
Kedua orang itu berjalan menyusuri hutan. Kadang – kadang mereka harus berhenti dan meneliti jejak di sekitarnya. Bekas tapak kaki di tanah basah, rumput yang terinjak ataupun ranting patah akan menunjukkan arah yang dituju.
Sepanjang jalan, Nyi Danapati menanyakan kejadian yang menimpa Panji saat di kejar buduk tutul. Panji pun menceritakan pengalamannya saat di kejar buduk tutul dan tersesat ke sarang laba – laba pemburu raksasa.
“Apa? Kau tersesat ke sarang laba – laba pemburu raksasa?” tanya Nyi Danapati dengan muka tak percaya. Ia melihat sendiri jumlah buduk tutul yang mengejar Panji. Menurut perkiraannya paling tidak ada 70 ekor buduk tutul. Ia tidak bisa membayangkan jika Panji masih harus menghadapi musuh tambahan berupa laba - laba pemburu raksasa di sarangnya.
“Kau... kau bisa menghadapi mereka semua seorang diri?” tanya Nyi Danapati tak percaya. Ia memandang Panji dengan tatapan aneh.
“Tidak, Nyai. Memangnya aku sehebat itu? Aku akan mati jika aku nekat langsung menghadapi mereka,” jawab Panji tenang. Ia tersenyum maklum melihat tatapan curiga Nyi Danapati.
“Terus bagaimana kau bisa selamat? Apakah kau bisa melarikan diri?” gumam Nyi Danapati pelan. Ia bisa memaklumi kalau Panji melarikan diri dari pertempuran itu. Ia bisa melompat ke atas pohon yang tinggi dan pergi menjauh dengan melompat dari pohon ke pohon.
“Bukan begitu, Nyai. Aku tidak melarikan diri. Aku berada disana sampai kawanan buduk tutul dan laba – laba raksasa itu mati, tapi bukan aku yang membunuh mereka semua,” jawab Panji kalem. Ia berjalan pelan sambil menundukkan kepalanya meneliti bekas tapak kaki di rerumputan.
“Ha.... kok bisa?” tanya Ngi Danapati takjub.
“Begini ceritanya.......”
Panji menceritakan bagaimana ia secara tak sengaja mengadu domba kawanan buduk tutul dengan gerombolan laba – laba raksasa. Ia juga menyerang dubuk tutul dari atas pohon untuk membuat pertarungan mereka seimbang. Terakhir, ia hanya bertarung dengan 10 ekor buduk tutul yang tersisa dan bisa menghabisi mereka semua.
“Jadi begitu ceritanya. Hebat juga kau, Panji. Bagaimana pun juga, secara tidak langsung kau telah menghabisi mereka semua karena kaulah yang membuat mereka saling serang dan menghabisi sisanya,” kata Nyi Danapati kagum.
“Ah, bukan begitu, Nyai. Itu hanya kebetulan saja. Kalau laba – laba raksasa itu tidak menyerangku dengan jaring dan racun dan mengenai kawanan dubuk tutul di belakangku, aku juga tidak akan berpikir untuk mengadu mereka,” jawab Panji.
“Nyi Danapati, ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepada Nyi Danapati,” kata Panji serius.
“Apa itu, Panji?”
“Nyi Danapati telah lama bekerja sebagai seorang pedagang. Apakah Nyi Danapati tahu tentang level senjata dan baju zirah?”
“Ya. Kami sering menerima pesanan berbagai senjata dan baju zirah. Tentu saja aku tahu serba sedikit tentang kualitasnya. Memangnya kenapa, Panji?”
“Aku mendapatkan senjata dan baju zirah di sarang laba – laba pemburu raksasa. Aku ingin Nyi Danapati untuk menilai level senjata dan baju zirah itu,” jawab Panji. Ia berhenti dan mengambil pedangnya.
Nyi Danapati menerima pedang itu dan mencabutnya dari sarungnya. Ia mengamati senjata itu beberapa saat sebelum menganggukkan kepalanya.
“Ini pedang level 5. Pedang ini termasuk langka di daerah ini. Bahkan di seluruh kerajaan Daha pedang level 5 termasuk langka. Kau beruntung bisa mendapatkan senjata semacam ini, Panji,” katanya pelan.
“Level 5? Jadi pedangku pedang level 5? Wow!” kata Panji sambil mengepalkan tangannya. Ia tidak mengira level senjatanya setinggi itu. Tadi ia hanya memperkirakan level pedangnya hanya level 4.
“Gagang pedangnya dari gading gajah dan ada batu listriknya yang akan menambahkan serangan listrik di setiap serangannya. Hanya saja batu listriknya termasuk batu listrik level rendah, jadi serangan listriknya cukup lemah. Hanya bisa memberi semacam efek kejut saja ,” lanjut Nyi Danapati sambil menyerahkan kembali pedang itu pada
Panji.
“Tidak masalah. Efek kejut itu sudah cukup berarti bagiku,” kata Panji sambil tersenyum senang. Ia lalu membuka tas punggungnya dan menyerahkan baju zirah kulitnya pada Nyi Danapati.
Nyi Danapati mengerutkan keningnya saat memeriksa baju zirah itu. Ia membolak balik baju itu beberapa saat sebelum menyerahkan kembali pada Panji.
“Itu baju zirah setidaknya level 4. Terbuat dari kulit, tapi aku tidak tahu kulit apa karena sudah diolah dan diwarnai. Yang jelas, kulitnya telah menjadi sangat lentur dan bisa menahan sabetan senjata beberapa kali.”
Panji menerima baju zirah itu dengan mulut tersenyum lebar. Ia tak menduga perjalanannya menolong Nyi Danapati akan memberinya imbalan yang sangat besar. Senjata level 5 dan baju zirah level 4 benar – benar jauh diluar perkiraannya.
Mereka meneruskan langkahnya beberapa saat sampai jejak langkah yang mereka ikuti itu sampai di semak – semak belukar.
Panji berjongkok dan tangannya menyibak belukar di dekatnya. Jejak langkah itu telah menghilang dan ia harus memeriksanya lagi. Ia mengedarkan pandangannya dan matanya menyipit saat ia melihat beberapa rumput yang tumbuhnya condong ke bawah. Ia mendekati rerumputan itu dan melihat jejak yang sama di dekatnya. Tanpa ragu – ragu, ia melangkah mengikuti arah rebah rerumputan itu.
Matahari telah hampir terbenam saat mereka menemukan sebuah jalan kecil di dalam hutan. Tampaknya jejak itu mengikuti jalan setapak itu.
Mereka berjalan pelan mengikuti jalan setapak itu. Tiba – tiba mereka mendengar suara percakapan di depan mereka. Mereka tidak sempat menghindar saat tiba – tiba ada 2 orang berjalan cepat dari balik tikungan jalan.
“Hey! Siapa kalian!” teriak salah seorang diantara mereka saat melihat Panji dan Nyi Danapati yang tertegun.
Keenam orang itu segera mencabut senjatanya dan berlarian mendekat. Tak punya pilihan lain, Panji dan Nyi Danapati pun akhirnya mencabut senjata mereka masing – masing.
“Sebaiknya Nyi Danapati mundur dulu. Biarlah aku yang akan menghadapi mereka. Ini kesempatan bagus untuk menguji kemampuan senjataku,” desis Panji sambil memegang Taring Putih erat – erat.
Nyi Danapati hanya mengangguk diam. Ia tahu hanya akan menjadi beban Panji jika ia nekat bertempur menghadapi mereka.
“Hey, bukankah ini Nyi Danapati?” gumam salah seorang diantara mereka setelah melihat wajah Nyi Danapati.
“Betul. Apakah Jatha dan yang lainnya telah gagal? Siapa pula anak ini?” gumam yang lain heran.
__ADS_1
“Sudahlah. Kita bunuh saja anak ini dan bawa Nyi Danapati. Pemimpin kita sudah lama menunggunya,” kata temannya.
Panji yang mendengar perkataan mereka hanya menggeram pelan. Rupanya orang – orang ini menganggap nyawa orang sebagai mainan. Mereka benar – benar orang yang sangat berbahaya.
“Heyaa.......”
Tanpa menunda lagi, ia menerjang ke depan dan menyerang orang yang paling dekat dengannya.
“Heh, bangsat kecil! Rupanya kau ingin cepat mati,” desisnya sambil menangkis serangan Panji. Melihat yang menyerangnya hanya seorang anak muda, ia tidak mengerahkan seluruh kemampuannya.
Trang.... Trang....
Dzzt!
“Aduh!”
“Argh!”
Panji menyerang beberapa kali yang dapat ditangkis dengan mudah oleh orang itu. Tapi orang itu tidak menyangka setiap benturan pedangnya dengan pedang Panji akan membuat tubuhnya terkena serangan listrik. Tangan menjadi kesemutan dan mulai mati rasa. Pegangan pedangnya melemah sehingga ia tidak bisa menangkis saat pedang
Panji memotong tangannya dan serangan berikutnya membuat kepalanya terlepas dari bahunya.
“Kurang ajar! Berani sekali kau membunuh kawanku!”
Kawannya yang berjalan mendekati Nyi Danapati terkejut. Ia tak menduga dalam waktu singkat temannya akan terbunuh oleh serangan anak muda itu. Ia menggeram marah dan berteriak keras menyerang Panji.
Trang... Trang...
Dzzt!
Tang!
“Arrgh!”
Suara dentangan logam disertai percikan bunga api terjadi beberapa kali saat pedang mereka bertemu. Orang itu terkejut saat tangannya merasakan aliran litrik yang melemahkan pegangannya di setiap benturan. Akhirnya pada benturan terakhir, pedangnya terlempar jauh dari tangannya. Saat ia tertegun, tiba – tiba ia merasakan rasa sakit yang hebat di dadanya. Rupanya Panji yang melihat kesempatan itu langsung menghunjamkan pedangnya ke arah jantung lawannya.
“Apa... Pedang apa itu?” desisnya tak percaya sambil menutupi darah yang mengucur dengan kedua tangannya. Matanya terbelalak saat tubuhnya pelan – pelan jatuh ke tanah.
“Rupanya ini kemampuan senjataku. Sekarang aku lebih yakin bisa mengalahkan gerombolan perampok ini dengan senjata ini,” gumamnya. “Brigade Tengkorak Darah, kalian harus merasakan kematian yang selama ini kalian buat
untuk mangsa – mangsa kalian,” lanjutnya dengan mata bersinar dingin.
“Hey! Apa yang terjadi!”
Panji yang sedang melamun terkejut saat sebuah teriakan keras terdengar di balik tikungan jalan. Belum sempat ia bereaksi, muncullah 6 orang bermuka bengis yang berlarian ke arahnya. Rupanya mereka mendengar suara pertempuran tadi dan langsung berlarian mendekat.
“Kurang ajar! Bunuh mereka!” teriak salah seorang diantara mereka saa melihat kedua temannya terbaring mati di tempat itu.
Panji yang melihat mereka terbelalak kaget saat melihat salah seorang diantara mereka mengambil busur dan menyiapkan anak panahnya.
“Celaka!” desisnya panik. Ia langsung meloncat maju mendekati ke-6 orang itu.
“Apa!”
“Gila dia!”
Ke-6 orang itu terkejut saat melihat musuhnya yang masih berusia muda langsung berlari kearah mereka dengan pedang terhunus. Mereka tak sempat bereaksi dan hanya menyerang sekenanya saat Panji tiba – tiba sudah muncul di hadapan mereka.
Panji berlari secepat mungkin ke arah musuhnya. Ia harus bisa mendekat sebelum pemanah itu bisa meluncurkan panahnya.
Trang!
Ia menangkis serangan pertama dan menghindari serangan lainnya. Ia bergulingan mendekati pemanah yang telah melangkah mundur menjauhi teman – temannya.
Tak!
“Argh!”
Setelah bergulingan mendekat, ia langsung berdiri dan mengayunkan pedangnya ke arah pemanah itu. Tak bisa menghindar, pemanah itu menangkis serangan Panji dengan busurnya. Tak ayal, busurnya langsung patah dan ia pun hanya bisa terbelalak saat pedang Panji terayun lagi membabat lehernya!
Panji langsung berbalik dan meloncat menyerang lawannya yang paling dekat. Ia tidak menyia – nyiakan kesempatan selagi ke-5 lawannya itu tertegun melihat temannya jatuh terkulai ke tanah.
__ADS_1
Trang..... trang.....
“Aduh!”
Orang yang berdiri dekat dengan pemanah itu terkejut saat tiba – tiba Panji sudah berdiri di depannya dengan pedang terayun deras ke tubuhnya. Dengan gugup, ia menangkis serangan itu. Pedangnya nyaris lepas akibat tenaga benturan yang kuat dan kejutan listrik yang menyerangnya. Ia sempat menangkis serangan kedua tapi pedangnya terpental ke samping dan dadanya yang terbuka langsung merasakan sakit yang sangat hebat. Rupanya pedang lawannya telah menghunjam dalam ke dalam jantungnya.
Keempat kawannya terperangah saat melihat salah seorang kawannya juga jatuh. Mereka tak menduga dalam waktu singkat anak muda itu bisa menghabisi kedua temannya dengan mudah.
“Dua orang sudah mati. Sekarang giliran kalian,” gumam Panji dingin setelah mencabut pedang dari dada lawannya.
“Jangan sombong anak muda. Kuakui kau memang hebat. Tapi kau jangan bangga dulu. Kedua temanku telah
lengah sehingga kau bisa dengan mudah menghabisinya. Tapi kau tidak akan bisa melakukan hal yang sama pada kami,” desis salah seorang diantara mereka sambil melangkah mendekat.
“Banyak omong kau,” desis Panji tajam. Pedang di tangan kanannya bergetar pelan sementara tangan kirinya bergerak kearah pinggangnya.
“Kurang ajar! Kubunuh kau! Hyaaa....”
Jleb!
“Argh!”
Orang itu tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ia bergerak cepat mengayunkan pedangnya ke arah Panji. Tapi ia tak menduga Panji akan menyerangnya dengan lontaran pisau belati. Ia hanya bisa terbelalak saat melihat tangan kiri Panji bergerak cepat dan sebuah belati pendek meluncur cepat ke arahnya. Ia berusaha mengelak, tapi ia sudah terlanjur meloncat maju dan jaraknya yang dekat membuatnya sulit untuk menghindar. Tak ayal, ia tergetar ke belakang dengan tangan memegang dadanya yang tertancap belati dan jatuh ke belakang dengan muka tak percaya.
“Tiga orang telah mati,” desisnya sambil memandang tajam musuhnya.
Ketiga orang itu mengerutkan keningnya setelah melihat ketiga temannya jatuh. Mereka saling pandang dan salah seorang diantara mereka tiba – tiba melirik kearah Nyi Danapati. Kedua temannya mengangguk pelan dan menghadap Panji dengan muka tersenyum bengis.
Panji yang melihat mereka mengerutkan keningnya. Sedikit banyak ia bisa menduga arah pergerakan mereka
dari isyarat mata tadi. Mereka akan menggunakan Nyi Danapati sebagai sandera untuk memaksanya menyerah.
“Jangan harap,” katanya sambil meloncat menyerang. Ia mendekat dan mengayunkan pedangnya ke arah mereka. Salah satu diantara 2 orang itu menangkis serangannya sementara yang lain langsung menyerangnya.
Panji mengerutkan keningnya saat melihat orang yang ketiga tiba – tiba berbalik dan berlari kearah Nyi Danapati. Ia menggeram pelan dan pedangnya menangkis serangan yang datang. Ia menggunakan tenaga benturan pedangnya untuk meloncat dan bergulingan ke belakang sementara tangan kirinya dengan cepat mengambil pisau belati di
pinggangnya.
Dziing..
Jleb!
“Ugh!”
Setelah berdiri, tangan kirinya bergerak cepat melontarkan pisau belati dengan sekuat tenaganya. Belati itu meluncur deras dan menancap di punggung orang yang berlari itu. Ia berjuang pelan tapi akhirnya jatuh tertelungkup di tanah. Belati itu mengakhiri hidupnya.
“Empat orang telah mati,” desisnya dengan mulut menyeringai buas.
Kedua lawannya yang tersisa merinding melihat senyum itu. Keringat deras mengalir di punggung mereka. Mereka tak menyangka mereka berenam tidak bisa mengalahkan seorang musuh yang masih berusia sangat muda.
“Bocah, sebenarnya siapa kau ini? Apakah kau tidak tahu bahwa yang kau hadapi adalah Brigade Tengkorak Darah? Kami bisa dengan mudah menghancurkanmu beserta seluruh keluargamu,” ancam salah seorang diantara mereka yang bermuka brewok.
“Justru karena kalian dari Brigade Tengkorak Darah maka kalian harus mati,” desis Panji sambil melangkah
mendekat.
“Hah! Kau musuh kami?” desis orang bermuka brewok itu tak percaya.
“Jangan banyak omong! Rasakan ini! Hyaaa.....”
Trang.... Trang...
“Argh!”
“Uargh!”
Panji berteriak keras sambil mengayunkan pedangnya. Pedangnya berkelebat cepat menyerang orang bermuka brewok.
Orang itu menangkis pedang Panji dan terkejut saat listrik mengalir dan menyengat pergelangan tangannya. Ia tertegun sebentar dan akhirnya sadar saat dadanya tertembus pedang Panji.
Kawan di sebelahnya yang tidak sempat bereaksi hanya terpaku saat melihat jatuh ke tanah. Ia hanya sempat melihat sebuah bayangan pedang berkelebat dan menyambar lehernya.
__ADS_1