
Air matanya terus menetes membasahi pipinya itu di dalam sujudnya. Ia tidak mau melihat kesedihan yang mendalam yang dirasakan oleh kedua anak kembarnya itu. Ia juga tidak mungkin egois dengan terus bertahan pada pendiriannya dan ketakutan akan trauma yang dulu pernah Riyadh lakukan padanya.
"Apa aku harus membuka hatiku untuk menerima, memaafkan dan memberikan kesempatan kepada Abang Riyadh saja demi anak-anakku atau aku harus mengorbankan kebahagiaan mereka demi mempertahankan keegoisan dan keras kepalaku ini,"
Fatimah semakin kebingungan saja dan penuh kebimbangan karena ia masih ragu dan bimbang dengan jalan apa yang harus dipilih dalam kehidupannya untuk kedepannya.
"Aku serahkan padaMu ya Allah hidup dan matiku hanyalah di tanganMu, aku berserah diri padaMu dan berikan jalan yang terbaik untuk saya, anak-anak dan juga papanya Abang Riyadh," batinnya Fatimah Zarah Zalita.
Bel berbunyi malam itu, membuat Fatimah segera menghentikan kegiatannya itu. Ia segera menyudahi segala doa yang dipanjatkan oleh Fatimah malam itu. Karena berulang kali belnya berbunyi Ia semakin mempercepat apa yang dilakukannya itu.
"Bu Nani ada dimana,kok nggak bukain pintunya yah?" Fatimah keheranan dengan art satunya itu yang terkadang lambat loading dalam bekerja alias lelet.
Fatimah memperhatikan ke sekelilingnya, ia melihat suasana rumahnya itu terasa sepi, padahal mamanya pagi tadi baru balik dari Malaysia Kuala Lumpur atas permintaan Riyadh keponakan sekaligus Mama mertuanya Riyadh.
"Mama dengan anak-anak juga kemana yah? Masa sih baru jam tujuh lewat mereka sudah tidur, rumah ini seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan saja di dalam sini," ketusnya Fatimah yang saking buru-burunya ia masih memakai mukenanya yang berwarna pink itu.
Fatimah dengan terus berjalan sambil menggerutu dalam hatinya karena, baru kali ini ia harus terburu-buru menyelesaikan shalatnya karena gara-gara seseorang yang menekan bel rumahnya yang semakin menjadi saja.
"Ish kenapa aku lupa ambil segelas air untuk siram orang yang buat onar di depan pintu masuk rumahku," kesalnya Fatimah sambil membuka gagang handel pintunya itu.
Dalam hitungan satu,dua, tiga ia membuka lebar pintu itu dan ia cukup terkejut dengan rangkaian atau buket bunga mawar merah, putih yang cukup besar digabung menjadi bentuk hati dan di tengahnya bertuliskan marry me Fatimah Zarah Zalita.
Fatimah terkejut setengah mati apalagi melihat ada badut yang memegangi buket bunga yang cukup besar itu.
"Maaf sepertinya Anda salah rumah deh, karena saya tidak mesan bunga apapun hari dan saya juga tidak ada rencana untuk itu," imbuhnya Fatimah yang menahan senyumannya itu karena hidung palsunya di badut terjatuh ke atas lantai keramik.
__ADS_1
"Saya kesini untuk bertemu dengan Aidan dan Alina, apa mereka ada?" Tanyanya badut itu dengan suara khasnya.
Fatimah baru saja hendak ingin membuka mulutnya untuk berbicara, kedua anak kembarnya itu langsung berlarian ke arah badut itu.
"Kami datang badut!!" Teriak kedua anak kembar itu yang berlarian sambil berkejaran.
"Alhamdulillah kalian sudah datang, apa kalian senang melihat kedatangan saya di rumahnya?" Tanyanya sang badut itu.
"Senang banget malah kalau boleh badutnya tinggal bersama kami saja disini untuk selamanya bersama bunda apa kamu mau?" Tanyanya Alisha yang tersenyum penuh arti melihat badut itu.
Badut itu berjongkok di depannya Alisah, "Kalau gitu kamu bujuk bundanya untuk menerima lamaran saya, supaya ayah badut bisa selamanya membahagiakan dan menghibur kalian berdua dan tentu untuk Bunda Fatimah," terangnya badut itu yang sedari tadi menatap ke arah perempuan yang masih memakai mukenahnya dengan tatapan matanya yang sulit diartikan.
"Bunda! Jawab dong permintaannya ayah Riyadh untuk menikahi bunda, masa teman-teman semuanya punya papa sedangkan saya tidak, apa bunda tidak merasa kasihan dengan kami berdua," rengeknya Alisa anak keduanya itu.
Fatimah segera berjalan ke arah badut itu dan membukanya karena ia cukup penasaran dengan sosok Pria yang berada di balik baju badut itu. Ia membuka dengan perlahan rambut palsu sang badut dan terlihatlah dengan jelas siapa orang tersebut.
"Abang Riyad," beonya Fatimah.
Peluh keringat bercucuran membasahi pipinya dan sekujur tubuhnya saking panasnya memakai baju badut itu.
"Demi kamu aku rela melakukan apapun asalkan kamu menerima lamaranku asalkan jangan menyuruhku pergi jauh dari hidupmu," ucapnya Riyadh dengan penuh kesungguhan hatinya sambil berlutut di hadapan Fatimah ibu dari kedua anak kembarnya itu.
Perempuan yang masih berstatus Istrinya itu hanya karena kesalahan dari istri pertamanya sehingga Fatimah memilih untuk pergi jauh dari kehidupan Riyadh bersama dengan calon bayinya yang ada di dalam kandungannya itu.
"Fatimah maafkan atas salah dan khilaf ku padamu selama ini, tolong berikan aku kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya, aku sudah cukup tersiksa beberapa tahun ini hidup jauh dari kalian, Fatimah apakah kamu bersedia untuk menikah denganku, menjadi perempuan satu-satunya dalam hidupku dan menjadi perempuan yang akan menemaniku hingga akhir waktuku di dunia ini hanya bersamamu, jadilah penyemangat hidupku,ku ingin kamu adalah orang yang pertama kali aku lihat di pagi hari dan terakhir aku lihat sebelum aku mengistirahatkan mataku," Riyadh mengucapkan semua perkataannya dengan penuh kesungguhan hatinya itu tanpa ada rekayasa atau pun bualan semata.
__ADS_1
Hingga kakak sambungnya, Ibu gurunya alisha, mamanya Bu Helma dan beberapa asisten rumah tangganya turut hadir di tempat itu dengan penuh harap agar Fatimah bersedia rujuk kembali untuk membina hubungan suami istri seperti dahulu.
Fatimah menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup panjang dan pelan.
"Bismillahirrahmanirrahim, saya bersedia rujuk Abang Riyadh Hakimi Pradipta," jawabnya Fatimah.
Semua bersorak gembira kegirangan saking bahagianya mendengar perkataan dari Fatimah. Riyadh batinnya tanpa segan memeluk tubuhnya Fatimah dengan erat.
"Syukur Alhamdulillah makasih banyak ya Allah Engkau telah menyatukan kami kembali, insya Allah aku berjanji tidak akan menyakiti hati istriku dan juga anak-anakku," harapnya Riyadh dengan janjinya itu.
Malam itu mereka resmi kembali menjadi sepasang suami istri lagi, kehadiran beberapa orang yang segera merias wajahnya Fatimah dan juga menghadirkan kembali penghulu agar lebih sah proses rujuk mereka berdua.
Salim memberikan masukan kepada adik iparnya itu untuk memajukan hari ini adalah hari dimana Riyadh melamar kembali adiknya. Alhasil apa yang dilakukan mereka berhasil.
Secepat kilat ruangan tengah sudah disulap menjadi tempat akad nikah kedua pasangan suami istri itu. Kata sah kembali untuk kedua kalinya menggema mengisi seluruh penjuru sudut ruangan rumahnya Fatimah.
Semua orang tersenyum melihat kebahagiaan keduanya dan mereka berharap keduanya menjadi pasangan suami istri yang shakinah, mawadah warahmah hingga kakek nenek selamanya bersama dengan kedua anak kembarnya bahkan akan melahirkan banyak bayi.
"Alhamdulillah, aku sangat bahagia melihat putri semata wayangku dan keponakanku sendiri menjadi suami istri untuk kedua kalinya, semoga mereka bahagia hingga kelak," gumam Bu Helma mamanya Fatimah.
Mampir baca novel baru aku judulnya "Terpaksa Menjadi Orang ketiga"
give away kecil-kecilan khusus pembaca yang rajin" Caranya hanya baca, Like dan komentar.
...--------TAMAT-------...
__ADS_1