Majikanku Ayah Dari Anakku

Majikanku Ayah Dari Anakku
Bab. 14


__ADS_3

"Kalau begitu karena Fatimah juga tidak ada padahal tujuan kedatanganku ke sini khusus hanya untuk bertemu dengan Fatimah kalau gitu Tante pamitan karena akan berangkat ke luar negeri, Tante minta jaga diri kamu baik-baik jangan mau hidup dalam kebohongan dan rahasia terus," imbuhnya Bu Gina lalu beranjak dari tempat duduknya itu dengan senyuman meremehkan.


Ruangan itu kembali sepi, meninggalkan Riyad seorang diri di dalam ruangan pribadinya. Bu Gina berpapasan dengan Nadine istri sah dari keponakannya itu. Nadine dengan berat hati tersenyum menyambut Tante dari suaminya, satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh suaminya dari pihak mamanya itu. Tetapi, Bu Gina hanya tersenyum simpul melihat Nadine Alexandra yang membuat perasaan Bu Gina dongkol,marah dan benci yang tiba-tiba datang menghantui pikiran dan perasaannya itu.


Bu Gina menatap ke arah Riyad sebelum meninggalkan ruangan pribadi Riyad di rumahnya," keponakanku yang ganteng kamu akan menyesal telah memutuskan untuk lebih memilih istri rubahmu itu dibandingkan putriku dan aku akan membuatmu suatu hari akan berlutut mengemis cintanya Fatimah Az-Zahra Zalita."


Bu Gina memutuskan untuk pergi ke Swiss meninggalkan tanah air Indonesia tercinta tempat kelahirannya bersama putrinya yang masih dalam butuh perawatan intensif dari tenaga medis.


Satu bulan kemudian, Riyad hari ini terbangun dalam tidurnya. Ia meraba nakas meja sedang mencari gelas dan teko yang selalu terisi penuh air. Ia keheranan karena biasanya ada air di sana. Riyad ngelus lehernya yang kebetulan sangat kering dan kehausan.


"Biasanya ada air,kok hari ini tidak ada, apa Fatimah lupa menyimpan air untukku, apa dia lupa kalau aku sering bangun tengah malam karena kehausan!" Gumamnya Riyad yang melupakan jika sudah hampir sebulan Fatimah pergi dari rumahnya dan belum pulang juga.


Riyad menyibak selimutnya lalu mengarahkan pandangannya ke arah perempuan yang tertidur membelakanginya, ia menggelengkan kepalanya melihat siapa wanita itu.


Riyadh mengelus wajahnya dengan gusar," astaghfirullahaladzim, aku lupa jika Fatimah belum pulang dari desa, kok dia sama sekali tidak memberi kabar untukku, kemarin aku coba hubungi nomornya tapi enggak aktif, apa karena sinyal di kampung itu susah," cicitnya Riyad lalu memakai sendal rumahannya.


Riyad berjalan ke arah tangga lalu perlahan menuruni tangga rumahnya, tanpa sengaja ia melihat bayang-bayang Fatimah ketika sedang masak di dapur. Saat itu ia baru saja pulang dari kantornya tepatnya sudah larut malam. Karena makanan di dapur sudah tidak ada yang tersisa atau habis. Dia terpaksa membangunkan Fatimah di dalam kamarnya.

__ADS_1


Riyad dengan patuh dan sabar duduk di meja dapur sambil menemani Fatimah memasakkan makanan untuknya. Aroma kelezatan masakan yang dimasak oleh Fatimah waktu itu sungguh menggugah selera makannya, padahal hanya sepiring nasi goreng seafood saja.


Riyad segera mempercepat langkah kakinya menuju dapur dengan senyuman yang merekah melihat punggungnya Fatimah yang sedang memasakkan makanan untuknya.


"Fatimah!" Teriaknya seraya ingin menggapai tangannya Fatimah.


Tapi, tiba-tiba tubuhnya Fatiamh menghilang dalam sekejap mata dan yang ternyata hanyalah bayangan semu saja. Tangannya Riyad terpaksa menggantung di udara. Ia merasa kecewa karena sudah memikirkan malam itu akan makan nasi goreng seafood buatan istri keduanya.


Riyad terduduk di atas salah satu kursi dapur, ia menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar. Ia tidak menyangka jika akan berhalusinasi melihat Fatimah berdiri di dapur. Padahal apa yang dirasakannya dengan Fatimah sama sekali tidak pernah ia alami ketika berbulan-bulan berpisah dengan Nadine.


"Apa aku merindukan masakannya dan kebiasaan yang sering dia lakukan padaku, sehingga aku mengira bayangan adalah dia," cicitnya Riyad yang terduduk dengan wajah sendunya.


"Andai saja Nadine sifatnya seperti Fathimah, tapi sangat jauh berbeda walaupun keduanya sama-sama cantik tapi, Fatimah lebih tulus perhatian padaku dibandingkan dengan Nadine yang sama sekali sekalipun tidak pernah melayaniku sebagai seorang suami," lirih Riyad yang tanpa aba-aba terasa air matanya menetes membasahi pipinya itu.


Apa yang dilakukan ternyata tanpa sengaja dilihat oleh Rian kepala pelayan di kediamannya. Rian berjalan ke arah Riyad dengan senyuman penuh maksudnya itu.


"Tuan Muda, apa yang Anda lakukan di dalam dapur tengah malam begini?" Rian ikut duduk di sampingnya Riyad.

__ADS_1


Riyad menengadahkan kepalanya ke arah Rian," saya menunggu Fatimah memasak makanan untukku, karena malam ini aku sangat lapar," jawabnya Riyad yang sama sekali tidak memikirkan terlebih dahulu apa yang dikatakannya itu.


Rian tersenyum licik," Tuan Muda, sepertinya mungkin Anda sedang bermimpi karena, Nyonya Muda Fatimah sudah kurang lebih pergi dari sini," tukasnya Rian yang diam-diam tersenyum penuh kelicikan.


Perkataan Rian barusan menohok hatinya Riyad, ia langsung tersadar dan wajahnya langsung memerah saking malunya karena apa yang dikatakannya itu adalah membuatnya harus kembali tersadar dari ilusi yang diciptakan oleh pikiran-pikirannya sendiri.


Rian kemudian tersenyum tipis," Saya kira Tuan Muda punya lagi seorang istri yang sangat cantik dan baik hati kenapa tidak memintanya untuk memasak nasi goreng seafood seperti yang pernah dimasak oleh Nona Fatimah untuk Anda," lalu Rian beranjak dari tempat duduknya itu dengan senyuman tipisnya yang ingin sekali menertawai ketidak berdayaannya Riyad saat itu.


Riyad merenungi semua perkataan dari Rian asisten kepercayaannya di rumah itu,"apa yang dikatakan oleh Rian sangat benar sekali, aku kan punya dua Istri, kenapa aku terlalu bego untuk memikirkannya,"


Riyad berdiri dari duduknya lalu bergegas menaiki undakan tangga satu demi satu dengan wajahnya yang sumringah.


"Hahaha, rasain seperti itu lah yang akan Tuan Muda rasakan setiap hari selama Anda tidak mencari Nona Muda Fatimah, makan tuh cinta butamu karena terlalu dibutakan oleh kelicikan dan tipu muslihatnya Nadine Anda akan seperti ini perlahan akan terpuruk dalam kerinduan dan kesedihan yang tidak bertepi."


Riyad segera menjalankan saran dan usulannya Rian sang kepala pelayan itu. Dengan wajah yang sumringah bahagia membayangkan malam ini akan makan makanan yang enak seperti yang setiap malam Fatimah masakkan untuknya.


Jam di dinding baru menunjukkan pukul sebelas malam lewat lebih. Riyad masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan yang suka cita karena sudah membayangkan kelezatan makanan itu.

__ADS_1


"Aku yakin Nadine pasti bisa masak,selama ini kami menikah yang sudah masuk tujuh tahun tapi, sekalipun dia tidak pernah ingin melayaniku dengan baik seperti yang sering dilakukan oleh Fatimah," gumamnya Riyad sambil menarik selimutnya Nadine.


Nadine Alexandra yang baru saja terlalap dalam tidurnya karena baru selesai menelpon dengan salah satu sahabat lamanya itu merasa terganggu dan terusik dalam tidurnya itu.


__ADS_2