Maaf .......

Maaf .......
Episode 5. Majulah !


__ADS_3

Panji Kusuma bergantian memandangi Ki Tanjung dan 2 anak muda di depannya dengan bingung.


“Ahem, maaf. Apa maksud Ki Tanjung?” tanya salah seorang anak muda itu setelah ia memandang Panji Kusuma.


“Oh, ya, aku lupa. Perkenalkan. Ini namanya Panji Kusuma,” kata Ki Tanjung. “Panji Kusuma, ini adalah Laksana dan Baskara. Tim mereka sedang kekurangan orang untuk menyelesaikan suatu misi,” lanjutnya.


“Ki Tanjung, kami memang kekurangan orang, tapi tidak sembarang orang bisa masuk tim kami. Ki Tanjung tentu paham karakter teman – teman kami,” kata anak muda yang bernama Laksana.


“Aku tahu, makanya ia aku masukkan ke tim kalian,” sahut Ki Tanjung cepat.


“Tapi Ki Tanjung,misi kami adalah misi ranking C, sedangkan ia hanyalah murid cadangan,” protes Laksana pelan. Ia ingin menolak tapi bagaimanapun juga ia harus menghargai Ki Tanjung yang seorang Kepala Bagian Misi.


“Sebentar Laksana. Lebih baik kita tanya dulu kepada orangnya,” sela Baskara.


“Panji Kusuma, berapa levelmu sekarang?” katanya sambil memandang Panji Kusuma dengan pandangan menyelidik.


“Masih level 2,” jawab Panji Kusuma jujur.


“Apakah kau sebelumnya pernah ikut misi?”


“Belum pernah.”


“Belum? Satu kalipun belum pernah? Bahkan misi ranking E pun belum?”


“Belum pernah.”


“Ki Tanjung, ini…..” Baskara menoleh kearah Ki Tanjung dengan pandangan takpercaya. Laksana yang duduk di dekatnya hanya bisa mengangkat pundak sambil menggelengkan kepalanya tak berdaya.


“Kalau Panji Kusuma hanya seorang murid cadangan biasa, aku adalah orang yang pertama kali menolaknya. Kalian kan tahu sifatku,” kata Ki Tanjung sambil tersenyum.


Laksana dan Baskara mengangguk pelan. Mereka tahu Ki Tanjung adalah orang yang tegas dan tidak membeda – bedakan murid. Ia akan menolak murid yang tidak memenuhi syarat, tak peduli siapapun orangnya dan apapun latar belakangnya.


“Kalian tidak bertanya apakah ia punya rekomendasi?” tanya Ki Tanjung pelan sambil melambaikan secarik kertas di tangannya.


“Ah,benar. Kenapa  aku sampai lupa?” gumam Laksana sambil menepuk jidatnya.


“Panji Kusuma, apakah kau punya rekomendasi?” lanjutnya.


“Ya, ada,” jawab Panji Kusuma pelan. Ia masih belum bisa membaca arah pembicaraan ketiga orang di depannya.


“Siapa yang merekomendasikanmu?” selidik Baskara. Ia penasaran dengan Panji Kusuma. Seorang murid cadangan level 2 tapi bisa membuat Ki Tanjung mau menawarkannya ke timnya.


“Ki Puguh.”


“Ki Puguh? Ki Puguh yang mana?” seru Laksanasetelah mendengar jawaban Panji Kusuma.


“Ki Puguh kau bilang? Ki Puguh yang Kepala Dapur Perguruan?” sela Baskara keras.


“Memang ada Ki Puguh yang lain?” tanya Panji Kusuma bingung.


Baskara dan Laksana terdiam beberapa saat. Mereka saling memandang dan melirik Panji Kusuma dengan pandangan aneh.


Panji Kusuma mengerutkan keningnya heran. Hari ini ia telah mendapatkan pandangan seperti itu dari Ki Tanjung.


‘Apakah Ki Puguh menipuku?’pikirnya cemas.


“Ki Tanjung, apakah benar perkataan anak ini?” kata Baskara pelan.


‘Jika benar anak ini direkomendasikan Ki Puguh, mungkin anak ini bukan anak biasa. Tapi kenapa ia masih murid cadangan?’ pikirnya heran.


“Kalian baca saja sendiri,” kata Ki Tanjung sambil menyerahkan kertas kecil yang dipegangnya sejak tadi.


Laksana dan Baskara memeriksa rekomendasi itu dengan teliti. Mereka melihat ada nama Ki Puguh dan tanda tangannya di bagian bawah. Mereka pun membaca isi rekomendasi itu dan terkejut.


“Kau…. Kau bisa menyelesaikan misi rusa totol putih seorang diri?” kata Baskara sambil memandang Panji Kusuma dengan pandangan tak percaya.


“Oh..., itu. Aku memang berburu seekor rusa totol putih sesuai pesanan Ki Puguh kemarin. Apakah ada yang aneh?” tanya Panji Kusuma heran. Ia tidak merasa ada sesuatu yang aneh dengan pesanan itu.


“Rusa totol putih di sekitar sini hanya ada di Bukit Munggur yang cukup berbahaya karena banyaknya hewan berbahaya disana. Itu adalah misi ranking D yang harus dikerjakan minimal oleh murid luar level 3 dengan jumlah minimal 2 orang. Panji Kusuma bisa menyelesaikan itu dalam waku sehari,” sahut Ki Tanjung sambil tersenyum.


“Ah…” Panji Kusuma terkejut mendengar penjelasan Ki Tanjung. Rupanya ia telah menyelesaikan misi yang harus dikerjakan oleh 2orang murid luar. Tak heran Baskara dan Laksana memandangnya tak percaya.


“Bagaimana? Ia memenuhi syarat kan?” tanya Ki Tanjung.


“Ini…. ini… “ Laksana kesulitan untuk menjawab pertanyaan Ki Tanjung.


“Ehm…, begini saja. Ki Tanjung tentu tahu teman – teman kami. Biarlah Panji Kusuma kami perkenalkan kepada mereka. Biarlah teman – teman kami yang memutuskannya,” Baskara yang merasa tidak bisa menolak, tapi juga tidak bisa memutuskan, akhirnya mengambil jalan tengahyang paling aman bagi mereka.


“Baiklah, kalian bawa dia ke tempat kalian. Ingat, jangan keterlaluan!” kata Ki Tanjung tajam.


“Baik Ki Tanjung,” kata Baskara sambil tersenyum pahit.


“Panji Kusuma, aku sudah membantu sebisaku. Sekarang terserah padamu untuk bisa membuat mereka percaya,” kata Ki Tanjung sambil menoleh pada Panji Kusuma.


“Baik Ki Tanjung. Terima kasih atas bantuannya,”kata Panji Kusuma sambil mengatupkan kedua tangan di depan dadanya sebelum melangkah keluar ruangan.

__ADS_1


Laksana dan Baskara membawa Panji Kusuma keluar ruangan Bagian Misi. Mereka menyusuri jalan sampai di pintu gerbang perguruan. Mereka berbelok dan menyusuri dinding perguruan sampai di sebuah lapangan rumput di tepi hutan.


Di lapangan rumput itu tampak 7 orang sedang berlatih bela diri. Orang – orang itu menghentikan latihan mereka saat melihat Baskara, Laksana dan Panji Kusuma mendekat.


“Baskara, apakah kau dipanggil Ki Tanjung karena orang ini?” tanya seorang anak muda yang bertubuh tinggi tegap kepada Baskara. Tangannya memegang sebatang pedang panjang. Tampaknya ia adalah pemimpin kelompok ini.


“Ya, Mahesa. Namanya Panji Kusuma. Ki Tanjung meminta kita memasukkannya kedalam tim kita,” kata Baskara pelan.


“He.. bukankah ia masih murid cadangan?” tanya seorang anak muda yang berdiri di dekat Mahesa. Ia juga bertubuh tinggi tegap dan menyandang pedang panjang.


“Benar. Ia masih murid cadangan,” sahut Baskara sambil menghela nafas pelan.


“Berapa levelnya sekarang?” tanya gadis yang berambut panjang berekor kuda yang berdiri di dekat Mahesa.


“Masih level 2,” sahut Baskara sambil memejamkan matanya. Ia memijat kepalanya yang mulai pening. Ia sudah menduga pertanyaan – pertanyaan itu akan keluar dari teman – temannya. Dan ia juga sudah bisa menduga reaksi teman – temannya terhadap Panji Kusuma.


“Level 2? Yang benar?” kata gadis itu sambil menutup mulutnya terkejut.


“Level 2? Bisa apa dia! Apa – apaan ini Baskara!” kata seorang anak muda yang bertubuh tinggi kurus dengan wajah murka.


“Masa kau dan Laksana mengurus seperti ini saja tidak bisa? Apa kau lupa peraturannya?” serunya marah.


“Brengsek kau Wiranata! Kau yang tidak ikut kerja tidak berhak berkata seperti itu! Apa kerjamu selama kami pontang panting mencari anggota baru!” teriak Baskara murka.


Mahesa mengerutkan keningnya. Baskara dan Laksana termasuk orang yang teliti. Mereka tidak akan sembarangan membawa orang biasa ke tim mereka. Ia merasa ada sesuatu yang aneh saat melihat Laksana yang masih bisa tersenyum melihat pertengkaran Baskara dan Wiranata.


“Laksana, sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya pelan.


“Mahesa, bukankah kita punya peraturan khusus untuk penerimaan murid baru?” kata Laksana sambil tersenyum.


“Maksudmu?”


“Biarlah 3 atau 4 orang diantara kita menguji kekuatan anak ini. Kalau ia bisa mengalahkannya atau setidaknya imbang, bukankah kita tidak bisa menolaknya?”


“Apa kau yakin? Dia hanya level 2,” kata Mahesa sangsi.


“Kita coba saja. Tidak ada  salahnya,kan?” kata Laksana sambil tertawa gembira.


“Baiklah,” kata Mahesa sambil mengerutkan keningnya.


“Panji Kusuma, apakah kau mau bertanding dengan beberapa orang diantara kami? Tapi kami yang akan menentukan lawanmu. Kalau kau menang atau imbang, kau bisa masuk menjadi anggota kami,” kata Mahesa


pelan.


“Baik,” jawab Panji Kusuma singkat. Jika ia harus membuktikan diri dengan bertarung maka apaboleh buat, pikirnya.


Wiranata dan Baskara yang sedang bertengkar terdiam mendengar jawaban Panji Kusuma.


“Giliran pertama, Wiranata,” kata Laksana.


“Kenapa aku?” sahut Wiranata cepat.


“Bukankah kau yang tadi tidak percaya padanya?” kata Laksana sambil tersenyum.


“Tapi…”


“Oh, kau tidak berani?” sahut Laksana cepat.


“Kurang ajar kau Laksana! Baik! Aku akan melawannya. Jangan menyesal kalau ia terluka


saat melawanku,” seru Wiranata marah.


“Kita tidak tahu siapa yang akan melukai siapa kalau pertarungan ini belum selesai,kan? Kau tidak bisa


mengalahkannya dengan hanya marah – marah disitu,” kata Laksana.


“Kurang ajar kau, Laksana! Hey, kau! Kemari!” Wiranata yang tidak bisa menahan amarahnya menunjuk kearah Panji Kusuma  untuk maju ke tengah lapangan rumput.


“Siapa maksudmu? Aku?” tanya Panji sambil menunjuk mukanya sendiri.


“Tentu saja kau! Memangnya siapa yang akan diuji?” teriak Wiranata marah.


Panji Kusuma yang tidak bisa mengelak hanya mengangkat pundaknya acuh dan berjalan ke arah lapangan rumput. Tingkah laku Panji Kusuma semakin mengobarkan amarah di hati Wiranata.


“Bersiaplah!” teriaknya saat melihat Panji Kusuma hanya berdiri acuh tak acuh di depannya.


“Aku sudah siap dari tadi,” jawab Panji Kusuma pelan. “Kau tidak usah teriak – teriak seperti itu. Kupingku masih sehat,” lanjutnya.


“Kau…! Kurang ajar…!” teriak Wiranata marah.


“Hyaaa……!”


“Duagh!”


“Uhuk…”

__ADS_1


Mahesa dan yang lainnya melongo melihat Wiranata terbang dan jatuh berguling – guling di tanah.  Mereka tidak mengira saat serangan pertama, Wiranata langsung terpental jauh terkena serangan lawannya.


Rupanya dalam kemarahannya, Wiranata  langsung menyerang Panji Kusuma dengan pukulannya. Panji Kusuma, yang tahu Wiranata sedang lengah karena marah, menyambutnya dengan tendangan ke arah dadanya. Wiranata


yang tidak siap pun langsung terpental mencium tanah.


Wiranata terbaring dengan muka tak percaya. Punggung dan dadanya yang sakit menunjukkan bahwa ia telah terkena serangan lawannya. Marah karena malu, ia memaksa tubuhnya bangkit.


“Uhuk… kurang ajar kau,” desisnya.


Ia menyerang Panji Kusuma dengan sekuat tenaganya. Tapi rasa sakit di dadanya membuat gerakannya melambat. Panji Kusuma pun dengan mudah bisa menghindari serangannya.


“Menyerahlah,” desis Panji Kusuma setelah ia mengelak serangan Wiranata untuk yang kesekian kalinya.


“Kurang ajar kau!” geram Wiranata marah.


“Kau memang harus dihajar,” kata Panji Kusuma yang mulai hilang kesabarannya.


Kedua tangannya bergerak menyambut serangan Wiranata. Satu tangan menangkis sementara tangan lainnya langsung menyerang kearah muka Wiranata. Saat kepala Wiranata tersentak kebelakang, kedua tangannya bergerak cepat melepaskan pukulan kearah dada dan perut lawannya.


Wiranata yang terkena pukulan beruntun lebih dari 10 kali pun terlempar dan jatuh terjerembab di tanah. Pingsan.


“Itu…. Bukankah pukulan beruntun itu mirip dengan milikmu, Paksi?” tanya Mahesa heran.


“Yeah… anak itu juga bisa pukulan cepat rupanya. Ini menarik,” kata anak muda berkulit coklat sambil tersenyum senang. “Kalau begitu, selanjutnya giliranku,” katanya riang.


Panji Kusuma yang mendengar percakapan mereka hanya bisa mengangkat bahu saat anak muda bernama Paksi itu melangkah riang kearahnya.


“Halo, namaku Paksi. Sekarang giliranku yang menjadi lawanmu. Apakah kau ingin istirahat?” katanya ramah.


“Tidak perlu,” jawab Panji Kusuma singkat.


“Baiklah. Sekarang kita beradu kecepatan. Pukulan atau tendangan siapa yang lebih cepat,” katanya sambil memasang kuda – kuda.


“Majulah,” sahut Panji Kusuma. Kedua tangannya mengepal dan berada di depan tubuhnya. Ia bisa merasakan Paksi ini lebih tenang dan lebih kuat dari Wiranata.


“Hiyaaa……!”


Paksi menyerang dengan pukulan cepat ke arah muka. Panji Kusuma menangkisnya dengan tangan kirinya bersamaan dengan tangan kanannya bergerak menyerang lurus ke arah kepala Paksi.


Paksi mengelak dengan menggeser kepalanya ke samping, tapi ia tak menduga tangan kanan Panji Kusuma berubah menjadi menyamping menyapu belakang kepalanya.


“Bagus,” seru Paksi gembira. Tangan kanannya bergerak menangkis sapuan tangan Panji Kusuma.


Duagh!


Benturan keras terjadi saat kedua tangan itu bertemu. Keduanya terhenti sesaat sebelum bergerak dengan sama cepatnya. Kedua tangan dan kaki mereka bergerak menyerang, menangkis dan menghindari serangan lawannya.


Tak terasa mereka telah bertukar pukulan puluhan kali dan belum ada satu pun serangan mereka yang mengenai sasaran.


“Tak kusangka anak itu bisa mengimbangi kecepatan Paksi,” desis gadis berekor kuda itu sambil menutup


mulutnya.


“Ya. Serangan Paksi tak ada satu pun yang mendarat di tubuhnya. Laksana, siapa anak itu sebenarnya?” tanya gadis yang berambut sebahu pada Laksana yang berdiri di dekatnya.


“Aku juga baru bertemu dengannya hari ini,” kata Laksana sambil mengangkat bahu tak berdaya. Ia pun sama terkejutnya dengan yang lain.


Sementara itu, Panji Kusuma yang merasa sudah cukup bermain – main dengan Paksi mulai merubah gerakannya. Ia yang selama ini menangkis dan menghindar mulai menghadapi langsung serangan Paksi.


Setiap pukulan dan serangan Paksi dihantam dengan gerakan serupa. Pukulan dengan pukulan, tendangan dengan tendangan, kekuatan dengan kekuatan.


Duagh!


Buagh!


Duagh!


Benturan pukulan dan tendangan terjadi berturut – turut. Paksi yang tidak siap pun terkejut dan meloncat ke belakang.


“Cukup, cukup. Aku mengaku kalah,” ujarnya sambil mengibaskan kedua tangannya yang terasa sakit. Ia melihat kedua tangan dan kakinya memerah dan hanya bisa meringis kesakitan.


“Kau sama ganasnya seperti Prakosa. Aku tidak mau melawanmu,” desisnya pelan.


“Hahaha…. hebat, hebat. Berarti sekarang giliranku,” kata anak muda disamping Mahesa sambil tertawa keras.


“Dasar maniak. Ternyata anak itu sama sepertimu,” gumam Paksi sambil berjalan menjauh.


“Prakosa, dia hanya level 2,” kata Mahesa mengingatkan.


“Aku tahu,” Prakosa mengangkat tangannya sambil berjalan ke depan. Mulutnya tersenyum senang saat ia memandang Panji Kusuma.


“Ha...aah, apa dia benar – benar tahu. Yang kulihat hanya mata maniak yang menemukan kawan sejenisnya,”


desah Mahesa sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Gadis berekor kuda di sebelahnya hanya tertawa kecil mendengarnya. Siapapun di tim ini sangat paham karakter Prakosa yang maniak bertarung. Tampaknya pertarungan kali ini akan sangat seru, pikirnya.


__ADS_2