
"Sepertinya gara-gara sikapku Nyonya Besar dan Nyonya Muda curiga padaku, aku harus berhati-hati dan waspada karena aku tidak ingin membuat Mas Riyad terkena masalah gara-gara aku," lirih Fatimah yang segera meninggalkan ruang tersebut dan berpura-pura masih ingin masak di dapur.
Pak Rian menatap sendu kepergian Fatimah," kasihan juga dengan Fatimah nasibnya berubah drastis selama kepulangan Nyonya Nadine, Tuan Muda juga seolah tidak mempedulikan kesehatan dan kondisi calon anaknya, semoga Fatimah bersabar,"
Acara makan malam kala itu berakhir dengan tidak seperti biasanya. Bu Gina meninggalkan meja makan terlebih dahulu tanpa,menegur siapa pun yang ada di dalam sana.
"Sayang,kamu tidak perlu memikirkan hal-hal aneh yang sama sekali tidak terjadi dan tidak perlu memarahi Fatimah seperti itu juga karena dia itu berdiri pas di samping kiriku jadi wajar melakukannya karena mungkin itu hanya tindakan spontanitas saja, maafkan Mas sayang, aku sama sekali tidak bermaksud membuat kamu marah," bujuknya Riyad yang tidak ingin melihat istri kesayangannya itu marah-marah.
Nadine memaksakan senyumannya itu," okey aku tidak akan mempermasalahkan hal ini dan memperpanjangnya karena semua ini demi suamiku yang membujukku untuk diam maka aku akan diam,"
Keduanya kembali menikmati santapan malamnya saat itu juga. Riyad dan Nadine masih menyantap makanannya dengan saling bersuap-suapan satu sama lainnya layaknya pengantin baru saja. Fatimah menyelesaikan secepatnya pekerjaannya karena ia ingin segera beristirahat di dalam kamarnya.
"Ya Allah… tabahkan dan sabarkanlah hatiku dengan pernikahan yang aku jalani, aku tidak boleh egois dan memikirkan diriku sendiri karena aku yang telah menjadi orang ketiga di dalam pernikahan mereka, aku tidak mungkin menjadi manusia yang tamak untuk berharap terus cintanya Mas Riyad, aku hanya meminta semoga ketika aku melahirkan nanti Mas Riyad bisa menemaniku," gumam Fatimah seraya menatap indahnya bulan purnama malam itu.
Bu Gina segera memanggil kepala pelayan Pak Riansyah untuk segera menemuinya.
"Sista panggil pak Rian untuk secepatnya menemuiku di dalam ruangan kerjaku, sekarang!" Perintahnya Bu Gina yang menatap sekilas ke arah Sista perempuan yang sudah menjadi asistennya dari lima tahun yang lalu menggantikan kakaknya.
Sista segera bertemu dengan Rian yang tidak lain adalah kekasihnya sendiri yang diam-diam menjalin hubungan tanpa sepengetahuan yang lainnya. Sista berjalan ke dalam ruangan pribadi kekasihnya tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Rian yang menyadari kedatangan kekasihnya segera menutup buku yang dibacanya lalu berjalan menyambut kedatangan Sista sambil bergandengan tangan menuju sofa.
"Ada apa sayang kamu datang mencariku?" Tanyanya Pak Rian sambil memangku tubuhnya Sista.
Sista yang selalu mendapatkan perlakuan istimewa selalu tersenyum dan tersipu merona malu.
__ADS_1
"Nyonya Besar memanggil Mas, sepertinya ada yang hal penting ingin dibicarakan oleh Nyonya," imbuhnya Sista seraya memainkan dasi kupu-kupu miliknya Rian dengan manja.
"Kenapa feelingku mengatakan jika maksud pemanggilanku adalah mengenai Fatimah," batinnya Pak Rian dengan memainkan ujung rambutnya Sista.
Sista mengecup bibirnya Rian yang awalnya hanya sekedar mengecup saja hingga berakhir dengan mee luuu maaat dan bertukar saliva hingga nafas keduanya memburu dan pasokan udara di dalam tenggorokannya seolah-olah sudah habis stoknya barulah mereka mengakhiri ciumannya saat itu juga.
"Sudah cukup untuk kali ini sayang, aku tak ingin kebablasan lagi seperti minggu lagi," ujarnya Rian lalu perlahan menurunkan tubuhnya Sista dari atas pangkuannya.
Sista hanya tersenyum menanggapi perkataan dari kekasihnya itu sambil menyeka sudut bibirnya Rian yang terdapat sedikit noda lipstik nya Sista.
Sista menarik tubuhnya Rian kehadapannya, "Sini aku bersihin bibirnya entar Bu Gina melihatnya lagi," tuturnya Sista yang tertawa cekikikan melihat apa yang sudah dia perbuat.
"Kamu yah dasar nakal,kalau ketahuan sama yang lain apa kamu sudah menjadi Nyonya Riansyah?" Tanyanya Riansyah Alfian Rizal lalu menarik lebih dekat lagi tubuhnya Sista kedalam dekapan hangat pelukannya.
Bu Gina sedang menelpon seseorang yang kedengarannya mereka sedang berbicara hal serius dengan topik pembahasan tentang seseorang yang sudah lama ia cari keberadaannya.
"Bagaimana dengan perkembangan kemajuan tentang pria yang menolong putriku?"
"Kami sudah menemukan alamatnya Nyonya dan rencananya hari ini kami akan segera menuju rumahnya tersebut," jawab pria yang diseberang telpon.
"Jangan ditunda lagi kunjungan kalian aku ingin mendengar hasilnya hari ini juga dan aku tidak mau mendengar kegagalan lagi okey!"
"Baik Nyonya Besar kami akan segera bergerak secepatnya dan tunggulah berita baik kami," pungkas pria detektif swasta yang ditugaskan oleh Bu Gina untuk mencari keberadaan anaknya yang menghilang beberapa tahun silam.
__ADS_1
Tatapan matanya Bu Gina tertuju pada keindahan langit malam itu yang bertaburan dengan bintang-bintang dan disinari cahaya sinar rembulan malam itu.
"Karena putriku lah sehingga aku pulang ke Indonesia, kepulangan ku kali ini tidak boleh gagal lagi, aku harus pergi dari Jakarta bersama anakku," gumamnya bersamaan dengan pintu itu terbuka dari luar.
Bu Gina menolehkan kepalanya ke arah kedatangan Sista dan Rian. Bu Gina hanya tersenyum tipis menyambut kedatangan mereka berdua.
"Duduklah! Perintah Bu Gina yang melihat keduanya yang berdiri mematung di depan matanya.
"Makasih banyak Nyonya," sahutnya Rian dan Sista bersamaan.
"Pasti kamu sudah ada bayangan tentang apa tujuan aku memanggil kamu ke sini," ucapnya Bu Gina sambil memangku dagunya dengan kedua tangannya itu.
Rian dan Sista saling bertatapan satu sama lainnya," maaf terus terang saya sama sekali tidak mengerti Nyonya Besar," tukasnya Pak Rian yang sebenarnya sudah mengetahui hal apa yang ingin ditanyakan oleh Bu Gina, tetapi Ia harus berpura-pura menjadi orang yang tidak Ingat dan mengetahui arti dari pemanggilannya tersebut.
Bu Gina tersenyum penuh maksud," kamu tidak pintar untuk jadi pembohong Rian, kamu meski banyak belajar lagi jika berhadapan denganku untuk menutupi kenyataan yang ada, aku hanya ingin mengetahui apa hubungannya Riyad dengan Fatimah?" Bu Gina berdiri di depan meja kerjanya sembari menatap tajam ke Rian yang sudah gugup dan mulai panik.
"Dari gerak gerikmu itu sudah menandakan bahwa kamu bermain petak umpet dari saya karena lambat lain pasti akan ketahuan juga," ungkap Ibu Gina.
Pak Rian menarik nafasnya dengan cukup kuat dan menghembuskannya perlahan nafasnya," Tuan Muda diam-diam menikahi Fatimah yang sudah hamil tiga bulan waktu itu dan Fatimah juga lah gadis yang tanpa sengaja direnggut mahkotanya oleh Tuan Muda sendiri,"
Ibu Gina sebagai satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh Riyad merasa kesal dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya.
"Ya Allah.. kenapa bisa seperti ini pantesan aku perhatiin interaksi dan tatapan mata keduanya seperti menyimpan rahasia besar dibalik ketenangan dan kesabaran Fatimah selama ini," ujarnya Bu Gina yang menggelengkan, kepalanya saking tidak percayanya mendengar kabar tersebut yang sungguh mampu membuatnya geleng-geleng kepala.
__ADS_1