
Mobil yang kami buntuti masih kelihatan. Untung saja mas Bayu mengemudikan kendaraannya tidak dengan ngebut, sehingga tidak akan ketinggalan jauh.
"Agak kasih jarak jauh-jauh, Pak. Biar kita nanti tidak ketahuan, kalau sedang membuntuti mobilnya," ucapku pada sopir taxi.
"Baik, Neng."
Terlihat mobil didepan mulai memasukki area gang kecil. Perlahan namun pasti taxi masih mengikuti.
Pada akhirnya mobil berhenti disebuah rumah kecil tapi berderetan bangunannya, yang sepertinya kos-kosan tapi terpisah antara bangunan satu dengan yang lainnya.
Terlihat suami sudah turun dari mobilnya, dengan wajah yang nampak sumringah. Hati benar-benar berdebar, takut-takut jika dugaanku adalah benar.
"Mau apa mas Bayu kerumah kecil begini? Apa beneran dia punya selingkuhan disini? Semoga ini hanya firasat dan tidak benar," guman hati yang masih tidak percaya.
Ongkos taxi segera kuberikan. Mencoba turun untuk secepatnya melihat apa yang dilakukan suami, ketika dia sudah melesat masuk kedalam rumah itu.
Dengan perlahan-lahan berjalan, sekarang berusaha mendekati rumah yang sepertinya hanya boleh disewa untuk satu penyewa saja.
Mengendap-endap berusaha mendekati pintu, dan mencoba melekatkan daun telinga untuk segera menguping apa yang sebenarnya terjadi.
"Wah, sayang kenapa lama datangnya?" Suara manja seorang perempuan didalam.
"Astagfirullah, apakah yang aku dengarkan sekarang adalah benar?."
"Kenapa kamu begitu tega melukai hatiku ini, Mas? Kurang sabar apa, aku terhadapmu sekarang?" rancau hati yang sudah kecewa dan sedih.
Tes, sebuah lelehan airmata mulai jatuh juga, saat tidak kuasa mendengarkan sebuah kenyataan yang begitu pahit sekarang.
"Maaf, sayang. Aku tadi sedikit sibuk sama istri b*dohku itu," hina Mas Bayu.
"Memang apa yang dilakukan istrimu, yang tidak becus merawat kamu itu," simbat perempuan itu ikut-ikutan menghina
"Biasalah. Wanita lelet itu selalu bikin ulah."
"Oh ya, sudah. Lupakan semuanya, yang penting kita sekarang bisa bebas ketemuan, dan pastinya bisa melepaskan rinduku yang sangat mengebu pada kamu. Iya ngak, yank!" Suara centil wanita yang sekarang benar-benar bikin geram saja.
"Tentu saja, yuk!" Suara ajak Mas Bayu.
Takut jika suami dan wanita itu memergokki, maka kini berpindah posisi mencoba mengintai lagi dengan berdiri disamping rumahnya.
Lama sekali menunggu mereka keluar rumah, tapi pada kenyataannya tidak kelihatan tubuh mereka.
"Bukannya mereka tadi ingin keluar? Tapi kenapa malah tidak ada? Emm, kemana mereka? Kenapa suara mereka yang berbincang-bincang tadi sudah menghilang? Hadeh, kemana sih mereka?" Kekesalan hati tidak bisa menguping lagi apa yang mereka lakukan sekarang.
Langkah berusaha ingin kembali kedepan pintu posisi pertama tadi, tapi baru melangkahkan satu ijakkan, terdengar suara leguhan seorang perempuan yang terdengar menikmati sesuatu.
Karena penasaran aku mendekati sebuah jendela, yang sepertinya ada mereka berdua didalam tempat itu. Lagi-lagi daun telinga kudekatkan.
Syok dan mencengangkan, itulah yang kurasakan sekarang. Terdengar jelas sekali suara menjijikkan perempuan itu begitu mendesah kenikmatan. Tangan mulai mengepal kuat, ingin sekali melabrak mereka berdua.
Baru selangkah ingin pergi memergoki dan mengungkap semuanya, terdengar suara keras suami berteriak, seperti menikmati sekali aksi diantara mereka.
__ADS_1
Benar-benar memuakkan suara suami, seperti tidak ingin lepas saja dari perempuan ganjen itu.
"Awas kamu, Mas!" Emosi yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.
Brok ... brok, telapak tangan sudah mengebrok pintu dengan kuatnya.
"Buka ... buka, brok ... brok!" Tangan semakin kuat untuk mengetuk.
Tidak peduli lagi jika suami akan marah besar, yang penting sekarang harus bisa meluapkan emosi, saat mereka seenaknya saja melakukan hubungan terlarang itu dengan bebas, sementara aku istri sahnya hanya bisa menelan pil pahit atas kenyataan.
Brok ... brok, berulang kali tangan mencoba mengetuk, namun lama sekali tidak dibuka
"Buka pintunya, hei perempuan sialan. Kalau tidak, akan kupanggil semua warga untuk mengrebek kalian," ancamku sudah dikuasai emosi.
Ceklek, secara cepat pintu dibuka dan tangan hanya bisa mengambang diudara, ketika dibuka secara tiba-tiba.
"Hai, perempuan g*la. Apa yang kamu lakukan?."
"Main ngetuk rumah orang sembarangan saja," sewotnya perempuan yang bersama suami tadi.
Wajahnya juga tak kalah lumayan cantik dari diriku, tapi bedanya pakaiannnya terlalu **** dan terbuka. Tidak malu benar saat siang-siang begini memakai lingerie.
"Gimana aku tidak mengetuk sembarang, sementara suami ada didalam," jawabku sudah mengencangkan suara.
"Hidih, suami siapa? Jangan mengada-ngada kalau bicara," Mukanya terlihat tidak suka atas kedatanganku.
"Jangan bohong kamu. Suamiku ada disini tadi."
"Mas Bayu."
"Hah, siapa ... siapa? Jangan asal bicara kamu. Bayu siapa?" Bibirnya yang **** sudah bergerak-gerak menyunging merasa tidak senang.
"Jangan banyak omomg kamu. Apa matamu sudah buta, hah! Didepan itu adalah mobil suamiku," jawab emosi yang mematahkan ucapannya.
Wanita ganjen yang semula berdiri santai bersandar dipintu dengan tangan bersedekap didada, sekarang berubah posisi seperti kaget dan mulai terlihat ada sebuah kegelisahan.
"Hello, di Indonesia ini banyak sekali mobil yang mirip dan warnanya sama," elaknya tidak mau kalah dalam ucapan.
"Jangan banyak mengelak kamu, plat nomor itu adalah milk suamiku, Mas Bayu."
"Hidih, asal menyebut. Salah orang kamu."
"Mas Bayu ... Mas Bayu?" teriak-teriakku memanggil.
"Jangan teriak-teriak dirumahku."
"Diam kamu. Minggir ... minggir," suruhku sudah menarik lengannya agar bisa menyingkir dan aku bisa masuk segera dalam rumah untuk memeriksa.
"Eeitt, tidak bisa ... tidak bisa," cegah perempuan itu berbalik menarik tanganku.
Plak, secara respon tanganku sudah melayangkan tamparan.
__ADS_1
"Aaaaaah," Tanpa diduga perempuan itu tiba-tiba jatuh tersungkur.
"Ada apa ini?" ucap Mas Bayu yang muncul dari kamar yang tadi sempat tertutup pintunya.
"Mas ... Mas, tolong. Wanita gila itu sudah berbuat kasar padaku. Dia menampar dan mendorongku kuat, sehingga terjatuh nih! Aaaaah, sakit banget ini!" rengeknya yang manja.
"Apa itu benar?" Mas Bayu sudah menatapku dengan wajahnya yang murka.
"Bohong itu, Mas."
"Dia yang bohong, sayang."
"Jangan percaya sama pelakor ini. Aku ini istrimu, jadi ngapain harus bohong."
"Mana mungkin aku bohong, sementara sudah jatuh kesakitan begini. Dasar istri kurang ajar."
"Kamu!" Kemarahanku yang ingin sekali menyumpal mulutnya itu.
"Beri pelajaran dia, sayang."
"Tidak ... tidak, dia yang bohong. Aku memang menamparnya tapi itu tadi pelan. Masalah jatuh aku tidak memdorongnya, tapi dia berpura-pura jatuh sendiri," elakku berusaha membela diri sendiri.
"Bohong perempuan gila itu, sayang."
"Sudah ... sudah, eneg dengar perdebatan kalian itu."
"Tapi, Mas!" ucapku masih berharap suami mendengarkan dan membela istrinya ini.
"Hahhh, kamu itu dari dulu memang perempuan tidak ada guna. Selalu saja berbuat ulah dan menyalahkan orang," Emosi suami sudah datang langsung menjambak rambutku.
"Aaaa. Lepaskan, Mas. Sakit ini!" pintaku saat rambut kian ditarik kebelakang.
"Diam kamu."
"Tapi aku beneran tidak salah, Mas."
"Halah, masih salah tapi tetap saja tidak mau ngaku, dasar wanita aneh!" hina perempuan itu yang semakin membuat suami kian emosi.
"Jangan harap kali ini kamu dapat ampunan dariku. Ayo ikut sekarang!" suruh suami sudah menarik kuat rambut untuk ikut dia melenggang pergi.
Saat melirik, sempat terlihat senyuman licik dari wajah perempuan itu. Aku hanya pasrah saat suami sudah mengandeng keluar dari rumah pelakor, yang terus saja menarik rambut dengan kuatnya.
"Tolong ... tolong, Mas. Lepaskan rambutku dulu, sakit sekali ini," pinta memohon.
"Jangan banyak bawel kamu. Ini akibatnya kalau bikin masalah."
Sesampainya dimobil, tangan mas Bayu masih saja tidak lepas mencengkram rambutku.
"Bye ... bye, Mas. Urus bini kamu itu dengan baik. Ajarkan tata krama tentang bertandang ke rumah orang," ucap drama perempuan ganjen.
"Ok, sayang. Bye ... bye," Sikap yang menjijikkan saat Mas Bayu sudah memberikan kecupan jauh dengan tangannya.
__ADS_1
Sungguh menjijikkan kelakuan mereka berdua didepan mataku. Rasanya ingin sekali mencakar-cakar wajah perempuan itu, agar dia tahu kalau Mas Bayu hanya milikku seorang, namun apalah dayaku kini saat suami malah membela perempuan itu.