
Ternyata Satria orang yang tidak bisa diam sama sekali mulut dia itu. Selalu saja mengoceh dan rasanya eneg saja mendengarkan. Sikap dia yang sembarangan dalam mengambil tindakan membuat makin terasa membencinya.
Saat dia sudah berjalan mendahului, tiba-tiba kepala rasanya begitu pusing berputar-putar. Mata mulai kabur memandang. Kepala sedikit pusing dan perut terasa diaduk-aduk ingin muntah saja. Badan terasa ringan dan mengambang diudara, apalagi diiringi tidak ada tenaga yang terasa lemas sekali.
Bhug, tubuh sudah oleng jatuh dihalaman sekolah.
Mata terasa begitu lekat tidak bisa dibuka. Sekarang hanya terdengar suara dengungan orang memanggil namaku.
Badan terasa sudah melayang diudara, yang sepertinya ada seseorang sedang mengangkat tubuhku.
Suara-suara orang berbicara tidak bisa kupahami dengan jelas, yang terpenting sekarang berusaha bangun dengan membuka mata, tapi sayangnya susah sekali hanya sekedar mengerakkan tangan.
Entah berapa lama aku terpejam, yang pasti dihidung sekarang sudah ada aroma minyak k*yu putih yang menguar kuat sekali terhirup ke dalam hidung.
Sedikit demi sedikit badan mulai bisa digerakkan dan mata yang terpejam terbuka perlahan-lahan. Kepala yang masih terasa berat kini terpegang oleh tangan, saat mencoba bangkit dari pembaringan ruang UKS.
"Kamu enggak pa-pa?" tanya Satria kelihatan khawatir sekali.
"Emm, aku baik-baik saja!" jawabku saat wajah sudah mringis, akibat menahan denyutan kepala yang begitu kuat sakitnya.
Tangan Satria sudah membantuku agar bisa duduk dengan benar, yang sekarang ingin disandarkan ke pembatas pembaringan ketika sudah ditumpuk bantalnya.
"Gimana, Bu?" tanya Satria pada guru petugas UKS.
"Dia tidak apa-apa, cuma kelelahan, kurang darah, masuk angin, dan kemungkinan sedang mengalami sakit kepala berat," jelas beliau dengan detail.
"Benarkah itu, Jihan?" tanya Satria.
"Kalau kurang darah aku tidak pasti, tapi yang jelas pusing dan mual terasa sekali," simbatku sambil menahan sakit.
"Kamu jangan terlalu kelelahan dan jaga kesehatan, Jihan. Banyak pekerjaan yang sedang menunggu kamu, terutama mengajar disekolahan ini. Nanti akan kuberi resep untuk kamu agar cepat sembuh," ucap teman memberi peringatan.
"Mungkin selalu menjaga kesehatan, tapi cuma kelelahan saja terhadap pekerjaan," saut Satria yang seolah-olah tahu saja.
"Walaupun lelahpun tetap harus jaga kondisi, jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Untung saja tadi ada Satria yang menolong kamu, jika tidak pasti kamu akan pingsan terbiar dihalaman sekolah tanpa ada yang menolong," imbuh teman.
Wajah sudah melihat ke arah Satria, rasanya ada perasaan bersalah pada dia, sebab dari berangkat kerja sikapku acuh, namun dia masih saja baik mau menolong dengan ikhlas.
Srek, sebuah kertas telah tersobek, yang sepertinya itu adalah daftar obat.
"Karena stok obatnya disini ada yang habis, maka nanti minta tolong untuk Satria membelikan di apotik saja," terang teman.
"Tapi, Bu. Apa tidak merepotkan Pak Satria? Biarkan saya sendiri saja yang membeli obat itu," Rasanya tidak enak jika merepotkan dia lagi.
"Tidak apa-apa, Jihan. Lagian aku ada waktu senggang sebentar. Apa kamu mau sakitmu bertambah parah, jika obat yang seharusnya diminum tidak lengkap maupun terlambat diminum," jawabnya ramah.
"Iya, Jihan. Lagian tidak ada yang bisa dimintai pertolongan sekarang, jadi biarkan Satria yang membelinya sekarang."
"Ya, sudah. Terserahlah, kalau menurut kalian itu baik.
__ADS_1
"Kamu istirahatlah dulu, akan kubelikan obat dan secepatnya bisa kembali, agar kamu nanti bisa sembuh segera," Perhatian Satria itu terasa begitu cemas atas keadaanku sekarang.
"Emm."
"Baiklah, aku juga ingin pamit pergi juga, sebab mau mengajar pelajaran IPA dulu dikelas," pamit teman yang satu profesi sebagai guru.
"Iya, Bu. Terima kasih."
"Sama-sama. Istirahatlah dulu."
"Baik."
Kedua orang itu telah pergi, akupun ingin melanjutkan tidur sejenak, untuk mencoba menghilangkan rasa tidak enak badan disekujur tubuh. Tadi hanya kepala dan perut yang sakit, dan sekarang entah mengapa badan tarasa pegal-pegal juga.
Sudah bolak-balik mencoba istirahat, namun mata ternyata enggan juga untuk terpejam.
[Mas, bisa jemput aku sekarang tidak?]
[Memang ada apa? Manja amat jadi orang]
[Aku tadi pingsan ketika mau masuk ke sekolah, sebab sakit dan rasanya aku tidak bisa menyetir motor sendiri nanti]
[Hadeh, aku sibuk banyak kerjaan
dikantor. Bukankah ada Satria yang bisa mengantar kamu]
[Aah, bawel amat sih mau pulang ke rumah saja]
"Ya Allah, apa sekejam ini suamiku? Apakah pintu hatinya benar-benar tertutup untukku? Padahal aku hanya ingin dijemput dia, kenapa mas Bayu tidak mau?" guman hati yang mulai sedih.
[Ya sudah, tidak apa-apa, Mas. Maaf jika sudah menganggu pekerjaan kamu]
[Emm]
Tut ... tut, gawai sudah ditutup langsung oleh orang diseberang sana yaitu suami.
"Kamu kenapa, Jihan?" tanya Satria yang sudah datang tiba-tiba.
Sebab kaget langsung saja kuhapus airmata, yang sempat menitik akibat kecewa pada suami sendiri.
"Eeh, kamu sudah datang. Tidak ada apa-apa, kok."
"Tapi wajahmu kelihatan kacau begitu?" Tatapan seksama Satria sudah merasa curiga.
"Beneran ngak ada apa-apa, kok. Mungkin hanya bawaan sakit saja, sehingga wajahku kelihatan kacau."
"Ooh, ya sudah kalau begitu. Minumlah obat ini dulu, biar kesehatanmu cepat pulih kembali."
"Terima kasih."
__ADS_1
Obat yang terbungkus rapi diplastik bening, kini dikeluarkan satu persatu oleh Satria. Perhatiannya begitu membuatku terharu dan merasa bersalah saja.
"Andaikan suamiku seperti ini, pasti aku adalah wanita yang paling bahagia didunia ini, saat perhatian dan kasih sayang suami hanya tercurah padaku. Mimpi itu kelihatan jauh sekali, sebab tidak akan terjadi keajaiban dari diri suami, karena dia selalu saja membenci penikahan ini," Hati sudah mengeluh sedih.
"Kamu baik-baik saja 'kan, Jihan?" tanya Satria saat membuyarkan lamunanku.
"Ee'eh, iya. Maaf jika aku tidak fokus."
"Tidak fokus? Memang kenapa?" imbuhnya berbicara secara halus.
"Tidak ada apa-apa, kok!" jawab berbohong.
"Oh ya, apakah aku boleh minta tolong sekali lagi?" Keraguan bertanya.
"Memang mau minta tolong apa?."
"Sebisa mungkin aku akan tetap menolongmu, kok."
"Huuf, baiklah. Terima kasih sebelumnya. Aku hanya minta tolong untuk mengantarkanku pulang ke rumah saja, yang sepertinya aku tidak akan bisa melanjutkan untuk mengajar."
"Bisa, kok."
"Terima kasih."
"Tapi aku ada satu pertanyaan untukmu, tapi jangan tersinggung."
"Iya, silahkan bertanya."
"Apakah sakitmu ini ada kaitannya sama semalam, yang kamu tidur dikamar suami sendiri?" tanyanya yang nampak serius.
"Apa maksud kamu?."
"Bukan apa-apa, sih. Cuma penasaran saja, sebab kamu kemarin kelihatan baik-baik saja, tapi setelah kejadian tidur dikamar kelihatan ada sesuatu. Apakah mas Bayu memperlakukan kamu dengan keji atau tidak baik?" tebaknya yang tepat.
Deg, ucapannya sangat mengangetkan. Kepala seketika saja tertunduk malu, karena selain tidak bisa menjawab langsung rasanya malu saja ingin menjelaskan.
"Tidak ada apa-apa, kok! Diantara kami berdua baik-baik saja," balas berbohong.
"Ya sudah, kalau begitu. Syukurlah kalau begitu."
"Emm, baiklah. Akan aku antar kamu pulang."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Tubuh yang lemah sudah dibantu Satria, untuk dipapah menuju kendaraan motor sendirl. Rasanya tidak nyaman dan enak, saat terus saja merepotkan keluarga suami ini, tapi mau gimana lagi saat suami sudah tidak peduli lagi walau sampi sakit begini.
Dalam perjalanan, wajah berulang kali tertiup angin yang begitu kencang dan itu terasa nyaman, saat hati begitu sakit dan tidak tentram oleh ulah suami sendiri. Rasamya ingin sekali menumpahkan segala sesak didada, namun sekuat tenaga kutahan agar Satria tidak curiga dan banyak tanya.
__ADS_1