
Riyad Pradipta segera berangkat ke Belanda lalu ke Swiss sesuai kabar yang ia dengar sebelumnya, jika Tante Gina berada di Swiss dua hari yang lalu. Tetapi, karena berhubung dia punya kerjaan di Belanda beberapa hari sehingga ia menunda keberangkatannya ke Swiss terlebih dahulu.
"Walaupun Aliena masih sakit, aku tetap harus pergi karena aku tidak mungkin berada di sampingnya Aliena terus menerus karena pasti akan menimbulkan kecurigaan Istriku Fatimah Az-Zahra Zalita karena hal itu tidak bisa ditunda lagi, Saya harus berbicara dengan Tante Gina karena hanya dia yang satu-satunya bisa membantuku," gumamnya Riyad yang berjalan ke arah dalam pesawat.
Sebelum keberangkatannya ke Den Haag Belanda, ia menyempatkan waktunya untuk berkunjung beberapa saat kemudian di dalam kamar perawatan putri kecilnya itu.
"Sayang Papa pergi dulu yah, ini demi masa depan kalian berdua, doakan papa yah sayang semoga Allah SWT melancarkan kerjaan papa dan juga rencana papa untuk bertemu dengan Tante Gina nenek kalian berdua," Riyad mengelus puncak rambut anak bungsunya itu dengan seksama dan penuh kasih sayang.
Setelah berpamitan secara tidak langsung
Riyad Hakimi Pradipta mengecup sekilas keningnya Aliena sebelum ia pergi dan putrinya itu dalam keadaan yang tertidur karena baru saja meminum obatnya.
__ADS_1
Sedangkan jauh dari tempat keberadaan Riyad, seorang perempuan kebingungan dan kelimpungan melihat tingkah kedua anak kembarnya itu.
"Bunda Aline enggak mau minum obat sama makan!" Teriak Aliena yang menolak disuapin sama Fatimah.
Prang!!!
Sendok makan yang kebetulan dipegang dan berisi makanan terlepas sehingga terlempar dari dalam pegangan tangannya Fatimah.
"Aliena tidak sakit Bunda,tapi…" ucapannya terpotong karena tidak ingin mengatakan yang sejujurnya di hadapan perempuan yang telah berjasa besar dalam mengandung, melahirkan dan membesarkannya dengan susah payah.
Alien segera menundukkan kepalanya karena tidak mungkin ia berkata jujur sambil meremas ujung bedcovernya itu. Tatapan matanya tertuju ke arah pintu keluar.
__ADS_1
Fatimah berhenti membujuk salah satu anak kembarnya itu karena, mengambil sendok makan yang terjatuh ke atas lantai.
"Mbak Sita tolong diamankan sendoknya ini dan saya minta tolong agar dibantu untuk ambilkan saja sendok baru karena sendok ini sudah kotor," pintanya Fatimah dengan senyuman yang ramah kepada salah satu baby Sitter anaknya itu.
"Baik Nyonya Muda, tapi apa hanya itu yang Nyonya Muda inginkan mungkin masih ada yang diinginkan oleh Nona Aliena atau Nyonya sendiri?" Tanyanya Mbak Sita yang berbicara dengan perlahan dan menundukkan kepalanya.
Fatimah tersenyum tipis," makasih banyak Mbak tapi, untuk sementara hanya itu saja untuk saat ini yang kami butuhkan kalau saya perlu lagi sesuatu pasti akan panggil Mbak lagi," jelas Fatimah.
"Baik Nya," timpalnya Mbak Sita.
Aliena duduk bersandar di dinding ranjang rumah sakit dengan tatapan matanya terus terarah ke pintu masuk dan seperti berharap seseorang muncul dari sana.
__ADS_1
"Kenapa tatapan matanya putriku selalu tertuju pada pintu apa sebenarnya yang terjadi dan apa maksudnya Aliena bersikap seperti itu yah," Fatimah membatin.