
"Makasih banyak atas makanannya,tapi kalau bisa cukup hari ini saja Anda datang membawakan saya makanan karena saya tidak ingin terlalu berdekatan dengan pria lain sedangkan saya sudah punya suami, jadi tolong kubur dan buang jauh-jauh impian Anda itu sebelum terlambat," imbuhnya Fatimah seraya berdiri dari tempat duduknya.
Reza cukup dibuat terkejut dengan perkataan dari mulutnya Fatimah yang mengatakan jika dirinya sudah menikah, padahal info yang dia dapatkan kalau putri tunggalnya Bu Gina itu masih single.
Reza tersenyum menertawai perkataan Fatimah," alasanmu sangat tidak masuk akal, saya sangat tahu siapa kamu jadi jangan mencari alasan yang tidak masuk akal untuk melarangku mendekatimu kalau bisa cari lah alasan mungkin yang lebih bagus dari ini," sarkas Reza.
Fatimah berjalan ke arah pintu keluar," terserah Anda saja mau percaya atau tidak karena saya tidak mungkin memaksa Pak Reza yang terhormat untuk percaya lagian Anda mau percaya atau tidak itu urusannya Anda," tukasnya Fatimah lagi lalu berjalan meninggalkan ruangan pribadinya itu dengan Reza yang masih duduk di atas salah satu sofa.
Sedangkan seseorang yang sedari tadi memperhatikan layar komputernya terbakar api cemburu dan api amarah dengan mengepalkan kedua tangannya dan menggertakkan giginya hingga kedengaran genmelatuk gigi-giginya itu.
"Saya tidak akan mengijinkan siapa pun merebut wanitaku dalam genggamanku, aku akan tunjukkan kepadamu pak Reza siapa suami dari Fatimah perempuan yang selalu kamu goda itu!" Umpatnya Riyad yang semakin marah setelah mendengar perkataan dari Reza melalui cctv yang diam-diam dia pasang di dalam kantornya Fatimah Az-Zahra Zalita.
Fatimah segera mempercepat langkah kakinya karena mendapat telpon dari sekolah anaknya yang mengatakan jika anaknya menangis dan sudah dibujuk tapi,tetap tidak mau diam dan berhenti menangis.
__ADS_1
"Saya harus segera menghubungi nomor hpnya Pak Yunus untuk segera menyiapkan mobil karena saya ingin keluar," gumamnya Fatimah sembari mencari kontak supir pribadinya di layar hpnya itu.
Pak Yunus segera menjalankan amanah yang diberikan oleh Fatimah dengan cara menjemputnya segera di kantornya lalu mengantarnya ke sekolah paud anaknya itu. Fatimah tersenyum lega karena melihat mobilnya sudah terparkir di depan lobi perusahaan.
Fatimah segera masuk ke dalam mobil tanpa memeriksa dan memperhatikan terlebih dahulu mobil itu. Yang ada di dalam pikirannya adalah anaknya yang katanya semakin histeris dalam tangisannya.
"Ya Allah… apa yang terjadi pada anakku kenapa sampai-sampai menangis, andaikan mama Gina belum kembali ke Belanda pasti hal ini tidak akan terjadi," cicitnya Fatimah.
"Maaf Nona Muda, kita akan ke mana?" Tanyanya Pak Yunus dengan masker dan topi yang selalu ia pakai dan setia dengan penampilan seperti itu.
"Siap Nona!" Balas Pak Yunus yang sesekali memperhatikan reaksi dari Fatimah melalui proses kaca spion mobilnya itu.
Berselang beberapa menit kemudian, mobil mereka sudah sampai di tempat parkiran khusus mobil di salah satu paud terbaik yang ada di Jakarta. Fatimah turun dari mobil tanpa sepatah katapun langsung berlari kecil masuk ke salah satu kelas yang dimana anaknya berada.
__ADS_1
Fatimah melihat putri kecilnya yang sudah tersedu-sedu dan terisak dalam tangisannya itu. Ia tersenyum kepada beberapa guru anaknya yang sedari tadi berusaha untuk menenangkan Aliena Azizah Pradipta.
"Aliena putri kecilnya bunda!" Sapanya Fatimah ketika sudah hampir berdiri di depan anaknya.
Aliena kecil segera mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara orang yang memanggilnya dan sangat mengenal suara itu. Anak itu pun tersenyum sumringah bahagia karena Bundanya sudah datang.
Aliena turun dari pangkuan ibu gurunya lalu berlari kearah Bundanya untuk menyambut uluran tangan Fatimah.
"Bunda!" Teriaknya Aliena.
"Alien putrinya bunda!"
Seseorang yang sedari tadi mengikuti langkah kakinya Fatimah terkejut melihat ada anak kecil yang memanggil Fatimah dengan sebutan panggilan Bunda.
__ADS_1
"Apa dia adalah putriku?" Batinnya Riyad yang diam-diam mengikuti langkah kakinya Fatimah.