
“Matilah kau!” kata Panji. Tangannya bergerak cepat mencabut pisau belati di pinggangnya dan melontarkannya ke arah muka orang itu.
Orang yang bertolak pinggang itu hanya mengernyitkan keningnya dan bibirnya menyungging senyum sinis.
“Dasar bodoh!” katanya. Dengan santainya ia menggerakkan tubuh bagian atasnya ke samping dan pisau itu
melesat tipis di dekat hidungnya. Baru saja ia kembali ke posisi semula dan akan mengejek Panji, matanya melihat sebuah pisau belati lain telah terlontar dari tangan Panji dan mengarah ke perutnya. Ia berusaha sekuat tenaga menghindar tapi pisau itu melesat terlalu cepat dan ia berdiri terlalu dekat dengan Panji.
Jleb!
“Augh!”
Jleb!
“Argh!”
Orang itu terdorong selangkah ke belakang dan membungkuk kesakitan saat pisau belati itu menghunjam ke dalam
perutnya. Ia hanya bisa terpana saat melihat Panji melontarkan pisau ketiga yang meluncur deras dan menghunjam dalam ke dahinya.
“Bajra!”
Temannya yang berjalan mendekat terkejut melihat Bajra terpelanting kebelakang dengan dahi tertancap belati. Ia meloncat maju ke depan dan menangkap tubuh yang hampir jatuh itu. Ia tidak siap saat sudut matanya melihat sebuah bayangan kecil melesat ke arahnya.
Jleb!
“Ugh!”
Jleb!
“Argh!”
Orang itu tidak jadi menangkap tubuh Bajra. Instingnya yang tajam membuatnya langsung meloncat cepat ke samping. Tapi pisau belati itu meluncur terlalu cepat dan sempat menancap di pundaknya. Ia pun tersentak ke belakang akibat tenaga benturan. Belum sempat ia menstabilkan tubuhnya, ia melihat pisau lawannya telah terlontar cepat ke dadanya.
“Huh! Kalianlah yang bodoh,” desis Panji dengan nafas memburu. Ia telah melontarkan kelima pisau belatinya dengan sekuat tenaganya.
Saat orang pertama mendekat dan berani berkacak pinggang di dekatnya padahal orang itu tahu di pinggangnya ada 5 buah belati, ia tahu orang itu telah sering berhadapan dengan lontaran belati atau panah. Bibi gurunya, Sekar, sering mempraktekkan gerakan menghindari belati yang dilontarkannya. Jadi, sedikit banyak, ia hafal beberapa gerakannya.
Belati yang ia lontarkan pertama adalah pancingan supaya ia menghindar ke samping, sehingga ia percaya diri dan lengah saat ia mengincar perutnya dan membunuhnya dengan lontaran belati ketiga. Untuk orang kedua, ia hanya memanfaatkan keterkejutan orang itu sehingga dua belatinya sudah cukup untuk menghabisinya.
Panji berjalan pelan dan bersandar ke dinding gua. Ia memejamkan matanya dan mengatur nafasnya yang memburu tidak karuan. Ia mengambil sebutir pil vitalitas dan menelannya. Beberapa saat kemudian bersamaan dengan nafasnya yang mulai teratur, tenaganya juga mulai pulih kembali.
“Huff..., 2 orang ini kemampuannya berbeda dengan yang lainnya. Mungkin orang – orang yang tersisa pun kemampuannya sama atau bahkan lebih tinggi dari kedua orang ini,” desah Panji sambil mengamati 2 buah mayat di dekatnya. Ia melangkah mendekat dan mencabut kelima buah belatinya. Setelah membersihkan darahnya, ia memasukkannya ke sarungnya di ikat pinggangnya.
Ia melangkah lagi menyusuri gua. Setelah berjalan beberapa saat, sampailah ia di sebuah pintu yang tertutup rapat. Di balik pintu itu ia mendengar gelak tawa beberapa orang dan juga isak tangis perempuan.
Tangannya mendorong sedikit pintu itu supaya ia bisa mengintip ke dalam. Apa yang dilihatnya membuat mukanya memerah dan darahnya mendidih.
Di dalam ruangan itu ada 5 orang lelaki yang sedang mengobrol sambil memegang minuman. Muka mereka memerah dan kata – kata yang keluar sudah kacau tidak karuan tanda mereka mulai mabuk. Di dekatnya, Panji melihat beberapa orang perempuan yang memegang tempat minuman dengan tubuh menggigil ketakutan. Air mata tampak membasahi muka mereka. Pakaian mereka pun berantakan dan robek di beberapa tempat.
Panji memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya yang mulai terpancing emosinya. Ia sudah bisa menduga bahwa perempuan – perempuan itu adalah korban dari Brigade Tengkorak Darah. Ingatan peristiwa 10 tahun lalu pun otomatis terbayang di kepalanya.
“Brigade Tengkorah Darah! Kalian memang pantas mati!” geramnya dengan tangan terkepal erat.
Ia menggertakkan giginya dan mengambil busur serta anak panahnya. Tanpa membuang waktu, ia menendang
pintu itu dan langsung menyerbu masuk. Anak panahnya langsung melesat dan menembus punggung orang terdekat yang membelakanginya.
Braak!
Dzing! “Argh!
“Aaaaaah!”
Orang itu tersentak ke depan dan menjerit kesakitan. Perempuan yang ada di ruangan itu pun serentak menjerit ketakutan dan saling berhimpitan di sudut ruangan.
Panji melemparkan busurnya dan kedua tangannya bergerak cepat meraih sepasang belati pendeknya. Ia melontarkan keduanya ke arah 2 orang lain yang masih duduk terpaku melihat teman mereka jatuh dengan punggung tertembus anak panah.
Jleb! “Uargh!”
Jleb! “Uagh!”
__ADS_1
Kedua pisau itu melesat cepat dan menembus dada 2 orang yang masih duduk terpaku. Dua orang yang tersisa langsung tersadar ada bahaya mendekat. Mereka meloncat dari kursi mereka dan tangannya langsung meraih
pedang mereka masing – masing.
Panji yang marah tidak memberi mereka kesempatan. Tangan kanannya langsung mencabut pedangnya dan
meloncat menebas orang keempat yang masih berdiri sempoyongan. Orang itu tidak sempat menghindar dan hanya bisa berteriak saat pedang Panji menebasnya putus perutnya. Tubuhnya langsung jatuh dan terpisah dua. Perempuan di ruangan itu pun menjerit sekali lagi saat menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu.
Orang yang terakhir yang menyaksikan keempat kawannya terbunuh langsung menggelengkan kepalanya untuk mengurangi rasa pusing di kepalanya. Dengan tubuh sempoyongan, ia menggeram pelan dan melangkah maju. Pedangnya berkelebat cepat menyerang Panji.
Trang!
Tang!
“Argh!”
“Aaaa....h!”
Panji menangkis ayunan pedang itu dengan sekuat tenaganya. Orang yang sedang mabuk itupun hanya bisa
mempertahan pedangnya sekali dan pada ayunan yang kedua, pedangnya terlepas dari genggamannya. Saat ia tertegun, pedang Panji sudah berkelebat cepat membelah tubuhnya. Sekali lagi, perempuan yang ada di ruangan itu menjerit ketakutan.
Mereka menggigil ketakutan dan berhimpitan di sudut ruangan saat Panji menatap mereka dengan pedang terhunus.
Terkejut melihat reaksi mereka, Panji segera menyarungkan pedangnya dan membuka penutup kepalanya.
“Jangan takut. Aku tidak akan membunuh kalian. Tenanglah,” katanya pelan.
Para perempuan itu terkejut saat melihat wajah Panji yang masih muda. Mereka menghentikan tangisnya saat melihat Panji tidak memegang pedang lagi. Kata – kata Panji sedikit banyak mulai masuk ke kepala mereka. Panji menghitung dan ternyata mereka berjumlah 7 orang.
“Apakah kalian tahu ada orang yang di tawan di gua ini?” kata Panji pelan.
Para perempuan itu saling berpandangan. Salah seorang yang paling berani menganggukkan kepalanya.
“Jadi benar ada yang ditawan di gua ini. Kalian tahu tempat mereka di tawan?”
Perempuan itu mengangguk sekali lagi. Tangannya menunjuk ke arah sebuah pintu di samping ruangan itu.
“Kalian tunggu disini. Aku akan membebaskan tawanan itu dulu. Nanti kita akan keluar dari gua ini bersama – sama,” kata Panji.
Panji memperhatikan deretan rak senjata itu dengan penuh minat. Ia mengambil sebuah pedang dan mencabutnya dari sarungnya. Ia melihat sekilas dan menduga setidaknya itu pedang level 4. Hanya saja tidak terdapat batu khusus di hulu pedangnya.
Hampir saja ia membuang pedang itu. Tiba – tiba ia teringat janjinya pada Tim Rajawali Perak dan Tim Singa Gunung. Mereka semua memesan sebuah pedang padanya. Tanpa pikir panjang, ia meraih pedang itu dan sambil berjalan ia mengumpulkan pedang yang ada di rak senjata. Ia menghitung sebanyak 19 buah dan tak menghiraukan sisanya.
Ia terus berjalan dan sampailah ia di ujung lorong itu dan menjumpai ada sebuah ruangan yang tertutup jeruji besi. Ia menaruh tumpukan pedangnya dan mengambil kunci yang tergantung di dinding dan membuka jeruji itu. Di dalamnya, ia melihat ada sekiar 26 orang yang sebagian besar dalam kondisi terluka.
Mereka memandang Panji dengan heran karena tidak menduga ada orang yang mau membuka jeruji besi itu.
“Aku akan membebaskan kalian semua. Siapa saja yang ingin keluar dari gua ini bisa pergi bersamaku,” kata Panji tenang.
Mendengar perkataan Panji semua orang berteriak gembira. Sebagian bahkan menangis haru karena mereka sempat mengira akan mati di tempat ini.
Panji melangkah masuk dan membagikan pil vitalitas pada semua orang dan pil multitonik pada yang terluka.
“Telanlah pil itu. Itu akan membantu mempercepat pemulihan tubuh kalian. Kita masih harus berjalan jauh keluar dari hutan untuk bisa mencapai kota terdekat. Jadi tubuh kalian harus sehat,” katanya.
Mereka semua menurut. Mereka menelan pil - pil itu dan duduk dengan tenang sambil merasakan tubuhnya mulai membaik dengan cepat. Beberapa saat kemudian orang – orang itu pun mulai berdiri dengan tubuh yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
“Kalian ambil senjata yang ada di lorong. Siapa tahu kita membutuhkannya nanti dalam perjalanan ke kota terdekat,” kata Panji sambil menunjuk ke luar ruangan.
Sambil berjalan menyusuri lorong, semua orang itu memilih senjata yang sesuai dengannya. Mereka berjalan dan akhirnya sampai ke ruangan tempat ke tujuh perempuan itu di sekap.
Ternyata ketujuh perempuan itu adalah istri dan anak dari rombongan lelaki yang di sekap di dalam. Mereka saling berpelukan dan menangis bersama. Panji yang melihat itu hanya bisa terdiam dan menunduk.
“Siapa diantara kalian yang bernama Ki Danapati?” tanya Panji setelah terdiam beberapa saat.
“Aku, anak muda. Akulah Ki Danapati,” kata seorang lelaki setengah tua yang masih terlihat tampan. Tubuhnya sedang dan ia memegang sebuah pedang di tangan kanannya.
“Nyi Danapati menunggumu di luar gua,” kata Panji.
“Apa? Anak muda, apakah istriku selamat? Apakah benar perkataanmu?” kata Ki Danapati dengan muka tak
__ADS_1
percaya.
“Ya, Ki. Istrimu selamat. Ia bersamaku menyerbu ke tempat ini. Ia sekarang menunggumu di luar,” kata Panji sambil tersenyum.
“Syukurlah. Aku kira ia tidak selamat karena di kejar oleh orang – orang itu,” kata Ki Danapati dengan mata berkaca – kaca.
“Yang Maha Agung masih melindunginya, Ki,” kata Panji tenang.
“Sebenarnya, siapa namamu anak muda?” tanya Ki Danapati.
“Panji, Ki. Panji Kusuma.”
“Panji, aku mewakili semua yang ada disini mengucapkan terima kasih kepadamu karena telah membebaskan kami semua. Kami semua berhutang nyawa padamu. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas semua budi baikmu ini,” kata Ki Danapati dengan terbata – bata.
“Sudahlah, Ki Danapati. Aku kesini juga sebagian karena punya dendam pada Brigade Tengkorak Darah. Jadi
tidak perlu sungkan begitu. Yang penting sekarang kita bisa pergi dan keluar dari tempat ini,” kata Panji sambil tersenyum.
“Oh, ya. Benar. Kita harus segera pergi dari tempat ini. Tadi sambil mabuk orang – orang ini bilang angota yang pergi ke kota akan kembali besok. Kita harus pergi secepatnya dari sini kalau tidak ingin tertangkap lagi,” kata salah seorang perempuan yang tadi menemani anggota yang mabuk. Perempuan yang lain juga mengangguk setuju.
“Kalau begitu, kita harus pergi secepatnya dari gua ini. Tapi sebelum itu, kita harus mengurangi harta yang telah
dikumpulkan Brigade Tengkorak Darah. Setidaknya itu bisa mengurangi jumlah kerugian kalian, bukan?” kata Panji sambil melangkah keluar ruangan. Yang lain hanya saling berpandangan dan mengikuti langkah Panji.
Mereka melangkah menuju ruangan yang oleh Brigade Tengkorak Darah digunakan sebagai gudang senjata. Semua orang terbelalak kaget saat melihat banyak benda berharga dan perhiasan yang bertumpuk – tumpuk di ruangan itu. Mereka ingin menyerbu dan mengambil tumpukan harta itu tapi ragu – ragu. Hampir semua orang memandang Panji untuk meminta persetujuan.
“Ini adalah harta rampasan Brigade Tengkorak Darah. Kalian bisa mengambilnya tapi jangan terlalu rakus,” kata Panji tenang. Ia melangkah ke depan dan mengambil beberapa perhiasan dan memasukkannya ke dalam tas pinggangnya.
Semua orang langsung mengangguk dan berlarian mengambil barang –barang yang ada di ruangan itu. Panji melihat Ki Danapati hanya mengambil beberapa perhiasan dan mengumpulkan beberapa buah peti yang berlogo kuda terbang. Beberapa orang yang berpakaian berlogo kuda terbang pun hanya mengambil barang seperlunya saja sebelum membantu Ki Danapati. Panji menganggukkan kepalanya melihat tingkah laku mereka. Tapi ia mengerutkan keningnya setelah melihat beberapa orang berusaha mengambil barang sebanyak – banyaknya, bahkan sampai berebutan.
“Perhiasan yang ada disini itu memang barang berharga yang bisa di jual mahal. Tapi kalau kalian membawanya terlalu banyak akan menarik perhatian orang lain. Kalau kalian tidak punya kekuatan untuk mempertahankannya, nyawa kalian bisa melayang dan perhiasan itu akan berpindah ke orang lain,” kata Panji. Suaranya yang cukup jelas menghentikan gerakan orang – orang yang sedang berebutan. Mereka menunduk malu dan mulai mengeluarkan barang – barang yang tidak bisa mereka sembunyikan.
“Ki Sanca, gelang ini aku yang mengambilnya. Kenapa sekarang kau minta aku menyerahkannya padamu?”
teriakan seseorang di belakangnya mengejutkan Panji.
Ia menengok dan melihat 2 orang sedang bertengkar memperebutkan sebuah gelang emas.
“Bukankah kau salah seorang yang bertugas mengawalku? Kau telah gagal dan aku juga rugi besar. Wajar jika aku meminta gelang itu untuk menebus kerugianku,” teriak seorang laki – laki brewok yang bertubuh gendut.
“Siapa itu?” tanya Panji heran.
“Itu Ki Sanca. Salah satu anggota rombonganku. Dia termasuk orang yang sulit diatur. Maunya menang sendiri. Kami sudah kewalahan menghadapinya,” gumam Ki Danapati sambil menggelengkan kepalanya pelan.
“Ki Sanca, kau bahkan belum membayar ongkos pengawalan. Kau tidak berhak berkata seperti itu kepadaku. Teman – temanku banyak yang mati. Aku membutuhkan harta ini untuk menyantuni anak istri mereka,” kata pengawal muda itu degan muka merah.
“Aku tidak peduli. Pokoknya serahkan gelang itu atau aku akan memecatmu sekarang!,” teriak Ki Sanca Lagi.
“Sudahlah Ki Sanca, bukankah masih ada barang yang lain? Silahkan ambil dan kita pergi dari sini,” kata Panji yang berusaha melerai pertikaian itu.
“Diam kau bocah! Ini bukan urusanmu! Apa kau tidak tahu kalau aku rugi besar kali ini?” bentak Ki Sanca dengan muka melotot pada Panji yang melengak heran.
“Ki Sanca, bukankah barangmu itu paling sedikit diantara kami? Ki Danapati yang rugi paling besar saja tidak berteriak tidak karuan seperti kamu?” tegur temannya dengan muka tak senang.
“Diam kau! Pokoknya aku tidak mau rugi. Aku mau gelang itu. Pengawal ini tidak bisa mengawal barangku dengan baik. Makanya ia harus menyerahkan gelang itu padaku atau ia akan kupecat sekarang juga,” teriaknya keras kepala.
Duagh!
“Uhuk!”
Panji yang telinganya mulai gatal tidak bisa membiarkan pertengkaran itu berlangsung terus. Ia mendekati Ki Sanca dan langsung menendang dadanya dengan keras. Ki Sanca yang tidak siap terlempar dan bergulingan ditanah sebelum berhenti karena menabrak dinding gua.
“Bangsat kau! Apa hakmu melarangku.....”
Jleb!
Ki Sanca berusaha bangun dengan susah payah. Ia berteriak marah pada Panji. Tapi teriakannya terhenti saat sebuah belati melesat cepat dan menancap di dinding gua di sebelah mukanya. Tubuhnya gemetar saat melihat Panji yang berjalan mendekatinya dengan muka marah.
“Sekali lagi kau berteriak tak karuan, belati di tanganku ini akan membungkam mulutmu,” kata Panji dingin.
Ki Sanca langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia mengangguk ketakutan saat Panji mencabut belati di dekatnya sambil memandangnya dingin. Ia hanya diam saat Panji mengambil semua perhiasan dari sakunya dan menyerahkannya kepada pengawal yang tadi di bentaknya.
__ADS_1
“Ini adalah ongkos pengawalanmu sampai sini. Gunakan untuk membantu keluarga temanmu yang terbunuh karena mengawal orang yang menjijikan dan tak tahu berterima kasih ini,” katanya pelan.
“Kita tinggalkan tempat ini sekarang juga,” lanjutnya sambil melangkah keluar gudang.