Majikanku Ayah Dari Anakku

Majikanku Ayah Dari Anakku
Bab. 34


__ADS_3

Fatimah segera bangkit dari duduknya setelah melihat siapa pria yang berjalan masuk ke dalam kamar perawatan putrinya itu.


Alina hendak turun dari ranjangnya segera dicegah oleh Fatihah Ibu gurunya yg kebetulan datang membesuknya bersama dengan pamannya yaitu Salim kakak angkatnya Fatimah dari kampung yang sudah menetap di Jakarta.


"Alina! Stop cantik kamu tidak boleh turun dari tempat tidur,kamu harus banyak istirahat," cegahnya Fatihah yang menganjurkan agar Alina duduk tenang dan patuh di atas ranjang sambil menunggu kedatangan pria yang disapa papanya itu.


Sedangkan Fatimah hanya terdiam mematung di tempatnya semula dan tidak menyangka jika Riyadh suaminya akan datang menemui putrinya secara terang-terangan yang awalnya hanya diam-diam saja selama ini.


Riyadh melirik sekilas ke arah istrinya itu sambil tersenyum simpul, "Assalamualaikum princess cantiknya Papa Alina Azizah Pradipta, gimana kabarnya Nak hari ini?" Riyad segera memangku tubuhnya Alina ke atas pangkuannya itu.

__ADS_1


Alina sangat gembira dan memperlihatkan wajah sumringah, eksaitit, heboh dan semangatnya karena Pria yang ditunggu-tunggu dan diharapkan kedatangannya sudah hadir di sampingnya tak terduga. Salim Alamsyah Herman dan Fatiha Aulia Sarah Jamil.


"Waalaikumsalam ayah Riyadh Hakimi Pradipta," balasnya Aliena yang menyapa papanya itu pria yang harus hidup bersamanya tapi, karena kebodohannya dan kesalahannya sendiri sehingga ia harus terpisah dari istri dan kedua anak kembarku itu.


Aiden pun segera berhamburan memeluk pinggangnya Riyadh karena memang ukuran tubuhnya yang baru setinggi melebihi pinggang orang dewasa yang berukuran hampir dua meter itu.


"Ayah sangat merindukan kalian berdua, tapi maafkan ayah Nak baru bisa datang menjengukmu, ayah sibuk banget akhir-akhir ini kalian enggak marah kan?" Tanyanya Riyad yang sesekali selalu melihat sepintas lalu ke arah istrinya berada.


"Tidak apa-apa kok Ayah, saya sudah baikan kok, katanya ibu guru cantik kalau minum obat dengan teratur, makann yang banyak insya Allah saya boleh cepat pulang ke rumah dan bermain di sekolah bersama teman," ujarnya Aliena dengan semangat.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau seperti itu, berarti hari ini Alina kata Pak dokter bisa pulang ke rumah hari ini karena hasil labnya sudah keluar dan Alhamdulillah Alina sudah dinyatakan sehat oleh Pak dokter, gimana apa Alina bahagia?" Riyad merangkul putra sulungnya itu dan anak keduanya dalam pangkuannya.


Kejadian yang langka dan jarang terjadi itu diperhatikan dan disaksikan langsung oleh Salim dan Fatiha. Fatimah masih saja berdiri kebingungan tidak mengerti apa yang harus dilakukan olehnya itu. Sedangkan Salim dan Fatiha berjalan ke arah sofa seraya memperhatikan interaksi ke empat orang itu.


Aiden segera berjalan ke arah bundanya yang terdiam saja tanpa ikut menimpali percakapan anak dan suaminya. Ada rasa rindu, kecewa, sedih, bahagia, penyesalan dan amarah yang bercampur menjadi satu bagian di dalam perasaan, benak dan pikirannya itu dalam waktu yang bersamaan.


Berselang beberapa menit kemudian, semua barang-barang yang sempat dibelinya dibawa masuk ke dalam kamar tersebut. Anak buahnya sekaligus menjabat supir pribadinya yang didalam genggaman tangannya memegang beberapa kantong kresek plastik yang di dalamnya ada aneka macam jenis makanan.


"Bunda yuk gabung dengan kami, ayah bawa banyak makanan dan buah untuk bunda,dedek Alina, Abang Aiden dan juga untuk Paman Salim dan Ibu guru cantik, ayok semuanya gabung makan," pintanya Aiden yang memaksa mamanya untuk bergabung.

__ADS_1


__ADS_2