
"Ya Allah… semoga saja Mas Riyad setuju untuk mencarikan nama yang cantik untuk kedua bayiku," gumamnya Fatimah sambil mengetuk pintu ruangan pribadinya Riyad.
Fatimah akan memberitahukan suaminya jika ternyata dia hamil anak kembar. Hal itu baru ketahuan dua hari lalu setelah dari rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kesehatan dan kehamilannya.
Pintu segera terbuka dari dalam dan keluarlah Rian dari dalam ruangan kerjanya Riyad.
"Selamat sore Nyonya Muda," sapanya Pak Rian kepala pelayan di kediaman bu Gina itu.
Fatimah sedikit malu mendengar perkataan dari Pak Rian," tidak perlu manggil seperti itu Pak Rian takutnya ada yang dengar kan bisa berabe," kilahnya Fatimah yang tersenyum tipis.
"Tidak kok orang lain di sini hanya kita berdua saja lagian bagaimana pun juga kamu juga istrinya Tuan Muda Riyad," tukasnya Rian dengan senyuman hangat hangatnya.
Fatimah kembali tersenyum manis,"Sudah yah Pak candanya, saya masuk ke dalam dulu soalnya aku ingin bertemu dengan Mas Riyad," ujarnya Fatimah lalu berjalan menuju kedalam ruangan yang dijadikan sebagai kantor oleh Riyad jika berada di dalam rumahnya.
Pak Rian tersenyum menanggapi perkataan dari Fatimah yang selalu tidak berniat untuk menyembunyikan statusnya sebagai istri kedua. Tetapi, berbeda dengan seseorang yang berada dibalik dinding penghalang ruangan dengan tangga ke lantai dua.
"Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia dan apa pun akan aku lakukan untuk mengusir kamu dari sini! Jangan harap kamu akan memiliki anak dari suamiku jika aku tidak bisa hamil kamu juga tidak boleh berhasil melahirkan anakmu apapun yang terjadi!" Geramnya orang itu.
Dia segera berjalan ke arah gudang mencari sesuatu alat yang bisa dipakainya untuk melancarkan rencana jahatnya itu. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sangat marah dan benci dengan situasi yang terjadi.
"Tidak boleh ada yang tahu jika aku sudah pulang hari ini," kesalnya.
Riyad yang melihat kedatangan istrinya itu segera menghentikan kegiatannya sementara waktu.
"Apa yang kamu butuhkan sehingga mendatangiku?" Tanyanya Riyad yang menatap ke arah Fatimah.
Sedangkan yang ditatap malah menundukkan kepalanya saking malunya dan tidak kuasa untuk bertatapan langsung dengan suaminya sendiri. Fatimah memainkan ujung hijabnya setiap kali ia malu.
Fatimah menyodorkan sebuah kertas ke atas meja kerjanya Riyad. Sedang Riyad menatap Fatimah seolah meminta jawaban apa maksud dari kertas itu.
__ADS_1
"Bacalah Mas, pasti akan mengetahui apa yang tertulis di dalam kertas itu," pintanya Fatimah dengan malu.
Riyadh membaca kertas itu dengan seksama dengan teliti dan mimik wajahnya langsung berubah drastis tapi, sulit untuk terbaca oleh siapapun.
"Jadi kamu hamil anak kembar sekaligus dan ini contoh nama kedua bayi kita yang akan kamu berikan padanya kelak," ujarnya Riyad.
Fatimah hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan perkataan dari mulut suaminya itu dengan benar.
"Kamu pilih mana yang kamu sukai saja karena menurut Mas semua nama yang kamu pilih sangat bagus dan cantik," tuturnya Riyad ekspresinya datar saja.
Fatimah sedikit kecewa melihat reaksinya Riyad yang tidak sesuai dengan ekspektasinya," astagfirullah aladzim maafkan aku ya Allah sudah zuudzon pada Mas Riyad mungkin dia sedang banyak kerjaan.
"Kalau gitu keluarlah karena aku masih ada beberapa kerjaan yang ingin aku kerjakan," ucap Riyad yang sudah mengusir Fatimah pergi dari hadapannya.
"Baik, makasih banyak Mas maaf sudah ganggu aktifitasnya,"
Fatimah tidak menyangka jika suaminya akan seperti itu sikapnya,"mungkin Mas Riyad akan bersikap seperti itu wajar saja karena dia bukanlah ayah kandung dari kedua calon bayiku, saya saja yang terlalu berharap besar padanya, sayang maafkan Mama yang belum bisa menemukan papa kandung kalian," gumamnya Fatimah sambil mengelus puncak perut buncitnya itu.
"Aaahhh!!!" Teriaknya Fatimah dengan suara yang cukup menggelegar memekakkan telinga memenuhi seluruh sudut ruangan rumahnya di lantai satu.
Prang….
Sista yang kebetulan akan ken dapur tanpa sengaja melihat Fatimah yang sudah tergeletak di atas lantai dengan kondisi yang sangat menghawatirkan.
"Nyonya Muda Fatimah!" Jerit Sista yang segera berlari ke arah Fatimah yang mengayunkan tangannya ke arah Sista.
"Tolong! Selamatkan kedua bayiku," lirihnya Fatimah sebelum menutup matanya.
Sista segera meminta tolong kepada siapa saja yang ada disekitar tempat itu. Dan ia cukup terkejut melihat ke sekitar lantai, karena terdapat banyak tumpahan minyak goreng yang tercecer.
__ADS_1
"Kenapa bisa di sini banyak minyak!" Sista kebingungan dengan keadaan tersebut.
Pak Rian yang mendengar teriakan seseorang dengan suaranya yang cukup ia kenal dengan baik.
"Sista! Apa yang terjadi padamu?" Tanyanya Pak Rian yang kebingungan dan panik setelah melihat Fatimah yang sudah pingsan dengan banyak darah yang mengalir di sekitar pahanya membasahi baju gamis yang dipakainya.
"Cepat gendong Nyonya, kita akan segera ke rumah sakit sebelum terlambat," pintanya Sista.
Pak Rian menggendongnya tubuhnya Fatimah kedalam mobil lalu segera menuju ke rumah sakit.
"Mbak Ria segera bersihkan bekas kekacauan ini jangan sampai ada yang tahu semuanya, jangan katakan kepada siapapun jika Fatimah terjatuh di atas lantai," perintahnya Pak Rian.
Ria adalah adik sepupunya yang kebetulan bekerja juga di rumah itu yang cukup bisa diandalkan dan dipercaya.
"Sista, tolong telpon Bu Gina, cepat!"
Bu Gina yang sudah dijalan mau pulang untuk menemui putrinya dikejutkan dengan berita naas tersebut.
"Ya Allah… ini tidak mungkin, apa yang terjadi pada putriku yang malang," lirih Bu Gina yang sudah menangis histeris setelah mendengar berita duka itu.
"Pak Yunus, kita ke rumah sakit Pelita Harapan! Aku tidak akan membiarkan kamu selamat dan bebas jika aku tahu siapa pelakunya!" perintah Bu Gina yang nampak sangat marah, takut dan panik mendengar penjelasan dari asisten pribadinya itu.
Kondisinya Fatimah sangat mengkhawatirkan, semua tim dokter segera mengambil tindakan yang cepat untuk menangani kondisi Fatimah yang kemungkinan besar akan kehilangan janin yang dikandungnya.
"Hahaha!! Aku berhasil membunuh calon anakmu, semoga dia juga sekarat dan meninggal dunia," tatapan matanya penuh kegirangan.
Bu Gina berlari menghampirinya Rian dan Sista yang berdiri mondar-mandir di depan pintu masuk ruangan operasi.
"Apa yang terjadi dengan putriku!" Jeritnya Bu Gina yang baru kali ini kedua anak buahnya melihat amarah yang besar yang terlihat diwajahnya Bu Gina.
__ADS_1
Sista pun menjelaskan tentang kejadian itu dengan terinci. Bu Gina mencengkram erat kepalan tangannya itu.
"Rian jangan sampai Riyad mengetahui semua ini apa pun yang terjadi, anggap saja Fatimah kabur dari rumah karena sedih dan kamu Sista segera cek semua cctv karena aku yakin jika ada orang dalang dibalik semua kejadian ini!" Tatapan matanya tajam menatap ke arah asisten pribadinya itu.