Maaf .......

Maaf .......
Episode 21. Ajag Mata Merah


__ADS_3

“Panji.”


Sebuah suara membuat Panji tersentak kaget. Ia membuka matanya dan melihat Ki Mada, Sersan Dirga dan Kopral Parta berdiri di depannya.


“Ada apa, Panji?” tanya Ki Mada sambil duduk di depannya.


“Ki Mada, aku minta maaf sebesar – besarnya pada Ki Mada dan Desa Ringin Kembar. Aku juga minta maaf pada Sersan Dirga dan Kopral Parta,” katanya sambil menunduk dalam – dalam. Rasa bersalah yang dalam  membuatnya  tak berani memandang mereka.


“Maksudmu?” tanya Sersan Dirga heran. Ia mengerutkan keningnya melihat reaksi Panji yang tidak wajar.


“Pertempuran kali ini telah membuat kita kehilangan 7 orang. Para pengawal Desa Ringin Kembar 4 orang dan calon Sentinel 3 orang. Mereka semua meninggal karena dipimpin olehku. Aku telah gagal mendeteksi gerakan ajag ekor merah sehingga terkepung di tempat ini. Akulah yang menyebabkan mereka semua meninggal,” kata Panji pelan sambil menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Suara hampir tersekat di tenggorokannya.


“Pertempuran adalah arena pertarungan hidup dan mati. Setiap orang yang maju ke pertempuran pasti sadar kalau ia bisa membunuh atau dibunuh. Calon Sentinel Benteng Manyaran semuanya sadar akan konsekuensinya saat mereka maju kesini. Untuk itu, kau tidak usah kuatir. Mereka tidak akan menyalahkanmu,” kata Kopral Parta sambil menepuk pundaknya. Sersan Dirga menganggukkan kepalanya tanda setuju.


“Benar Panji. Para pengawal yang terpilih ikut serta kali ini semuanya sadar bahwa mereka mungkin tidak akan kembali hidup – hidup. Seluruh keluarga mereka sudah diberitahu semua kemungkinannya. Kami semua tidak akan menyalahkanmu,” kata Ki Mada pelan.


“Bahkan aku sebenarnya terkejut.  Jumlah ajag ekor merah yang kalian hadapi hampir sama dengan yang kami hadapi dulu. Bahkan mungkin sedikit lebih banyak. Tapi kau mampu membuat pasukan ini hanya kehilangan 7 orang. Dibandingkan dengan kami dulu, hasil ini sudah jauh melebihi harapan kami,” lanjutnya.


“Terima kasih Ki Mada. Aku menjadi sedikit lebih tenang mendengarnya. Tapi bagaimanapun juga hati ini masih sakit saat melihat kawan – kawan terbujur kaku karena mereka semua menuruti perintahku. Mungkin kalau mereka bergerak sendiri, mereka masih bisa berdiri sekarang,” gumamnya sedih sambil memandang tubuh kawan – kawannya yang terbujur kaku.


“Mungkin begitu, tapi mungkin juga yang terbujur kaku jauh lebih banyak. Semuanya serba mungkin. Dalam pertempuran, segala sesuatunya tidak bisa diprediksi. Semua rencana bisa berubah menyesuaikan keadaan,” kata Sersan Dirga. Ia terdiam beberapa saat sambil memandang mayat calon Sentinel yang diletakkan berjajar di padang rumput.


“Panji, itulah beban seorang pemimpin.  Seorang pemimpin harus membuat keputusan untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik walaupun   itu harus membutuhkan pengorbanan anak buahnya. Selama kau sudah berusaha sebisa mungkin untuk mencari cara terbaik dan meminimalkan korban, maka kau tidak usah sedih.  Mereka tidak akan menyalahkanmu,” lanjutnya.


“Baik Sersan. Terima kasih. Ini pertama kalinya aku memimpin pasukan, makanya aku agak syok saat melihat teman – temanku terluka bahkan terbunuh,” gumamnya pelan. Ia menghirup nafas dalam – dalam dan mengeluarkannya untuk menghilangkan beban yang menghimpit dadanya.


“Nanti kau akan terbiasa. Tapi pesanku, ingatlah perasaan saat ini baik – baik. Jangan sampai perasaan ini hilang dan kau berubah menjadi pemimpin yang tidak mempedulikan nasib anak buahmu,” kata Sersan Dirga lagi.


“Ya, Sersan.”


Mereka beristirahat cukup lama untuk mengembalikan tenaga dan mental yang terkuras. Orang – orang yang terluka parah, setelah memakan pil multitonik dan pil vitalitas, sudah mulai bisa berdiri. Seluruh luka di tubuh mereka sudah menutup dan kemampuan mereka kembali walaupun belum seluruhnya.


“Kita akan bergerak memasuki jalan itu. Tim Mahesa dan Tunjung yang masih utuh bergerak paling depan. Dibelakangnya ada timku dan  Tim Singa Gunung yang kedua. Yang lain mengikuti di belakangnya. Kalau  perkiraanku benar, kita mungkin akan mendapatkan serangan lagi, untuk itu kita akan berjalan dengan formasi seperti ini,” kata Panji. Ia membeberkan rencananya kepada seluruh ketua tim. Mereka berdiskusi selama beberapa saat sebelum semuanya mengangguk paham.


“OK, sekarang kembali ke tim kalian dan kita langsung berangkat,” kata Panji.


“Siap!”


Setelah mengatur barisan, mereka bergerak memasuki jalan yang menuju ke puncak bukit dengan busur siap tembak di tangan.


“Ada suara di belokan depan!” teriak Paksi yang pendengarannya paling tajam.


“Bersiap semuanya!” teriak Panji keras.


Mereka telah berjalan sampai pertengahan bukit saat mereka mendengar derap langkah di balik belokan jalan. Tim Mahesa dan Tunjung segera berbaris setengah berjongkok di depan. Tim Panji dan Tim 2 Singa Gunung segera berdiri dibelakangnya. Anggota tim yang lainnya mengarahkan busur condong ke atas. Tangan mereka menarik busurnya kuat – kuat.


“Mereka datang!” teriak Tunjung saat melihat puluhan ajag ekor merah bergerak menyerang mereka.


Tunjung mengatupkan giginya rapat – rapat. Jantungnya berdegup kencang saat melihat kawanan ajag itu memenuhi jalan yang sempit. Kawanan ajag itu bergerak cepat berhimpitan.


“Bagus. Sekarang, tembaaaa...ak!” teriak Panji sambil melepaskan anak panahnya.


Puluhan anak panah menerjang memenuhi jalan membentuk hujan panah yang rapat. Kawanan ajag yang tidak bisa menghindar hanya bisa melengking nyaring saat tubuh mereka tertancap anak panah. Tak berapa lama kemudian suara jeritan ajag itu pun berhenti.


Tunjung tertegun. Ia hanya menembakkan tiga anak panah, tapi karena semua anggota menembakkan anak panah, puluhan ajag ekor merah yang menyerang semuanya mati dengan tubuh tertancap anak panah seperti landak.


Ia menengok ke belakang dan tertegun saat melihat Panji tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya.


Tiba – tiba ia sadar. Panji telah merencanakan semuanya dari awal. Bentuk barisan dan pengaturan orang – orangnya adalah untuk menghadapi tipe serangan seperti kali ini.


“Mengerikan. Pantas Tim Rajawali Perak sangat menghargai anak ini,” desisnya pelan. Tak terasa keringat dingin mengalir di punggungnya.


Gilang memandang tubuh puluhan ajag ekor merah yang bergelimpangan itu dengan hati tak karuan. Semakin


lama bersama Panji, kepercayaan dirinya semakin turun. Semula ia sangat bangga dengan pencapaiannya yang tak terkalahkan di antara semua calon Sentinel. Tapi dibandingkan dengan Panji, semua pencapaiannya seperti hilang tak berbekas. Kekuatan, kemampuan dan kecerdikannya jauh diatasnya.


“Paling tidak, aku harus bisa mengambil semua ini untuk menambah pengalamanku,” desisnya pelan sambil melirik Panji dengan perasaan tak menentu.


“Ambil anak panahnya dan kita lanjutkan perjalanan!” seru Panji sambil mengayunkan tangannya.


“Siap!”


Mereka melanjutkan perjalanan setelah mencabuti semua anak panah yang tersebar di jalan dan menancap pada

__ADS_1


bangkai ajag ekor merah.


Matahari telah condong ke barat saat mereka sampai di puncak bukit.


“Akhirnya......Sampai juga kita di puncak bukit,” desah Gayatri sambil mengusap keringat yang mengalir di wajahnya.


“Untuk sampai kesini, kita telah diserang lebih dari 10 kali. Aku sampai bosan mendengar suara teriakan mereka,” gerutu Wiranata keras.  Ia benar – benar tidak menduga jumlah ajag ekor merah ternyata begitu banyak.


Singgih yang mendengarnya hanya tersenyum kecut. Mereka telah diserang berkali – kali tapi tak ada seorang pun yang terluka. Semua ajag yang menyerang mati terbunuh oleh anak panah yang mereka lepaskan. Ia tidak bisa membayangkan jika ia sendiri yang memimpin pasukan ini. Mungkin semuanya telah musnah saat menghadapi


serangan massal di padang rumput dan di bawah bukit tadi. Rasa kagum yang dalam mulai tumbuh dalam hatinya kepada Panji yang bisa mewujudkan semuanya dengan pengorbanan yang kecil.


“Sekarang kita tinggal menghadapi boss dan para pengawalnya. Kuharap mereka tidak terlalu kuat,” kata Panji sambil memandang ke arah tanah lapang di depannya. Ia menyipitkan matanya saat melihat ada beberapa ekor ajag yang berdiri di sana.


Di puncak bukit itu ada sebuah gua yang cukup besar dengan tanah lapang yang cukup lebar di depannya. Sekarang di tanah lapang itu telah berdiri sepasang ajag yang besar dengan mata merah membara. Disekelilingnya berdiri tak kurang dari 10 ekor ajag yang lebih kecil dengan mata merah menyala.


“Sepasang? Mereka sekarang ada sepasang?” gumam Ki Mada tak percaya.


“Ada apa, Ki Mada?” tanya Sersan Dirga heran.


“Dulu kami hancur hanya karena seekor ajag mata merah, sekarang mereka ada sepasang. Bagaimana mungkin!” desisnya pelan. Tubuhnya bergetar saat mengingat peristiwa pembantaian kawan – kawannya 10 tahun yang lalu.


“Itu 10 tahun yang lalu. Sekarang ia telah mendapatkan pasangannya. Mungkin yang 10 ekor itu adalah anak – anak mereka,” kata Panji pelan.


“Panji, kau dan kawan – kawanmu menghadapi yang 10 ekor, biar aku bersama Sersan Dirda dan Kopral Parta  yang menghadapi yang sepasang itu,” kata Ki Mada sambil melengkah ke depan.


“Sebentar Ki Mada. Biar kami mengetes kekuatannya dulu.”


“Maksudmu?”


Panji tidak menjawab pertanyaan Ki Mada. Ia mengayunkan tangannya dan melangkah maju bersama teman –


temannya. Mereka berpencar dengan anak panah siap di busurnya.


“Sekarang, tembaa..ak!”


Puluhan anak panah melesat menerjang ke arah sepasang ajag mata merah beserta 10 anak buahnya.


Panji terkejut saat melihat 10 ekor ajag mata merah itu bergerak menghindari hujan akan panah. Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah sepasang pemimpin ajag mata merah. Mereka tetap diam tak bergerak, tapi  anak panah


yang mengenai mereka semuanya mental tanpa meninggalkan bekas!


“Awas! Mereka bergerak menyerang!” teriak Gilang panik. Baru kali ini ia melihat ada hewan yang tidak mempan terkena anak panah.


“Kawan-kawan! Bidik mereka. Tembak dengan semua kekuatan kalian!” Panji berteriak keras sambil menarik busurnya kuat –kuat. Ia membidik ajag mata merah yang berlari mendekatinya. Ia menunggu sampai ajag itu meloncat menyerangnya sebelum melepaskan anak panahnya.


“Rasakan ini!” teriaknya.


Dziing!


“Kaing!”


Ajag mata merah itu meraung keras saat anak panah Panji memesat dan menembus batok kepalanya. Ia terlempar ke belakang dan terbanting ke tanah tak bergerak.


Panji mengedarkan pandangannya dan melihat 3 ekor ajag lainnya terbaring diam di tanah, sementara yang lainnya tetap bisa menyerang walau dengan tubuh tertancap anak panah.


Panji menghela napas lega. Ia yakin teman – temannya sanggup menghadapi 6 ekor ajag mata merah yang telah terluka.


Ia memandang sepasang ajag mata merah besar yang berdiri mantap di depan gua. Ki Mada, Sersan Dirga dan Kopral Parta berjalan mendekati mereka dengan pedang terhunus.


“Maaf Sersan Dirga. Bukan maksudku untuk meremehkan kalian. Tapi kumohon, biarkan aku menghadapi sendiri salah satu ajag mata merah itu. Ada hutang nyawa yang harus kutagih,” desis Ki Mada pelan.


“Silahkan, Ki Mada. Kami tak keberatan kok,” sahut Kopral Parta santai.


“Ki Mada, kukira aku bisa sedikit menganggur. Ternyata kau membawa kami untuk menghadapi musuh yang cukup merepotkan,” kata Sersan Dirga sambil tertawa kecil.


“Sersan, kata – katamu tidak cocok dengan ekspresimu. Paling tidak hilangkan ekspresi senangmu itu,” omel Kopral Parta yang berjalan di sebelahnya.


“Hahaha, kau juga sama. Bagaimana bisa kau mengomel dengan muka senang begitu.”


Sersan Dirga dan Kopral Parta tertawa bersama dan berjalan menuju ajag mata merah yang paling besar. Ki Mada yang mendengar perkataan mereka hanya bisa menggelengkan kepala dan berjalan menuju ajag yang lebih kecil.


Sepasang ajag mata merah itu merundukkan tubuhnya. Mereka menyalak keras dan meloncat menyerang orang – orang yang mendekati mereka. Pertempuran pun berlangsung seru.

__ADS_1


Panji memalingkan kepalanya dan mengamati teman – temannya. Ajag mata merah yang tersisa tinggal 3 ekor. Ajag – ajag itu telah terluka tapi masih bisa dengan gesit mengelak dan membalas serangan kawan – kawannya. Ia melihat 6 orang temannya tubuhnya mengeluarkan darah karena terkena cakaran maupun gigitan ajag – ajag itu.


“Jangan berkerumun! Biarkan hanya beberapa orang yang menghadapinya dengan pedang. Yang lainnya membantu dengan panah. Tembak saat ajag itu mundur menjauh!” kata Panji keras.


Beberapa orang yang mendengarnya segera mundur dan meraih busur mereka. Mereka menunggu dengan sabar di belakang teman – teman mereka yang menghadapi ajag mata merah dengan pedang. Tapi saat ada celah, mereka segera melepaskan panah mereka ke arah ajag – ajag itu. Tak butuh waktu lama sampai ketiga ajag itu roboh ke tanah.


“Aargkh!”


Sebuah teriakan keras mengejutkan Panji yang sedang mengamati teman – temannya. Ia menengok dan melihat Ki Mada terlempar ke belakang saat menangkis serangan ajag mata merah.


“Ki Mada!” teriaknya sambil berlari mendekat.


“Jangan mendekat!” teriak Ki Mada sambil meloncat berdiri.


Panji tertegun saat melihat Ki Mada. Sudut mulutnya tampak mengeluarkan darah. Beberapa bagian tubuhnya juga terluka. Pakaiannya berubah merah oleh darah yang mengalir dari luka- lukanya.


“Sialan!” rutuk Panji. Tanpa ragu – ragu ia menarik busurnya kuat – kuat dan menembakkannya ke arah ajag mata merah yang mendekati Ki Mada.


Dziing!


“Nguik!”


Ajag mata merah itu tergetar tubuhnya saat anak panah Panji menancap di tubuhnya. Ia berdiri sempoyongan dan roboh ke tanah. Tapi sesaat kemudian ia  berdiri lagi dan meraung keras ke arah Panji.


“Kemarilah!” seru Panji. Ia berdiri tegak dengan kaki terentang. Tangannya menarik pedangnya dan menggenggamnya erat –erat.


Ajag mata merah itu menggeram marah. Ia meloncat cepat dan berlari menuju ke arah Panji.


“Panji! Bahaya! Cepat menghindar!” teriak Ki Mada dengan muka pucat. Ia tak bisa membayangkan jika ajag itu berhasil menyerang Panji.


“Rasakan ini!” teriak Panji keras. Ia berputar menghindari terjangan ajag mata merah itu sambil menebaskan pedangnya sekuat tenaga searah dengan terjangan ajag itu.


“Duagh!”


Ajag mata merah itu terlempar dan jatuh tersungkur ke tanah. Tubuhnya terseret cukup jauh sampai membuat


jalur lekukan di tanah. Ia berusaha berdiri dengan susah payah sebelum melolong marah.


Panji memandang ajag mata merah itu dengan mata terbelalak. Tidak ada luka pedang di tubuh ajag itu. Ia memandang panah yang menancap di tubuh ajag mata merah itu dan Ki Mada sebentar sebelum mengangguk paham.


“Tampaknya kau sama dengan setan hitam itu,” gumamnya pelan. Ia mempererat pegangan pedangnya.


Grr!


Ajag itu menggeram marah dan meloncat menyerang. Panji menggeser tubuhnya menghindar. Tangannya dengan


cepat menusukan pedang ke tubuh ajag itu.


Ajag itu menjerit kesakitan. Kaki depannya bergerak cepat terayun ke muka Panji.


“Sialan!” Panji yang baru saja mencabut pedangnya terlambat menghindar. Ia menggerakkan pedangnya untuk menangkis samplokan ajag itu.


“Duagh!”


“Uargh!


“Panji!” Ki Mada berteriak khawatir saat melihat Panji terlempar dan bergulingan di tanah akibat menerima serangan ajag itu.


“Aku tidak apa –apa Ki Mada,” kata Panji sambil meloncat berdiri. Tangan kanannya terasa kesemutan.


“Ajag sialan. Kemarilah!” teriaknya marah.


Ajag yang kesakitan karena panah dan tusukan pedang Panji meraung marah. Ia meloncat menerjang Panji. Mulutnya terbuka lebar dengan deretan gigi tajamnya mengerah ke leher Panji.


Panji menggeser tubuhnya kesamping. Pedangnya bergerak cepat menusuk dari bawah ke arah perut lawannya.


Ajag itu menjerit kesakitan. Ia mendarat ke tanah dan langsung menerjang Panji.


Sekali lagi Panji tidak sempat menghindar. Serangan itu datangnya terlalu cepat. Ia menangkis serangan itu dan terlempar jauh dan bergulingan di tanah.


“Ugh!” Panji berdiri dengan susah payah. Ia menggertakkan giginya saat melihat ajag mata merah itu menerjangnya.


“Kemarilah!” desisnya marah.

__ADS_1


__ADS_2