Majikanku Ayah Dari Anakku

Majikanku Ayah Dari Anakku
Bab. 27


__ADS_3

"Papa, aku merindukan Papa, kenapa Papa sampai sekarang belum datang menjemput Aiden dengan adik Aliena, kata Bunda Papa suatu hari nanti akan datang menemui kami," ratapnya Aiden Abimanyu dalam pelukan Pak Yunus supir pribadinya Fatimah Az-Zahra Zalita.


"Ya Allah… ternyata Fatimah kalau dilihat sekilas sangat membenciku, tapi di depan anak-anakku mereka sama sekali tidak memiliki sifat sedikitpun untuk membenci dan marah padaku malahan mereka selalu diceritakan hal baik tentang ku sedangkan sifat dan perilakuku dulu dengan istriku sangat tidak baik, makasih banyak istriku kamu menanamkan moral kebijakan dan kebaikan sejak mereka masih kecil, aku semakin merasa bersalah," batinnya Riyadh seraya menggendong tubuhnya Aiden putra sulungnya itu.


Aiden tidak mengenali Riyadh karena dia memutuskan untuk membuka maskernya di depan anak sulungnya itu bukan dalam sebagai bentuk penyamarannya sebagai supir pribadinya Fatimah.


Aiden menolehkan kepalanya ke arah wajahnya Riyad," Paman, apa benar yang dikatakan Bunda kalau Papa suatu saat nanti akan datang menjemput kami?" Tanyanya Aiden dengan polosnya.


Riyad sudah duduk kembali di atas ayunan yang cukup besar dibandingkan yang pertama dipakai oleh Aiden yang khusus untuk anak-anak.


"Insya Allah… Papa kalian pasti akan datang tapi, apa boleh Paman bertanya padamu boy?" Tanyanya Riyad sambil membelai rambut pendeknya yang hitam legam milik Aiden itu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.


"Serius Papa akan kembali berkumpul bersama Aiden, adik Aliena dan Bunda?" Tanya Aiden dengan penuh semangat antusias.


Riyad menganggukkan kepalanya seraya menolehkan kepalanya ke arah kirinya dimana Aiden mengayunkan ayunannya kembali.

__ADS_1


"Tadi Paman ingin bertanya kepada saya itu apa?" Raut wajahnya yang kebingungan dengan maksudnya Riyad.


Riyad menghela nafasnya dengan panjang," kalau misalnya papamu berdiri di hadapanmu, apa yang akan kamu lakukan?"


Aiden tanpa menjawab pertanyaan dari Riyad,dia langsung reflek turun dari ayunannya lalu segera memeluk tubuhnya Riyad dengan erat.


"Aku akan memeluknya dengan erat asalkan papa tidak akan pergi lagi disisi gambar hidup bunda, aku dan adek," imbuhnya Aiden Abimanyu yang kembali memeluk tubuh Riyad yang masih duduk dengan setia di atas ayunan.


"Kalau Paman mengaku sama kamu kalau papa adalah Papanya Aiden gimana?" Riyad memperhatikan dengan seksama perubahan mimik wajahnya Aiden.


Aiden memegang tangannya Riyad dengan cukup erat-erat, "Serius Paman adalah Papa Riyad Hakimi Pradipta?" Tanya Aiden Abimanyu yang sangat hafal betul nama panjang Papanya.


Aiden merebut hp itu lalu memperhatikan dengan seksama gambarnya, ia sesekali membandingkan orang yang berada di dalam gambar itu dengan pria yang duduk dengan senyuman wibawanya di hadapannya itu.


Aiden segera memeluk tubuh tegapnya Riyad," Papa, aku sangat beruntung bisa bertemu dengan Papa, aku sangat ingin bertemu dengan Papa, apa Papa juga ingin menemui kami?" Ujarnya Aiden Abimanyu Pradipta yang menangis tersedu-sedu meratapi pertemuan pertamanya dengan ayah kandungnya itu.

__ADS_1


"Sayang putranya Papa, maafkan papa Nak yang baru bisa datang menemui, semua ini karena kesalahan dan keegoisannya Papa sehingga kita harus berpisah," imbuhnya Riyad dalam tangisnya.


Aiden mengerutkan keningnya mendengar perkataan dari mulut papanya. Tapi, yang paling penting ia sudah bisa bertemu dengan papanya itu sehingga mengesampingkan pertanyaan yang muncul dalam benaknya.


Mereka saling melepas rindu,Riyad pun memutuskan untuk berkata jujur sebenarnya apa yang melatar belakangi mereka sehingga berpisah dan juga menceritakan semuanya dengan detail tapi, tetap ada hal penting yang harus ia sembunyikan dan tutup rapat-rapat karena, mengingat jika putra sulungnya itu salah satu anak kembarnya masih kecil yang belum mengerti dengan permasalahkan orang dewasa.


"Apa Aiden bisa bantuin Papa untuk dekat dan kembali bersama dengan Bunda seperti dulu lagi enggak?"


Aiden tanpa banyak pikir langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih dan tertata rapi itu. Riyad pun duduk sembari memangku tubuh salah satu anak kembarnya. Ia pun membeberkan rencananya dengan secara rinci dan detail.


Aiden cukup dewasa dibandingkan dengan usianya yang baru jalan enam tahun itu. Aiden memperhatikan dengan baik penjelasan papanya. Mereka sepakati dan setuju untuk berjuang bersama untuk menjalankan rencananya penyatuan kembali dua pasangan suami istri yang terpisah sekian tahun lamanya.


Diakhir percakapan mereka, yaitu keduanya sama-sama saling tos ria yaitu mereka menepukkan kedua tangannya dengan penuh kegembiraan. Riyad sangat bahagia dan bersyukur memiliki anak kembar yang sangat pengertian kepadanya.


Hingga suara seruan seseorang membuat Riyad buru-buru memakai masker dan juga topinya itu kemudian menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aiden Abimanyu Pradipta!" Teriak dua perempuan yang berbeda generasi segera berjalan ke arah mereka.


Aiden segera turun dari pangkuan papanya sebelum ada yang mencurigai kedekatan mereka berdua.


__ADS_2