
"Bunda, apa Aliena bisa minta sesuatu sama bunda?" Rengeknya Aliena yang menundukkan kepalanya sambil berbicara dengan Fatimah mamanya itu.
Fatimah menangkupkan dagunya Aliena yang sangat mirip dengan Papanya Riyad Hakimi Pradipta itu.
"Sayang putrinya Bunda apa yang kamu inginkan Nak, ngomong sama Bunda saja tidak perlu malu-malu seperti itu," imbuhnya Fatimah yang tersenyum penuh kelembutan.
Aliena ragu dan bimbang untuk menyampaikan keinginannya di depan bundanya itu karena takut jika mamanya akan marah.
Fatimah tersenyum melihat tingkah lakunya anak keduanya itu sembari mengangkat ke atas wajahnya Aliena," Aliena kenapa harus malu-malu katakan saja sama Bunda apa pun itu Bunda akan penuhi permintaan dari anaknya bunda yang paling cantik,"
Aliena langsung memeluk tubuh bundanya itu," Bunda saya ingin bertemu dengan Papa Riyad,"
Fatimah terenyuh dan terlonjak mendengar perkataan dari anaknya itu, dia tidak menyangka bahwa anaknya akan meminta hal yang sangat sulit ia penuhi itu. Aliena diam-diam melihat dan memperhatikan raut wajahnya Bundanya itu.
"Itukan pasti bunda enggak bisa penuhi keinginannya Alien, kalau Bunda tidak bisa penuhi keinginannya Aliena tidak apa-apa kok Bunda," ujarnya Aliena dengan sendu sedangkan air matanya mulai menetes membasahi pipinya itu.
__ADS_1
Aliena tersedu-sedu dalam tangisnya, ia sangat sedih karena apa yang sangat diinginkannya tidak bisa dipenuhi oleh bundanya itu.
"Ya Allah… apa yang harus aku lakukan, kenapa kali ini anakku bisa meminta hal yang sangat sulit aku penuhi," raut wajahnya Fatimah nampak gugup dan terlihat jelas diwajahnya jika banyak pertimbangan yang tiba-tiba muncul dan menyerang hati dan pikirannya itu.
Aliena memundurkan tubuhnya ke arah belakang ketika Fatimah kembali ingin memeluknya sambil mengayunkan jari telunjuknya itu tepat di depan wajahnya Fatimah Az-Zahra Zalita," stop! Jangan peluk Aliena lagi jika Bunda tidak bisa hadirkan Papa di hadapanku, Aliena tidak akan mau makan, minum, mandi dan juga bicara dengan Bunda mulai sekarang!" Ketusnya Aliena yang sangat serius.
Fatimah terkejut melihat reaksinya Aliena yang tidak pernah ia bayangkan dan pikirkan sekalipun dalam kehidupannya jika, hari ini salah satu anak kembarnya akan bertindak seperti itu. Hatinya Fatimah sangat sedih menerima penolakan dari putrinya sendiri. Hingga pintu kamar perawatan Aliena terbuka lebar.
Mereka berdua segera menolehkan kepalanya ke arah kedatangan seseorang yang mampu membuat Aliena sedikit bisa menyunggingkan senyumnya kehadapan pria itu.
"Paman Salim!" Teriaknya Aliena disela isak tangisnya.
Salim menatap dalam Fatimah dan sangat mengetahui dengan jelas apa yang sedang terjadi. Salim menepuk pundaknya Fatimah dan tersenyum penuh arti. Salim menatap sendok makan yang berisi makanan yang dipegang oleh Fatimah dan juga makanan yang hanya berubah sedikit saja yang setia terletak di atas meja makan khusus untuk Aliena.
"Sepertinya ada orang yang belum makan sama obatnya juga belum diminum, apa putri kecilnya Paman lagi ngambek?" Tanya Salim seraya duduk di ujung ranjang rumah sakit.
__ADS_1
Aliena sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Salim,ia hanya menatap Salim dan kedua bola matanya menyiratkan jika Alina dalam keadaan yang tidak baik saja.
"Aliena kok enggak mau bicara apa lagi sariawan atau penyakit mulut gitu sampai-sampai tidak mau jawab pertanyaannya Paman, padahal Paman ajak teman ke sini loh, apa Aliena enggak mau lihat teman spesialnya Paman?"
Aliena hanya menatap intens ke arah Salim dan sama sekali tidak berniat untuk membuka mulutnya itu. Salim memanggil seseorang untuk masuk ke dalam. Masuklah seorang perempuan dengan hijabnya yang semakin mempercantik penampilannya kala itu.
Fatimah membelalakkan matanya saking tidak percayanya dengan apa yang dilihatnya. Perempuan yang diajak datang mengunjungi putrinya bersama dengan abangnya itu adalah Ibu gurunya di kembar di sekolahannya.
"Bu Guru Fatiha Aulia Sarah," beonya Fatimah sembari berdiri dari duduknya itu dengan senyuman sumringahnya menyambut kedatangan ibu gurunya Aiden Abimanyu Pradipta sambil menggandeng tangannya Aiden salah satu siswanya itu ke dalam ruangan.
Salim tersenyum dan tidak menyangka jika adiknya dan teman spesialnya itu sudah saling kenalan.
"Apa kalian sudah saling kenal?" Raut wajahnya Salim keheranan karena tidak menduga mereka sudah saling mengenal.
"Bukan saling kenal lagi Abang, kami ikut pengajian juga sih sebenarnya setiap hari jumat," imbuhnya Fatimah yang sudah berdiri di hadapan Fatihah.
__ADS_1
"Kalau seperti ini semakin mudah dong jalanku," gumam Salim yang masih mampu didengar oleh semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut sedangkan Aliena hanya menjadi pendengar dan penonton saja tanpa bermaksud untuk ikut berbicara.
"Semakin mudah! Maksudnya?" Tanya Fatihah dan Fatimah bersamaan lalu saling melempar pandangan.