Majikanku Ayah Dari Anakku

Majikanku Ayah Dari Anakku
Bab. 13


__ADS_3

Bu Gina terlihat nampak gugup dan panik setelah melihat kondisi putrinya, "Ya Allah… selamatkan putriku dan anaknya, aku tidak rela melihat mereka menderita, cukup beberapa tahun ini mereka telah berjuang keras untuk kehidupannya."


Rian dan Sista juga nampak kacau dengan penampilannya mereka, pakaian keduanya belum mereka ganti dengan yang baru masih penuh noda darah dari Fatimah.


"Rian, pulanglah ganti pakaiannya dulu dan urus semua kekacauan yang terjadi di rumah, dan satu hal yang perlu kamu ketahui jangan biarkan Riyad mengetahui insiden yang terjadi pada istrinya kalau, masalah Nadine Alexandra perempuan jahat itu biarkan saya yang mengurusnya!" Perintahnya Bu Gina.


Sista dan Rian saling bertatapan satu sama lainnya," kamu temani Nyonya Besar di sini saja, saya akan mengirimkan pakaian ganti untuk kamu," pintanya Rian untuk kekasihnya sekaligus rekan kerjanya itu.


"Baik, aku sudah meretas cctv di rumah dan menghapus semua jejak rekaman ketika Nona muda terjatuh dan juga masalah bukti botol minyak sudah diamankan oleh Ria," jelas Sista.


"Kerja kalian bagus, saya ingin melihat sampai dimana Riyad bisa melindungi istrinya itu, semoga ia bisa membuka matanya dan melihat betapa sungguh baiknya Nadine," ketusnya Bu Gina seraya mengepalkan kedua genggaman tangannya itu.


Beberapa jam kemudian, pintu ruangan operasi terbuka beberapa rombongan tim dokter dan perawat keluar setelah selesai mengoperasi Fatimah untuk menyelamatkan nyawanya. Rasa lega baru bisa terlihat di wajahnya Bu Gina setelah mendapatkan penjelasan terinci dari dokter langsung.


Bu Gina sudah berada di dalam ruang perawatan Gina setelah dokter menyatakan kondisi Fatimah sudah stabil dan membaik dari sebelumnya.


"Putriku maafkan Mama yang terlambat mengetahui jika kamu adalah putriku, mama yang salah karena terlambat mencarimu, andai saja saya lebih jeli dan merasakan kamu itu anakku darah dagingku pasti semua ini tidak akan terjadi padamu," ratapnya Bu Gina sambil menciumi punggung tangannya Fatimah yang masih nampak pucat itu.


Tiga hari kemudian, Bu Gina pulang ke rumahnya yang berniat untuk bertemu langsung dengan Riyad. Karena sesuai dengan informasi yang dia dapatkan, hari ini kedatangan Nadine dari kota Bandung.


Bu Gina membuka pintu berdaun dua itu dengan raut wajahnya yang sulit terbaca. Dia segera berjalan ke arah ruang kerjanya Riyad karena hari ini Riyad belum berangkat ke kantornya dikarenakan Nadine Alexandra yang baru pulang.


Bu Gina sama sekali tidak meminta ijin untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Sehingga kedua bola matanya menyaksikan langsung adegan mesra yang dilakukan oleh keponakannya sekaligus menantunya itu dengan istri pertamanya.

__ADS_1


Bu Gina bertepuk tangan melihat keduanya yang seperti pasangan tidak resmi yang kepergok sedang berduaan.


"Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan, bukannya ke perusahaan untuk bekerja malah mengerjai istri di rumah, apa seperti ini setiap hari kerjaan kamu!?" Sarkas Bu Gina yang sudah duduk di hadapan keduanya.


"Kenapa juga wanita tua ini datang mengganggu saja!" Umpatnya Nadine Alexandra Dewi senyuman penuh maksudnya yang sangat lihai dan pintar menyembunyikan perasaan jengkel, takutnya dalam waktu yang bersamaan.


Riyad ingin menurunkan tubuhnya Nadine di atas pangkuannya tapi, Nadine seolah menolak untuk turun. Bu Gina hanya tersenyum miris melihat sikapnya Riyad yang seperti boneka mainannya Nadine Alexandra yang tidak berkutik sedikit pun untuk mendisiplinkan istrinya itu.


"Tante, kapan pulang dari Bandung? Maafkan aku yang tidak menyambut kedatangan Tante," sesalnya Riyad yang masih dipeluk oleh Nadine.


Bu Gina hanya tersenyum smirk melihat reaksinya Nadine Alexandra yang sangat pintar bersilat lidah dan menutupi kejadian sebenarnya.


"Sayang masuklah ke dalam kamar sepertinya kamu butuh banyak istirahat karena baru pulang dari perjalanan jauh, Mas akan segera menyusulmu setelah urusanku selesai," imbuhnya Riyad.


"Saya yakin apa yang akan mereka bicarakan berhubungan dengan wanita pelakor itu, tapi sudahlah karena perempuan itu sudah menemui ajalnya mungkin karena sudah tiga hari sama sekali tidak ada kabarnya," batinnya Nadine sambil berjalan meninggalkan ruangan kerja suaminya.


Bu Gina terus memperhatikan gerak geriknya Nadine hingga pintu itu tertutup rapat dari luar. Bu Gina menyunggingkan senyumnya.


"Riyad, Dimana istri keduamu berada, kenapa sejak kedatangan Tante di rumahku ini aku tidak melihat keberadaannya?" Bu Gina berpura-pura mencari Fatimah.


Riyad nampak begitu panik dan gugup karena ia tidak menyangka jika tantenya saudara kembar dari almarhumah mamanya itu mengetahui rahasia terbesarnya.


"Mak-sudnya Tante apa, saya sama sekali tidak mengerti," kilahnya Riyad.

__ADS_1


"Tante heran dengan kamu, ternyata kamu sudah pintar berbohong dan bermain rahasia dengan Tante rupanya, kamu tidak perlu menutupi kenyataan yang ada karena aku tahu semua yang terjadi d dalam rumahku sendiri walaupun kamu terus berusaha untuk berusaha untuk menyembunyikan kenyataan yang ada," terangnya Bu Gina seraya tersenyum penuh arti melihat kegugupan yang dialami oleh Riyad.


"Apa Tante sudah tahu jika aku lah pria yang telah merenggut mahkotanya Fatimah,tapi kok sampai bisa Tante curiga dan mengetahuinya padahal saya dan Fatimah sudah sangat menjaga rahasia kami itu dengan baik," Riyad membatin sembari memainkan ballpoint pen yang ada di dalam genggaman tangannya.


Bu Gina mengirimkan chat pesan singkat kepada Sista untuk segera mengurus keberangkatannya ke Swiss negara tujuan yang akan dia datangi bukan negara dimana salah satu cabang perusahaannya berdiri.


"Sista urus semuanya dengan baik, besok saya ingin berangkat,"


Riyad sebenarnya juga merasa ada keganjilan yang terjadi ketika Fatimah pergi. Karena menurutnya, setiap kali Fatimah ingin berpergian pasti dia sempatkan untuk meminta ijin padanya.


"Saya mungkin lebih baik jujur di hadapan Tante, karena terus menutupinya juga tidak baik adanya,"


"Kenapa kamu diam, apa semua yang saya katakan salah?"


"Baiklah saya akan jujur di hadapan Tante, Fatimah adalah istriku dan bayi yang ada di dalam kandungannya itu adalah darah dagingku sendiri," ungkap Riyad yang sedikit ragu untuk mengutarakan kebenaran yang ada.


Bu Gina berpura-pura nampak terkejut mendengar kenyataan itu, " ya Allah Riyad apa nak yang terjadi padamu, tapi gimana dengan Nadine jika ia tahu apa yang kamu lakukan ini, terus istri kamu sekarang ada di mana kenapa Tante enggak lihat dia padahal aku kangen dengan masakannya," Bu Gina sudah memutuskan yang terbaik untuk kedua anggota keluarganya itu.


"Katanya dia pulang kampung karena ada anggota keluarganya yang mengadakan hajatan pesta," jelas Riyad.


"Aku tidak akan mengatakan kepadanya apa yang terjadi pada Fatimah biarkan dia sendiri yang menyadari kesalahan terbesar dalam hidupnya,"


Riyad tanpa bingung dengan memikirkan Fatimah yang belum mengabarinya sedikit pun," semoga saja Fatimah tidak memberikan kabar apapun ke hpku aku takut jika Nadine membacanya,"

__ADS_1


"Kalau begitu karena Fatimah juga tidak ada padahal tujuan kedatanganku ke sini khusus hanya untuk bertemu dengan Fatimah kalau gitu Tante pamitan karena akan berangkat ke luar negeri, Tante minta jaga diri kamu baik-baik jangan mau hidup dalam kebohongan dan rahasia terus," imbuhnya Bu Gina lalu beranjak dari tempat duduknya itu dengan senyuman meremehkan.


__ADS_2