
Tubuh yang jatuh dilantai, membuat tangan sedikit merasakan nyeri akibat tergores pecahan.
"Sini ... sini, kamu. Dasar istri tidak ada guna, selalu saja menyusahkan orang!" geram suara Mas Bayu sudah menarik rambutku kebelakamg.
"Aaaa, sakit Mas."
"M*mp*s 'lah kau."
Sakit sekali hati ini saat kata-kata mas Bayu terus saja meremas jiwa. Lelehan airmata tak luput mengiringi kepedihan ini. Hinaan dan cacian terus saja terlontar untukku.
Dada mulai terasa sesak dan panas, saat mas Bayu terus saja menyebut kejelekan orangtua. Netra melirik kearah pecahan guci, dan perlahan-lahan tangan berusaha untuk meraihnya segera.
Sreeiiiiis, sekali berbalik badan sebuah sabetan pecahan, berhasil mengenai kulit pria yang sudah mati hatinya.
Tidak peduli jika rambut ikut tercabut, yang terpenting aku puas jika bisa melawan dan membalas perlakuannya balik.
"Aaaaa, Sial!" umpatnya.
"Mas ... mas, apa kamu tidak apa-apa?" tanya perempuan kuntilanak yang sok memberikan perhatian.
"Aaaah, benar-benar wanita sialan," pekik Mas Bayu sudah menutup wajahnya dengan tangan.
Bibir sudah menyunging tersenyum puas, ketika melihat pria yang kejam bisa lemah juga. Sebuah kucuran darah mulai mengalir dipipinya. Ubin keramikpun tak luput ada titikan noda kemerahan.
"Sini ... sini kamu, dasar perempuan ngak ada ot*k!" Mas Bayu mulai maju ingin membalas perlakuanku balik.
"Apa ... apa? Kalau berani majulah!" Lawanku sudah mengacungkan pecahan guci memanjang ke arah suami.
"Aaah, sial. Kamu sekarang benar-benar mulai berani, ya."
"Aku tidak akan berani melukaimu, jika kamu juga tidak melukaiku."
"Memang kamu itu pantas aku lukai, sebab sudah berani menikah denganku. Kalau tidak ada wanita b*d*h sepertimu mungkin aku sudah bahagia bersama wanita yang kucintai," ucap Mas Bayu masih saja menyalahkan diri ini.
__ADS_1
"Seharusnya salahkan orangtuamu bukan diriku."
"B*lsit, atas semua itu. Aku tetap tidak terima. Apalagi sekarang kamu berani melukai kulitku."
"Maafkan aku, Mas. Kamu yang mulai duluan menyiksaku, jadi jangan salahkan aku jika kini bisa melawan apalagi sudah membantahmu," cakap sudah tersedu-sedu menyesal, sambil ketakutan jika murka suami akan full balik menghajar.
"Banyak omong kamu, perempuan gila!" umpatnya lagi.
"Ya, aku sekarang memang gila, sebab gila mencintaimu dan buta akan pesonamu, tapi semua itu sekarang musnah akibat perlakuanmu yang terus menyakiti hatiku, dan asal kamu tahu aku sekarang lebih gila lagi, sebab rasa benci itu kian dalam sudah bersemayam dihati," Kata-kata yang tidak mau mengalah.
"Maafkan aku sudah jadi begini, Mas. Itupun karena ulahmu juga, jadi jangan salahkan diriku sudah berani melawan."
"Permisi, maaf."
Klenting, pecahan guci itu sudah kubuang kesembarang arah.
"Hey, mau kemana kau wanita t*l*l! Hei, balik kesini kamu ... hei Jihan," teriak suara kekasaran suami.
Langkah sudah tergesa-gesa meninggal sejoli yang sudah bermain gila dan berhasil menyakitiku. Airmata terus saja kusapu dengan tangan saat tetesannya terus saja mengalir.
Mesin motor sudah kuhidupkan. Tanpa peduli lagi akan terjadi kecelakaan, mesin sudah kulajukan dengan mengegasnya kuat. Pikiran begitu kalut dan kacau. Airmata tidak henti-henti terus mengalir. Wajah sudah tidak berbentuk berantakan, sampai-sampai lupa untuk memakai helm.
Dalam pikiran sekarang hanya ada satu tujuan yaitu kerumah Satria. Mungkin hanya dirinyalah yang bisa meredakan emosi dan kekecewaan dalam hatiku sekarang.
Motor sepeda sudah terparkir disembarang arah. Tangan tak henti-henti terus mengusap airmata yang kian luruh tak terbendung lagi bagaikan air terjun tanpa henti mengalir.
Tok ... tok ... tok, pintu kuketuk pelan namun berintonasi cepat dan berterus-terusan.
"Sebentar ... sebentar!" Saut suara Satria dari dalam.
Ceklek, pintu sudah terbuka.
"Jihan, kamu!" Kekagetan Satria menatap keheranan.
__ADS_1
"Maafkan aku sudah menganggu kamu!" ucapku sambil terisak.
"Astagfirullah, ada apa ini, Jihan. Kenapa kamu begitu kacau begini?" tanya Satria sudah mengelus pelan bahu tangan kananku.
Akibat tidak bisa menopang tubuh sendiri, aku jatuh terduduk sambil terus menangis. Badan rasanya begitu lemah, tidak kuat lagi menyangga beban yang kuhadapi sekarang.
"Ya Allah, Jihan. Kamu jangan begini!" Satria langsung memeluk tubuhku sambil mensejajarkan posisi berjongkok.
"Aaaaaaaaahhhhhhh!" Teriakku sekencang-kencangnya dalam isak kepedihan.
"Sudah ... sudah, jangan begini. Sabar ... sabar."
"Katakan ... katakan padaku Satria? Apa ... apa, salahku sekarang?" titikan embun terus saja mengalir.
"Kamu tenang dulu, ok. Jangan begini!" Suara Satria mulai serak-serak, saat melihat diriku yang tak henti-hentinya terus menangis.
Wajah dan mata sudah kian memerah, akibat airmata terus mengalir.
"Bagaimana aku bisa tenang. Suami yang aku hormati terus saja menyiksa bathin, dan tanpa ragu sekujur tubuh terus saja jadi sasaran pemukulannya. Aaaaahhhh!" Tangan sudah memukuk-mukul dada, yang rasanya tidak bisa menghirup udara lagi dengan benar.
"Sudah ... sudah, hentikan ini. Aku tidak tega melihatmu yang kacau begini," Kepala sudah didekap kuat dan ditaruh didada bidangnya.
Luka yang begitu perih, kembali menganga tersiram oleh garam. Pedih sekali, sehingga rasanya lebih baik mungkin aku meninggal saja, dan mungkin itu akan membuat suami yang aku hormati bisa bahagia, jika tidak ada penganggu seperti diriku didekatnya lagi.
"Apakah aku harus mengakhiri hidup ini, agar mas Bayu bisa hidup bahagia dengan wanita itu?" Suara sudah serak parau tidak jelas lagi.
"Jangan ... jangan, katakan itu, Jihan."
"Tapi dia selalu menganggapku sebagai benalu bahkan sudah memalukan dia.
"Jangan pernah kamu anggap semua bualan mas Bayu itu nyata. Dia hanya manusia brengsek, yang sudah buta dan mati hatinya. Ucapannya itu pasti akan berbuah karma, jadi jangan salahkan dirimu ataupun berpikiran akan mengakhiri hidup." Satria sudah memegang dua pipiku, untuk menatap fokus wajahnya yang nampak mulai sendu juga.
Isak tangisan kian aku kuatkan. Perih hati tak tertahan lagi sakitnya. Masih terima kalau mas Bayu tidak mencintai ataupun memukul, tapi kenapa harus membawa wanita lain kerumah dan melakukan hubungan terlarang itu, yang seakan-akan aku inilah wanita yang harus dibuang dan tidak diinginkan.
__ADS_1
Tubuh sudah dituntun Satria untuk masuk ke dalam rumahnya, mungkin tidak enak dilihat para tetangga yang sedang menyaksikan diriku yang terduduk lagi jatuh dalam kesedihan. Rasanya airmata sudah habis tidak tersisa lagi, sampai-sampai aku hanya bisa sesegukan dengan nafas tersendat-sendat.