
Riyad yang sedang memimpin jalannya rapat dengan relasi bisnisnya dari luar negeri. Tiba-tiba saja hpnya berdering yang sejak tadi sering kali dilihatnya itu. Apakah ada pesan chat dari anak buahnya yang ditugaskan untuk menjaga putrinya di rumah sakit.
Hingga senyuman tersungging di sudut bibirnya itu ketika membuka pesan chat tersebut.
"Maaf untuk sementara rapatnya ditunda sampai besok siang, karena kebetulan putriku dirawat di rumah sakit, David tolong antar Tuan Masimoto ke hotel terbaik kita dan berikan yang terbaik untuk beliau," pintanya Riyadh.
Pak Masimoto bangkit dari duduknya dengan senyuman santainya," oh itu tidak masalah Tuan Riyadh, Ingat anak dan keluarga yang paling utama sebanyak-banyaknya harta yang kita miliki kalau anak dan istri tidak bahagia itu tidak ada gunanya harta dan tidak akan berkah," jelasnya Tuan Masimoto Takeshi dari Jepang.
"Alhamdulillah makasih banyak atas dukungannya dan sudah mengerti dengan keadaanku ini," imbuhnya Riyad sambil memeluk tubuhnya Pak Masimoto.
"Santai saja, kita sama-sama punya anak lagian saya juga punya anak makanya saya sangat mengerti dengan kondisi yang dihadapi oleh Pak Riyadh, jadi silahkan ke rumah sakit saja, masalah disini ada Pak David," timpalnya Pak Mashi pengusaha muda dari Tokyo Jepang itu.
__ADS_1
"Thanks," Riyadh segera meraih kunci mobilnya untuk menemui anaknya terutama dengan istrinya itu.
Sedangkan di rumah sakit, Alina bisa tenang sedikit berkat kedatangan Salim kakak angkatnya Fatimah Zarah Zalita dan juga Bu guru nya yang bernama Fatiha Aulia Sarah. Sehingga Fatimah bisa bernafas lega dan melupakan jika harus menghubungi nomor hpnya Riyad.
"Alhamdulillah putriku sudah melupakan ayahnya semoga kedepannya tidak meminta saya untuk memanggil Mas Riyad," Fatimah bahagia melihat kedekatan putri tunggalnya itu bersama dengan Salim dan juga ibu guru cantiknya.
"Fatimah, apa sudah keluar hasil labnya Aliena?" Tanyanya Salim yang diam-diam mencintai guru sekolahnya si kembar.
"Belum, nanti siang baru keluar hasilnya, aku hanya berharap agar hasilnya negatif, anakku baik-baik saja," ucapnya Fatimah yang berharap anaknya baik-baik saja dan tidak mengidap penyakit yang berbahaya.
"Amin, insya Allah hasilnya baik,kamu jangan berfikiran negatif terus optimis dan tenangkan hati dan pikiranmu," ucap Salim yang berusaha untuk menyemangati dan menenangkan Fatimah yang nampak takut, cemas, panik serta khawatir.
__ADS_1
Fatimah yang duduk di ujung ranjang putrinya itu berusaha untuk tersenyum walaupun hatinya takut dan bimbang. Hingga suara decitan pintu terbuka lebar membuat semua orang yang berada di dalam kamar perawatannya Aliena.
"Bismillahirrahmanirrahim, bukan Riyadh Hakimi Pradipta namaku kalau aku tidak bisa mendapatkan cintanya istriku kembali seperti dulu lagi," gumam sambil memutar handle pintu.
Fatimah terkejut melihat siapa orang yang telah membuka pintunya dan spontan semua orang mengalihkan perhatiannya dan pandangan matanya ke arah pintu.
"Abang Riyadh," cicitnya Fatimah Az-Zahra Zalitah.
Alina yang sudah melihat jelas siapa pria yang berjalan masuk ke dalam kamarnya itu dengan menenteng sebuah map yang berisi beberapa kertas yang sudah pasti itu adalah hasil laboratorium pemeriksaan kesehatannya anak bungsunya itu.
"Pasti ini papanya Aliena wajah mereka sangat mirip," cicitnya Fatihah.
__ADS_1
"Ayah! hore ayah sudah datang!" teriaknya Alina salah satu anak kembarnya.