
Mereka sering keluar hotel dan club malam bersama. Sedangkan Riyad semakin sibuk mengurus perusahaannya sehingga sama sekali tidak memiliki waktu luang untuk bercanda dan berkumpul dengan Nadine seperti dulu lagi.
Riyad segera menyimpan ballpoint nya kak lalu berjalan ke arah jendela ruangan kantornya itu tatapan matanya tajam menatap indahnya langit siang hari itu, "Ada kehampaan dalam hatiku, serasa ada yang kosong, tapi, aku tidak tahu apa itu yang hilang dalam hidupku apa aku merindukan kebersamanku dengan Nadine atau kah kangen ingin melihat rona kemerahan wajahnya Fatimah setiap kali kami berduaan," batinnya Riyad.
Hari, minggu, bulan dan tahun telah berlalu berlalu tapi, kehidupan pernikahan Riyad dengan Nadine tidak ada perubahan dan kemajuan yang terjadi dalam rumah tangganya. Hubungan mereka semakin renggang, dingin dan tidak ada lagi rasa cinta.
Tapi, Riyad sama sekali tidak ingin juga memperbaikinya karena perasannya sudah beku dan mati untuk istri pertamanya itu. Riyad sudah berusaha untuk mencari keberadaan istri sirinya,tapi apa pun yang dilakukan olehnya percuma dan sia-sia saja.
"Fatimah, Mas sudah berusaha dan berjuang untuk mencarimu tapi, kamu seperti tidak ingin aku temukan dan tidak ingin kembali ke dalam hidupnya Mas, Fatimah apa kedua anak kita sudah besar aku sangat merindukan kalian semua, tolong kembalilah padaku!" Ratapnya Riyad yang tertidur di atas meja kerjanya.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia segera mematikan layar laptopnya dan bersiap pulang. Setiap hari Riyad hidup dalam bayang-bayang masa lalu dan kenangan bersama istri sirinya itu.
Seperti tadi siang, Riyad sedih ketika salah satu dari karyawannya keceplosan dan lupa jika Riyad sudah ditinggalkan begitu saja oleh istri keduanya. Berita jika Riyad memiliki dua istri cukup cepat beredar di dalam perusahaannya, tapi Riyad sama sekali tidak berniat untuk menutupi atau menyanggah fakta itu.
"Pak, kalau istri kedua Bapak ada pasti Bapak tidak perlu repot-repot untuk memesan makanan di luar karena dulu istri Bapak selalu mengantarkan makanan siang dan malam untuk bapak," celetuk asisten pribadinya Riyad yang tanpa sengaja berbicara seperti itu.
__ADS_1
Riyad terenyuh hatinya mendengar perkataan dari asistennya. Ia hanya terdiam tanpa kata dan hal itu sangat sesuai dengan apa yang terjadi padanya dan atas dasar pilihannya sendiri.
Riyad segera menyudahi acara makannya dan kembali ke dalam ruangannya karena cukup malu jika ia memperlihatkan reaksi marah atau pun tidak sukanya.
"Ini semua kesalahanku sendiri yang tidak mencegah kepergian Fatimah dari dalam hidupku, aku sendiri yang menginginkan seperti ini jadi aku harus kuat dan sabar menjalaninya, aku hanya berharap semoga Fatimah kembali hanya itu hal terpenting yang selalu aku harapkan,"
Riyad hari ini pulang terlambat karena sangat larut malam karena pekerjaannya yang menuntutnya berbuat seperti itu. Kehidupannya Riyad lebih banyak dihabiskan di depan layar komputer. Karena menurutnya kegiatan itu mampu menutupi kesepian, kerinduan yang dia rasakan hanya untuk Fatimah seorang.
Riyad mengemudikan mobilnya dengan cukup santai karena dirinya merasakan kelelahan yang sangat. Berselang beberapa menit kemudian, dia sampai di rumahnya.
Riyad segera memeriksa hpnya dan memeriksa beberapa transaksi perbankan yang dilakukan oleh Nadine, tapi satupun tidak ada yang menyatakan jika ia baru saja mobil.
"Terus mobil itu punya siapa, kalau Tante Gina juga bukan karena sudah tidak ingin menginjakkan kakinya di rumah ini jika Nadine masih berada di dalam rumah itu," gumamnya Riyad.
Sejak kepergian Fatimah dari rumah itu, Rian dan Sista serta Ria memilih untuk pergi dari rumah itu bersama dengan Bu Gina ke negara yang sama sekali tidak diketahui oleh Riyad. Bu Gina sengaja melakukan dan merahasiakan kepergiannya.
__ADS_1
Semua asisten rumah tangganya di dalam rumahnya adalah anak buahnya Natalie yang sama sekali tidak diketahui oleh Riyad. Hal itu mempermudah semua kejelakan yang dilakukan oleh Natalie bisa tertutupi dengan baik.
"Sepertinya aku harus segera masuk ke dalam rumah untuk mengetahui siapa pemilik mobil merah tersebut yang bermerk kuda jingkrak itu,"
Langkahnya pasti menapaki setiap sudut ruangan rumahnya. Tapi, ia kembali kebingungan karena serasa rumahnya seperti rumah yang sudah beberapa hari tidak berpenghuni.
"Semua orang-orang ada di mana, padahal baru jam sebelas malam?"
Dia menapaki undakan tangga dengan perlahan dan berencana akan kembali tidur di dalam ruangan kerjanya. Tapi, tanpa sengaja melihat pintu kamar istrinya tidak tertutup rapat sehingga cahaya lampu mampu menyembul keluar. Riyad cukup penasaran untuk melihat hal tersebut.
Tetapi, tumit dan lututnya bergetar hebat setelah mendengar suara-suara dee saaa han dari dalam kamarnya. Riyad menutup kedua telinganya yang sangat tak ingin mendengar suara tersebut. Tapi, karena rasa penasaran dan kepo ia pun perlahan membuka pintu itu dengan diam-diam.
Riyad dibuat shock dan kaget melihat Natalie sedang bercumbu dengan seorang pria yang sama sekali tidak dikenalnya itu. Dia sedih dan cukup kecewa melihat fakta jika istrinya telah selingkuh dengan pria lain yang berperawakan bule itu.
Riyad tersungkur ke atas lantai dan kakinya tak mampu untuk bergerak sedikitpun saking tidak percayanya melihat wanita yang disayanginya itu dengan setulus hati dan sepenuh jiwanya lebih memilih mempertahankannya dari pada istrinya yang telah mengandung calon anaknya sendiri.
__ADS_1