
“Hey! Kau sedang melamun apa, Panji?”
Sebuah suara mengejutkan Panji yang sedang melamun. Ia sedang merenungkan pembicaraannya dengan Kakek Tua itu saat seseorang meletakkan piringnya di sampingnya. Orang itu tanpa sungkan menarik kursi dan duduk disampingnya dengan senyum tersungging di bibirnya.
“Oh, Kau Jayanti. Kenapa kau belum makan? Biasanya kau bersama Sasti dan Gayatri selalu makan pagi bersama. Dimana mereka sekarang?” tanya Panji setelah melihat orang yang duduk disampingnya adalah Jayanti.
“Memangnya kenapa kalau aku makan sendiri? Memangnya tidak boleh?” katanya cuek sambil meraih piring dan mulai memakannya.
“Kau tidak melanjutkan makanmu? Tuh, masih ada setengah piring yang belum kau habiskan,” lanjutnya sambil menunjuk piring di depan Panji.
“Memangnya kenapa kalau aku tidak melanjutkan makanku? Memangnya tidak boleh?” kata Panji sambil meraih
piring dihadapannya dan mulai makan lagi.
“Hahaha..... lucu juga kau, Panji,” Jayanti tertawa keras. Tangan kirinya memukul bahu Panji keras sampai hampir terpelanting dari kursinya.
“Hush, hentikan tawamu. Kita jadi perhatian banyak orang,” desis Panji sambil melanjutkan makannya.
“Ada apa kau mencariku? Tidak biasanya kau disini sendirian kalau kau tidak ada keperluan,” katanya pelan.
“Pintar juga kau. Aku mau memberi jatah uang hasil misi kemarin. Anggota yang lain sudah menerimanya. Hanya kau yang belum,” bisik Jayanti sambil menghentikan makannya. Tangannya mengangsurkan kantung kecil yang penuh berisi uang emas.
Panji menerima kantung uang itu dengan tersenyum senang. Persediaan uangnya hampir habis untuk membeli
keperluan besalen. Ia menimang –nimang kantung itu sejenak sebelum memasukkan ke dalam sakunya.
“Kau tidak menghitung dulu uang itu?” tanya Jayanti heran.
“Tidak perlu. Aku percaya kau tidak akan menipuku,” jawab Panji sambil meneruskan makannya.
“Terima kasih,” jawab Jayanti pelan. Ia memandang Panji sejenak sebelum meneruskan makannya.
Setelah selesai makan, Jayanti berpisah untuk melanjutkan latihannya bersama anggota Tim Rajawali Perak dan Tim Singa Gunung. Panji pun melangkah keluar ruang makan menuju ke besalennya.
Ia melangkah pelan ke dalam besalen. Dipandanginya semua bahan dan peralatan dalam besalen. Ia berdiri di tengah – tengah besalen dan memejamkan matanya untuk mengingat proses pembuatan pedang.
Salah satu gurunya, Panekti adalah seorang pandai besi handal. Di sela – sela latihannya, ia sering mengajarkan cara pembuatan senjata padanya. Salah satu yang sering dikatakannya adalah bahwa pembuatan senjata itu intinya adalah gabungan dari proses teknik pembakaran, teknik penempaan, teknik pelipatan dan teknik pendinginan. Jika ia bisa menguasai keempat teknik itu, ia bisa membuat sebuah senjata yang bagus kualitasnya.
Panji membuka matanya dengan perlahan. Ia menghela nafas dalam –dalam dan menghembuskannya dengan
sekali hembusan kuat.
Kali ini ia akan berusaha membuat sebuah pedang yang bagus. Jadi ia harus menguatkan mental dan fisiknya karena ia tahu ia akan melalui proses yang panjang dan membosankan.
“Heh, rasanya sudah lama sekali aku tidak membuat senjata lagi. Terakhir kali aku membuatnya, kalau tidak salah, saat membantu guru membuat pedang saat umurku 12 tahun,” gumamnya pelan. “Sudah 3 tahun yang lalu.”
Sekali lagi ia menghembuskan nafas panjang sebelum melangkah ke tungku perapian. Ia mengisinya dengan sesekop arang kayu dan membakarnya. Setelah mengipasinya dengan ububan, arang kayu itu pun menyala terang.
Ia mengisi lagi tungku perapian dengan arang kayu sampai penuh dan mengipasinya lagi dengan ububan.
Setelah api membakar semua arang kayu, ia memasukkan sebatang besi kasar dan menunggunya sampai merah menyala.
Dengan menggunakan capit, ia mengangkat besi kasar merah menyala itu ke dalam paron. Tangan kanannya meraih palu terbesar. Dengan sekuat tenaga, ia hantamkan palu besar itu ke arah batangan besi kasar itu.
“Taa...ng!”
Suara dentangan keras logam beradu terdengar sampai keluar besalen. Bagian yang terhantam palu itupun langsung berubah menjadi lempengan pipih.
Dengan capit yang lain, Panji ganti memegang bagian yang sudah pipih dan menghantam lagi bagian yang masih utuh dengan palu. Akhirnya besi kasar batangan itupun berubah menjadi lempengan besi pipih.
Panji menekuk lempengan besi pipih itu menjadi 2 dan membakarnya lagi sampai merah membara sebelum
menghantamnya lagi menjadi sebuah lempengan besi pipih.
“Fiuh, akhirnya selesai juga melipat 2 kali lipatan. Paling tidak aku masih kurang melipat 6 kali lagi,” gumamnya pelan sambil menghapus keringat di dahinya.
__ADS_1
Seingat Panji, Panekti pernah mengingatkan bahwa cara, kekuatan dan posisi menempa serta banyak lipatan akan sangat mempengaruhi kualitas senjata. Semakin banyak lipatan akan semakin bagus kualitasnya.
Jika ia ingin kualitasnya bagus, maka ia harus melipat lempengan besinya minimal 8 kali. Rata – rata senjata yang berkualitas di pasaran di buat dengan melipat sebanyak 8 – 16 kali.
Ia sudah lama tidak membuat senjata sehingga untuk yang pertama ini ia ingin mengingat lagi cara pembuatan senjata yang diajarkan gurunya. Untuk latihan ini ia ingin membuat sebuah pisau, maka ia hanya menggunakan sebatang besi kasar saja.
Ia menunggu sampai lempengan besi pipih itu berubah menjadi merah membara, sebelum mengambil, menempa, menekuk, menempa lagi dan akhirnya ia membakar lagi lempengan besi itu.
“Fiuh, 3 lipatan,” gumamnya sambil memompa ububan di samping tungku perapian. Hawa panas menyengat dari tungku perapian dan pemberat tubuh yang dikenakannya membuat keringat membanjir membasahi pakaiannya.
Ia mengulang lagi proses membakar, menempa, menekuk dan membakar lagi selama beberapa kali. Kadang – kadang proses itu ditambah pendinginan ke bak pendingin yang penuh berisi minyak untuk membuat besi menjadi lebih keras dan kuat.
Akhirnya, menjelang pagi hari, ia memegang sebuah pisau yang bentuknya seperti pedang kecil dan mengamatinya dengan teliti. Sebuah senyum lebar muncul di wajahnya yang kelelahan.
“Akhirnya jadi juga,” desisnya puas. “Pisau ini kubuat dengan melipat lempengan besi 10 kali. Aku harus mencoba kekuatan dan ketajamannya.”
Ia mengambil batang pohon pisang yang sudah disediakan Jlitheng dan mendirikannya di atas paron. Tangan kanannya yang memegang pisau menebas batang pisang itu kuat – kuat.
Crash!
Pisau kecil itu memotong batang pisang tanpa kesulitan yang berarti.
“Lumayan,”gumamnya sambil mengamati bekas tebasan pisaunya yang rapi di batang pisang.
Ia mengambil sepotong dahan pohon kering sebesar lengan orang dewasa yang disiapkan Jlitheng untuk kayu bakar. Ia mendirikan dahan pohon kering itu di tanah dan menebasnya dengan pisau kecilnya.
Crash!
Sekali lagi, pisau itu bisa menebas dahan pohon kering itu tanpa kesulitan.
“Bagus!” serunya gembira saat ia melihat bekas tebasannya sangat licin dan rapi. Ini menunjukkan bahwa pisau kecilnya sangat tajam.
Setelah ragu – ragu sejenak, ia memindahkan pisau kecilnya ke tangan kiri dan mencabut pedang yang dulu dibelinya di pasar perguruan. Ia memegang pisau kecinya kuat – kuat dan menghantamnya dengan pedangnya sekuat tenaganya.
Tang!
Dengan gemetar, ia mengamati pedang di tangan kanannya yang telah terpotong ujungnya. Potongan itu licin dan rapi, sama persis seperti potongan dahan kayu kering yang di tebas dengan pisau kecilnya.
Ia mengangkat tangan kirinya dan mengamati pisau kecilnya dengan teliti. Ia memeriksa pisau itu cukup lama. Tubuhnya gemetar saat perasaan puas dan gembira mulai tumbuh kuat dari dalam tubuhnya. Pisau kecil itu tidak ada cacat sedikitpun! Bahkan lekukan bekas hantaman pun tidak ada!
“Hahahaha.....” Panji tertawa keras sampai mengeluarkan air mata. Akhirnya ia berhasil membuat sebuah pisau kecil yang bagus kualitasnya. Sebuah pisau yang berbeda dari pisau kebanyakan.
“Aku melipat 10 kali dari 1 buah lempengan besi, jadi jika dihitung, pisau ini punya 512 lipatan. Hanya 512 lipatan tapi kualitasnya sudah sebagus ini? Aku tidak bisa membayangkan jika aku bisa membuat pedang dari 3 buah lempeng besi dan melipatnya 10 kali. Wow, pasti pedang yang sangat bagus!” desisnya gembira.
Pedang yang terbuat dari 3 lempeng besi yang ditempa dan dilipat 10 kali akan mempunyai lipatan sebanyak 1.536 lipatan. Jumlah lipatan itu akan membuat kualitas pedangnya menjadi level 4, karena Panekti pernah mengatakan bahwa pedang yang kualitasnya level 1 minimal butuh 128 lipatan, sedangkan yang level 5 minimal 2.000
lipatan.
Panji meletakkan pisau kecil buatannya di atas paron dan melangkah ke tempat tidur. Rasa senang di hatinya mengurangi rasa sakit yang timbul di seluruh tubuhnya. Hari ini ia telah bekerja keras tanpa istirahat hampir sehari semalam penuh. Walaupun beberapa kali ia menggunakan pil vitalitas, kelelahan fisik dan mentalnya tetap tidak bisa ditutupi.
Ia mengambil pil multitonik dan pil vitalitas dari tas pinggangnya dan meminumnya dengan segelas besar air.
“Huff.... Aku harus istirahat dulu sebentar. Besok pagi aku bisa mulai membuat pedangnya,” desisnya sambil menyeka sisa air minum di bibirnya.
Ia merebahkan dirinya di tempat tidur dan memejamkan matanya. Tak lama kemudian, suara dengkurannya
yang keras memenuhi besalen kecil itu.
*****
Tak!
“Sialan! Patah lagi! Apa yang salah dengan caraku? Bukankah aku membuat pedang sesuai ajaran guru? Kenapa gagal terus?” teriak Panji frustasi.
Sudah hampir 3 minggu Panji mengurung diri di besalen kecilnya. Ia terus menerus menempa batangan besi kasar untuk membuat pedang, tetapi belum ada yang berhasil. Ia telah membuat lima kali percobaan dan semuanya gagal.
__ADS_1
“Huff.... Tenang, Panji. Kamu harus tenang,” Panji memegang kepalanya dan berusaha menenangkan dirinya yang mulai frustasi.
“Aku telah sering melihat guru membuat pedang, bahkan beberapa kali aku membantunya. Jadi tak mungkin cara guruku salah. Pasti ada sesuatu dalam proses pembuatanku ini yang berbeda dengan ajaran guru yang membuatku gagal membuat pedang. Pasti begitu,” desisnya pelan.
Ia melangkah gontai ke tempat tidurnya dan segera duduk bersila untuk menenangkan nafasnya yang tidak teratur. Ia mengatur nafasnya untuk memfokuskan hati dan pikirannya yang berantakan dan mengingat – ingat proses pembuatan pedangnya yang selalu gagal.
Beberapa saat kemudian ia membuka matanya dengan pemahaman baru. Ia melangkah ketungku perapian dan
mengulang lagi proses pembuatan pedangnya.
******
“Sudah beberapa hari ini aku tidak melihat Panji. Apakah dia berlatih di luar perguruan?” gumam Sasti saat istirahat latihan.
Lapangan rumput tempat berlatih Tim Rajawali Perak sekarang menjadi tempat latihan bersama dengan Tim Singa Gurun. Mereka telah latihan bersama selama beberapa hari terakhir.
“Mungkin juga. Selama beberapa hari terakhir ini aku juga tidak melihat Panji di ruang makan,” kata Prakosa sambil mengunyah makanan yang disediakan Jayanti untuk cemilan latihan bersama.
“Terakhir kali bertemu, ia bilang akan fokus berlatih mengontrol tenaga dalamnya,” kata Jayanti pelan. Tangannya mengambil apel di piring dan memakannya dengan tenang.
“Mengontrol tenaga dalam? Apa maksudnya?” tanya Tunggul bingung.
“Aku juga tidak tahu. Dia bilang tenaga dalamnya terlalu dangkal sehingga susah untuk pertempuran jangka panjang. Jadi ia ingin membuat tenaga dalamnya menjadi lebih tebal dan dalam. Kalau tidak salah, itu yang dikatakannya padaku,” gumam Jayanti.
Tunggul dan teman – temannya yang telah menjadi murid dalam bingung mendengar perkataan Jayanti. Hanya mereka yang telah menjadi murid dalam yang mendapat pelajaran tentang mengontrol tenaga dalam. Murid luar,
apalagi murid cadangan, tidak akan pernah mendapatkan pelajaran itu karena fokus utama mereka adalah untuk meningkatkan tenaga dalamnya. Tapi kenapa Panji tahu tentang cara mengontrol tenaga dalam? Siapa yang mengajarinya?
“Panji sekarang sedang ada di besalen. Tampaknya ia sedang belajar membuat pedang?” kata Wiranata yang selama ini hanya mendengarkan pembicaraan mereka.
“Belajar membuat pedang? Dia juga ingin menjadi pandai besi? Yang benar?” tanya Gayatri penasaran.
“Jlitheng yang cerita. Aku kemarin bertemu dengannya di ruang makan,” kata Wiranata santai.
.............
Tim Rajawali Perak dan Tim Singa Gunung ramai berdiskusi sedangkan Panji yang menjadi bahan pembicaraan masih asyik bekerja di besalennya.
********
“Hahaha.... Akhirnya, akhirnya aku bisa juga membuat pedang!” teriak Panji sambil memegang sebuah pedang di tangannya.
Ia mengayunkan pedangnya beberapa kali dengan senyum mengembang di mulutnya. Rasa lelah dan frustasi yang melandanya selama ini menghilang seketika.
Setelah hampir 2 bulan penuh ia berjuang keras siang dan malam tanpa henti, dan mengalami kegagalan sebanyak
9 kali, akhirnya ia berhasil membuat pedang pada percobaan yang ke-10.
Sama seperti perlakuannya dengan pisau kecil, ia menguji coba pedangnya dengan batang pisang, dahan pohon kering dan pedang yang dibelinya di pasar perguruan. Ia mengangguk puas saat pedangnya bisa memotong rapi ketiganya. Pedangnya pun tetap utuh, tidak ada retak atau rusak sedikitpun.
“Akhirnya aku tahu dimana letak kesalahanku. Aku tidak boleh terburu – buru dan melupakan detil kecil saat membuat pedang. Hal - hal kecil seperti pengaturan tenaga, kapan waktu melakukan pendinginan dan sebagainya ternyata sangat mempengaruhi keberhasilan pembuatan pedangku,” gumamnya.
“Sekarang, aku tinggal membuat beberapa pedang dan pisau lagi untuk mengasah kemampuan dan meningkatkan tenaga dalamku,” lanjutnya.
******
Sebulan kemudian.....
Panji melangkah keluar dari besalen dengan senyum puas di bibirnya. Selama sebulan ini ia telah membuat 11 buah pedang dan 9 buah pisau kecil. Ia akan menyimpan sebuah pedang dan sepasang pisau kecil untuk dirinya
sendiri dan masih punya 10 buah pedang dan 8 buah pisau kecil yang bisa dijual.
Ia juga masih punya persediaan besi kasar batangan sebanyak 110 batang. Ia masih bisa membuat beberapa pedang dan pisau lagi jika uang hasil lelang senjatanya masih kurang memenuhi harapannya.
Kemarin saat makan pagi, Jlitheng memberitahu bahwa 3 minggu lagi akan diadakan lelang di Kota Manyaran. Ia ingin senjata – senjata buatannya ikut serta di lelang itu. Bagaimana pun juga uangnya sudah hampir habis. Ia butuh lelang itu untuk mengembalikan persediaan uangnya.
__ADS_1
“Masih ada waktu sebulan lagi sampai saat penerimaan murid baru. Aku masih bisa berlatih lagi di hutan. Pemberat tubuhku sudah kubuat lebih berat 3 kali lipat dari sebelumnya. Aku harus menyesuaikan diri dengan itu,” gumamnya sambil melangkah ke ruang makan perguruan.
“Sekarang makan pagi dulu. Rasanya sudah lama aku tidak menikmati makan pagi di ruang makan. Aku sudah mulai bosan dengan makanan yang di bawa Jlitheng,” katanya sambil memegangi perutnya yang mulai keroncongan.