Maaf .......

Maaf .......
Episode 27. Hutan di Bukit Munggur


__ADS_3

Sinar matahari pagi memancar menerangi padang rumput di Bukit Munggur. Sinarnya yang keemasan menambah pesona keindahan alam di sekitar padang rumput. Suara gemericik air sungai menambah indah suasana pagi itu.


Tapi suasana indah itu terganggu oleh teriakan keras seorang anak laki – laki yang bertarung menghadapi kepungan beberapa ekor laba – laba raksasa. Tinggi laba –laba itu hampir sama dengan tinggi tubuhnya!


“Heyaaa.....!”


Anak laki – laki itu berteriak keras saat pedangnya berkelebat cepat menebas salah satu laba –laba yang menerkamnya.


Laba – laba raksasa itu terpelanting dan jatuh telentang dengan cairan berwarna hijau keluar dari kepalanya yang robek besar akibat terhantam pedang. Kedelapan kakinya bergerak liar sebelum berhenti saat nyawanya melayang meninggalkan tubuhnya.


“Kurang ajar! Kenapa kalian selalu menggangguku?” teriak anak laki – laki itu frustasi. Ia memandang 2 ekor laba – laba raksasa yang tersisa dengan muka merah menahan marah. Di sekitarnya tergeletak tak kurang dari 10 ekor bangkai laba – laba raksasa.


Salah satu laba – laba raksasa itu tiba – tiba mengangkat tubuhnya. Bagian bawah perutnya tiba – tiba terayun ke depan melontarkan tali berwarna putih susu yang meluncur deras ke arah anak laki – laki itu.


Anak laki – laki itu meloncat ke samping menghindari jerat jaring laba – laba itu. Ia langsung meloncat ke depan dan pedangnya berkelebat membabat kedua kaki sebelah kanan laba – laba raksasa itu.


Laba – laba raksasa itu berteriak kesakitan dan jatuh tersungkur. Ia berusaha berdiri dengan susah payah saat anak laki – laki itu meloncat lagi ke atas dan pedangnya meluncur deras menembus kepalanya.


“Mati kau!” geram anak laki –laki itu saat melihat darah hijau kental menyembur keluar dari kepala laba – laba raksasa yang tertembus pedangnya. Kedua kakinya berdiri di atas kepala laba – laba raksasa yang kini tersungkur di tanah.


Ia menggeser pedangnya saat merasakan laba – laba itu masih bergerak. Gerakan pedangnya membuat kepala


laba – laba itu robek besar.


Ia menarik pedangnya dan akan menghantam kepala laba – laba itu sekali lagi saat matanya melihat laba – laba yang tersisa tiba – tiba merundukkan kepalanya dengan perut terangkat dan bergoyang – goyang.


Tanpa membuang waktu, ia langsung meloncat menghindar dan bergulingan di tanah. Laba – laba raksasa itu tiba – tiba menyemburkan cairan ke arahnya. Cairan hijau kental yang meluncur dari mulut laba – laba itu pun meluncur dan menghantam bekas tempatnya berdiri.


“Nyaris saja,” gumamnya pelan.


Ia berdiri dengan cepat melompat menerjang laba – laba raksasa itu. Ia paham kelemahan fatal musuhnya. Sesaat setelah melontarkan jaring berwarna putih susu ataupun racun hijau kentalnya, laba – laba raksasa itu akan berhenti sejenak sebelum bisa bergerak lagi. Ia harus memanfaatkan kelemahan itu kalau tak ingin pertempuran ini berlangsung lebih lama lagi.


“Rasakan ini!”


Panji berteriak keras sambil menebaskan pedangnya beberapa kali ke arah kepala musuhnya.


Laba – laba raksasa yang tidak bisa bergerak hanya bisa berteriak keras dan terlempar dengan darah hijau kental mengucur deras dari kepalanya.


“Fiuh! Capeknya,” keluh anak laki – laki itu sambil mengusap keringat yang membasahi mukanya. “Benar kata Kakek Tua itu. Tempat ini sangat cocok untuk tempatku berlatih. Setiap hari aku harus bertarung hanya untuk mencari makan atau tempat istirahat. Benar – benar tempat yang berbahaya,” gumamnya pelan.


Anak laki –laki itu adalah Panji Kusuma yang menuruti saran Kakek Tua untuk berlatih di hutan di sekitar Bukit Munggur. Ia yang pernah berburu rusa totol putih di Bukit Munggur sempat menyangsikan saran Kakek Tua itu. Tapi darahnya langsung mendidih saat Kakek Tua itu menanyakan apakah ia berani atau tidak datang ke tempat ini.


Tanpa pikir panjang, ia langsung menyanggupinya dan berangkat saat itu juga setelah mengepak pakaian dan bekal secukupnya.


Beberapa saat kemudian ia langsung menyesali kecerobohannya saat menghadapi beberapa gangguan binatang buas untuk sampai ke tempat ini. Berbeda dengan kedatangannya yang pertama, sekarang ia memakai pemberat tubuh yang sangat membatasi kekuatan dan pergerakannya.


Ia masih bisa menghadapi beberapa ekor ular beracun dan berang – berang taring panjang yang menghadangnya di padang rumput. Tapi saat menghadapi serudukan 3 ekor warthog taring pedang, ia terluka cukup parah. Dengan susah payah, akhirnya ia sampai di hutan di Bukit Munggur saat matahari sudah hampir tenggelam.


Ia segera mencari pohon yang cukup besar untuk tempatnya bermalam. Ia memanjat pohon itu dan duduk di dahan pohon yang cukup tinggi. Setelah menelan pil multitonik dan pil vitalitas untuk mengobati luka dan mengembalikan tenaganya, ia   mengatur nafasnya yang memburu. Beberapa saat kemudian lukanya mulai menutup dan tenaga serta nafasnya kembali seperti semula.


Ia baru akan berbaring dan memejamkan matanya saat telinganya menangkap suara yang mencurigakan di dekatnya. Ada sesuatu yang diam – diam bergerak mendekatinya dan tubuhnya menggesek dedaunan sehingga menimbulkan suara. Pelan – pelan ia menegakkan tubuhnya dan tangannya menarik pedang dari sarungnya.


Ia mengedarkan matanya dan terkejut saat matanya tiba – tiba  melihat ada sepasang mata merah menyala di dekatnya. Sinar bulan yang menyorot di sela – sela dedaunan membuatnya tahu bahwa itu adalah musang kuning totol hitam. Tubuhnya sebesar anjing dan matanya yang berwarna merah seperti menyala saat terkena pancaran sinar bulan.

__ADS_1


Musang itu menyeringai buas. Ia memamerkan deretan gigi – giginya yang tajam dan bisa merobek dagingnya dengan mudah. Ia mendesis pelan dan merundukkan tubuhnya. Kaki depannya menekuk ke bawah saat kepalanya merunduk menempel dahan pohon. Ia mendesis keras dan meloncat cepat menerjang muka Panji!


“Kurang ajar!”


Panji yang telah mempersiapkan diri mendesis murka pada hewan yang mengganggu istirahatnya. Ia  menggerakkan tangannya dan pedangnya menebas menyongsong terjangan musang itu. Musang kuning totol hitam itu pun menjerit kesakitan dan jatuh ke tanah dengan kepala terbelah dua.


Rasa kantuk yang menyarang Panji pun menghilang seketika. Ia memejamkan matanya dan memusatkan


pendengarannya untuk mendeteksi suara yang mencurigakan di sekitarnya. Setelah beberapa lama tidak menemukan sesuatu, Panji pun mulai kelelahan. Menjelang tengah malam ia menguap beberapa kali sebelum bersandar di dahan pohon dan memejamkan matanya.


Ia membuka matanya saat mendengar suara kokok ayam hutan di kejauhan. Malam masih gelap pertanda pagi


belum menjelang. Ia akan memejamkan matanya lagi saat telinganya tiba – tiba mendengar suara mencurigakan di tanah tepat di bawah pohon tempatnya tinggal.


Ia memaksa matanya terbuka. Tangannya menggengam pedangnya erat – erat, bersiap saat ada bahaya yang menyerangnya. Ia terus menunggu tapi tidak ada yang datang menyerangnya. Ia ingin memejamkan matanya tapi tidak berani karena telinganya terus mendengar suara aneh di bawah pohonnya. Ia hanya bisa duduk pasrah dan menunggu matahari terbit untuk mengetahui sumber suara di bawah pohonnya.


Keesokan paginya Panji terbelalak saat melihat ada seekor laba – laba raksasa sedang asyik melahap bangkai musang kuning totol hitam yang dibunuhnya semalam. Laba – laba raksasa itu sangat besar. Tubuhnya berwarna coklat tua dengan kaki berwarna belang coklat dan putih. Bulu – bulunya lebat dan tebal menutupi tubuhnya.


Panji tahu binatang itu. Salah satu gurunya, Sekar, memiliki banyak buku. Salah satu bukunya membahas tentang berbagai binatang beracun dan binatang itu ada di dalam buku itu. Panji yang sering dipaksa Sekar untuk membaca dan menceritakan isi buku – buku yang dibacanya masih hafal tentang deskripsi binatang itu.


Binatang itu adalah tarantula pengembara raksasa. Binatang itu mempunyai jaring yang sangat kuat yang bisa disemprotkan dari perutnya dan dapat menyemburkan racun dari mulutnya. Ia tidak bisa memanjat pohon dan hanya bergerak memburu mangsanya di atas tanah.


Panji menunggu sampai tengah hari tetapi tarantula pengembara raksasa itu masih mondar – mandir di bawah pohon tempatnya tinggal. Rupanya ia bisa merasakan ada mangsa di atas pohon itu dan menunggu mangsanya turun.


“Pantas misi rusa totol putih harus dikerjakan oleh minimal 3 orang murid luar level 3 dan tidak ada yang mau mengambil misinya,” gumamnya pelan.  Pantas juga Ki Tanjung, Baskara dan Laksana memandangnya aneh saat tahu ia bisa menyelesaikan misi rusa totol putih di Bukit Munggur sendirian hanya dalam waktu sehari. Rupanya hanya ia yang tak tahu informasi yang berani mati mengambil misi itu.


Panji menggelengkan kepalanya saat ingat bahwa ia sangat beruntung bisa menyelesaikan misi itu dengan mudah. Kalau dulu ia bertemu dengan binatang – binatang berbahaya di sini, ia pasti tidak akan sanggup memenuhi jangka waktu yang ditetapkan Ki Puguh.


Panji tersenyum kecil sambil mengangkat busurnya pelan – pelan. Bagaimanapun juga berkat misi itu ia mendapat rekomendasi dari Ki Puguh dan dapat bertemu dengan Tim Rajawali Perak. Ia memasang anak panahnya dan membidik ke arah tarantula pengembara raksasa yang berjalan mondar – mandir di bawahnya. Ia menarik busurnya kuat – kuat dan menunggu beberapa saat sebelum melepaskan anak panahnya.


Chiiii.....


Anak panah itu melesat cepat dan menembus kepala tarantula pengembara raksasa itu. Anak panah itu menembus sampai ujungnya dan memaku laba – laba itu di tanah. Tarantula pengembara raksasa itu hanya bisa berkelojotan di tempat. Kakinya bergerak liar beberapa saat sebelum diam tak bergerak selamanya.


Panji memakai tas punggungnya dan meloncat turun ke tanah. Ia harus berburu untuk mengisi perutnya yang telah lapar sejak tadi. Ia menyusuri hutan dan bertemu dengan seekor rusa di dekat padang rumput di tepi sungai.


Ia memanah rusa itu dan menyembelihnya. Setelah mencari ranting- rantig kering yang cukup banyak, ia mencari tempat yang cukup lapang di tepi sungai dan membakar rusa itu. Baru saja ia akan menikmati daging paha rusa bakar, matanya tiba – tiba melihat kawanan dubuk tutul mendekatinya.


Tak ingin selera makannya hilang karena bau darah yang menyengat  di tubuhnya setelah bertempur, tangannya bergerak cepat mencabut pedang dan memotong paha rusa dan berlari ke arah pohon terdekat. Ia hanya bisa


menggerutu pelan saat melihat kawanan dubug tutul itu berebut daging rusa bakar buatannya tanpa perlu bersusah payah, sementara ia yang berusaha keras hanya bisa memakan sebuah pahanya saja.


Panji tersenyum kecil saat mengingat peristiwa itu. Sejak saat itu ia terus berpindah tempat mengelilingi hutan di Bukit Munggur. Setiap hari ia harus bertempur beberapa kali hanya untuk bertahan hidup dan mencari makan.


Saat malam hari ia harus mencari pohon besar untuk bermalam. Saat akan tidur pun ia harus bersiaga menghadapi sergapan binatang malam seperti ular malam, musang kuning totol hitam dan kera hantu. Bahkan ia pernah terpaksa menghindar saat seekor macan kumbang memanjat pohon di sebelahnya dengan mulut membawa kancil yang baru di burunya.


Sementara di pagi hari, ia harus berurusan dengan beberapa tarantula pengembara raksasa yang  setiap pagi selalu menunggu di bawah pohonnya. Walaupun ia selalu membunuh para tarantula pengembara raksasa itu, tapi setiap ia pindah tempat, keesokan paginya sudah ada tarantula lain yang menunggunya.


Panji menghela nafas dalam – dalam. Ia teringat saat beberapa hari pertama ia sangat menderita. Kurang tidur, kurang istirahat, makan seadanya dan tegang sepanjang hari membuat tubuhnya kelelahan. Hanya semangatnya yang tinggi dan rasa malu kalau gagal menghadapi tantangan Kakek Tua itu yang membuatnya bertahan.


Perlahan tapi pasti ia bisa menyesuaikan dirinya. Setelah hampir  selama 2 minggu berkeliling di hutan ini dan mengkonsumsi beberapa pil multitonik dan pil vitalitas, ia mulai merasa nyaman di hutan ini. Ia mulai hafal tingkah laku hewan di sini dan tubuhnya tidak terganggu oleh beban pemberat tubuhnya. Ia mulai bisa bergerak cepat dan mengeluarkan tenaga sepenuhnya.


Ia memandang sekelilingnya dan melihat bangkai 12 ekor tarantula pengembara raksasa. Ia teringat, hari ini adalah ke-14 kalinya ia bertarung dengan binatang menjijikkan itu. Hari – hari pertama bertarung jarak dekat dengan binatang itu merupakan hari penuh penderitaan baginya. Gigitan maupun cakaran kuku kaki tarantula pengembara membuatnya sulit makan. Ia tak begitu menghiraukan racunnya karena tubuhnya yang kebal racun, tapi bau racun dan darah binatang itu sangat memuakkan hidungnya. Ia berusaha mengilangkan bau itu dengan mencucinya di sungai, tapi akhirnya menyerah karena bau itu tidak juga menghilang. Akhirnya ia tahu, bau itu akan menghilang dengan sendirinya sehari setelahnya. Baru beberapa hari terakhir ini ia terbebas dari luka saat bertarung dengan binatang itu.

__ADS_1


Panji berjalan pelan ke arah sungai kecil di dekatnya. Setelah meletakkan tas punggungnya, ia membuka bajunya dan mandi pagi di sungai itu. Setelah selesai mandi, ia mencuci pakaiannya dan menjemurnya di atas batu besar. Sambil menunggu pakaiannya kering, ia duduk bersila dan memejamkan matanya. Ia mengatur nafasnya dan berusaha mengembalikan tenaganya yang hilang akibat pertarungan tadi.


Hasil latihan selama selama 2 minggu di hutan di Bukit Munggur ini sangat memuaskan Panji. Karena setiap hari ia selalu menghadapi bahaya setiap saat, tubuhnya mulai beradaptasi. Beberapa indera di tubuhnya telah meningkat tajam.


Matanya sekarang bisa melihat lebih jauh dari biasanya. Benda – benda kecil di kejauhan mulai bisa dilihatnya dengan jelas kalau ia mau memfokuskan matanya.


Telinganya mulai bisa mendengar suara di kejauhan. Bahkan suara sekecil apa pun dari jarak 40 langkah tidak luput dari telinganya.


Yang paling meningkat tajam adalah instingnya. Sekarang ia bisa merasakan ada bahaya yang mengancamnya dari jarak beberapa puluh langkah. Bahkan sekarang ia yakin bisa merasakan orang yang akan membunuhnya walau pun orang itu bersembunyi di balik dinding berjarak 30 langkah darinya.


Panji tiba – tiba membuka matanya dengan mulut tersenyum kecil. Ia segera berdiri dan meraih pakaiannya yang setengah kering. Dengan tenang, ia memakai pakaian itu sementara matanya tertuju pada padang rumput di depannya. Telinganya tadi mendengar dengking halus binatang yang sangat di kenalinya.


Setelah selesai memakai pakaiannya, ia mencabut pedangnya saat melihat beberapa kepala dubuk tutul mulai bermunculan dari semak belukar. Ia melangkah pelan menjauhi sungai dengan pedang bergetar di tangannya.


“Hey, dubuk sialan! Kenapa kalian selalu menggangguku?” desisnya tajam.


“Kemarilah! Akan kubuat kalian merasakan kematian seperti kawan – kawan kalian sebelumnya!” geramnya pelan.


Ia berdiri tegak mengamati kawanan dubuk tutul itu yang mulai menyebar mengelilinginya.


“Auuuuu......”


Salah satu dubuk tutul itu tiba – tiba melolong dan meloncat menyerangnya. Gerakannya diikuti dubuk – dubuk lainnya.


“Rasakan ini! Hyaaaaa....!”


Panji berteriak keras sambil mengayunkan pedangnya menyambut terjangan dubuk tutul itu.


“Crash!


“Nguik!”


Dubuk tutul yang menyerang paling depan itu pun hanya bisa menjerit keras saat tubuhnya terlontar dengan kepala mengucurkan darah segar. Dua ekor dubuk tutul yang menyerang berikutnya juga mengerang kesakitan saat pedang Panji yang menebas mendatar merobek kepala mereka.


Panji tak sempat melihat hasil serangannya karena ia harus meloncat tinggi untuk menghindari terjangan beberapa dubuk tutul. Ia bersalto beberapa kali dan mendarat di luar kepungan dubuk – dubuk tutul itu.


Hyaaa....!


Setelah mendarat, Panji langsung menyerang kawanan dubuk tutul  yang masih terkejut melihat mangsanya lolos dari terjangan mereka.


Crash!


Kaing!


Panji bergerak maju dengan cepat. Pedangnya melintas cepat menebas dubuk tutul yang berada di dekatnya. Jerit kesakitan susul menyusul keluar dari mulut para dubuk tutul yang terluka oleh sabetan pedangnya.


Selama beberapa hari terakhir ini ia selalu bertarung dengan dubuk tutul. Jadi, selain menghadapi tarantula pengembara raksasa,  menghadapi dubuk tutul ini seperti olahraga pagi baginya.


Tak lama kemudian, kawanan dubuk tutul itu pun kocar – kacir. Setelah sebagian besar mati tertebas pedang Panji, sisanya melarikan diri ketakutan.


“Huh! Kalian ini membuat bajuku kotor lagi,” gerutunya sambil membuka pakaiannya dan mencucinya sekali lagi. Setelah menjemurnya di atas batu besar, ia membuka tasnya dan memakai pakaiannya yang masih kering.


Ia baru saja selesai memakai pakaiannya saat telinganya yang tajam mendengar suara teriakan keras di kejauhan.

__ADS_1


“Tolong! Tolong aku!”


__ADS_2