Majikanku Ayah Dari Anakku

Majikanku Ayah Dari Anakku
Bab. 22


__ADS_3

Riyad terperangah melihat siapa perempuan yang memakai hijab dengan gaya ala modernnya berjalan melewatinya dengan tanpa menoleh sedikitpun kepadanya.


Adriana dan beberapa orang yang melihat putri dari Bu Gina sungguh dibuat kaget setengah mati karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya oleh kedua pasang matanya.


"Kok wajahnya mirip dengan istri keduanya Pak Riyad yah," Gumam beberapa orang yang kenal dekat Fatimah yang memang dulu sering mengantarkan makanan untuk Riyad.


Riyad ingin bergerak dari posisi berdirinya,tapi karena MC segera membuka acaranya sehingga ia mengurungku niatnya dan terpaksa menunggu acara pertemuan selesai barulah ia berencana untuk menemui secara pribadi perempuan yang dianggapnya adalah istrinya itu.


"Oke, aku akan sabar menunggu dan jika acaranya selesai barulah aku menemuinya untuk bertanya perihal keberadaannya selama ini." Tatapannya terus tertuju pada Zalita Stania Aryasatya yang sama sekali tidak berkedip sedikitpun terus memandangi wajah Zalita yang sedang berbicara di depan orang banyak sambil menjelaskan niat kedatangannya di perusahaan tersebut.


Riyad sama sekali tidak menyangka melihat perubahan yang cukup besar yang terjadi pada Fatimah Istrinya itu. Hanya sekitar lima tahun tidak bertemu, seolah perempuan yang berdiri tegak dengan raut wajahnya yang serius dan kadang santai itu saat berbicara cukup membuat Riyad tercengang karena istrinya dulu berbicara saja dengannya kadang grogi,salah tingkah dan pernah juga gemetaran ketika mereka berbincang-bincang santai.


"Apa benar dia adalah istriku Fatimah Az-Zahra Zalita, karena sejauh aku memperhatikannya sejak kedatangannya di dalam ruangan meeting, semuanya sangat berbeda dengan Fatimah istriku," batinnya Riyad.


Hingga acara selesai hanya sesekali Zalita tersenyum tipis ke arah Riyad dan yang lainnya. Riyad segera berjalan menghampiri Fatimah yang baru turun dari mimbar untuk membawakan sepatah kata sebagai perkenalan dalam acara penyambutan. Tapi, langkahnya terlambat karena didahului oleh seorang pria muda yang kebetulan salah satu putra dari pemegang saham tertinggi di sana.


Riyad terpaksa menelan kembali perkataannya itu. Ia sedikit kecewa dan marah karena ada yang mendahuluinya.

__ADS_1


"Sial, anaknya Pak Halim punya nyali besar juga rupanya terang-terangan untuk mendekati istriku," umpatnya Riyad Hakim Pradipta.


"Selamat datang Nona Muda Zalita di perusahaan Primary Global Star Tbk," sapanya Reza sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Zalita.


Zalita segera menyambut tangannya Reza dengan senyuman simpul nya yang mampu membuat Reza tertarik untuk mendekati Zalita.


"Terima kasih Pak Reza atas sambutannya, tapi maaf saya tidak bisa berlama-lama berbicara dengan Anda karena masih ada beberapa pekerjaan yang ingin saya kerjakan, assalamualaikum," imbuhnya Zalita lalu berjalan meninggalkan Reza yang terdiam seraya mengendus wangi bekas tangannya Zalita diatas telapak tangannya tersebut.


Rian dan Sista berjalan mengikuti langkah kakinya Zalita menuju ruangan yang sudah dipersiapkan khusus untuknya dan bersebelahan langsung dengan kantor CEO perusahaan tersebut.


Zalita hanya menganggukkan kepalanya sambil meraih hp tersebut kemudian mengarahkan ke telinganya.


"Assalamualaikum Ma, ada apa, ohh insya Allah setelah memeriksa beberapa dokumen penting aku akan segera pulang ke rumah, tolong Mama tenangkan dulu,katakan padanya aku akan segera pulang dan akan mengajaknya ke taman safari besok pagi," jelas Zalita.


Sambungan telpon pun terputus, mereka melanjutkan perjalanan ke dalam ruangannya. Zalita memasangi seluruh penjuru ruangan itu, sambil memutar kursi kebesarannya.


"Rian, tolong sebentar sore atur pertemuan aku dengan Pak Riyad karena aku ingin membicarakan prospek apa yang sudah mereka capai setelah lima tahun terakhir," ungkapnya Zalita.

__ADS_1


"Baik Nona Muda, perintah akan saya laksanakan sesuai dengan keinginannya Nona," pungkas Rian.


"Ria tolong panggil Andriana ke hadapanku karena ada yang ingin aku sampaikan padanya," pintanya Zalita yang sudah memeriksa beberapa dokumen penting yang sudah bertumpuk di hadapannya.


"Baik Nona," jawab Sista sambil berjalan ke arah luar kantornya Zalita.


"Mas, aku sudah kembali, ternyata kamu bisa menangani dan menjalankan perusahaan dengan baik, aku sangat bersyukur karena kamu hidup dengan layak sedangkan aku hampir dua tahun aku seperti orang gila saja yang harus kehilangan salah satu putri kita yang ternyata mereka kembar tiga, aku telah kembali ingin melihat kamu apa masih seperti yang dulu rasa cintamu padaku yang sedikitpun sama sekali tidak ada untukku," gumamnya Zalita.


Keikhlasan mengantarkan kamu ke pintu yang dinamakan kesuksesan.


Bukan karena dia kuat, tapi karena Tuhan yang maha kuat bersama dengan langkahnya.


Kebahagiaan tidak selamanya dilihat dari segi banyaknya materi dan harta yang Kamu miliki, tapi bagaimana Kamu bisa membuat dan melihat senyuman yang tercipta dari orang-orang yang Kamu sayangi.


Kamu tidak akan menemukan kebahagiaan jika terus menuntut kesempurnaan. Syukuri apa yang kamu miliki, maka di sana akan kau temukan kebahagiaan.


Kebahagiaan tidak menghampiri mereka yang memiliki segalanya, namun kebahagiaan akan menghampiri mereka yang berterus bersyukur atas nikmatnya.

__ADS_1


__ADS_2