
Fatimah menyelesaikan pekerjaannya tepat jam 9 malam. Tanpa disadarinya sudah bekerja selarut ini. Fatimah segera merenggangkan kedua tangannya, melepas kacamata mata bacanya.
"Ternyata sudah jam 9 malam, mungkin mereka sudah tidur, untungnya tadi Rian sebelum pergi memesan beberapa makanan sehingga aku tidak kelaparan," gumamnya Fatimah.
Fatimah segera pergi meninggalkan ruangannya setelah mematikan layar komputer dan memeriksa semua dokumen pentingnya dan juga menyimpan semua dalam laci lemari yang terkunci.
"Semoga saja Pak Yunus masih berjaga di bawah, apa aku menelponnya saja supaya dia segera bersiap untuk mengantarku pulang ke rumah," cicitnya Fatimah.
Fatimah terus berjalan menyusuri setiap lantai perusahaan mamanya melalui lift khusus petinggi perusahaan. Hatinya sama sekali tidak tenang karena baru kali ini meninggalkan anaknya begitu lama.
"Semoga mereka bisa tenang dengan baby sitternya," cicitnya Fatimah.
Ting…
Bunyi lift pertanda pintu lift terbuka, Fatimah segera keluar dari lift perusahaan menuju lobi karena mobilnya yang dikendarai oleh Pak Yunus sedang menunggu kedatangannya sejak tadi.
Tanpa sepengetahuannya, sedari tadi ada seseorang penguntit yang membuntutinya kemanapun langkah kakinya melangkah.
"Target sudah menuju mobil," ucapnya orang yang memakai masker hitam yang sedari tadi mengawasi setiap gerak gerik dari Fatimah.
__ADS_1
Seorang tersenyum mendengar perkataan berupa laporan dari anak buah kepercayaannya. Sedangkan Fatimah dari raut wajahnya nampak ketakutan karena sewaktu pintu lift akan tertutup secara keseluruhan, sudut ekor matanya melihat seorang yang berdiri tegak dan berpakaian serba hitam menatapnya dengan tatapan tajam.
"Pak Yunus, jalan Pak jangan pakai lama nyetirnya," imbuhnya Fatimah yang segera memerintahkan supir pribadinya itu.
Pak Yunus hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari Fatimah nona mudanya tersebut. Setelah ada beberapa meter, barulah Fatimah merasa lega dan sesekali menatap ke arah belakang.
Fatimah mengelus dadanya ketika sudah merasa aman," Alhamdulillah, akhirnya bisa tenang, tapi siapa yah akhir-akhir ini yang seolah selalu memperhatikanku diam-diam, aku harus lebih berhati-hati kalau seperti ini karena siapapun bisa menjadi jahat dan tetap harus diwaspadai," batinnya Fatimah lalu segera meraih hpnya untuk memeriksa chat dari baby Sitter anaknya.
Fatimah diam-diam memperhatikan gerak gerik dan pakaian yang dipakai Pak Yunus tidak seperti biasanya.
"Maaf Pak Yunus, apa baik-baik saja karena aku perhatiin sedari tadi memakai masker padahal sudah bisa bebas tidak pakai, apa Bapak sakit?" Tanyanya Fatimah yang memperhatikan dan menelisik Pak Yunus yang menurut feelingnya berbeda.
"Maaf Nona, saya kurang sehat jadi saya pakai masker," jawabnya Pak Yunus supir pribadinya yang sudah hampir lima tahun bekerja untuknya.
Hari-hari terus berlalu, setiap hari Fatimah selalu pulang terlambat. Ia selalu diantar jemput oleh Pak Yunus kemanapun perginya. Hari ini, Reza sengaja datang pagi sekali Ir kantor karena berniat ingin mengajak sarapan pagi bersama Zalitah.
"Mariam, apa Nona Zalita sudah datang?" Tanyanya Reza yang sudah berdiri di depan sekretarisnya Fatimah yang tidak kalah cantiknya dengan Fatimah itu.
Mariam segera menghentikan kegiatannya sesaat karena setelah kedatangan Reza salah satu pemilik saham di perusahaan tersebut.
__ADS_1
"Nona Zalitah sudah berada di dalam kantornya kok Pak," jawab Mariam yang tersenyum manis.
Senyuman yang diperlihatkan oleh Mariam mampu membuat jantungnya pria yang sudah berusia 30 tahun itu hidup hingga detik ini masih single yang sama sekali belum berniat untuk mengakhiri masa lajangnya itu.
"Kenapa senyuman gadis berhijab ini mampu membuatku bergetar dan jantungku berdebar kuat," gumamnya Reza sambil memegang bagian dadanya.
Apa yang dilakukan oleh Reza membuat Mariam keheranan dan kebingungan.
"Maaf Pak, apa yang terjadi dengan Bapak?' tanyanya Mariam yang menautkan kedua alisnya saking heran melihat reaksi pria yang membuat semua para kaum hawa klepek-klepek dengan pria muda yang selalu mengumbar pesonanya kepada semua para gadis cantik dan ayu yang dilihatnya.
Reza tersentak kaget karena mendengar teguran dari perempuan yang sempat membuatnya terpesona itu sambil tertawa cengengesan karena kedapatan sedang melamun," ehh maaf, saya baik-baik saja kok, makasih atas informasinya," imbuhnya Reza sembari meninggalkan meja sekretaris perempuan yang sangat gencar ia ingin dekati dengan salah satu tangannya menenteng satu paper bag yang berisi makanan.
Reza mengetuk pintu ruangannya Fatimah yang kebetulan dilihat oleh Riyad," pria ini belum menyerah juga rupanya padahal sudah aku peringatkan dan jelaskan padanya jika Zalitah adalah istriku, apa perlu aku bertindak lebih keras kepadanya!" Kesalnya Riyad seraya menggenggam erat ballpoint yang kebetulan berada dalam genggaman tangannya itu.
Riyad segera menyalakan komputer khusus yang dia pasang secara diam-diam di dalam ruangan pribadinya Fathimah.
"Dasar pria jelek sok cakep berani-beraninya menggoda istriku di depan mataku!" Umpatnya Riyad setelah memperhatikan sedari tadi apa yang keduanya lakukan.
Riyad bahkan meninggalkan pekerjaannya yang sangat penting demi memperhatikan kegiatan yang dilakukan oleh Fatimah, Reza dan asisten pribadinya Fatimah yang memang ditugaskan oleh Bu Gina untuk selalu berjaga-jaga dan menjaga keamanan Fathimah yang bernama Lily Allen orang asli swiss yang baru hari ini mulai bekerja.
__ADS_1
Walaupun Lily Allen yang juga berada di dalam ruangan yang sama tapi, Reza tidak mengendorkan godaannya untuk memikat hatinya Fatimah,tapi malah semakin tertantang dan tidak mau mengalah sedikitpun hingga tidak ada kata menyerah dalam kamusnya Reza.
"Ini orang aku sama sekali tidak memberikan hati padanya tapi,sama sekali tidak mau menyerah," cicitnya Fatimah Az-Zahra Zalita yang jengkel melihat dan mendengar gombalan maut dari mulutnya Reza.