
Sedangkan Fatimah langsung menundukkan kepalanya karena cukup malu mendengar perkataan dari Bu Gina. Fatimah hanya mampu menatap suaminya yang terbatuk-batuk itu tanpa bisa berbuat apa-apa karena mengingat di dalam tubuh rumah itu dia sebagai pembantu saja.
Bu Fina mengelus puncak rambutnya Fatimah yang tertutup hijab itu," semoga kamu betah bekerja disini, anggap saja mereka yang bekerja disini adalah keluarga kamu sendiri," ujarnya Bu Gina sebelum Fatimah diantar oleh Bi Narti ke dalam kamarnya.
Fatimah tersenyum penuh bahagia," makasih banyak Nyonya atas sambutannya dan sudah mengijinkan aku untuk tinggal dan bekerja di sini walaupun saya sedang hamil," timpalnya Fatimah.
"Tidak apa-apa kok, santai saja bagiku itu tidak masalah," balasnya Bu Gina.
Sedangkan Riyad sudah berada dalam kamarnya. Ia tidak habis pikir jika anak gadisnya orang yang pernah diperawaninnya adalah istri sirinya sendiri dan harus hidup sebagai asisten rumah tangga dikediamannya, walaupun hanya sebagai nikah siri saja tapi, ia juga merasa kasihan melihatnya.
"Semoga keputusanku ini adalah yang terbaik untuk kami, aku tidak mungkin tidak peduli dengan darah dagingku sendiri walaupun aku sama sekali tidak mencintainya tapi,aku tetap akan bertanggung jawab penuh padanya walaupun hanya diam-diam saja tanpa diketahui oleh orang lain."
Riyad mengguyur sekujur tubuhnya dengan air hangat malam itu. Ia cukup lelah dengan beberapa kejadian dan peristiwa yang terjadi beberapa hari belakangan ini.
Satu bulan kemudian, Bu Gina memutuskan untuk tinggal di kota London sebagai tempat tinggalnya untuk menghabiskan waktu masa tuanya seraya mengawasi dan menjalankan cabang perusahaan peninggalan milik suaminya itu. Tinggal lah Riyad dan Fatimah di rumah itu dan beberapa asisten rumah tangganya yang lain.
Hari ini, Fatimah meminta ijin kepada kepala kantor pelayan untuk pergi memeriksakan kondisi kehamilannya dan juga mengurus kartu tanda penduduknya karena selama ini ia memiliki ktp jawa Barat.
"Pak Rian, apa saya boleh meminta ijin hari ini untuk pergi memeriksakan kehamilanku ini dan juga sekalian saya ingin buat ktp baru," pintanya Fatimah f hadapan Pak Rian.
"Silahkan tapi, kamu harus pulang dan kembali ke rumah ini sebelum jam empat sore, dan kalau perlu kamu juga harus meminta ijin kepada Tuan Muda terlebih dahulu," ujar Pak Riansyah Adinegoro selaku kepala pelayan yang satu-satunya mengetahui status pernikahan mereka yang bisa dipercaya dan diandalkan untuk menjaga rahasia mereka karena sejak lama Pak Rian sudah bekerja di dalam keluarga besar Pradipta.
Di dalam rumah itu hanya dia yang mengetahui jika mereka suami istri yang sah. Awalnya Pak Rian sangatlah terkejut dengan berita gembira tersebut. Pak Rian tipikal pria yang bertanggung jawab dan memiliki dedikasi yang tinggi pada pekerjaan dan amanah yang sering diembannya.
Walaupun sebenernya,ia tidak menyukai sifat dan karakternya Nyonya muda mereka yaitu Nadine Alexandra sebagai istrinya Riyad yang selalu kasar, semena terhadap asisten rumah tangganya itu, tapi mereka tidak akan ada yang berani untuk berbicara dan menentang sikapnya Nadine sebagai istri sahnya Riyad yang masih menjalani perawatan di luar negri tepatnya di negara Singapura.
Fatimah tersenyum lalu segera berpamitan kepada Pak Rian," makasih banyak Pak atas bantuannya," imbuhnya Fatimah yang tersenyum simpul.
__ADS_1
Fatimah berlalu dari hadapannya Pak Rian dengan penuh suka cita. Ia tersenyum karena akhirnya bisa memeriksakan kondisi kesehatannya dan juga bayinya yang sudah empat bulan lebih itu.
"Saya tidak mungkin mempersulit dan melarang kamu pergi bisa-bisa gaji saya yang akan dipotong," gumam Pak Rian lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda gara-gara kedatangan Fatimah di dalam ruangannya itu.
Fatimah dengan langkah yang pasti berjalan ke arah kamar pribadinya suaminya sendiri yang sama sekali belum pernah ia masuki selama ia sudah menikah.
"Apa aku harus masuk dan meminta ijin langsung dengan Mas Riyad!" Fatimah kebingungan dan juga gugup karena ini akan menjadi pengalaman perdananya berduaan di dalam kamar.
Tangannya sudah siap untuk mengetuk pintu itu, tapi Ia kembali urungkan niatnya antara yakin dan ragu karena merasa tidak pantas untuk menginjakkan kakinya di tempat tersebut.
"Tunggu saja deh, sampai Mas buka sendiri pintunya barulah saya masuk," kirihnya Fatimah yang berdiri di depan pintu seperti patung saja.
Riyad yang baru saja pulang dari berolah raga di dalam ruangan gymnya itu melihat istrinya berdiri tanpa mengetahui kedatangannya.
"Heemm!!" Riyad berdehem untuk membuyarkan lamunannya Fatimah yang entah pergi kemana.
Fatimah segera memundurkan langkahnya ke arah belakang agar sang pemilik kamar masuk kedalamnya.
Fatimah menengadahkan kepalanya ke arah Riyad yang terus berjalan melewatinya.
"Saya rasa tidak pantas saya menelpon Tuan Muda jadi saya memilih untuk bertemu langsung dengan Tuan saja," tampiknya Fatimah.
"Masuk! Kita bicara di dalam saja!" Pintanya Riyad lalu menutup rapat pintu kamarnya itu setelah Fatimah sudah berada di dalamnya.
Riyad tanpa segan langsung membuka baju kaosnya itu di depan matanya Fatimah. Apa yang dilakukan oleh suaminya langsung menbuatnya harus menutup kedua matanya dan repleks menundukkan wajahnya.
Riyad tersenyum smirk melihat reaksi dari Fatimah istri sirinya," aku sepertinya ingin mengerjai dia dulu pagi ini sebelum berangkat ke kantor,"
__ADS_1
Riyadh membuka bajunya dan hanya tersisa celana pendeknya saja. Ia berjalan ke arah Fatimah yang terus tanpa lelah menundukkan kepalanya. Riyad menangkupkan kedua tangannya di dagunya Fatimah.
"Kalau sedang berbicara denganku, wajahmu tidak boleh menunduk harus menatapku juga," tuturnya Riyad yang tersenyum tipis melihat reaksinya Fatimah yang sudah gugup yang terlihat jelas di matanya.
Fatimah menengadahkan kepalanya sehingga mereka bertatapan langsung, postur tubuhnya Fatimah yang cukup tinggi dan ideal mampu mengimbangi tubuh jangkung nya Riyad sendiri.
"Kenapa setiap kali aku melihat bibirnya yang merah merona itu, aku seolah ingin langsung menerkamnya, ya Allah… apa yang terjadi padaku, aku sangat menginginkan tubuhnya saat itu ini juga,"
Riyad reflek mengecup sekilas bibirnya Fatimah yang membuatnya tergoda dan mabuk kepayang.
"Entah magnet apa yang mendorongku untuk mengecup manisnya bibir Istri siriku ini," jari jemarinya Riyad memainkan puncak bibirnya Fatimah.
Fatimah yang mendapatkan perlakuan khusus dan tidak pernah ia rasakan selama mereka menikah mampu membuat hatinya bergetar hebat dan jantungnya berdisko ria. Debaran jantungnya Riyad pun sudah memompa dengan keras hingga Fatimah yang berdiri di depannya merasakan detak jantung itu.
Riyad mendekatkan wajahnya ke telinganya Fatimah," istriku, apa kah aku boleh menuntut hakku?" Suaranya Riyad seperti orang yang mendesah saja sehingga bulu-bulunya Fatimah disekitar tengkuk lehernya meremang dan kedua bola matanya membelalakkan saking terkejutnya mendengar permintaan dari suaminya itu.
Tanpa menunggu lama dan jawaban dari Fathimah,ia sudah menggendong dengan paksa tubuhnya Fatimah.
"Aahh!!" Teriaknya Fatimah langsung memeluk erat lehernya Riyad sambil merapatkan wajahnya k dada bidang poo loos nya Riyad yang tidak memakai selembar kain pun menutupinya hanya peluh keringat yang mengucur dari tubuhnya itu karena telah melakukan olahraga di pagi itu.
"Bersiaplah, aku akan menjenguk anakku untuk yang pertama kalinya, aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati dan jika sakit kamu ngomong saja jangan ditahan okey!" Perintahnya Riyad.
Sekujur tubuhnya bergetar hebat saking gugupnya Fatimah. Tapi, hal itu semakin membuat Riyad bahagia karena menurutnya Fatimah sangat mampu menjaga kehormatannya sebagai seorang istri.
Pagi itu menjadi penyatuan kedua insan yang sedang dimabuk dashyat cinta dalam ikatan tali suci pernikahan. Untuk pertama kalinya mereka bersatu dan menyatukan hasrat menggebu dalam dada mereka selama berstatus sebagai seorang suami dan suami.
Mereka tidak mengetahui jika, ujian dan cobaan dalam rumah tangganya akan segera datang mendera dan menguji kekuatan cinta itu.
__ADS_1
Riyad untuk pertama kalinya melakukannya dengan cukup berbeda dari biasanya yang dia lakukan bersama dengan Nadine istri sahnya. Selama proses penyembuhan penyakitnya, Nadine melarang Riyad untuk menemuinya dan kesempatan itu sangat bagus untuk Fatimah dengan Riyad.
Nadine sudah dinyatakan sembuh total dari penyakitnya, walaupun kemungkinan untuk hamil itu sangat kecil dan terbilang mustahil, tapi bagi Nadine Alexandra yang paling penting ia bisa melayani suaminya masalah urusan anak bisa dipikirkan selajutnya.