Majikanku Ayah Dari Anakku

Majikanku Ayah Dari Anakku
Bab. 15


__ADS_3

"Aku yakin Nadine pasti bisa masak,selama ini kami menikah yang sudah masuk tujuh tahun tapi, sekalipun dia tidak pernah ingin melayaniku dengan baik seperti yang sering dilakukan oleh Fatimah," gumamnya Riyad sambil menarik selimutnya Nadine.


Nadine Alexandra yang baru saja terlalap dalam tidurnya karena baru selesai menelpon dengan salah satu sahabat lamanya itu merasa terganggu dan terusik dalam tidurnya itu.


"Aahhh!! Dingin!!" Teriaknya Nadine Alexandra yang sangat marah ketika selimutnya ditarik oleh seseorang.


Nadine segera mengerjapkan kedua matanya itu dan melihat dengan jelas siapa orang yang telah berani mengganggunya.


"Mas! Apa yang kamu lakukan, kenapa main tarik selimutku segala sih! Apa Mas tidak sadar jika sekarang waktunya untuk beristirahat!" Kesalnya Nadine yang berusaha untuk menarik kembali bedcover tebal nya itu untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Riyad dibuat terkejut dan tersentak kaget dengan teriakan dan reaksinya Nadine yang diluar dugaannya itu. Padahal selama mereka menikah selama ini, Nadine tidak pernah bersikap kasar padanya atau pun membentaknya.


"Nadine, maaf Mas hanya bangunin kamu soalnya Mas lapar, apa kamu bisa masakin Mas sebentar!" Harapnya Riyad yang duduk di ujung ranjang king size-nya itu.


Nadine yang mendengar perkataan dari mulut suaminya itu sungguh terkejut dan dibuat ingin tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon suaminya itu. Nadine segera bangkit dari baringnya lalu tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan tersebut.


"Ya ampun Mas! tadi ngomong menyuruh aku masak! Apa Mas sadar dengan apa yang kamu katakan! Emangnya kapan Mas lihat saya masuk dapur lalu masak makanan, nyalain kompor saja aku kagak bisa apa lagi pegang pisau untuk motong bawang merah saja enggak bisa, kalau mau makan kenapa gak bangunin pembantu saja, itukan tugasnya pembantu Mas bukan tugasku sebagai seorang istri," sanggahnya Nadine yang masih tertawa mendengar perkataan dari suaminya itu yang menurutnya lucu banget.

__ADS_1


Riyad sedikit tersinggung dan tidak menyukai perkataan dari Nadine," kenapa aku harus bangunin pembantu, kamu kan istriku harus serba bisa untuk layani aku lagian emangnya pembantu itu istriku tapi kamu itu Istriku jadi sepatutnya kamu yang masak!" Protesnya Riyad yang mulai tersulut emosinya.


Nadine kemudian bangun dari baringnya padahal baru saja berbaring," apa pun yang terjadi aku tidak bakalan masakin Mas, sana cari orang lain yang bisa masakin Mas saja, banyak kan pembantu di rumah ini, sampai kapan pun aku tidak akan menyentuh panci dan semacamnya itu!" Ketusnya Nadine.


"Apa kamu bilang haa!! Jadi kamu tidak ingin masakin Mas! Andai saja Fatimah ada di rumah aku sama sekali tidak kerepotan dan bersusah payah membujukmu, kamu ambilkan Mas air dalam teko dengan gelasnya tidak pernah, apa lagi untuk masak makanan kesukaanku, kamu sangat berbeda dengan Fatimah," dengus Riyad yang tidak mau kalah dan sudah membandingkan Nadine dengan Fatimah.


"Kalau gitu sana cari Fatimah kenapa meski buang waktunya untuk menyuruhku masak, kamu memang cocok hidup dengan pembantu pantesan kamu diam-diam menikahinya!" Sarkasnya Nadine yang tidak mau kalah.


Riyad dibuat kembali terkejut dengan penuturannya dari Nadine," dari mana kamu tahu aku menikahi Fatimah ha!! Katakan padaku siapa yang mengatakannya padamu!" Pekiknya Riyad seraya memegang dengan kuat lengannya Nadine dengan tatapan matanya yang melotot saking kagetnya.


Nadine malah tersenyum melihat reaksinya Riyad," apa kamu kira aku bego yang tidak tahu kalau Mas menikahi gadis desa kampungan dan pembantu itu, aku tahu semuanya Mas, kamu sudah mengkhianatiku!" Jerit Nadine lagi.


"Ohh jadi alasannya seperti itu sehingga kamu berselingkuh di belakangku haa!! Dasar pria brengsek, tapi aku berharap Fatimah tidak akan pernah balik lagi ke sini untuk selamanya, aku heran karena kamu ingin samakan aku dengan perempuan pembantu itu ya jelas beda lah, aku anak orang kaya sedangkan dia hanya pembantu yang dari keluarga orang miskin!" Hinanya Nadine.


"Nadine! Apa salahnya kamu belajar sedikit kemampuan yang seperti dimiliki oleh Fatimah, aku hanya minta kamu bertindak seperti seorang layaknya seorang istri seperti kebanyakan perempuan di luar sana," harap Riyad yang berusaha untuk menurunkan emosi dan egonya itu.


Nadine menatap jengah ke arah suaminya itu," sampai kapanpun aku tidak rela dan sudi mengotori tanganku dan menginjakkan kakiku di dapur! Ingat itu baik-baik! Jangan bandingkan aku dengan pelakor itu yang jelas saya dan dia sangat berbeda jauh, aku tidak akan memaafkan kesalahanmu kali ini dan hari ini untuk pertama kalinya Mas membentakku dan berani meninggikan suaranya Mas, aku yakin ini semua gara-gara perempuan hina itu!" Tunjuknya Nadine langsung di depan hidungnya Riyad sembari pergi dari dalam kamar itu.

__ADS_1


Riyad terduduk di atas ranjangnya, ia tidak menduga jika istrinya akan bersikap kasar dan kelembutannya yang sering ia perlihatkan di depannya seolah pudar dimakan waktu. Ia mengelus wajahnya dengan gusar dan tidak menyangka pernikahannya yang sudah jalan tujuh tahun itu, harus ternoda dengan pertengkaran dan perdebatan-perdebatan di tengah malam hari itu.


"Fatimah jika berbicara denganku selalu merendahkan pandangannya, berbicara lemah lembut dan bertutur kata yang sopan, apa yang harus aku lakukan menghadapi istriku itu?" Riyad dibuat pusing dengan rumah tangganya.


Satu Istrinya pergi entah kemana yang satunya sangat tidak bisa diandalkan dan diajari dan dinasehati demi kebaikannya.


"Aku tidak mungkin menceraikan Fatimah disaat ia mengandung anakku, apalagi aku bahagia jika ia melayani segala keperluanku, aku sama sekali tidak pernah memasangkan dasiku sendiri sebelum Nadine pulang, tapi sekarang aku harus melayani diriku sendiri padahal aku punya istri di rumah," Lirihnya Riyad yang terpuruk dengan keadaannya.


Nadine segera mengganti pakaian tidurnya dan bersiap untuk pergi dari sana secara diam-diam. Dia segera menghubungi salah satu sahabat teman masa kuliahnya dulu yang akhir-akhir sering ia ajak untuk bertemu.


"Aku harus pergi mencari angin segar di luar, mungkin aku akan kembali kehidupanku aku yang dulu suka hura-hura dan clubing bersama teman sosialitaku atau menelpon nomornya Tony Blair saja yah, pria bule kenalan baru aku saja?" Cicitnya Nadine sembari memoleskan berbagai make up di atas permukaan wajahnya.


Sejak malam itu, hubungannya Riyad dengan Nadine semakin renggang seakan ada jarak yang memisahkan mereka berdua. Bahkan Nadine sama sekali tidak pernah lagi melayani suaminya di atas ranjang. Nadine malahan hampir setiap malam keluyuran di luar dan diam-diam mejalani hubungan terlarang dengan kekasihnya Tony Blair pria asal Belanda itu.


Mereka sering keluar hotel dan club malam bersama. Sedangkan Riyad semakin sibuk mengurus perusahaannya sehingga sama sekali tidak memiliki waktu luang untuk bercanda dan berkumpul dengan Nadine seperti dulu lagi.


Riyad segera menyimpan ballpoint nya kak lalu berjalan ke arah jendela ruangan kantornya itu tatapan matanya tajam menatap indahnya langit siang hari itu, "Ada kehampaan dalam hatiku, serasa ada yang kosong, tapi, aku tidak tahu apa itu yang hilang dalam hidupku apa aku merindukan kebersamanku dengan Nadine atau kah kangen ingin melihat rona kemerahan wajahnya Fatimah setiap kali kami berduaan," batinnya Riyad.

__ADS_1


...**Bagi pendukung terbanyak, tersetia akan ada give away spesial untuk readers setia**...


__ADS_2