Maaf .......

Maaf .......
Episode 14. Ajag Ekor Merah


__ADS_3

Tim Rajawali Perak melangkah mendekati mayat itu. Sasti, Jayanti dan Gayatri menutup hidung mereka. Perut mereka mulai terasa mual.


Mayat itu sudah membusuk dan tidak  utuh lagi. Banyak bagian tubuhnya yang rusak. Tampaknya ajag ekor merah telah  berpesta setelah orang itu mati.


“Jadi mereka di keroyok ajag ekor merah di tempat ini,” desis Baskara pelan. Ia menggeram pelan melihat nasib teman seperguruannya yang mati dikeroyok ajag ekor merah.


“Lihat! Disana ada 2 mayat lagi,” kata Paksi. Tangannya menunjuk tumpukan bangkai ajag ekor merah di kejauhan.


Mereka mendekat dan melihat ada 2 mayat lagi dengan kondisi yang hampir sama. Mereka terus melangkah dan mendapati ada 2 lagi mayat yang mengenakan seragam Perguruan Langit Biru.


“Sudah ada 5 orang yang tewas. Kalau kita menambahkan 2 orang yang ada di Desa Ringin Kembar, berarti sudah ada 7 orang. Kita tinggal mencari 23 orang lagi,” desis Paksi.


Ia mengedarkan pandangannya menyusuri padang rumput dan melihat ada sesuatu yang bergerak di kejauhan. Ia menyipitkan matanya dan akhirnya sadar bahwa yang bergerak itu adalah seekor ajag.


“Tampaknya kita telah ketahuan. Tampaknya ada seekor ajag ekor merah yang melihat kedatangan kita,” kata Paksi. Matanya terus mengikuti gerak ajag ekor merah itu.


“Apa! Dimana?” tanya Prakosa.


“Itu, arah depan sebelah kananmu,” Paksi menunjuk kearah sebuah titik kecil di kejauhan.


“Ah, itu hanya seekor. Buat apa takut,” kata Prakosa santai setelah melihat ke arah yang ditunjukkan Paksi.


“Kita harus meninggalkan tempat ini segera. Paling tidak kita bisa mencapai daerah yang cukup jauh dari sini. Disini terlalu bau,” kata Panji cepat. Ia berlari menjauhi tumpukan bangkai ajag ke arah daerah yang rata dan bersih.


“Kenapa harus lari? Itu cuma seekor,” tanya Prakosa heran. Ia mengerutkan keningnya melihat Panji yang  terlihat terburu - buru dan berlari menjauh.


“Bodoh kau! Ia akan segera memanggil kawan – kawannya,” kata Mahesa yang segera berlari mengikuti Panji.


Prakosa akan membantah perkataan Mahesa saat telinganya mendengar suara lolongan ajag di kejauhan.


“Auuuu.......”


“Auuuu......”


“Auuuu......”


Lolongan panjang itu segera disambut lolongan yang sama di berbagai arah.


“Oh, sial!”


Wajah Prakosa memucat saat ia melihat ada banyak titik – titik hitam mulai bermunculan di kejauhan. Ia segera berlari menyusul kawan – kawannya yang telah berkumpul di kejauhan.


“Cepat Prakosa!” teriak Sasti panik.


Ia, Jayanti dan Gayatri wajahnya sudah mulai pucat pasi. Tubuh mereka gemetar saat mereka mulai melihat banyak sekali ajag ekor merah yang mulai bermunculan di kejauhan.


“Jangan panik! Kita telah berlatih panah terus menerus tanpa kenal lelah selama beberapa hari terakhir itu gunanya untuk saat seperti ini,” teriak Panji keras.


Ia berusaha menaikkan semangat teman – temannya yang mulai jatuh saat melihat jumlah ajag ekor merah yang mengepung mereka.


“Kita akan mati kalau mereka sampai mengepung kita. Gunakan panah kalian untuk mengurangi jumlah mereka sebanyak – banyaknya,” teriaknya lagi.


“Panji benar! Jangan sampai latihan kita sia – sia. Kita punya banyak anak panah. Hajar mereka dengan panah!” teriak Mahesa pula.


“Siap!”


“Hajar!”


“Baik!”


Teriakan penuh semangat terdengar saat semua anggota Tim Rajawali Perak mengangkat busur mereka dan menarik anak panah dari kantungnya.


“Bentuk formasi wulan tumanggal!”


“Siap!”


Formasi wulan tumanggal adalah formasi berbentuk bulan sabit yang baru terbit. Bentuknya adalah garis melengkung setengah lingkaran. Panji yang mengamati arah kedatangan ajag ekor merah memutuskan untuk memakai formasi ini saat sadar ajag ekor merah tidak datang dari semua arah. Dengan formasi ini mereka bisa menghadapi ajag yang datang dari arah depan dan samping.


“Paksi, kau ke belakang dan awasi ajag ekor merah dari arah belakang. Jangan sampai mereka menyerang kita dari arah punggung!” teriak Panji.


“Baik!”

__ADS_1


Paksi bergeser ke belakang tim dan anggota yang lain segera menyesuaikan diri. Mereka berdiri berdekatan membentuk busur setengah lingkaran.


Panji memperkirakan jarak ajag ekor merah yang datang dari berbagai arah. Mereka datang tidak bergerombol tetapi sendiri – sendiri dengan jarak yang tidak tetap. Ia tidak bisa menghambur – hamburkan panah sia - sia dengan menembak sembarangan. Ia menunggu sampai mereka mencapai jarak tembak panahnya.


“Panah siap! Tembaaa......k!”


Nguik!


Panji berteriak keras memberi aba – aba. Sembilan anak panah melesat cepat dari busurnya menerjang 9 ekor ajag mata merah yang berlari paling depan. Mereka terpelanting ke belakang dengan tubuh tertembus anak panah.


Panji dan kawan – kawan terus menembakkan anak panah. Berkat latihan keras yang mereka lakukan dalam


beberapa hari terakhir, mereka bisa menembakkan anak panah lebih cepat dan kuat dibandingkan saat di Desa Bambu Kuning.


Mereka juga bisa membidik ajag ekor merah yang bergerak cepat berkat latihan memanah sasaran bergerak yang diusulkan Panji. Ajag ekor merah yang bergerak zig – zag pun tidak bisa menghindar dari panah mereka.


Sasti dan Gayatri yang aslinya memang mendalami ilmu panah kemampuannya meningkat pesat berkat bantuan


Panji. Panji mengajarkan hal – hal kecil yang selama ini mereka abaikan seperti pengaturan nafas, posisi menembak, cara mempercepat fokus dan cara mengatur tenaga. Semua itu membuat mereka menjadi seorang ahli ilmu panah yang sebenarnya.


Mereka memanah lebih cepat daripada anggota lainnya. Ajag ekor merah yang mendekat dalam jarak pandang mereka berkurang dengan cepat. Tapi bagaimana pun cepatnya mereka menembak, mereka masih harus mengaku kalah dengan Panji.


Panji berdiri tegak dengan kaki renggang. Tangannya bergerak cepat mencabut anak panah dari kantungnya, membidik dan menembakkannya. Padang rumput yang datar dan terbuka memudahkannya memilih sasaran dengan cepat.


Salah satu gurunya, Sima Lodra, merupakan seorang ahli panah berpengalaman. Ia mengajarkan berbagai macam teknik panah padanya.


Ia sanggup menembak ajag ekor merah dari jarak yang cukup jauh. Ia menembak cukup lambat tapi ajag ekor merah di kejauhan yang terkena panahnya akan terpental jauh.


Tapi saat ajag ekor merah mendekat sampai kurang dari 30 m, kecepatan memanahnya meningkat pesat. Anak panah susul menyusul melesat dari busurnya. Walaupun kekuatan serangannya jauh menyusut, tapi kekuatannya masih cukup untuk membunuh ajag mata merah yang mendekat.


Ajag ekor merah yang mendekatinya dengan cepat jatuh bergelimpangan satu persatu. Panji bahkan mulai  membantu orang – orang disampingnya.


“Ajag ekor merah mulai muncul dari arah sini. Awas serangan belakang!” teriak Paksi saat melihat cukup banyak ajag ekor merah mulai muncul di bidang pandangnya.


“Berapa jumlahnya!” teriak Panji.


“Cukup banyak. Lebih dari 30 ekor!” teriak Paksi lagi. Keringat dingin mulai keluar dari punggungnya. Ia merasa tidak sanggup jika harus menghadapi ajag sebanyak itu sendirian.


“Baik!” Paksi yang bersiap memanah segera meloncat mengisi posisi Panji.


Panji mengamati ajag ekor merah yang mencoba menyelinap, menyerang dari belakang formasi teman - temannya. Ada sekitar 30 – 40 ekor yang berlari cepat ke arahnya. Panji mengangkat busurnya dan menariknya kuat – kuat.


Dziii....ing!


Kaing!


Dziii....ing!


Dziii....ing!


Kaing!


Seekor ajag ekor merah  yang berlari paling belakang tiba – tiba terpental jatuh sambil menjerit kesakitan.  Tubuhnya terjerembab ke tanah dengan panah menembus kepalanya.


Teman- temannya yang terkejut memperlambat larinya. Tapi ajag ekor merah yang berlari di bagian depan mulai menjerit bergantian dengan nasib yang sama.


Panji mengganti cara memanahnya. Ia mengurangi tenaganya sehingga bisa memanah dengan sangat cepat.


Kekuatan serangannya memang berkurang jauh, tetapi kalau hanya untuk menghabisi ajag ekor merah, itu sudah cukup.


“Paksi, ganti posisi! Kau awasi lagi bagian belakang!” teriak Panji lagi.


Tubuh Paksi tergetar sesaat karena terkejut. Belum sampai 5 menit ia berdiri menggantikan posisi Panji. Ia baru bisa memanah 5 ekor ajag ekor merah dan sedang membidik mangsanya yang keenam, tapi Panji sudah  memintanya ganti posisi.


Ia tahu persis ada lebih dari 30 ekor ajag ekor merah dari arah belakang. Apakah Panji telah membunuh semuanya dalam waktu hanya 5 menit? Tidak mungkin!


Paksi meloncat mundur dan berbalik, sementara Panji langsung menggantikannya. Matanya terbelalak kaget saat melihat mayat ajag ekor merah bergelimpangan dengan kepala mereka tertembus anak panah.


“Luar biasa,” desisnya pelan.


“Panji, lihat sebelah kiri!” teriakan Sasti yang berada di sebelah kirinya mengejutkan Panji.

__ADS_1


Ia menengok dan melihat ada seekor ajag ekor merah yang bergerak lebih cepat dari ajag lainnya. Ia bergerak zig – zag dan bisa menghindari tembakan panah Sasti. Dengan cepat, Panji mengambil anak panahnya dan menembak.


Ajag itu menjerit keras saat tubuhnya tertembus anak panah. Ajag itu tergetar sesaat sebelum meloncat maju dan berlari menyerang.


Panji tertegun sejenak sebelum menembak lagi. Anjing itu tergetar lagi tapi tetap bisa berdiri dan berlari walaupun kecepatannya tidak secepat semula.


Panji mengulangi lagi tembakannya. Kali ini tembakannya langsung membuat ajag itu jatuh dan tidak bangun lagi.


Belum sempat Panji mengatur nafasnya, Jayanti yang berdiri di sebelah kanan berteriak meminta bantuan. Ia  menoleh dan menyaksikan seekor ajag lain berlari zig – zag menuju kearah Jayanti. Baskara yang berada disampingnya berusaha membantu tapi ajag itu tetap berlari meskipun panah Baskara menancap di perutnya.


Panji mengambil anak panah dan menarik busurnya sekuatnya. Ia menahannya beberapa saat dan melepaskannya saat bidikannya sudah pas. Anak panah itu melesat jauh lebih cepat dan kuat dibandingkan anak panah  sebelumnya.


Ajag itu sudah berada cukup dekat dengan Jayanti saat tubuhnya tiba – tiba terpental jauh  seperti terseret angin. Sebuah anak panah menancap kuat ditubuhnya


Dziii....ing!


Keagh!


Ajag itu menjerit keras saat tubuhnya melayang dan jatuh terjerembab di tanah. Ia berusaha berdiri dengan susah payah tapi akhirnya jatuh dan tidak bergerak lagi.


“Hati – hati! Ada ajag mata merah di antara kawanan ajag ekor merah ini!” teriakan Pani menyadarkan teman – temannya yang sempat tertegun melihat daya tahan ajag yang berbeda dari ajag – ajag lainnya.


“Ujung kiri ada satu ajag mata merah,” teriak Laksana di ujung kiri barisan.


“Sebelah sini ada 2 ekor,” teriak Mahesa di ujung kanan barisan.


“Awas, sebelah belakang ada lagi 10 ekor ajag. Ada 2 ekor yang bergerak lebih cepat dibandingkan lainnya,” teriak Paksi yang berada di belakang formasi barisan.


“Tembak mereka! Jangan biarkan mereka mendekat!” teriak Panji sambil terus menembakkan panahnya. Dari arah depan ia bisa melihat ada 3 ekor ajag yang juga berbeda dari teman – temannya. Ia baru bisa menembak jatuh seekor saat ajag – ajag lain terus berdatangan memecah konsentrasinya.


“Mereka mendekat!” teriak Paksi lagi. Ia baru bisa menembak 4 ekor saat yang lain berlari mendekatinya.


“Ubah formasi. Ganti dengan formasi segilima kelompok 5 orang!” teriak Panji setelah melihat formasinya tidak bisa bertahan lama.


“Tembak terus! Ganti senjata dengan pedang hanya saat ajag sudah dekat!” teriaknya lagi.


Tim Rajawali Perak segera memecah formasi dan membentuk 2 kelompok 5 orang. Mereka membentuk formasi baru berbentuk segilima. Mahesa, Paksi, Prakosa, Jayanti dan Gayatri membentuk satu tim, sementara Panji, Baskara, Laksana, Wiranata dan Sasti membentuk tim lainnya.


Panah dan pedang berkelebat menyambut datangnya ajag ekor merah yang menyerang. Formasi itu mulai menunjukkan kelebihan saat menghadapi kepungan seperti ini. Ajag yang menyerang dari berbagai arah tidak bisa merunduk diam – diam karena mereka tetap akan berhadapan dengan minimal satu diantara kelima orang itu.


Ajag mata merah yang berbaur diantara ajag ekor merah pun tidak bisa menunjukkan kelebihannya lagi. Saat mereka mendekat dan menyerang salah seorang diantara kelima orang itu, orang terdekat akan segera membantunya saat melihat temannya terdesak.


Jumlah ajag yang menyerang berkurang dengan cepat. Koordinasi setiap anggota dalam kelompok berperan besar mengurangi jumlah ajag itu. Setiap ajag menyerang, mereka akan menghadapi dengan minimal satu pedang. Kadang pedang dari pemain lain tiba – tiba berkelebat menyerang mereka dari samping.


Kurang lebih 1 jam kemudian ajag terakhir jatuh tertebas pedang. Mahesa dan yang lainnya memandang mayat ajag yang bergelimpangan dengan mata nanar. Walaupun pertempuran hanya berlangsung singkat, jauh lebih singkat dari waktu latihan mereka, tapi tekanan yang dihadapi jauh lebih besar dan berat. Bahkan udara yang mereka hisap pun terasa jauh lebih menyesakkan.


“Hah.......hah....hah...akhirnya....akhirnya mereka habis juga,” desis Gayatri dengan nafas memburu.


“Yeah, kita menang lagi,” desis Laksana. Mukanya merah dengan nafas yang juga memburu  tidak teratur.


Prakosa berdiri dengan  kepala menengadah. Tangannya berkacak pinggang sementara kedua matanya terpejam. Ia berusaha mengatur nafasnya dengan susah payah. Sebuah senyuman kecil tersungging di mulutnya.


Teman – temannya menjulukinya maniak, tapi ia belum pernah bertempur seperti kali ini. Pertarungan yang dilakukannya sebelum ini kini terlihat seperti permainan kanak - kanak. Tapi sejak kedatangan Panji, ia telah  mengalami pertempuran hidup mati beberapa kali hanya dalam waktu 3 minggu. Ini seperti surga baginya.


“Kita istirahat sejenak. Hari sudah mendekati sore. Kita tidak bisa bermalam disini,” desis Mahesa pelan. Ia memandang Panji dan menghela nafas panjang. Ia melihat Panji masih terlihat baik – baik saja, berbeda dengan teman – temannya yang lain yang terlihat hampir kehabisan nafas.


Panji berdiri tegak. Ia mengedarkan pandangannya. Matanya terpaku ke suatu titik di kejauhan dan mengerutkan keningnya. Ia melihat ada seekor ajag yang memandang ke arah kelompoknya sebelum berbalik pergi.


“Mahesa benar. Kita harus segera pergi secepatnya. Aku melihat seekor ajag di kejauhan. Mungkin mereka akan menyerang kita jika kita bermalam disini,” desisnya pelan.


Teman – temannya terkejut. Mereka berusaha mengatur nafas dan tenaganya secepatnya supaya siap saat ajag itu menyerang lagi.


Satu jam kemudian mereka meneruskan langkahnya menelusuri padang rumput. Beberapa saat kemudian Paksi bermata tajam menunjuk sesuatu di kejauhan.


“Ada gua di dinding batu di depan sana. Tapi ada kawanan anjing bergerombol di depannya. Tampaknya mereka mengepung gua itu,” katanya.


“Mungkin Tim Singa Gunung bersembunyi di gua itu. Cepat! Kita harus sampai ke sana sebelum terlambat!” teriak Mahesa sambil mempercepat langkahnya.


Kedatangan mereka menarik perhatian kawanan ajag itu. Mereka yang semula menghadap gua, sebagian mulai berpaling dan berlari kearah kelompok Mahesa.


Tim Rajawali Perak menghentikan langkah mereka dan berbaris. Mereka mengambil busur dan anak panahnya.

__ADS_1


“Tembak!” teriak Mahesa keras.


__ADS_2