Majikanku Ayah Dari Anakku

Majikanku Ayah Dari Anakku
Bab.6. Sah


__ADS_3

"Sudah terpasang, jadi kamu sudah paham kan?" Riyad segera menyalakan mesin mobilnya agar perhatiannya tidak selalu tertuju pada bibir seksinya Fatimah yang mampu membuatnya sesuatu yang aneh dalam dirinya itu.


Fatimah pun setuju dan menyanggupi pernikahan yang akan dilaksanakan oleh Riyad untuknya.


Tatapan matanya Fathimah tertuju pada jalan raya," mungkin ini sudah jalan hidupku harus hamil di luar nikah dan menikahi pria yang beristri dengan sebagai status saja tanpa mencampurkan perasaan di dalam hati kami masing-masing, aku sudah bersyukur karena ada pria yang siap menerima calon anakku ini, semoga pernikahan kami langgeng,sakinah mawadah warahmah, amin," batinnya Fatimah dengan penuh keyakinan.


Setelah mereka dari salon dan memilih pakaian pengantin yang akan mereka pakai nantinya. Riyad kembali memajukan kuda besinya ke salah satu rumah Pak penghulu yang akan menikahkan dia dengan Fatimah.


Riyad sempat kagum, terpesona dan pangling melihat perubahan wujud dari Fatimah yang awalnya nampak sangat sederhana. Setelah di dandani dan berganti pakaian, Fatimah nampak seperti Cinderella semalam saja.


Diam-diam Riyad mengakui kecantikan alami yang dimiliki oleh Fatimah. Dia tidak pernah membayangkan seorang gadis yang belum cukup umur 20 tahun, akan menjadi istrinya sekaligus sebagai calon Ibu dari anaknya.


Mesin mobilnya mati, seseorang dari arah dalam rumah segera menjemput kedatangan mereka dengan senyuman lebarnya itu.


"Assalamualaikum, selamat datang Pak Riyad semua yang Anda inginkan sudah siap!" Imbuhnya Pak penghulu yang bernama Pak Gunawan.


"Waalaikum salam, makasih banyak Pak Gunawan atas bantuan dan sambutannya," pungkasnya Riyad sambil menggandeng tangannya Fatimah hingga ke dalam ruangan khusus untuk menikahkan seseorang yang selama ini selalu dipakai oleh orang yang datang untuk menikah.


Mereka pun berjalan memasuki area rumah yang terbilang cukup besar juga dibandingkan dengan rumah-rumah yang ada di sekitar perumahan itu. Hanya mengucapkan bismillahirrahmanirrahim saja yang diucapkan Fatimah sebelum duduk di tempat yang semestinya para pasangan calon mempelai untuk saling berhadapan dengan Pak penghulu.


"Apa Tuan Riyad sudah siap?" Tanyanya Pak Gunawan.


Riyad melirik sekilas ke arah Fatimah yang kebanyakan menunduk dan terdiam, lalu tersenyum penuh ie arah Pak Gunawan," Insya Allah… saya siap Pak!" Jawabnya Riyad seraya mengeluarkan sebuah kotak buludru yang berwarna merah berisi cincin, gelang, kalung dan anting-anting perempuan yang jelasnya itu mahar untuk Fatimah.


Kotak buludru dan sebuah amplop yang berisi uang sekitar 25 juta diserahkan oleh Riyad sebagai mahar pernikahannya.


"Baiklah bapak terima semua ini sebagai mahar mas kawin untuk Fatimah jadi ini semua menjadi miliknya Fatimah dan kamu Nak bisa simpan semua barang-barang ini untuk kamu seorang," ucapnya Pak Gunawan.

__ADS_1


Fatimah segera mengarahkan benda itu ke arahnya lalu Riyad berjabat tangan untuk melangsungkan ijab kabul keduanya.


Pak Gunawan menatap tajam ke arah Riyad seraya menjabat tangannya Riyad, "Saya nikahkan dan kawinkan engkau Riyad Hakim Pradipta dengan Fatimah Az-Zahra Zalita Lukman bin Jayadi Lukman dengan mas kawin seperangkat set emas perhiasan 24 karat dengan uang tunai sebesar 25 juta serta seperangkat alat sholat dibayar tunai!" Imbuhnya Pak Gunawan dengan suara yang tegas.


"Saya terima nikah dan kawinnya Fatimah Az-Zahra Zalita Lukman bin Jayadi Lukman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Riyad dengan satu kali tarikan nafas penuh dengan keyakinan dan ketegasan di dalamnya.


"Bagaimana saksi! Apakah sah?!" Tanyanya Pak Gunawan.


Beberapa orang yang berada di dalam sana serentak mengucapakan kata sah.


"Sah!!' teriaknya mereka secara bersamaan.


"Syukur Alhamdulillah… kalian sudah resmi menjadi suami istri mulai detik ini," imbuh Pak Gunawan lalu membaca beberapa doa dan memberikan petuah, wejangan dan nasehat untuk kedua pasangan pengantin baru itu.


Riyad segera memasangkan cincin ke tangan jari manisnya Fatimah yang sangat cantik sedangkan cincinnya dia simpan kembali ke dalam kotak perhiasan karena, tidak mungkin ia memakai dua cincin pernikahan dan cincin kawin.


Fatimah meraih tangannya Riyad sebagai wujud baktinya sebagai seorang istri dengan mengecup punggung tangannya Riyad sesuai dengan arahan Bu Ratna istrinya pak Gunawan.


Riyad memesan beberapa makanan sebagai bentuk ucapan terima kasihnya kepada orang-orang yang datang sebagai saksi pernikahan. Mereka pun makan bersama dalam suasana keakraban.


"Ya Allah… semoga keputusanku ini adalah yang terbaik untuk hubungan kami kedepannya, semoga aku bisa berbakti kepada suamiku walaupun hubungan dan status kami hanya diatas kertas saja," gumamnya Fatimah lalu segera menyantap makanannya yang terhidang di atas piringnya itu.


Riyadh memilihkan beberapa makanan yang cocok untuk Fatimah yang lagi mengandung anak penerus keluarga Pradipta itu.


Berselang beberapa saat kemudian, Riyad mengajak Fatimah untuk berganti pakaian. Riyad juga tak tanggung-tanggung membelikan perlengkapan make-upnya, pakaian dengan berbagai ukuran dan model khusus untuk Fatimah.


Riyad juga mengajak untuk menemui Istrinya yang sedang terbaring lemah setelah melewati operasi pengangkatan rahim beberapa hari yang lalu. Walaupun Fatimah hanya menunggunya di tempat lain karena tidak mungkin, Riyad mengajak langsung menemui istri pertamanya Riyad sendiri.

__ADS_1


Fatimah duduk di salah satu taman rumah sakit sambil menunggu Riyad. Fatimah kadang mengelus perut buncitnya itu dengan senyuman.


"Syukur Alhamdulillah… kamu sudah punya papa sayang, walaupun papa bukanlah papa kandungmu tapi, mama sangat bahagia semoga kamu lahir dengan selamat nantinya dan menjadi anak sholehah dan juga sholeh," gumaman Fatimah.


Riyad menemui istrinya walaupun Nadine menolak untuk bertemu dan berbicara langsung dengan Riyad karena menurut Nadine semua penyakit yang dideritanya adalah suaminya sendiri yang menyebabkan hal itu.


Bu Lusi menatap kepergian anak menantunya itu lalu berjalan ke arah bangkar Nadine putri pertamanya itu, "Sayang, kenapa kamu seperti ini! Apa kamu ingin suamimu mencari wanita lain jika kamu bersikap acuh, keras kepala dan terus mempertahankan keegoisanmu, ingat Riyad itu pria ganteng,kaya dan mapan pasti diluar sana banyak yang akan tertarik padanya jika kamu menceraikannya, Mama hanya sarankan walaupun kamu tidak bisa punya anak setidaknya kamu memiliki hati dan jiwanya itu yang paling penting dalam pernikahan,"jelas Bu Lusi.


Nadine Alexandra Yustisio segera memikirkan dan mempertimbangkan perkataan dari maminya itu dengan matang-matang.


"Apa yang dikatakan oleh Mami ada benarnya juga, aku akan pikirkan baik-baik masalah ini," cicitnya Nadine.


Sore harinya, Riyad dan Fatimah segera bertolak dari kota kembang Bandung menuju Ibu kota Jakarta. Riyad langsung membawa Fatimah ke rumahnya sebagai asisten rumah tangganya bukan sebagai istri keduanya karena, itu tidak mungkin ia bisa lakukan selama ia masih berstatus suaminya Nadine.


Bu Gina sudah mengetahui dengan pasti jika, gadis yang ditabraknya yang anak yatim piatu itu dibawa pulang oleh keponakan satu-satunya sebagai asisten rumah tangganya. Bu Gina menyambut kedatangan mereka berdua dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan.


"Perasaan apa yang aku rasakan ini, seolah-olah aku menyambut kedatangan putriku sendiri di rumahku," batin Bu Gina Adeline Pradipta.


"Welcome di rumah kami yang sederhana ini Nak, semoga kamu suka dan betah tinggal di sini," imbuhnya Nyonya Gina yang sama sekali tidak mengetahui pernikahan mereka.


Fatimah langsung meraih tangannya Bu Gina untuk ia cium punggung tangannya," makasih banyak Nyonya," timpalnya Fatimah.


"Bi Narti! Tolong antar Fatimah ke dalam kamarnya yang paling depan dekat dengan tangga," perintah Bu Gina kepada salah satu assisten rumah tangganya.


"Baik Nyonya!" Jawab No Narti sambil menatap lekat ke arah Fatimah.


"Oiya Bibi Narti, Fatimah ini juga akan bekerja di rumah kita ini sebagai tukang masak yang akan membantu pekerjaan beberapa chef kita tapi,ia sedang hamil kasiahan dua Bi dalam keadaan hamil ditinggal pergi oleh suaminya itu, kejam yah suaminya bi," ungkap Bu Gina yang membuat Riyad terbatuk-batuk kecil.

__ADS_1


Sedangkan Fatimah langsung menundukkan kepalanya karena cukup malu mendengar perkataan dari Bu Gina. Fatimah hanya mampu menatap suaminya yang terbatuk-batuk itu tanpa bisa berbuat apa-apa karena mengingat di dalam tubuh rumah itu dia sebagai pembantu saja.


__ADS_2