Maaf .......

Maaf .......
Episode 16. Balas Dendam


__ADS_3

“Kurang ajar kau, Tunggul! Kenapa kau kemari? Cepat kembali!”


Sebuah teriakan keras Mahesa dari arah kerumunan kawanan ajag ekor merah itu menghentikan langkah Tunggul.


Ia kebingungan sejenak dan tidak siap saat seekor ajag meloncat dan menerkam lehernya. Matanya terbelalak saat moncong ajag itu mendekat ke arahnya.


“Tunggul, awas!”


Kaing!


Sebuah pedang melesat di sampingnya dan memotong ajag ekor merah itu menjadi dua. Sebuah pedang lain  bergerak menyerang di sebelahnya. Seekor ajag lain melengking nyaring dengan muka terbelah dua.


Tunggul menghela nafas lega. Ia menengok kawan – kawannya yang berdiri mensejajarinya. Mereka berdiri dengan raut wajah tegang. Darah mengalir dari pedang di tangan mereka.


“Terima kasih,” desisnya pelan.


“Kau jangan bertindak sendirian seperti itu lagi. Lihat mereka! Mereka bisa menghadapi kepungan ajag ekor merah sebanyak itu karena mereka bekerjasama. Kita seharusnya mencotoh mereka,” kata salah seorang temannya sambil menunjuk ke arah kepungan ajag mata merah.


Tunggul melihat kearah yang di tunjuk temannya dan tertegun. Ia menghela nafas lega. Ternyata kekhawatirannya tidak terbukti. Tadi ia menyangka Tim Rajawali Perak mengalami kesulitan saat menghadapi kepungan ajag ekor merah sebanyak itu. Tapi kenyataannya tidak.


Ia memperhatikan mereka bergerak sebagai satu kesatuan. Saat salah seorang diantara mereka mengalami


kesulitan, teman di sebelahnya akan datang membantu. Mereka menyerang dan bertahan bersama.


“Baik. Kita bergerak bersama. Kita jangan sampai kalah dengan murid luar,” desisnya sambil melangkah maju.


Teman – temannya menganggukkan kepala. Mereka melangkah bersama menyerang ajag ekor merah terdekat. Gerakan mereka menarik perhatian beberapa ajag ekor merah. Para ajag itu menjauh dari kerumunan dan menyerang mereka. Ini menyebabkan kepungan pada tim Rajawali Perak mengendur.


“Serang!”


“Whaaaa.....!”


Tiba – tiba sebuah teriakan keras terdengar dari arah pintu gerbang Desa Ringin Kembar. Bersamaan dengan itu keluarlah puluhan orang berlari menuju ke arah pertempuran sambil berteriak – teriak tiada henti.


Kawanan ajag mata merah yang masih belum bisa mengalahkan lawan – lawan mereka itu merasa terganggu.


Secara insting mereka bisa merasakan bahwa bantuan itu akan merugikan mereka. Maka mereka pun mulai berbalik dan melarikan diri ke arah Hutan Halimun.


Tunggul menghela nafas lega. Walaupun pertempuran ini hanya sebentar,  tapi intensitas dan tekanannya sangat membebani tubuhnya yang baru saja sembuh.


Ia mencoba mengatur nafasnya yang berkejaran. Matanya melihat ke arah anggota Tim Rajawali Perak. Ia hanya bisa tersenyum kecut saat melihat ekspresi  rileks anggota Tim Rajawali Perak. Berlainan dengan bayangannya, mereka semua terlihat baik – baik saja. Selain pakaian mereka yang berantakan dan nafas yang memburu, mereka hanya menderita beberapa luka ringan. Tidak terlihat ada satu pun luka serius di badan mereka.


Dibandingkan dengan mereka, ia dan teman – temannya dalam kondisi yang lebih buruk. Walaupun mereka


bertempur dalam waktu yang lebih singkat, mereka mengalami sedikitnya 1 luka serius. Sekarang terlihat jelas tim siapa yang lebih baik.


Sasti berdiri dengan tangan bertumpu pada pedangnya. Nafasnya memburu tapi ia masih bisa tersenyum tipis. Dalam waktu kurang dari sebulan ini, ia telah mengalami beberapa pertempuran brutal yang mempertaruhkan nyawanya. Tapi tidak seperti saat di Desa Bambu Kuning, sekarang ia bisa bertempur dengan tenang.


Kekuatannya tidak meningkat banyak selama sebulan ini, ia masih level 5 sampai sekarang. Hanya saja kecepatan, reaksi dan penggunaan jurusnya jauh meningkat. Sekarang ia merasa jauh berbeda dengan Sasti yang dulu.


Tim Rajawali Perak telah beberapa kali bertempur melawan lawan yang jumlahnya jauh lebih banyak. Beberapa kali mereka terkepung musuh yang menyerang mereka dari berbagai sisi. Ajaibnya mereka masih bisa selamat sampai sekarang. Semua itu berkat kerjasama kelompok, itu semua berkat anggota baru bernama Panji.


Dalan hati ia sangat berterima kasih kepada Panji yang telah memperkenalkan kerjasama kelompok di Tim Rajawali Perak. Dulu mereka selalu bertempur secara individu sehingga kekuatan tim menjadi terbatas. Walaupun mereka  terkenal sebagai salah satu tim elite di kalangan murid luar, tapi mereka tahu pasti batas kemampuan mereka. Misi ranking C merupakan batas mereka. Tapi lihat sekarang, mereka telah menantang misi ranking B dalam waktu kurang dari sebulan.


“Yeah..... senangnya! Rasanya menyenangkan kalau kita terus menang seperti ini,” seru Prakosa. Ia mengacungkan pedangnya dengan muka ceria.


“Huh, dasar maniak. Kukira hanya kau saja yang senang kalau kita terus bertempur seperti ini,” dengus Jayanti pelan. Ia menghapus keringat yang mengucur deras di mukanya.


Mahesa menghampiri Tunggul yang sedang berdiri termangu - mangu. Ia melihat Tunggul terluka di beberapa tempat. Teman – temannya kondisinya juga tidak lebih baik darinya.


“Bagaimana kondisimu?” tanyanya.


“Hanya luka ringan,” jawab Tunggul sambil tersenyum.


“Bukankah sudah kubilang agar kau bersama teman – temanmu saja. Kau baru saja sembuh, tapi sekarang terluka lagi,” desis Mahesa sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Kita adalah murid Perguruan Langit Biru. Bukankah luka seperti ini sudah biasa bagi kita?” desis Tunjung sambil mengangkat bahu tak peduli.


“Ngomong – ngomong, timmu sekarang sudah jauh berbeda. Apakah itu karena anak baru itu?”


“Yeah. Ia telah mengubah kami jadi seperti ini. Ada sesuatu yang berbeda dengannya. Pengetahuannya jauh diatasku. Kadang aku malu. Seharusnya ialah yang pantas menjadi ketua tim.”


“Sebegitunyakah?”


Tunggul memandang Panji yang sedang berbincang dengan Paksi dan Baskara. Matanya mengernyit saat ia tidak


menemukan sesuatu yang istimewa dalam diri Panji. Baik wajah, perawakan maupun pakaiannya biasa saja.


“Aneh. Aku tidak melihat sesuatu yang istimewa pada dirinya,” gumamnya pelan.


“Hehehe... begitulahdia. Saat pertama kali bertemu, kami juga meremehkannya. Tapi semuanya berubah saat ia dapat mengalahkan Wiranata, Paksi dan Prakosa dengan mudah,” kata Mahesa sambil tersenyum. Ia memberikan 5 butir pil pada Tunggul.


“Nih, buatmu dan teman – temanmu.”


“Apa ini?”


“Telan saja. Ini obat yang dikasih Panji untuk tim kami. Katanya sisanya untuk kalian.”


Tunggul mengambil pil – pil itu dan membagikannya kepada teman – temannya. Ia menelan satu dan tertegun


saat merasakan pendarahan di tubuhnya berhenti dan luka mulai menutup dengan cepat.


“Mahesa, ini....ini pil apa?”


“Pil multitonik.”


“Pil multitonik? Anak itu juga punya pil semacam ini?”


“Begitulah. Ia bisa memanah, ilmu tangan kosong, ilmu pedang,  strategi dan bisa ilmu pengobatan.”


Tunggul terdiam mendengar penjelasan Mahesa. Sekali lagi ia memandang Panji kemudian menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya. Ia menoleh saat orang – orang dari Desa Ringin Kembar menghampiri mereka.


“Aku tidak apa-apa. Terimakasih atas bantuan kalian. Karena kedatangan kalian, ajag – ajag itu melarikan diri,” kata Tunjung.


“Ah, kami tidak membantu apa –apa. Hanya berteriak- teriak,” kata anak muda itu sambil tersenyum.


“Mahesa, ini Singgih, kepala pengawal Desa Ringin Kembar,” kata Tunggul pada Mahesa.


Mahesa tersenyum dan menyalami Singgih. “Mahesa, ketua Tim Rajawali Perak.”


“Aku tahu. Kita telah bertemu saat kau bertamu di aula balai desa. Aku salah seorang diantara orang – orang yang ada di aula saat itu,” kata Singgih sambil tersenyum.


“Oh, maaf, aku tidak tahu,” kata Mahesa malu.


“Singgih, kita harus cepat kembali ke desa,” sela salah seorang pengawal yang berada di belakang Singgih.


“Oh, betul. Ayolah, kalian harus ke balai desa kami. Kalian bisa beristirahat dan mengobati luka kalian. Jangan sampai kita bertemu lagi dengan ajag – ajag sialan itu kalau mereka kembali lagi,” kata Singgih.


Mereka berjalan beriringan menapaki persawahan yang kering sambil berbincang – bincang. Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di balai desa. Ternyata kedatangan mereka telah ditunggu oleh Kepala Desa dan beberapa tetua desa.


“Mari. Silahkan duduk,” kata Ki Narpada ramah. ”Bagaimana keadaan kalian?”


“Syukur pada Yang Maha Agung, kami baik- baik saja, Ki Narpada,” sahut Mahesa.


“Bagaimana kondisimu Tunggul?”


“Saya baik – baik saja,  Ki” kata Tunggul pelan. “Hanya saja 10 orang temanku telah mati,” desisnya pelan.


Ki Narpada dan para tetua desa menghela nafas panjang saat mendengar perkataan Tunjung.


“Kami turut berduka cita. Kami merasa bersalah atas meninggalnya teman- temanmu,” desis Ki Narpada sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“Bukan, Ki. Ki Narpada tidak bersalah,” kata Tunggul sambil menggelengkan kepalanya. “Semuanya salah kami yang sembrono dan tidak mengindahkan saran Ki Narpada sebelumnya.”


“Maaf Ki Narpada, tampaknya ada masalah penting yang harus dibicarakan,” sela Mahesa mengalihkan pembicaraan saat melihat banyak tetua yang hadir di ruangan. “Apakah kami harus keluar dulu?”


“Oh, tidak. Tidak. Justru masalah yang akan kami bicarakan ini ada kaitannya dengan kalian semua,” kata Ki Narpada sambil menggoyang –goyangkan tangannya. “Kami ingin meminta bantuan kalian,” lanjutnya.


“Meminta bantuan? Maksudnya apa, Ki Narpada?” tanya Mahesa heran.


 Tunggul memandang tajam Ki Narpada. Tim Singa Gunung telah gagal memenuhi permintaan Desa Ringin Kembar, jadi ia tidak berani menanggapi perkataan Ki Narpada.


“Maksudnya adalah kami ingin meminta bantuan kalian sekali lagi untuk bersama kami menumpas kawanan ajag ekor merah di Hutan Halimun. Kalaupun tidak bisa, setidaknya bisa menghabisi sebagian besar kawanan itu sehingga bisa mengurangi bahayanya,” kata Ki Narpada.


Mahesa terdiam mendengar pemintaan Ki Narpada. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat ekpresi beberapa temannya yang berubah buruk. Ia tidak menyalahkan mereka karena ia tahu pasti bahaya yang akan mereka hadapi. Mereka telah membunuh ratusan ekor ajag ekor merah tetapi jumlah mereka seakan - akan tidak ada habis – habisnya.


Diam – diam ia melirik ke arah Prakosa yang duduk di sampingnya. Ia menepuk jidatnya pelan dan tersenyum kecut. Mata Prakosa bersinar seakan – akan ia mendapatkan berita yang sangat diharapkannya. ‘Dasar maniak,’ batinnya.


“Kalian tidak harus menjawab permintaan kami sekarang. Tapi tidak ada salahnya kalian mendengarkan ceritaku sebelum kalian memutuskan untuk menerima atau menolaknya,” kata seorang laki – laki berambut putih yang duduk di samping Ki Narpada.


“Namaku Mada. Kalian bisa memanggilku Ki Mada,” orang berambut putih itu berdiri dan memperkenalkan dirinya.


“Sebenarnya 10 tahun lalu, aku bersama Kepala Desa Ringin Kembar sebelumnya dan juga 100 pengawal terbaik desa telah memasuki Hutan Halimun. Tujuan kami adalah untuk membasmi sarang ajag ekor merah.”


“Kami sangat percaya diri dengan kekuatan kami. Tapi yang kami alami adalah bencana.”


“Kami diserang saat bermalam di Hutan Halimun. Mereka terus menyerang hampir sepanjang malam. Walaupun kami bisa mengusirnya, kami kehilangan 10 orang pengawal.”


“Saat kami telah memasuki pertengahan padang rumput, mereka menyerang kami dari berbagai arah. Kami bisa membunuh ratusan ekor ajag ekor merah, tetapi kami juga kehilangan tidak kurang dari 50 orang pengawal.”


“Kami sudah kepayahan saat itu. Tapi kami memutuskan untuk terus maju. Kami mengira mereka sudah hampir habis.”


“Setelah melewati padang rumput, sampailah kami di sebuah bukit kecil. Disana ada sebuah celah sempit yang diapit tebing terjal. Celah itu mengarah ke atas bukit. Kami mengikuti celah itu sampai di atas bukit.”


“Ternyata yang menunggu kami adalah seekor ajag yang besar beserta sekitar 100 ekor ajag lain. Mereka menyerang kami yang sudah kelelahan. Kami terus melawan, tapi ajag besar itu akhirnya membunuh kepala desa kami.”


“Ajag besar itu memporak porandakan pasukan kami. Kami akhirnya melarikan diri, tapi mereka terus mengejar. Akhirnya, dari 100 orang pengawal, hanya aku yang bisa kembali dengan selamat,” kata Ki Mada sambil  menundukkan kepalanya.


“Kami menemukan Ki Madayang terluka parah di gerbang desa. Tabib desa berhasil mengobatinya dengan susah payah,” kata Ki Narpada.


“Sejak saat itu Ki Mada telah melatih para pemuda desa dengan harapan suatu saat nanti bisa membalas dendam pada para ajag itu.”


“Harapan itu hampir padam tapi tumbuh lagi saat kami melihat kalian bisa masuk dan keluar lagi dari Hutan Halimun dengan selamat.”


 “Kalian telah melakukan hal yang gagal kami lakukan 10 tahun lalu. Itu berarti kalian telah memiliki cara untuk mengalahkan mereka. Karena itulah kami mohon agar kalian mau membantu kami untuk menyelesaikan masalah kami.  Kalau ajag ekor merah itu bisa dikalahkan, maka desa kami bisa hidup tenang karena terbebas dari ancamannya,” lanjut Ki Narpada.


“Bagaimana menurutmu Panji?” kata Mahesa setelah terdiam beberapa saat.


“Kalau menurutku, selama Desa Ringin Kembar dan juga Tim Singa Gunung mau membantu kita, kurasa tidak ada masalah. Lagipula, bukankah  tujuan utama kita mengambil misi adalah untuk berlatih?” tanya Panji.


“Setuju,” sahut Prakosa dengan muka berseri – seri.


“Huh, tujuanmu kan untuk bertarung. Tentu saja kau yang paling pertama setuju,” gerutu Wiranata pelan.  Ucapannya diikuti anggukan kepala teman – temannya.


“Tunggul, bagaimana pendapatmu?” kata Mahesa pelan.


“Heh, kalau aku masih boleh ikut, aku pasti akan ikut. Kami masih harus membalas kematian 10 orang teman kami. Tapi kami hanya akan menyertakan murid dalam saja,” kata Tunggul disambut anggukan teman – temannya.


Sekali lagi Mahesa memandang teman – temannya satu persatu. Mereka menganggukkan kepalanya walaupun beberapa orang masih terlihat ragu –ragu.


“Baiklah Ki Narpada,kami setuju dengan permintaan Ki Narpada. Tim Rajawali Perak dan Tim Singa Gunung akan bekerjasama dengan Desa Ringin Kembar untuk membasmi kawanan ajag ekor merah,” kata Mahesa setelah merenung beberapa saat.


“Syukurlah kalau kalian setuju.  Karena kalian telah berpengalaman masuk dan keluar Hutan Halimun, kurasa kalianlah yang pantas memimpin tim. Nah, sekarang siapa yang akan memimpin misi ini? ” tanya Ki Narpada.


Tunggul dengan cepat menunjuk Mahesa, tetapi Mahesa langsung menunjuk Panji yang duduk di dekatnya.


“Panji lebih berpengalaman dibandingkan saya. Kemarin sebagian besar ide juga berasal darinya,” kata Mahesa cepat saat melihat keraguan di mata Ki Narpada.

__ADS_1


“Baiklah,” kata Ki Narpada. “Panggil Singgih kemari,” katanya pada pengawal yang berdiri di dekat pintu.


__ADS_2