
"Rapikan pakaianmu, aku yakin akan mengantar kamu ke rumah sakit untuk memeriksakan calon bayi kita," pintanya Riyad sembari mengelus lembut penuh kasih sayang perutnya Fatimah.
Nadine sudah dinyatakan sembuh total dari penyakitnya, walaupun kemungkinan untuk hamil itu sangat kecil dan terbilang mustahil, tapi bagi Nadine Alexandra yang paling penting ia bisa melayani suaminya masalah urusan anak bisa dipikirkan selajutnya.
Fatimah yang diperlakukan seperti itu, cukup tersentuh hatinya dan senyuman langsung terbit dari sudut bibirnya itu.
"Ademnya, perasaan apa ini ya Allah… kenapa aku sangat bahagia diperlakukan lebih hangat oleh Tuan Muda Riyad, walaupun dia suamiku tapi, untuk pertama kalinya kami berhubungan suami istri dan lebih dekat," batinnya Fatimah sembari merapikan hijabnya yang senada dengan pakaiannya.
Riyad kemudian berjalan ke arah garasi rumahnya, sedangkan Fatimah mengekor dibelakangnya tanpa sepatah kata pun,hanya senyuman yang merekah di wajahnya yang cantik dan manis itu.
Riyad baru saja ingin membuka pintu mobilnya, tiba-tiba ada seseorang yang langsung memeluk tubuhnya dari arah belakang.
"Sayang, hampir setahun kita tidak bertemu, aku sangat merindukanmu," imbuhnya wanita itu yang tidak lain adalah Nadine istrinya yang baru pulang dari Singapura setelah beberapa bulan lamanya menjalani proses penyembuhannya.
Fatimah yang melihat kejadian itu langkah kakinya langsung terhenti ketika melihat adegan suami istri langsung di depan matanya. Ia hanya mampu terdiam dan menjadi saksi bisu pertemuan dua pasangan suami istri resmi itu.
Riyad tersenyum bahagia karena akhirnya Nadine membatalkan niatnya untuk menggugat cerai suaminya itu. Riyad tanpa sabar langsung membalik tubuhnya Nadine hingga mereka saling berhadapan dengan intim.
"Istriku, aku sangat merindukanmu," imbuhnya Riyad yang tanpa aba-aba langsung mencium bibirnya Nadine di hadapan Fatimah istri sirinya itu tanpa peduli sedikit pun apa yang dirasakan oleh Fatimah akibat ulahnya mereka berdua yang bermesraan di tempat umum.
Fatimah meremas pakaiannya dibagian dadanya itu. Ia hanya mampu terdiam seribu bahasa hingga air matanya menetes membasahi pipinya tanpa ia sadari. Ia mengutuk dirinya sendiri karena, harus cemburu dan sedih melihat suaminya bermesraan dengan Andien yang notabene adalah istri pertama sekaligus istri sahnya.
__ADS_1
"Apa sesakit ini kah rasanya jika mencintai seorang pria dan melihat pria itu bermesraan dengan perempuan lain, tapi aku tidak boleh memiliki rasa cemburu dalam hatiku, karena aku lah yang hadir di tengah-tengah hubungan mereka berdua, aku harus bersabar dan banyak mengalah," batinnya Fatimah seraya menyeka air matanya itu.
Riyad segera menyudahi ciuman mesra mereka, ketika sudut ekor matanya melihat Fatimah yang berdiri menundukkan kepalanya tidak jauh dari tempatnya. Riyadh segera menggendong tubuhnya Nadine sambil berjalan melewati Fatimah tanpa sepatah katapun untuk menegur Fatimah yang segera menyingkir dari jalan yang dilaluinya itu.
Fatimah berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya sambil mengelus cincin pernikahannya.
"Aku harus kuat, ini baru awal kalau aku lemah bagaimana aku bisa menghadapi semuanya, aku itu gadis kuat masalah seperti ini hanya masalah sepele dan kecil saja," gumamnya Fatimah lalu segera melangkahkan kakinya menuju pagar depan untuk menunggu ojek online yang dipesannya.
Hari-hari terus berlalu, tanpa disadari kandungannya Fatimah sudah masuk bulan ke enam. Nadine pun hingga detik itu juga, tidak pernah curiga sedikitpun karena gerak gerik Riyad sama sekali tidak mencurigakan. Dari hari kedatangan Nadine kembali pun menjadi terakhir kalinya Fatimah berkomunikasi langsung dengan suaminya.
Mereka seolah menjaga jarak masing-masing, hanya seperti layaknya pada umumnya majikan dengan asisten rumah tangganya. Mereka sering bertemu dan berpapasan tanpa sengaja,tapi Fatimah sama sekali tidak berani menegur Riyad walaupun hanya sekedar menyapa atau pun bertegur sapa. Fatimah tidak mungkin berani melakukannya. Bertanya masalah kandungannya pun Riyad tidak pernah,apalagi hanya sekedar melihatnya dengan tatapan seperti dulu padanya, semenjak kedatangan kembali Nadine di rumah itu.
Hari itu, mereka makan malam bersama dan kedatangan Bu Gina dari luar negeri sehingga Riyad memerintahkan kepada chefnya untuk memasak makanan yang banyak dan harus lezat.
"Fatimah, perutmu sudah besar yah tidak dirasa sudah hampir melahirkan," ucapnya Bu Gina sambil menyuapi makanan kedalam mulutnya sendiri.
Fatimah mengangkat kepalanya sembari tersenyum manis," Alhamdulillah Nyonya sudah jalan enam bulan minggu ini,"
"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu, tapi ngomong-ngomong apa suamimu sudah tahu kalau kamu hamil besar?" Tanyanya bu Gina yang penasaran dengan sosok suaminya Fatimah.
Riyad menatap intens ke arah Fatimah sehingga Fatimah gugup dan mulai panik. Sedangkan Nadine hanya memperhatikan interaksi keduanya dan terkadang menautkan kedua alisnya melihat Fatimah yang menurutnya aneh baginya.
__ADS_1
"Baru kali ini aku nemuin seorang perempuan hamil dan harus bersusah payah untuk mencari uang sedangkan suaminya malah lepas tanggung jawab dan dengan teganya membiarkan istrinya bekerja, dimana sih hati nuraninya pria brengsek itu!" Sarkasnya Nadine Alexandra yang mulai tersulut emosinya dengan menggertakkan giginya itu.
Apa yang dikatakan oleh Nadine membuatnya Riyad keselek makanannya sehingga ia terbatuk-batuk.
Huk… huuk..
Suara batuknya Riyad, Fatimah spontan langsung memberikan sebuah gelas yang berisi air putih ke hadapannya Riyad mendahului Nadine Alexandra. Apa yang dilakukan oleh Fatimah mendapatkan pelototan dari semua pasang mata yang hadir di tempat itu.
Fatimah yang menyadari arti dari macam-macam tatapan tersebut salah tingkah dan gugup. Fatimah tidak menyangka jika, reaksinya akan secepat dan seperti itu.
"Maafkan saya Nyonya, Tuan Muda saya hanya kasihan melihat Tuan Riyad yang terbatuk-batuk," kilahnya Fatimah dengan penuh penyesalan.
Nadine segera mendorong gelas pemberian dari Fatimah dan menggantinya dengan gelas baru.
"Lain kali, jangan terlalu sok perhatian pada suamiku, Ingat batasan kamu di rumah ini hanya sebagai pembantu!" Sarkasnya Nadine Alexandra dengan sengaja memperbesar dan menekan perkataannya itu di hadapan keluarga suaminya.
Fatimah langsung terenyuh mendengar cibiran dari Nadine," maafkan saya Nyonya Muda,saya tidak akan pernah mengulanginya lagi," tuturnya Fatimah yang mulai ketakutan jika dia dipecat gara-gara perbuatannya barusan.
Bu Gina diam-diam memperhatikan apa yang terjadi di dalam ruangan meja makan, ia sedikit kasihan melihat Fatimah yang seperti seseorang yang menahan air matanya itu.
"Sudah! Nadine kamu tidak perlu bereaksi seperti itu juga,apa yang dilakukan oleh Fatimah itu wajar saja karena posisinya berdiri di sampingnya suamimu, kamu juga Riyad kalau makan itu hati-hati jangan seperti anak kecil saja," tegasnya Bu Gina yang merasa sedih melihat Fatimah.
__ADS_1
Nadine menatap jengah ke arah Fatimah," siapa sih sebenarnya perempuan hamil ini, kenapa sejak kedatangan Tante Gina perempuan ini mendapatkan perlakuan yang istimewa, apa ada yang tidak aku ketahui disini selama aku pergi, sepertinya aku harus menyelidiki semua ini," Nadine bergantian menatap ke tiga orang itu.
"Sepertinya gara-gara sikapku Nyonya Besar dan Nyonya Muda curiga padaku, aku harus berhati-hati dan waspada karena aku tidak ingin membuat Mas Riyad terkena masalah gara-gara aku," lirih Fatimah yang segera meninggalkan ruang tersebut dan berpura-pura masih ingin masak di dapur.