
"Jangan senang dulu kalian aku akan segera menangkap basah perbuatan kamu, aku sudah dapat bukti yang akurat dari perbuatan kalian tapi, aku belum yakin jadi aku akan melakukan trik ini semoga saja berhasil," batin Nadine sembari menatap tajam ke arah Fatimah yang hanya terdiam tanpa berbicara sepatah kata pun.
Setiap kali mereka makan, chef serta asisten koki akan berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Bu Gina sangat antusias dan tidak sabar ingin bertemu dengan perempuan yang selama ini merawat putrinya.
"Pak Yunus, kita ke jalan X Pak!"perintahnya Bu Gina.
"Baik Nyonya!' jawabnya Pak Yunus supir pribadinya yang bekerja sebagai supir pribadinya jika ia ke Bandung.
"Hari ini aku harus ketemu dengan perempuan itu dan semoga saja aku segera bertemu dengan putriku," gumamnya Bu Gina.
Hanya butuh sekitar kurang lebih setengah jam waktu tempuh perjalanan yang dibutuhkan mereka hingga sudah berdiri di depan rumah yang cukup sederhana milik Bu Fatmah.
Bu Gina menatap ke arah rumah itu dengan sendu dan terenyuh," ya Allah… seperti ini kah rumah pria yang menolong putriku, pasti putriku memiliki kehidupan yang kurang baik," gumamnya Bu Gina seraya menurunkan kacamata hitamnya yang bertengger sejak tadi dari hidung mancungnya.
Bu Gina berdiri di depan mobilnya sambil bersandar. Ia agak ragu untuk masuk ke dalam rumah yang sangat sederhana itu. Seorang perempuan yang sejak tadi diam-diam memperhatikan gerak geriknya Bu Gina. Dia segera turun dari motornya yang baru saja sampai dari jalan-jalan bersama kekasihnya itu.
"Maaf Anda siapa, saya perhatiin sedari tadi sepertinya terus memperhatikan rumahku," ujarnya Sarah yang menatap intens ke arah Bu Gina sambil menautkan kedua alisnya.
Kekasihnya Sarah segera mendekatinya," sayang, sepertinya dia orang kaya,tapi apa yang dia lakukan di depan rumahmu?"
"Maaf saya sedang mencari Pak Somad apa dia ada di dalam?" Tanyanya Bu Gina dengan senyuman ramahnya.
"Maaf bapak sudah lama meninggal sekitar tiga tahun lalu, emangnya ada apa dengan bapak terus kenapa Anda mencari Bapak?" Tanyanya Sarah dengan tatapan matanya yang penuh selidik.
"Saya ingin bertanya tentang anak bungsunya itu, tapi maaf saya tidak tahu siapa namanya kami lupa padahal saya ingin meminta tolong kepada putrinya Pak Somad adiknya Anda," jelasnya Bu Gina.
__ADS_1
"Ihh gitu, tapi saya akan menjawab semua pertanyaan Nyonya bukan disini tapi,fi tempat lain itupun kalau Anda setuju dengan persyaratan saya," tukasnya Sarah yang tersenyum penuh arti.
Pak Yunus dan Bu Gina saling bertatapan satu sama lainnya," sepertinya gadis ini cukup licik juga, aku akan ikuti sampai sejauh mana permainannya."
"Bagaimana Nyonya kaya, apa Anda setuju dengan permintaan kami?" Tanya Tio penuh selidik.
"Baiklah,saya setuju, silahkan pimpin jalannya karena saya mungkin tidak tahu kalian akan ke mana,' kilahnya Bu Gina.
Mereka pun mulai meninggalkan depan rumahnya Bu Fatmah menuju tempat yang diinginkan oleh Tio dengan Sarah. Tio segera memarkirkan roda duanya tepat di depan pintu masuk salah satu restoran termahal yang ada di kota Surabaya.
Bu Gina hanya tersenyum tipis menanggapi tempat yang dituju oleh kedua anak muda itu.
"Bu Gina, inikan restauran baru yang dibangun oleh Nyonya," imbuhnya Pak Yunus.
Bu Gina meletakan jari telunjuknya di depan bibirnya agar tidak sampai kedengaran hingga ke mulutnya Sarah. Keempat orang yang berbeda generasi itu masuk ke dalam restoran.
Seorang pelayan yang berdiri di depan pintu kebetulan mengenali wajahnya Bu Gina langsung menundukkan kepalanya karena cukup terkejut melihat jika pemilik restoran datang berkunjung ke restorannya sendiri.
Bu Gina hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan dari Sarah dan kekasihnya itu. Mereka memilih meja yang cukup besar. Sarah dan Tio segera memesan semua makanan yang termahal di resto itu.
"Baiklah karena sudah ada banyak makanan yang ada di atas meja bagaimana kalau kalian sambil menyantap makanan juga menjawab semua pertanyaanku, katakan dimana anak pertamanya Pak Somad?" Bu Gina menyadarkan kepalanya ke belakang kursi.
"Ohh perempuan pembawa sial itu, perempuan terkutuk itu, perempuan yang tidak tahu diri sudah dibesarkan dengan susah payah tapi mempermalukan Ibu dan kami dengan hamil di luar nikah dengan pria yang sama sekali tidak diketahui!" umpatnya Sarah dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
Bu Gina mencengkeram kuat genggaman tangannya saking jengkelnya mendengar putrinya di hina seperti itu.
"Kok bisa dia hamil,emang pria itu tidak bertanggung jawab padanya?" Tanyanya Gina yang sengaja melakukan hal itu untuk mengorek informasi dari mulutnya Sarah.
__ADS_1
"Saya sengaja membuat ia hamil dengan pria yang sama sekali tidak dikenal, karena saya benci padanya karena dia selalu menjadi juara kelas dan selalu mendapatkan pujian dari semua orang, sehingga aku memutuskan untuk menjebaknya dengan memberikan obat perangsang wanita agar ia hamil dan dipermalukan jadi dia diusir dari sini," terangnya Sarah yang penuh semangat tanpa mengetahui jika wanita yang ada di depannya sudah murka mendengar kejujurannya itu.
Bu Gina berusaha untuk menyembunyikan kemarahannya karena apa yang ingin ia ketahui belum sepenuhnya dia dengar. Hanya sesekali menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Terus siapa nama perempuan itu dan sekarang dia ada di mana?" Tanyanya Bu Gina dengan tidak sabaran.
"Dia sudah pergi jauh dari kota Bandung, semoga saja tidak akan kembali lagi menjadi benalu dalam kehidupan keluargaku, namanya Fatimah Az-Zahra Zalita," ungkap Sarah.
Betapa terkejutnya bu Gina mendengar penuturan dan penjelasan dari Sarah,ia tidak menyangka jika anak semata wayangnya ternyata berada dekat dari sisinya. Bu Gina menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan kenyataan yang ada.
"Ya Allah… putriku," lirih Bu Gina.
Bu Gina menatap ke arah pelayan yang kebetulan berdiri tidak jauh dari posisinya," Pak Levi, tolong tagih bill makanan yang mereka makan jika tidak bisa bayar jobloskan saja mereka ke dalam penjara!" Ancam Bu Gina sambil berdiri dari duduknya.
Sarah dan Tio yang mendengar ucapannya Bu Gina mereka langsung tersedak makanan.
Huk.. Hukk..
"Apa!! Apa yang Anda katakan! Tadi Anda sudah berjanji untuk membayar semua makanan yang akan kami makan?" Dengusnya Sarah.
Bu Gina menghentikan langkahnya lalu berjalan ke arah Sarah dengan senyuman liciknya," maaf saya tidak pernah ngomong seperti itu sama kalian, ingat memfitnah itu adalah bisa terkena hukuman jadi jaga mulutmu itu dengan baik jangan asal bicara dan satu hal lagi makasih banyak atas informasinya karena Fathimah adalah putri kandungku yang menghilang ketika berumur dua tahun," Bu Gina memberikan kode kepada security dan menejer restoran miliknya untuk segera membereskan kedua manusia lucknut itu.
Bu Gina segera mempercepat langkahnya menuju mobilnya, dari wajahnya terpancar raut kegembiraan dan kebahagiaan.
"Anakku, Mama sangat bahagia pantesan setiap kali kita berdekatan aku merasa kamu dekat denganku," cicitnya Bu Gina.
Sedangkan Nadine pulang ke Jakarta tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada suaminya Riyad. Ia sengaja melakukan hal itu.
__ADS_1
Hari ini Fatimah akan meminta ijin kepada Riyad karena ingin meminta masukannya untuk memberikan sebuah nama untuk calon bayi mereka.
"Ya Allah… semoga saja Mas Riyad setuju untuk mencarikan nama yang cantik untuk kedua bayiku," gumamnya Fatimah sambil mengetuk pintu ruangan pribadinya Riyad.