. Setelah melihat sepasang belati di tangan orang itu, ia tersenyum sinis. Tanpa ragu, ia segera melepaskan anak panahnya.
Dziing!
Orang itu dengan cepat menghindari anak panahnya dengan memiringkan bagian tubuh atasnya ke samping. Anak panah Panji melesat tipis di samping kepala orang itu. Orang itu pun menyeringai buas dan memandang Panji yang sedang bersiap mengambil anak panahnya.
“Heh, mati kau!”
Hyaaa..!
Orang itu melesat cepat maju menyerang Panji dengan sepasang belatinya. Orang itu menyeringai buas seakan yakin serangannya akan menghabisi Panji. Tiba – tiba ia tertegun saat melihat Panji, yang sedang mengambil anak panahnya, tersenyum kecil. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, ia berusaha mengurangi kecepatannya. Instingnya mengatakan anak muda di depannya itu telah menjebaknya. Tapi semuanya terlambat. Ia sudah berada terlalu dekat dengan musuhnya saat ia melihat tangan Panji beralih ke pinggangnya dan sebuah belati kecil terlontar cepat ke arah dadanya!
Jleb!
“Uargh!”
Orang itu memegang dadanya yang tertembus belati dengan muka tak percaya. Ia memandang Panji dengan muka buas.
“Kau.... curang,” desisnya sebelum perlahan jatuh ke tanah dan diam tak bergerak. Matanya masih terbelalak seakan tak percaya bahwa ia kalah dengan seorang anak ingusan.
“Heh, siapa bilang senjataku hanya panah. Aku juga diam saja saat kau menantangku,” kata Panji pelan. Matanya segera berlatih kepada orang terakhir yang masih tertegun melihat semua temannya telah mati. Pedang di tangannya bergetar pelan saat orang itu sadar Panji sedang memandangnya.
“Sekarang tinggal kau saja. Jawab pertanyaanku atau mati. Dimana kalian tawan Ki Danapati?” tanyanya sambil meloloskan pedangnya.
“Cari saja jawabanmu di neraka,” geram orang itu sambil menerjang maju. Pedangnya bergerak cepat menebas ke arah Panji.
Trang! Trang!
Orang itu menyerang membabi buta. Ia sadar anak muda di depannya itu lebih kuat darinya. Ia tidak yakin jika ia menjawab pertanyaannya ia masih di biarkan hidup. Satu – satunya pilihannya adalah menyerang. Mungkin saja ia masih memiliki kesempatan menang.
Dzzzt..
Tang!
“Aduh!”
Dentangan logam dan percikan api terjadi berulang – ulang. Orang itu tidak sadar bahwa setiap terjadi benturan, pedang Panji akan mengalirkan listrik yang akan melemahkan tubuhnya. Setelah beberapa kali benturan, tiba – tiba pergelangan tangannya mati rasa dan pedangnya terpental jauh setelah terbentur pedang Panji. Belum habis rasa terkejutnya, ia merasakan sakit yang hebat di tangannya. Ternyata tangan kanannya sebatas lengan telah putus tertebas pedang Panji.
“Ya, ya. Aku jawab, aku jawab,” kata orang itu gugup. Keringat deras mengalir di tubuhnya saat melihat mata Panji yang dingin menatap tajam kepadanya.
“Ki Danapati dan beberapa pengawal di tawan di markas kami di tengah hutan. Kau tinggal mengikuti jalan ini beberapa saat dan kau akan menjumpai sebuah gua. Itulah markas kami.”
“Berapa orang yang menjaga gua itu?”
“20 orang.”
“20 orang, hanya 20 orang? Kau mau menipuku? Jumlah sebanyak itu tidak cukup untuk menghentikan rombongan Ki Danapati,” geram Panji.
“Aku tidak bohong,” jawab orang itu sambil menggigil ketakutan. “Selain 20 orang yang berjaga dalam gua, ada beberapa orang yang berpatroli sepanjang jalan setapak ini,”lanjutnya.
“Berapa jumlahnya?”
“Sekitar 16 – 17 orang, aku tidak tahu pasti.”
“Apakah jumlah kalian memang hanya sebesar itu?”
“Tidak. Jumlah kami ada lebih dari 100 orang. Kami adalah cabang selatan Brigade Tengkorak Darah. Setelah berhasil menawan Ki Danapati, pemimpin kami bersama sebagian besar teman kami kembali ke ibukota. Ia akan melaporkan hasil ini kepada Dursaha. Katanya Dursaha sendiri yang akan membunuh Ki Danapati beserta istrinya,” lanjutnya.
“Jadi benar Dursaha yang meminta Brigade Tengkorak Darah untuk mengentikan kami,” kata Nyi Danapati pelan. Rupanya setelah melihat Panji bisa mengalakan musuhnya, ia perlahan mendekat dan mendengarkan semua percakapan Panji dan orang itu.
“Kapan pimpinanmu dan Dursaha akan kembali kemari?” tanya Panji pelan.
“Aku tidak tahu pasti. Tapi menurut perkiraanku, paling cepat mereka akan kembali sebulan lagi.”
“Benar, Panji. Perjalanan bolak – balik dari sini ke ibukota paling tidak membutuhkan waktu sebulan,” kata Nyi Danapati.
“Aku telah menjawab semua pertanyaanmu, sekarang aku boleh pergi, kan?” kata orang itu penuh harap.
“Tidak,” jawab Panji tegas. Pedang di tangannya bergerak cepat menebas leher orang itu.
“Kau telah banyak membunuh orang. Sudah sewajarnya kau merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang kau bunuh,” katanya dingin.
“Apa yang akan kau lakukan sekarang, Panji?” tanya Nyi Danapati setelah mereka diam beberapa saat. Sebelumnya ia ingin secepatnya membebaskan suaminya. Tapi sekarang setelah tahu suaminya dijaga oleh 20 orang dan mereka hanya berdua, ia tidak yakin bisa menghadapi mereka semua.
Panji terdiam beberapa saat sebelum melangkah pelan mendekati orang yang tertancap belatinya. Ia mencabut belati itu dan menyelipkannya ke pinggangnya setelah membersihkan darah yang menempel di mata belatinya.
Ia menangadah ke atas dan melihat matahari sebentar lagi tenggelam. Setelah berpikir beberapa saat ia menoleh ke arah Nyi Danapati.
__ADS_1
“Mungkin kita masih bisa menyelamatkan Ki Danapati. Sekarang sudah sore. Kita harus mencapai gua itu sebelum malam,” kata Panji pelan.
“Maksudmu?”
“Aku akan memanfaatkan gelapnya malam untuk membebaskan Ki Danapati,” kata Panji tegas.
“Aku? Maksudmu kau sendiri yang akan masuk ke gua itu?” tanya Nyi Danapati tak percaya.
“Ya, Nyi. Kuharap Nyi Danapati tak keberatan. Dengan baju zirahku, aku bisa bersembunyi di kegelapan dengan baik. Aku bisa bergerak lebih bebas jika aku bergerak sendiri.”
“Tapi.. tapi mereka ada 20 orang, Panji,” kata Nyi Danapati pelan.
“Ya, Nyi. Kalau mereka bersama – sama, tentu aku bukan lawannya. Tapi kalau mereka berpencar, aku yakin aku masih punya kesempatan besar untuk menang. Apalagi jika aku bisa menyerang mereka saat mereka lengah,” jawab Panji yakin.
“Ugh... baiklah. Tapi berhati – hatilah,” gumam Nyi Danapati pelan.
“Ya, Nyi.”
Mereka melanjutkan langkah mengikuti jalan setapak di tengah hutan itu. Dengan hati – hati, mereka melangkah pelan sambil memperhatikan sekelilingnya. Apalagi berdasarkan keterangan orang itu, masih ada 2 orang lagi yang berpatroli. Mereka tiba – tiba menghentikan langkah mereka saat telinga mereka mendengar sebuah percakapan di balik tikungan jalan di depan mereka.
Tanpa membuang waktu, Panji dan Nyi Danapati langsung menyingkir ke balik semak belukar di pinggir jalan. Mereka melihat 2 orang bersenjata pedang berjalan pelan di dekat mereka.
“Kurang ajar! Kenapa aku harus bertugas jaga kali ini? Aku juga ingin sekali – kali bisa tidur nyanyak di gua. Tidak menjadi makanan nyamuk di luar sini,” gerutu salah satu diantara mereka sambil menepuk lehernya yang di gigit nyamuk.
“Ssst! Sudahlah jangan menggerutu terus. Kalau pemimpin tahu, kau bisa langsung dibunuhnya,” kata temannya menenangkan.
“Justru karena pemimpin tidak ada disini maka aku menggerutu sekarang,” kata orang itu lagi.
“Ya, ya. Kau benar. ......”
Mereka berjalan menjauh sampai Panji tidak bisa lagi mengikuti pembicaraan mereka.
“Nyai, aku harus membereskan mereka dulu supaya mereka tidak bisa mengacaukan rencanaku,” desis Panji pelan.
“Kenapa kau tidak membereskan mereka saat mereka mendekat tadi?” bisik Nyi Danapati heran.
“Aku kuatir markas mereka ada di dekat sini. Teriakan mereka akan membuat seisi gua waspada,” desis Panji sambil melangkah pelan mengikuti kedua orang itu.
“Hati – hatilah,” desis Nyi Danapati.
Panji melangkah pelan menyisir tepi jalan setapak itu. Ia menjaga jarak dari kedua orang di depannya. Beberapa saat kemudian sampailah mereka di tempat ia membunuh ketujuh kawan mereka.
“Hey! Bukankah itu mayat kawan – kawan kita?” seru salah seorang dari mereka saat ia melihat beberapa mayat bergelimpangan di jalan setapak.
Mereka berlarian mendekat dan menggeretak geram saat menyadari ketujuh orang itu memang teman mereka yang sedang bertugas ronda.
“Ada musuh menyerang. Kita harus melaporkan ini ke markas sekarang,” gumam salah seorang diantara mereka.
“Siapa? Siapa yang berani menyerang kami?” teriak temannya sambil meloloskan pedangnya.
“Aku. Akulah orang yang berani menyerang kalian,” kata Panji dingin.
Kedua orang itu terkejut. Mereka menengok ke belakang dan melihat ada bayangan orang sedang berdiri tegak di bawah gelapnya bayangan pepohonan hutan.
Dziing!
“Argh!”
“Celaka.”
Dziing!
“Argh!”
Belum sempat mereka bereaksi, salah seorang diantara mereka berteriak kesakitan sambil memegang dadanya. Rupanya sebuah anak panah telah melesat menembus jantungnya. Temannya yang panik berusaha berlari menjauh, tapi anak panah berikutnya datang dan menghunjam punggungnya.
Panji mendengus dingin dan berlari ke arah tempat Nyi Danapati bersembunyi. Setelah yakin jumlah perondanya telah habis, mereka berjalan cepat menyusuri jalan setapak. Beberapa saat kemudian, mereka melihat sebuah gua yang cukup besar di kejauhan.
Dua buah obor besar di tancapkan di pintu masuk gua. Mereka melihat ada 3 orang penjaga berjalan mondar – mandir di depan gua.
“Nyi Danapati, bersembunyilah di atas pohon. Kau tunggulah disini. Aku pasti akan membebaskan Ki Danapati,” kata Panji pelan.
Nyi Danapati mengangguk pelan. Ia melihat Panji merayap ke depan sebelum perlahan memanjat pohon besar di dekatnya.
Setelah cukup dekat dengan mulut gua, Panji memakai baju zirahnya. Ia memakai penutup kepalanya sehingga hanya kedua matanya yang terlihat. Ia bersembunyi di balik bayangan pohon dan membidikkan anak panah ke arah para penjaga itu.
“Matilah kalian,” desisnya.
Dziing!
“Urgh!”
__ADS_1