
Malam harinya, Riyadh memenuhi janji temu dari Salim kakak iparnya itu. Sudah sekitar lima belas menit, Riyadh menunggu kedatangan Salim sambil menikmati secangkir kopi espresso yang masih hangat.
Sesekali Riyad memperhatikan dengan seksama salah seorang biduan dangdut yang sedang menyanyikan beberapa lagu beraliran dangdut malam itu menghibur pengunjung kafe.
"Ya Allah… Salim kok milih kafe seperti ini, apa dia hoby dengerin musik dangdut yah,
Kalau gitu pantesan saja milih kafe ini padahal masih banyak kafe yang lebih bagus dari ini," gumamnya Riyad sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan penjuru kafe itu.
Berselang beberapa menit kemudian, Salim pun datang juga sambil membuka jaket hoodienya yang menemaninya jika mengendarai motornya itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum, maaf terlambat datang Abang soalnya ada beberapa kerjaan lemburan aku selesaikan dulu sebelum ke sini," ucapnya Salim padahal Riyad sama sekali tidak bertanya padanya.
"Tidak apa-apa kok, kamu silahkan memesan minuman saja dulu, sepertinya kamu kehausan dari perjalanan jauh," ucapnya Riyad yang menawarkan minuman khusus untuk kakak iparnya itu.
Salim terkekeh mendengar penawaran kakak iparnya itu," Alhamdulillah kalau gitu aku pesan teh weddan saja, kebetulan di kafe ini wedannya terkenal," ucapnya Salim.
"Maaf sebelumnya Pak Riyad bukannya saya mencampuri urusan pribadi rumah tanggamu tapi, saya hanya tidak ingin lagi melihat kesedihan, keresahan hati dari kedua keponakanku Pak, mereka sudah cukup menderita hampir delapan tahun lamanya, apa bapak tidak memikirkan masa depan mereka, kalau bisa turunkan egonya bapak demi kebahagiaan dan masa depan mereka," pintanya Salim.
Riyadh tersenyum mendengar perkataan dari kakak iparnya itu," kamu kebiasaan kalau ngomong dengan saya selalu memanggil pakai embel-embel bapak segala, seharusnya cukup Riyadh saja kamu itu kakak ipar ku bukan lagi anak buahku kalau di luar seperti dan disini bukan lingkungan pekerjaan, Ingat itu dan saya harap kedepannya tidak terulang lagi untuk kesekian kalinya," Tuturnya Riyad sambil sesekali menyesap kopinya itu.
__ADS_1
"Kalau masalah itu sejak aku bercerai dengan istri pertama ku dan mengetahui jika Fatimah melahirkan dua anak kembarku, aku sudah bertekad untuk membuat kedua anak-anakku bahagia dan aku berharap aku bisa berkumpul dan bersatu kembali dengan Fatimah seperti layaknya keluarga kecil bahagia lainnya seperti orang-orang pada umumnya," ungkap Riyadh.
Salim tersenyum sumringah mendengar perkataan dari Riyadh, "Alhamdulillah kalau seperti itu karena tujuanku mengajak pak Ri… eh kamu bertemu di sini adalah inilah alasannya, saya berharap kamu serius dengan semua kata-katamu dan aku akan selalu mendukung kamu apapun itu demi kebahagiaannya Alina dan Aidan karena kebahagiaan dia adalah kebahagiaan Fatimah dan saya juga," ujarnya Salim Kamal Hasan.
"Kalau begitu, mulai besok aku minta padamu secara khusus bantu aku melamar Fathimah rencananya besok malam setelah ba'da shalat isya aku akan datang langsung ke rumah untuk melamar kedua kalinya Fatimah dan saya berharap kamu membantuku prosesnya," pintanya Riyad yang bahagia karena apa yang diinginkannya didukung oleh kakak iparnya itu secara langsung.
Sedangkan jauh di tempat keduanya yang sedang berdiskusi itu, seorang perempuan masih bersimpuh di atas sajadah berwarna biru tua itu. Ia menitikkan air matanya itu saking sedihnya dan kebingungan harus memilih jalan apa agar kedua anak kembarnya itu bahagia dan bisa tenang tanpa harus melibatkan papa kandungnya itu suaminya sendiri.
"Ya Allah… aku memang masih mencintainya tapi aku juga takut bagaimana jika bayang-bayang masa lalu kami itu terulang kembali lagi, aku tidak ingin tersakiti, sedih, kecewa untuk kedua kalinya dalam hidupku, tapi aku juga tidak boleh egois karena aku tahu suatu saat nanti anak-anakku pasti akan bertanya masalah papanya kapan bisa balik ke rumah tinggal bersama kita, itu yang aku takutkan dan khawatirkan terjadi pada kedua anak kembarku itu,"
__ADS_1